Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *133*


__ADS_3

Gisella sampai di depan rumah nya, dia begitu sangat terganggu sekali dengan kehadiran Rangga.


"Sudah cukup aku di benci oleh Kak Laura padahal semuanya berawal dari dirinya sendiri dan jangan sampai aku di sebut sebagai wanita yang menggangu pertunangan mantan nya. Pokoknya besok aku harus datang ke acara tersebut menunjukkan kepada Tante Veronica jika aku sudah tidak ada lagi perasaan terhadap Rangga."


Gisella keluar dari taksi dia melihat kedua orang tua nya yang seperti akan pergi ke suatu tempat.


Gisella pun berjalan cepat menghampiri kedua orang tua nya.


"Ibu dan Ayah mau pergi ke mana,?"


Tanya Gisella sambil memandangi kedua orang tua nya.


"Kita akan pergi untuk melihat Kakak kamu yang sedang di rawat di Rumah Sakit."


Gisella melihat kedua orang tua yang begitu sangat hawatir sekali dengan kondisi Laura.


"Yasudah, silahkan pergi dan hati-hati yaa. Karena aku sudah bertemu dengan Kak Laura dan aku rasa apa sekarang yang di rasakan oleh Kak Laura akibat nya dia sendiri."


Gisella memilih untuk langsung masuk ke dalam rumah nya.


Gisella terlihat begitu sangat lelah sekali dia seperti sudah hilang rasa dengan Laura.


"Seperti nya Gisella, sangat lelah sekali dia pun butuh seseorang di samping nya. Lebih baik Ayah saja yang pergi untuk bertemu dengan Laura biarlah ibu di sini menemani Gisella."


Riana memutuskan untuk tidak pergi ke Rumah Sakit dia ingin menemani Gisella.


Gisella yang terlihat sangat lelah sekali dia membuka pintu kamar nya dan mengunci pintu kamar nya.


Gisella langsung terbaring di tempat tidur nya sambil memasakkan getaran cinta di perut nya.


"Sayang, maafkan ibu yaa. Kamu pasti sangat capek sekali yaa sayang."


Gisella terus mengelus perut nya sambil merasakan getaran-getaran cinta.


Riana mengetuk pintu kamar Gisella sambil membawakan susu hamil untuk Gisella.


"Siapa yang mengetuk pintu yaa,? bukan kah Ayah dan Ibu pergi ke rumah sakit."


Gisella membuka kunci pintu kamar nya dan dia melihat ibu nya yang sudah membawa susu hangat.

__ADS_1


"Minum lah susu hamil ini sayang, ibu membelinya dengan rasa coklat sesuai dengan rasa kesukaan kamu yaa."


Gisella langsung mengambil susu hangat tersebut ke dalam kamar nya dan meminum nya secara perlahan-lahan.


"Nak, kamu cape sekali yaa hari. Lebih baik setelah kamu meminum susu hangat ini kamu mandi dan langsung makan malam. Ingat kamu harus makan yang banyak yaa sayang."


Riana mengelus perut Gisella sambil menatap wajah Gisella.


"Kenapa ibu tidak pergi ke rumah sakit melihat Kak Laura, lebih baik ibu pergi saja. Aku tidak apa-apa kok sendiri di rumah ini."


Gisella terus saja meminum susu hangat tersebut.


"Anak ibu di sini pun butuh perhatian dari ibu dan biarkan saja Laura bersama dengan Ayah. Ibu hawatir sekali meninggalkan kamu sendiri di rumah."


Gisella pun langsung tersenyum manis kepada Ibu nya dan dia merasa mendapatkan perhatian juga dari orang tua nya.


"Gisella, apakah ada ingin kamu ceritakan kepada Ibu Naak?. Kamu seperti sedang memendam sesuatu di hati kamu."


Gisella yang pun langsung terdiam sejenak dia merasa jika tidak baik untuk menyimpan perasaan seperti ini.


Karena sangat tidak baik dengan kondisi kehamilan.


"Kenapa yaa Buu, aku merasa selama apa yang di lakukan oleh Kak Laura itu sangat berlebih-lebihan sekali. Dan kenapa aku merasa jika Kak Laura begitu sangat egois sekali, dulu aku menilai sikap Kak Laura seperti wajar saja karena mungkin wanita mana yang mau di dua kan cinta nya hanya karena desakan ingin memiliki keturunan oleh mertuanya."


"Iyaa Nak, kamu di posisi yang selalu di salahkan. Dan ibu pun sangat sedih melihat kamu seperti ini Nak."


Riana pun langsung memeluk erat tubuh Gisella.


"Seperti nya Tuhan memberikan aku rasa yang kuat yang sangat luar biasa sekali, sehingga aku yakin bisa menjalankan nya."


Gisella melepaskan pelukan erat ibu nya.


"Buuu, mulai sekarang aku akan menghindar dari Kak Laura, Kak Barra dan Mama Rossa. Aku tidak mau melihat mereka semua nya."


Gisella sudah tidak mau pertemuan nya dengan Barra dan Mama Rossa hanya untuk menjadi kesalahan pahaman Laura.


"Lebih baik aku menghindar Buu itu lebih baik yaa kan Buu."


Riana melihat Gisella yang sudah sangat lelah sekali.

__ADS_1


"Buu, besok adalah hari pertunangan Rangga. Aku akan datang ke sana dan membuktikan jika aku yang sudah tidak ada lagi hubungan dengan Rangga karena Rangga yang terus saja mengikuti aku."


Riana langsung mengingat kembali pembicaraan terhadap Rangga.


"Gisella, apa Rangga tidak mengatakan apapun atau bertanya tentang pernikahan kamu dan siapa suami kamu."


Riana terlihat sangat hawatir sekali ketika memberikan pertanyaan tersebut kepada Gisella.


"Yaa, Rangga memang sangat penasaran sekali dia sering sekali bertanya tentang suami aku yang dia bilang tidak bertanggung jawab."


Mata Gisella terlihat berkaca-kaca ketika mengatakan hal tersebut.


"Nanti pasti akan aku jelaskan kepada Rangga apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan ini dan aku rasa biarlah Rangga mengetahui nya, karena juga dia tidak akan bersama dengan aku lagi kan.".


Terlihat sekali wajah sedih di wajah Gisella yang tidak bisa dia tutupi dengan senyuman manis nya .


"Jika memang itu yang terbaik, beritahu saja Rangga. Agar dia tidak lagi penasaran dan menggangu terus kamu Nak."


Gisella pun beranjak dari tempat duduknya nya berjalan menuju ke kamar mandi.


Riana pun pergi dari kamar Gisella dia menyiapkan makanan untuk Gisella.


Gisella mencuci wajah nya berkali-kali dan memandangi wajah nya di depan cermin.


"Gisella kamu harus bangkit, kamu adalah wanita yang kuat. Apapun yang terjadi kamu bisa melewati nya."


Setelah selesai mandi Gisella pun langsung berjalan menuju ke tempat makan tapi handphone Gisella yang tiba-tiba saja bergetar.


Gisella pun mengambil handphone tersebut dan melihat siapa yang mengirimkan pesan untuk nya .


"Erlangga Rangga."


Gisella pun langsung membuka pesan tersebut.


*Gisella Reviska, aku ingin bertemu dengan kamu sebelum aku tidak bisa lagi bertemu dengan kamu. Aku menunggu kamu di depan halaman rumah kamu.*


Gisella langsung membuka gorden jendela kamar nya, dan dia melihat Rangga yang memang sudah menunggu nya.


"Apalagi sih Rangga, kenapa dia selalu saja membuat aku pusing seperti ini. Seperti nya dia kabur dari rumah nya, karena tidak mungkin dia bisa keluar rumah sedangkan besok adalah hari pertunangan nya."

__ADS_1


Gisella pun langsung menutup kembali gorden jendela kamar nya.


Gisella tidak tahu dia harus bagaimana lagi menghadapi sikap Rangga kepada nya.


__ADS_2