Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *179*


__ADS_3

Laura terus saja menunggu kedatangan Barra, dia terus saja memandangi layar handphone nya.


"Kenapa tidak juga ada jawaban yaa, tapi nomber handphone nya aktif."


Laura terus saja menghubungi nomer handphone suami nya tersebut tapi tetap saja tidak ada jawaban nya.


"Astagaaaa, ini sudah jam 9 malam. Apa aku harus menunggu sampai jam berapa."


Laura mulai merasa sangat emosional sekali, Dia terus saja menunggu kedatangan suaminya.


Melihat Laura yang semakin kelihatan gelisah akhirnya Rivan pun mendatang Laura.



Rivan tersenyum manis kepada Laura, dia pun langsung duduk berhadapan dengan Laura.


"Siapa yang menyuruh kamu untuk duduk di hadapan kuu,? aku tidak menginginkan nya. Karena kursi itu hanya untuk suami ku."


Seketika Rivan pun berdiri dari tempat duduk nya.

__ADS_1


"Oh, maafkan aku tapi apakah kamu yakin. Jika suami akan datang malam ini,? aku rasa dia sedang bahagia karena kehadiran malaikat kecil di kehidupan nya."


Laura merasa sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan tersebut.


"Maksud kamu apa,? aku tidak mengerti dengan perkataan mu itu."


Laura menatap serius wajah Rivan dan Rivan pun tersenyum manis kepada Laura.


"Aku rasa malam ini adalah hari perkiraan lahir anak Gisella, dan seperti nya Barra sedang berada di Rumah Sakit. Untuk menemani Gisella."


Laura tersenyum seperti tidak percaya dengan ucapan Rivan.


"Itu tidak mungkin terjadi, suami ku pasti terlebih dahulu meminta persetujuan aku. Sebelum dia pergi untuk bertemu dengan Gisella."


"Laura, apakah Barra harus selalu mengikuti apa yang kamu lakukan apa yang kamu perintah,? ini sudah kelahiran anak pertama nya. Anak yang sangat dia tunggu-tunggu bertahun-tahun, dan seperti awal rencana muu dahulu. Barra mendapatkan anak dari Gisella."


Laura pun langsung mengambil handphone dia melephone Barra tapi tetap saja Barra tidak menjawab panggilan telephone nya.


"Suami ku tidak menjawab panggilan telephone ku, itu tandanya belum tentu Gisella malam ini melahirkan."

__ADS_1


Laura seketika merasa sakit hati sekali jika Barra menjadi berubah sikap nya, hanya karena Gisella yang sudah melahirkan anak pertama nya.


"Gisella membuat perjanjian dia tidak akan memberikan anak nya kepada keluarga Barra dan dia juga tidak akan memberikan hak asuh kepada suami ku. Dan itu tandanya bayi itu tidak mungkin bisa bersama dengan Mas Barra."


Laura seperti tidak menginginkan kehadiran bayi itu di keluarga nya.


"Laura,? kamu jahat sekali. Anak itu adalah anak yang kamu inginkan dulu. Dia pasti akan menjadi penerus perusahaan besar milik Barra yaa walaupun dia perempuan."


Laura seakan tidak menerima ucapan Rivan.


"Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Anak lah yang akan menjadi penerus perusahaan besar milik keluarga suami kuu."


Laura merasa sangat kesal sekali dengan kehadiran Rivan yang hanya membuat dirinya emosional.


"Rivan lebih baik sekarang kamu pergi saja tinggalkan aku sendiri, aku tidak menginginkan kehadiran mu di sini."


Laura secara halus mengusir kehadiran Rivan di hadapan.


Tapi Rivan tetap ingin bersama dengan Laura di restoran itu.

__ADS_1


Rivan memperhatikan dekorasi yang sangat manis sekali, dan Laura pun sampai menyediakan pemain biola yang akan mengiringi makan malam romantis nya bersama dengan Barra.


Laura terus saja memasang wajah tidak suka nya terhadap Rivan.


__ADS_2