Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #219#


__ADS_3

Gisella datang ke rumah orang tua nya, dia menangis di pelukan ibu nya.


Riana yang belum melihat kabar pun merasa sangat terkejut sekali ketika melihat kedatangan Gisella dengan air mata nya.


Riana mencoba untuk tetap diam membiarkan Gisella menangis meluapkan perasaan nya.


Gisella yang merasa sangat puas menagis dia pun melepaskan pelukan erat nya.


"Ada apa sayaaaaang, tenang yaa tenang. Ayo kita duduk dulu dan ceritakan secara perlahan kepada Ayah dan Ibu."


Gisella yang tidak sanggup bercerita dia pun hanya memberikan handphone nya kepada orang tua nya.


Riana pun mengambil handphone itu dan dia begitu sangat terkejut sekali ketika membaca nya.


"Laura,??? berani sekali dia sebut adik kandung nya Pelakor Cantik. Hanya karena ingin mendapatkan simpati kembali dari Barra dia lakukan hal yang seperti ini."


Gisella pun kembali menangis histeris, sedangkan Ayah nya pun dia memilih untuk pergi karena dia merasa selalu bersama dengan Laura.


Riana tidak bisa lagi menahan emosi nya, dia merasa jika Laura yang memang sangat keterlaluan sekali.


"Apa salah ku kepada Kak Laura Buu,? Apaaaa ?. Aku tidak pernah mengusik kebahagiaan nya nya ketika bersama dengan Kak Barra, dan perlu aku mempertanyakan bayi yang dia kandung itu anak siapa?. Ketika aku melihat Dokter Rivan yang pernah mengelus perut besar Kak Laura."


Gisella pun langsung memilih untuk berlari, dia berlari menuju ke kamar nya.


Riana pun langsung terdiam ketika mendengar kata dari Gisella, dia tidak bisa membayangkan jika memang anak yang di kandang oleh Laura itu adalah hasil hubungan perselingkuhan nya dengan Dokter Rivan.


"Jika benar itu terjadi, Laura memang harus berpisah dengan Barra. Laura tidak pantas bersama dengan Barra."


Riana mengambil handphone nya dia mencoba untuk menghubungi nomer handphone Laura.


Laura pun langsung menjawab panggilan telephone masuk tersebut.


"Ibu seperti nya dia pasti akan mempertanyakan tentang perceraian ku dan juga sebutan baru untuk Gisella., Si Pelakor Cantik."


*Hallo Bu*


*Laura kenapa kamu tega sekali menyebut asik kandung kamu itu sebagai seorang Pelakor,? di mana hati nurani kamu Lauraaaaaaa. Kamu sedang hamil tapi kamu hobi sekali membuat perasaan hati seseorang sakit*


*Bu, aku berkata seperti ini sesuai dengan fakta yang ada. Gisella sekarang tinggal bersama dengan Barra di rumah Mama Rossa. Mereka tinggal bersama Bu, itu tanda nya mereka semua sudah merencanakan sesuatu dan ini pasti ada hubungan nya dengan kasus perceraian ku. Mereka berniat untuk menjodohkan Gisella dengan Barra, ketika nanti aku dan Barra sudah bercerai.*


*Barra memang memang lebih pantas menikah dengan Gisella, Barra menikah dengan kamu hanya membuat Barra tidak bahagia.*


Riana langsung mengakhiri panggilan telephone nya, Riana sudah sangat kesal sekali dengan sikap Laura.


"Kok ibu lebih mendukung Gisella menikah dengan Barra sih, jahat sekali mereka semua lebih mendukung mereka berdua menikah."


Laura merasa sangat emosional sekali sampai dia merasakan sakit di bagian perut nya


"Ahhhhhhh, perut kuuu sakit sekali."


Laura pun mencoba untuk duduk dan menenangkan perasaan nya, dia terus memegang perut nya yang terasa sangat kencang sekali.


"Gisella, mungkin semua keluarga akan mendukung kamu sekarang. Tapi tidak para netizen dia pasti akan membully kecantikan mu yang kamu manfaatkan hanya untuk menggoda suami orang."


Gisella pun tersenyum tipis sambil memegang perut nya.


Media sosial sudah sangat ramai sekali membicarakan pemberitaan ini, mereka pun ramai di depan kantor Gisella untuk meminta keterangan dari Gisella.


Tapi salah satu pegawai yang ada di sana memberitahu jika Gisella tidak berada di kantor.


Gisella pergi meninggalkan kantor dan mereka pun berniat untuk pergi ke kantor milik Laura.


Laura yang sedang menenangkan perasaan dan pikiran nya dia harus menerima kabar dari Asisten pribadi nya jika di luar sudah banyak sekali wartawan yang datang untuk meminta penjelasan dari Laura.


Laura memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta simpatik dari semua orang.


"Aku harus tampil cantik di hadapan mereka semua, aku tidak boleh kalah cantik dengan seorang wanita penggoda atau pelakor itu."


Dengan penuh rasa percaya diri, Laura pun keluar dari ruangan nya dan berjalan menuju ke para wartawan yang sudah menunggu nya.


Melihat Laura mereka semua pun langsung menghampiri Laura.


"Kalian semua nya tenang yaa, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kalian semua satu persatu satu."


Laura meminta satpam untuk menyediakan meja serta kursi untuk Laura.

__ADS_1


Melihat Laura yang seperti sudah siap untuk menjawab pertanyaan mereka pun mengikuti apa keinginan Laura dengan memberikan pertanyaan satu per satu.


- Bu Laura bagaimana bisa Pelakor Cantik itu adalah Ibu Gisella,? sedangkan Ibu Gisella itu adalah adik kandung ibu sendiri?.


Semua tidak ada yang tidak mungkin yaa, jika perasaan itu ingin memiliki itu datang. Maka banyak sekali orang yang melakukan apapun tanpa berpikir panjang.


- Bu Laura apakah ini juga ada kaitan nya sedang persaingan bisnis kalian berdua ?.


Saya tidak merasa ingin bersaing dengan produk adik saya sendiri, karena saya yakin sekali semua orang bisa menilai sendiri mana produk yang terbaik. Apalagi saya sudah sangat lama sekali menjalankan bisnis ini tidak mungkin produk saya kalah hanya karena visual yang menarik bukan kualitas yang terbaik.


- Bu Laura, suami ibu rela mencerai ibu hanya karena tergoda dengan adik ipar nya sendiri? apakah setelah kalian bercerita mereka berdua akan menikah?.


Seperti nya seperti itu suami ku lebih tergoda dengan paras cantik saja hanya sesaat, dan aku sangat sedih sekali karena sekarang aku sedang mengandung anak ke dua nya.


Laura yang merasa sudah sangat puas sekali pun dia berdiri dari tempat duduk nya.


"Seperti nya, hanya segitu saja sesi tanya jawab nya yaa. Saya harus kembali berkerja yaa, saya harus lebih keras lagi berkerja karena jika saya sampai di cerai kan . Bagaimana dengan nasib anak yang ada di kandungan saya."


Laura yang sudah merasa sangat puas sekali dia pun langsung meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke dalam ruangan nya.


Laura tersenyum manis sambil memegang handphone nya.


"Mas Barra, suami ku. Kamu tidak bisa bermain-main dengan ku Mas, setelah pemberitaan ini bisnis Gisella akan seketika langsung bangkrut dengan hitungan hari saja. Para konsumen nya akan pergi ke kosmetik ku. Karena sampai kapan pun semua orang pasti akan sangat benci sekali dengan yang nama nya wanita penggoda."


Laura duduk bersantai sekali dia ruangan nya sambil membaca komentar-komentar negatif terhadap Gisella.


Mereka menghujat Gisella dengan kata-kata yang sangat menyakitkan sekali sehingga membuat produksi bisnis Gisella menurun drastis.


Rossalinda yang melihat wawancara Laura dengan para wartawan dia di buat sangat emosional sekali.


"Aku tidak bisa diam, Laura melakukan ini hanya untuk menjatuhkan produk shampo yang di miliki oleh Gisella. Kenapa harus ada wanita seperti kamu Laura sangat menguras emosi dan jangan pernah berharap kamu bisa mendapatkan cinta Barra kembali."


Rossalinda pun berniat untuk menemui Laura di kantor nya, dia mengirimkan pesan kepada Barra.


*Cepat lah pulang jaga Tiara, dia terus saja menangis mencari Gisella. Mama sudah tidak tahan sekali dengan sikap Laura terhadap Gisella.*


Membaca pesan tersebut Barra pun langsung bergegas pergi menuju ke rumah nya.


Sebelum Barra pergi, Melati masuk ke dalam ruangan Barra dan menyalakan televisi.


Barra pun memilih untuk duduk kembali dan melihat apa saja yang di katakan oleh Laura di depan para wartawan.


Barra benar-benar di buat emosi dengan sikap Laura.


"Dia memanfaatkan kesempatan ini,? dia seperti mempromosikan produk nya dan menjatuhkan produk milik Gisella. Astagaaaa Laura hati mu terbuat dari Apaaaa."


Barra seketika langsung terdiam dan dia berpikir seperti nya ini yang membuat Mama nya ingin dia pulang ke rumah.


"Melati, kamu tuntaskan semua pekerjaan saya yaa. Saya pulang dulu."


Barra pun pulang ke rumah nya, dia ingin sekali cepat sampai.


Barra tidak habis pikir dengan Laura, tega sekali dia melakukan ini semua kepada Gisella.


"Yaa Tuhan, bagaimana dengan kondisi Gisella sekarang. Dia pasti sedang berada di rumah Ayah dan Ibu lebih baik aku membawa Tiara untuk bisa bertemu dengan Ibu nya."


Sesampainya Barra di rumah dia melihat Tiara yang sedang bersama dengan Suster Dina.


"Di mana Mama,? kenapa dia tidak ada di rumah ?."


Barra pun mengambil Tiara dari gendongan Suster Dina.


"Ibu pergi ke kantor Bu Laura, dia kelihatan sangat emosional sekali Pak. Saya sangat hawatir sekali Ibu membawa mobil sendiri."


Barra pun berharap Mama nya bisa sampai dengan selamat.


"Yasudah, sekarang kamu ikut saya yaa. Kita pergi ke rumah Gisella. Karena sekarang Tiara sangat membutuhkan Ibu nya."


Suster Mirna pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Barra, dia merasa sangat kasihan sekali melihat Tiara yang tidak juga berhenti menangis.


Ketika Barra menuju ke rumah Gisella, Rossalinda sudah sampai di depan kantor milik Laura.


Dia begitu sangat emosional sekali dengan Laura, dia berjalan menuju ke ruangan Laura.


Laura yang sedang duduk manis pun seketika langsung berdiri ketika melihat Rossalinda yang ada di hadapan nya.

__ADS_1


"Mama."


Rossalinda pun langsung menghampiri Laura.


*Plaaaakkkkkkk*


Rossalinda dengan sangat keras sekali dia menampar pipi Laura.


Laura pun seketika langsung memegang pipi nya dan dia merasa kan sakit yang luar biasa sekali.


"Kenapa sakit,? ini tidak seberapa sakit nya ketika adik kandung mu menonton apa yang sudah kamu bicarakan dengan wartawan."


Laura menunduk sambil memegang pipi nya yang sangat terasa sangat sakit sekali.


"Sejak awal aku memang tidak pernah setuju kamu menikah dengan Barra, dan sekarang terjawab sudah semuanya. Kamu tidak hanya egois Laura tapi kamu itu sangat jahat sekali."


Rossalinda menangis di hadapan Laura.


"Aku melakukan ini karena aku tidak mau berpisah dengan suami kuuu, tapi kalian semua mencoba untuk memisahkan aku dengan suami ku. Di saat permasalahan rumah tangga ku datang Mama bukan memberikan aku solusi tapi Mama malah ingin mempersatukan Gisella dengan suami kuu dengan membawa Gisella tinggal bersama itu sangat membuat hati ku sakit sekali."


Rossalinda tidak tahan melihat air mata setingan Laura dia lebih memilih untuk pergi dari kantor Laura ketika dia sudah merasa sangat puas sekali melampiaskan kekesalannya terhadap Laura.


***


Barra sampai di depan rumah orang Laura.


"Suster Dina, lebih baik Suster menunggu saja di toko bunga itu. Karena mungkin pembicaraan ku dengan Gisella lebih privasi."


Barra pun keluar dari mobil nya dan dia melihat dari jarak kejauhan Ibu Riana sedang menangis di pelukan suami nya.


"Seperti Ayah dan Ibu sudah melihat apa yang di katakan oleh Laura dengan wartawan."


Barra pun menghampiri mereka berdua.


"Ayah dan ibu, aku ingin sekali bertemu dengan Gisella."


Riana melihat Barra yang sedang mengendong Tiara.


"Pergi lah ke kamar sekarang Gisella menang sedang membutuhkan kalian berdua.'


Barra pun berjalan menuju ke kamar Gisella, terdengar sangat jelas sekali suara tangisan Gisella.


"Sayaaaaang pantas saja kamu rewel, ibu kamu sekarang sedang sangat sedih sekali."


Barra memilih untuk langsung membuka pintu kamar nya dan Gisella pun terbangun dari langsung berlari menghampiri Tiara.


"Maafkan Ibu yaa sayang, ibu tidak ada maksud untuk melupakan kamu yaa sayaaaaang. Kamu habis menangis yaa sayang mencari ibu yaa sayang."


Seketika saja Tiara terdiam dan sampai tidur di pelukan Gisella.


Barra dan Gisella duduk di atas kasur dan Barra pun terus saja memandangi wajah Gisella.


"Gisella, kakak minta maaf atas perilaku Laura. Kakak minta maaf kamu yang selalu saja jadi korban di hubungan pernikahan ini."


Barra memegang pipi Gisella yang basah dia mengambil tissue untuk menghapus nya.


"Aku malu kaa, aku sekarang tidak berani untuk keluar rumah. Semua orang pasti bilang jika aku adalah seorang wanita penggoda."


Gisella kembali meneteskan air mata nya di hadapan Barra.


"Kita akan membuktikan kepada semua orang jika kamu tidak salah Gisella, kita akan menjelaskan di hadapan para wartawan juga."


Barra ingin sekali bertanggung jawab atas sikap istri tersebut.


"Yang aku tidak mengerti dengan Kak Laura, di saat seperti ini. Dia masih bisa ingin menjatuhkan bisnis ku dan mempromosikan produk nya supaya produk ku menjadi bangkrut seketika, padahal aku mendirikan bisnis ini dengan perjuangan yang besar ini untuk masa depan Tiara jika dia besar nanti."


Gisella pun menidurkan Tiara di kasur nya, dia begitu sangat sedih sekali ketika melihat Tiara.


"Sayaaaaang, terimakasih banyak kamu hadir di setiap hari-hari Ibuu. Kamu adalah penyemangat hidup Ibu sayaaaaang, kamu yang membuat ibu kuat untuk bertahan hidup dan memperjuangkan masa depan bersama dengan mu nanti."


Barra pun langsung memeluk erat tubuh Gisella dengan sangat erat sekali.


"Kamu tidak usah memikirkan masa depan Tiara, masa depan kamu dan Tiara adalah hidup bahagia bersama dengan kuu Gisella."


Barra begitu sangat erat sekali memeluk Gisella, pelukan yang hangat yang penuh dengan perasaan sekali.

__ADS_1


Gisella mencoba untuk melepaskan pelukan erat dari Barra dan memandangi wajah Barra.


__ADS_2