
Gisella terus saja memandangi wajah Barra dia tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan, perasaan yang nyaman.
"Gisella, apakah aku harus menikah dengan mu. Agar Laura merasakan apa yang dia inginkan jika berdua bersama."
Gisella pun langsung berdiri dari tempat duduk nya, dia seperti menghindari tatapan Barra.
"Apa maksud Kak Barra, bukan kita berdua memang sudah menikah tapi hanya untuk sesaat saja."
Barra pun mencoba untuk menghampiri Gisella.
"Ya, kita menikah hanya untuk sesaat dan sekarang kita menikah untuk masa depan bersama dengan Tiara."
Gisella membalik kan badan nya dan menatap kembali wajah Barra.
"Aku tidak bisa menikah dengan lelaki yang istri nya sedang hamil anak nya, aku tidak bisa sejahat itu."
Barra mulai mengungkapkan perasaan hati nya.
"Ntah kenapa aku merasa tidak seperti dulu, ketika Laura hamil anak pertama aku sampai harus melupakan kamu Tiara. Demi anak pertama ku tapi kenapa anak ke dua ku ini perasaan ku seakan tidak peduli."
Gisella pun langsung terdiam ketika mendengar hal tersebut, apakah pikiran nya selama ini benar.
Jika Laura bukan hamil anak Barra tapi Dokter Rivan.
"Lalu sekarang apa yang akan Kak Barra lakukan dengan permasalahan ini, secara tidak langsung Kak Laura menyebut jika Kakak itu menyelingkuhi nya."
Gisella pun memikirkan bagaimana dengan nasib para pegawai nya nanti dampak dari berita yang menyebutkan jika dirinya adalah seorang pelakor.
"Aku akan bilang kepada Laura, jika aku akan menikah dengan mu Gisella. Ketika Laura sudah melahirkan anak ke dua dan juga selesai kasus perceraian ini."
Gisella hanya bisa terdiam saja dengan apa yang di rencanakan oleh Barra, karena dia juga sangat kesal sekali dengan sikap Laura kepada nya.
Barra sudah mengungkapkan perasaan hati nya kepada Gisella, tapi dia tidak menyangka jika Gisella yang masih memiliki perasaan terhadap Laura.
"Gisella, aku pulang kembali ke hotel yaa. Aku ingin sekali menyendiri."
Barra pun keluar dari kamar Gisella dan dia berjalan menuju ke luar, ketika Barra keluar dari kamar Gisella orang tua Gisella ada di hadapan nya.
Barra hanya bisa tersenyum saja dan langsung pergi.
"Aku rasa Barra memang lebih baik menikah kembali dengan Gisella, tapi aku sangat takut sekali Laura akan berbuat hal-hal yang kejam terhadap Gisella."
Riana pun masuk ke dalam kamar Gisella dan dia pun melihat Gisella yang sedang melamun berdiri di hadapan jendela kamar nya.
Riana menepuk pundak Gisella dan Gisella pun langsung membalikkan badannya.
"Buu, aku sekarang sudah mulai melupakan perkataan Kak Laura yang menyebut aku seorang wanita penggoda suami nya. Aku lebih memikirkan bagaimana dengan nasib para pegawai ku Buu setelah masalah ini. Jika bisnis ku ini bangkrut lalu bagaimana dengan nasib pegawai ku yang jumlahnya sangat banyak sekali."
Riana merasa jika Laura memang tidak punya hati nurani sebelum dia berkata.
"Kamu tenang yaa Gisella, semua pasti ada jalan keluar nya. Kamu pasti bisa menghadapi ini semua."
Tiara pun terbangun dari tidur nya dia pun langsung menangis dan Gisella mengendong nya.
"Sayaaaaang, jangan menangis yaa. Ibu ada di sini."
Gisella pun memutuskan untuk datang ke perusahaan nya bersama dengan Tiara, dia harus berani untuk keluar dari rumah nya.
"Buu, Aku ingin pergi ke kantor yaa Buu. Pegawai ku butuh penjelasan dari aku dan aku juga akan membawa Tiara. Dia sangat membantu aku untuk aku berbicara di depan para wartawan."
Riana pun mengizinkan Gisella untuk pergi bersama dengan Tiara, dia percaya sekali dengan apa yang di lakukan oleh Gisella.
"Gisella dia sangat bertanggung jawab sekali terhadap para pegawai nya, lebih baik Laura dan Barra segera bercerai saja. Agar tidak ada lagi drama-drama yang di buat oleh Laura."
Gisella pun masuk ke dalam mobil nya bersama dengan Tiara.
Gisella terus memandangi wajah Tiara dan tersenyum manis kepada Tiara.
"Kuatkan ibu yaa sayang di depan banyak wartawan nanti, ibu akan mengatakan hal yang sebenarnya."
Gisella begitu sangat yakin sekali jika dia bisa tegar dan kuat dalam menghadapi semua nya.
Gisella melihat banyak sekali wartawan yang menunggu nya di depan kantor nya.
"Oke Gisella kamu pasti bisa menghadapi mereka semua, kamu pasti bisa."
__ADS_1
Gisella pun keluar dari mobil nya dan wartawan pun segera menghampiri dirinya. Kedatangan Gisella membuat semua para pegawai merasa sangat senang dan tenang.
Gisella memilih untuk duduk karena dia yang sedang menggendong Tiara.
- Ibu Gisella bagaimana pendapat ibu tentang perkataan dari Ibu Laura yang mengatakan jika penyebab dari perceraian rumah tangga nya adalah adanya pelakor cantik yaitu ibu Gisella sendiri.
Sebelum saya menjawab pertanyaan saya meminta maaf kepada kalian semua yang mungkin sangat kesal sekali untuk menunggu saya.
Saya tidak mungkin jadi Pelakor Cantik di rumah tangga mereka berdua, sedangkan saya sendiri mempunyai anak dari Pak Barra dengan ikatan pernikahan.
Saya rasa cukup segitu saja yang bisa saya sampaikan, dan jika kalian semua ingin mendapatkan penjelasan dari perkataan saya tadi silahkan tanya kenapa Ibu Laura.
Jika dia menolak untuk memberikan penjelasan saya punya bukti foto pernikahan saya dan di situ pula ada Ibu Laura Renita.
Dan saya mohon juga permasalahan ini jangan di kaitkan dengan perusahaan saya, dengan bisnis saya.
Kasihan nasib para pegawai saya jika masalah ini berdampak pada bisnis saya.
Terimakasih banyak yaa maaf hanya itu saja yang bisa saya sampaikan.
Gisella pun memilih untuk masuk ke dalam kantor nya, dan pertanyaan Gisella pun membuat semua orang sangat terkejut sekali.
"Kalian semua bisa kan fokus untuk tetap berkerja dengan serius seperti biasa nya, karena kita harus selalu berproduksi yaa."
Gisella juga berjalan menuju ke gedung produksi tempat pembuatan shampo tersebut.
Gisella mencoba untuk memberikan semangat untuk para karyawan nya dan tidak memikirkan apa yang berita tidak benar yang ada di luar.
Gisella begitu sangat bahagia sekali karena dia bisa membawa Tiara untuk pergi ke kantor nya.
"Kamu senang sayaaaaang,? bisa ikut berkerja bersama dengan Ibu. Beri ibu semangat yaa sayang karena perusahaan ini adalah milik mu atau masa depan muu."
Gisella mencium kening Tiara dia terlihat sangat bahagia sekali seperti biasa nya.
Semangat Gisella semakin nyata ketika dirinya sudah menyampaikan semua nya di depan wartawan.
"Maafkan aku Kak Laura tapi apa yang aku sampaikan di depan wartawan itu adalah fakta dan ada bukti nya, tidak seperti apa yang di ucapkan oleh Kak Laura tentang aku yang hanya pembohong publik saja."
Gisella duduk di ruangan nya dia ingin melihat apa tanggapan dari Laura. Dan apakah Laura akan berbohong kembali di depan para wartawan.
Begitu juga dengan Rivan dan orang tua Gisella.
Rivan tidak menyangka Gisella bisa sangat berani seperti itu dan mengungkapkan yang sebenarnya.
"Jika seperti ini Laura tidak bisa berkata-kata lagi, dia harus menerima kenyataan jika Gisella pernah menikah dengan Barra atas keinginan dari Laura sendiri."
Rivan terus saja memandangi handphone karena dia sangat yakin sekali jika Laura pasti akan menghubungi nya dan meminta bantuan kepada nya.
"Belum juga ada pesan atau panggilan telephone masuk dari Laura, dan seperti nya Laura yang belum melihat tentang pemberian ini."
Rivan pun menunggu kedatangan Laura ke Apartemennya nya.
Rivan mengirimkan pesan kepada Laura.
*Datanglah ke Apartemen ku sekarang juga jika kamu menginginkan tempat yang nyaman untuk bercerita*
Laura membaca pesan dari Rivan dia sedang berada di dalam mobil nya dan berniat untuk pergi ke restoran untuk makan siang.
"Apa maksud dari pesan dari Rivan yaa, apakah ada sesuatu yang terjadi di media sosial."
Laura mulai mencari informasi dari handphonenya dan dia pun menemukan video Gisella yang sedang berbicara di hadapan para wartawan.
Laura begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar apa yang di katakan oleh Gisella.
"Gisella, tega sekali dia mengatakan ini semua di hadapan media. Ini sama saja dia membongkar rahasia pernikahan kontrak ini."
Laura merasa sangat emosional sekali dengan Gisella.
"Habislah aku , apa yang harus aku katakan jika para wartawan mempertanyakan hal ini kepada kuu. Gisella dia sampai mau memberikan bukti foto pernikahan segala lagi."
Laura semakin di buat panik sekali dia tidak pernah menyangka jika Gisella bisa lebih kejam dari nya.
"Aku harus menemui Gisella di kantor nya, bisa-bisa nya dia melakukan seperti ini kepada kuu."
Laura pun memilih untuk tidak jadi untuk menikmati makanan siang nya dia ingin marah-marah di hadapan Gisella.
__ADS_1
"Sudah tidak kuat sekali aku ingin banyak bicara di hadapan Gisella."
Laura pun akhirnya sampai di depan kantor Gisella dengan menggunakan masker hitam dan kacamata hitam Laura pun berjalan menuju ke ruangan Gisella.
Gisella melihat dari rekaman cctv dia mengetahui kedatangan Kakak tersebut.
"Kak Laura, dia akhirnya datang juga untuk menemui ku. Lebih baik aku titipkan Tiara terlebih dahulu karena pasti emosi Kak Laura akan meledak-ledak sekali membuat Tiara ketakutan."
Gisella pun keluar dari ruangan dia menitipkan Tiara kepada Asisten pribadi nya.
"Tolong jaga anak ku, Kakak ku sedang dalam hitungan menit dia akan ada di hadapan ku. Dia akan marah-marah kepada kuu."
Asisten pribadi Gisella pun mengikuti apa yang di katakan oleh Gisella dan Gisella pun masuk kembali ke dalam ruangan nya dia berpura-pura tidak tahu dengan kedatangan Laura.
Laura pun akhirnya sampai di depan ruangan pribadi Gisella dan dia melihat Tiara sedang di gendong oleh Asisten pribadi nya.
"Se enak sekali dia membawa anak ke dalam kantor dan menitipkan nya begitu saja, Astaga memalukan sekali."
Laura pun membuka kaca mata hitam nya dan masker nya dia langsung membuka pintu ruangan tersebut dan melihat Gisella yang sedang fokus dengan laptop di hadapan nya.
Gisella pun tersenyum manis ketika melihat Laura yang ada di hadapan nya.
"Kamu pasti tahu kan, apa maksud dari kedatangan ku ke sini Gisella. Semua karena perkataan mu di depan wartawan itu kamu ingin membongkar rahasia pernikahan kontrak mu itu hah ? kamu sangat tega sekali Gisella."
Tatapan mata Laura yang begitu sangat tajam sekali dan Gisella pun tersenyum tipis di hadapan Laura.
"Kenapa bisa berkata tega terhadap orang lain tapi tidak bercermin kepada diri sendiri, apa yang aku katakan ini benar kan dan ada bukti nya. Sedangkan Pelakor Cantik itu di mana yaa bukti nya tidak ada kan."
Laura lebih mendekatkan diri nya kepada Gisella.
"Dan bagaimana jika suami mu lebih ingin bersama dengan ku, mengawali lagi pernikahan yang dulu hanya bisa rasakan dalam waktu yang sangat singkat sekali."
Perkataan Gisella membuat Laura semakin merasa sangat sakit sekali.
"Jika sampai perceraian ini tetap terjadi, maka aku akan mengakhiri hidup di hadapan mu Gisella. Agar kamu merasa sangat puas sekali."
Laura lagi-lagi mengancam Gisella tapi Gisella hanya tersenyum tipis.
"Kenapa harus mengakhiri hidup di hadapan kuu, jangan dulu melakukan hal tersebut. Karena kita semua ingin mengetahui siapa Ayah biologis dari anak yang ada di kandung mu itu."
Gisella mengetahui jika Laura hanya mengancam nya saja, Laura tidak mungkin mengakhiri hidup nya begitu saja.
"Gisella, kamu semakin membuat aku sangat marah sekali yaa. Kamu yang baru bisa menjadi CEO sudah tidak ada sopan santun terhadap Kakak kamu sendiri, kamu mengatakan siapa Ayah biologis dari anak ke dua ku ini. Kamu pikir aku adalah wanita murahan yang mau tidur dengan lelaki lain."
Laura menggelengkan kepalanya sambil menahan emosi nya.
"Tapi mungkin saja cinta itu yang tiba-tiba saja datang di saat ingatan masa lalu yang tiba-tiba saja datang dalam lamunan."
Gisella pun berjalan menuju ke pintu dan membuka pintu nya.
"Silakan pergi yaa, aku tidak mau terus mengatakan sesuatu yang sangat rahasia sekali. Biarlah nanti semua yang akan ketahuan dengan sendirinya."
*Plaaaakkkkkkk*
Laura menampar pipi Gisella di hadapan Tiara yang tidak sengaja melihat nya.
*Plaaaakkkkkkk*
Gisella pun langsung membalas tamparan keras dari Gisella.
"Maaf yaa aku pun tidak bisa diam ketika aku yang selalu kamu jadi boneka di setiap permasalahan rumah tangga mu."
Gisella memilih untuk keluar dari ruangan sendiri dan menghampiri Tiara yang menangis histeris.
"Tenang yaa sayang ibu tidak apa-apa kok, ibu juga sudah membalas nya. Dan ibu juga tidak akan diam ketika ibu yang selalu di rendah kan seperti ini."
Laura yang merasa sangat malu sekali dia pun akhirnya pergi dari ruangan Gisella.
Laura memakai kacamata hitam nya dia terlihat sangat emosional sekali terhadap Gisella.
"Semoga saja mereka berdua segera bercerai yaa Buu, tidak mungkin ada lelaki yang tahan dengan wanita seperti itu."
Pegawai Gisella sangat mendukung sekali Gisella.
"Besok adalah sidang perceraian mereka yang pertama, aku rasa Kak Laura tidak akan hadir dia pasti sedang merencanakan lagi rencana gila nya."
__ADS_1
Gisella pun masih memikirkan tentang ucapan Laura yang ingin sekali mengakhiri hidupnya.