Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *166*


__ADS_3

Persiapan untuk pemakaman pun telah siap, Barra dan Ayah mertua nya yang menyiapkan semuanya.


"Semoga saja Laura bisa mengendalikan emosi nya, semoga saja Laura bisa kuat hadir di pemakaman ini."


Barra merasa sangat lemas sekali ketika dia harus kehilangan kehadiran anak yang bertahun-tahun dia inginkan.


"Barra, kamu masih mempunyai anak di rahim Gisella. Walaupun sesuai dengan perjanjian kamu tidak bisa mengambil nya tapi kamu masih bisa untuk melihat nya dan memberikan kasih sayang kamu kepada nya. Dan Ayah rasa Gisella pun tidak akan keberatan dengan hal itu."


Barra mulai memikirkan kandungan Gisella, dia berharap sekali anak nya yang ada di kandungan Gisella. Sehat dan baik-baik saja.


Rossalinda memilih untuk menunggu di tempat pemakaman karena langsung akan di kuburkan.


Dia menghindar untuk bertemu dengan Laura, karena dia sangat hafal sekali dengan sikap Laura.


Yang bisa marah-marah kepada siapa pun yang ada di sekitar nya dan seketika menyalahkan orang lain yang tidak tahu apa-apa.


Dokter Rivan keluar dari ruangan nya menghampiri Laura, dia melihat Laura yang sudah membuka mata nya.


"Laura, bangun lah. Bangun dari mimpi-mimpi muu."


Laura melirikan mata nya dia melihat wajah Dokter Rivan.


"Kenapa kamu tidak bisa membuat anak ku selamat, kenapa kamu membiarkan anak ku pergi begitu saja. Kamu tahu kan jika aku sangat menginginkan anak itu, kamu adalah teman baik ku selama kita sekolah dulu tapi kenapa kamu bisa bersikap seperti ini dengan kuu."


Laura mencoba untuk terbangun dari tidurnya, tapi dia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


"Hati-hati luka operasi mu itu masih basah, kamu harus pelan-pelan jangan selalu emosi."


Dokter Rivan membantu Laura untuk duduk, dia begitu sangat perhatian kepada Laura.


"Aku hanya Dokter, yang sama seperti kamu manusia biasa. Aku hanya bisa berusaha tapi Tuhan yang berencana."


Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menangis.


"Anak ku masih hidup kan,? Rivan anak ku masih hidup kan. Kamu menyembunyikan nya anak ku kan."


Mendengar teriak-teriak Laura, Riana pun memilih untuk masuk ke ruangan Laura.


"Laura, kamu harus sabar. Kamu tidak bisa seperti ini menyalakan Dokter Rivan yang sudah begitu sangat baik sekali membantu kamu dalam proses kehamilan."

__ADS_1


Riana menghampiri Laura, dia memeluk Laura.


"Tenang kan diri kamu sekarang, bersiap lah untuk melihat proses pemakaman anak muu."


Tangan Laura pun langsung bergetar hebat dia tidak mau menerima kenyataan ini.


"Tidaaaaaak, anak ku masih hidup. Bryan masih hidup buu. Aku yakin sekali buuu, karena dia adalah anak yang kuat walaupun dua kali mengalami pendarahan tapi dia masih tetap bertahan di perut akuuuu."


Laura menangis di pelukan Ibu nya, sedangkan Dokter Rivan menyiapkan kursi roda untuk Laura.


"Ayo bersiaplah, setidaknya kamu harus melihat anak mu untuk yang terakhir kali nya."


Laura hanya mengetahui jika hidung anak nya mancung seperti dirinya, Laura tidak melihat wajah anak nya. Karena kondisi yang tidak stabil dan membahayakan.


Dokter Rivan pun membantu Laura untuk duduk di kursi roda.


"Laura kamu harus kuat yaa Nak, kamu ikhlas. Ibu yakin nanti tuhan akan memberikan kebahagiaan setelah ini."


Laura hanya terdiam saja dengan pandangan mata yang kosong.


Dokter Rivan yang membawa Laura ke pemakaman anak nya.


Kadang dia tersenyum sendiri seperti masih merasakan gerakan aktif bayi yang ada di kandungan nya.


Tapi kadang juga dia langsung menangis menerima kenyataan kehilangan anak nya.


"Tidaaaaaak, anak ku masih hidup."


Laura kembali berteriak-teriak kencang di dalam mobil Dokter Rivan.


Riana hanya bisa menangis ketika melihat kondisi Laura seperti ini.


"Laura harus banyak berkonsultasi dengan psikiater, saya hawatir sekali dengan kondisi Laura sekarang."


Mereka pun sampai di tempat pemakaman, Barra dan Ayah mertua nya sudah ada tempat begitu juga dengan Rossalinda.


Laura turun dari mobil nya dan di dorong kursi roda oleh Dokter Rivan.


Riana melihat Dokter Rivan yang begitu sangat baik sekali dan perhatian kepada Laura.

__ADS_1


Laura terdiam seribu bahasa ketika dia melihat Suami nya dan Ayah nya.


Barra tidak berani untuk menyapa Laura, karena itu hanya bisa membuat Laura semakin bersedih.


Dokter Rivan mendorong kan kursi roda tersebut tepat di depan proses pemakaman.


Laura terus saja menangis dia sangat yakin sekali jika bayi yang di kuburkan itu bukan anak nya, Laura begitu sangat yakin sekali jika anak nya masih hidup.


Dokter Rivan memberikan bunga-bunga untuk Laura, untuk di taburkan di peristirahatan terakhir anak nya.


"Sayaaaaang, Papah sayang sekali kamu. Tenang di sana yaa Nak. Papah akan selalu memegang kamu, dan hadirlah di mimpi Papah di setiap perkembangan muu."


Barra mencium papan Nissan yang bertuliskan nama anak nya, Bryan Leonal.


"Jangan pakai nama itu, itu adalah nama untuk anak kuu. Ganti nama itu dengan nama yang lain, jangan pakai nama anak kuu."


Barra begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan tersebut dari Laura.


Dokter Rivan pun mendorong kursi roda Laura agar menjauh dari tempat tersebut.


"Mas, apa kamu tidak mendengar perkataan aku. Jangan pakai nama itu. Ganti dengan nama yang lain."


Karena tidak mau membuat kerusuhan Dokter Rivan pun memilih untuk membawa Laura pergi dari pemakaman tersebut.


Barra dan keluarga begitu sangat sedih melihat kondisi Laura.


"Barra, ketika luka di perut Laura sudah membaik. Cepat bawa istri mu untuk konsultasi ke psikiater jangan di tunda-tunda lagi kondisi Laura sudah sangat menghawatirkan sekali."


Dokter Rivan membawa Laura ke tempat yang lebih tenang jauh dari kerumunan orang -orang.


"Laura kenapa kamu harus berbicara seperti itu, kamu jangan bicara seperti itu. Kamu harus menerima kenyataan ini."


Laura hanya terdiam ketika Dokter Rivan berbicara dengan nya.


"Setelah kondisi kamu mulai membaik kamu bisa melakukan program kehamilan kembali, jadikan ini adalah pembelajaran untuk kamu Laura dalam menjalankan kehamilan lagi kamu harus menjaga kesehatan kehamilan kamu bukan selalu fokus pada pekerjaan kamu."


Laura melirikan mata nya kepada Dokter Rivan.


"Ketika aku sudah sehat kembali, aku akan mencari keberadaan anak kuu. Untuk apa melakukan program kehamilan kembali, aku hanya cukup mempunyai anak satu saja dari Mas Barra. Anak lelaki dia akan menjadi penerus perusahaan suami ku seperti yang di ijinkan oleh keluarga nya."

__ADS_1


Dokter Rivan hanya bisa terdiam saja sambil mendengarkan ucapan Laura yang sangat yakin sekali jika anak nya masih hidup.


__ADS_2