Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (92)


__ADS_3

Barra menunggu kedatangan Laura di kamar nya tapi Laura tidak juga datang.


"Sedang apa Laura kenapa dia tidak juga masuk ke dalam kamar, bukan dia sangat lelah sekali hari ini."


Barra pun keluar dari kamar nya untuk mencari Laura.


Barra berjalan menuju ke luar rumah dia melihat Laura yang sedang duduk sendirian.


Barra merasa di posisi yang sangat berat sekali, dia sangat mencintai Laura dia tidak mau kehilangan Laura karena Laura itu adalah cinta pertama Barra dan berharap menjadi cinta terakhir nya.


Tapi di sisi lain ada Gisella, Gisella yang di hadirkan oleh Laura di hubungan mereka.


Barra harus melupakan Gisella demi Laura tapi dia pun sangat ini memperlihatkan Gisella walaupun hanya bertemu sejenak melihat kondisi Gisella.


Barra berjalan menuju ke Lara dia memegang pundak Laura.


"Laura ini sudah malam ayo kita masuk ke dalam, kamu juga kan hari sangat sibuk sekali. Kamu harus banyak istirahat ingat juga dengan program kehamilan yang sedang kamu lakukan sekarang."


Barra menarik tangan Laura dan Laura pun langsung memeluk erat Barra.


Barra pun di buat sangat terkejut sekali ketika Laura yang tiba-tiba saja memeluk nya.


Laura menangis di pelukan Barra dia menangis meluapkan rasa yang ada di dalam hati nya.


Rasa yang dia pendam selama ini dia keluar dengan tangisan, di pelukan suaminya.


Laura seperti sudah kelelahan sekali menghadapi kehidupan nya.


"Maafkan aku Mas, aku adalah istri yang sangat egois sekali. Aku sangat egois dan membuat kamu yang menanggung semua nya. Ini adalah salah aku Mas kesalahan aku."


Barra mencoba untuk menenangkan perasaan Laura dan Rossalinda pun memilih untuk pergi ke dalam ketika melihat Laura yang menangis histeris di pelukan Barra.


"Sudah yaa Laura sudah sekarang kita masuk ke dalam yaa. Kamu jangan seperti yaa Laura ini bukan kesalahan kamu kita hadapi bersama-sama yaa."


Barra mengajak Laura masuk ke dalam karena udara yang sangat dingin di luar


Barra terus mencoba untuk menenangkan Laura.


Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam kamar.


"Sekarang kamu istirahat saja yaa, sudah jangan menangis lagi yaa."


Barra menghapus air mata Laura yang membasahi pipinya.

__ADS_1


Laura pun memandangi wajah Barra dengan mata yang berkaca-kaca sambil tersenyum tipis.


"Terimakasih yaa Mas, kamu terlalu baik sama aku."


Barra menyelimuti Laura dan mencium kening Laura.


"Aku keluar dulu yaa sebentar saja tidak lama. Kamu selalu berpikir positif yaa."


Barra mencium kening Laura dan mematikan lampu kamar nya.


Barra meninggalkan Laura sendiri di dalam kamar nya, Laura merasa sangat percaya sekali terhadap Barra.


Rossalinda melihat Barra yang keluar dari kamar nya, dan langsung menghampiri Barra


"Barra, kamu mau kemana malam-malam begini?."


Barra membalikkan badannya ketika mendengar suara Mama nya dan menjawab pertanyaan dari Mama nya.


"Aku tidak tau Mam, aku begitu sangat menghawatirkan kondisi Gisella. Tapi aku pun tidak mau melukai hati Laura dia yang sudah percaya kembali kepada aku."


Rossalinda menarik tangan Barra dan membawa nya ke tempat parkir mobil rumah nya.


"Pergi lah, pergi hanya untuk melihat kondisi seperti apa. Jika kamu tidak akan lagi peduli terhadap nya bawa dia pulang ke rumah orang tua agar dia tidak merasa kesepian di Apartemen. Tapi ingat yaa Barra sekarang kamu seperti karena Gisella belum hamil tapi di saat Gisella hamil kamu harus perhatian kepada nya."


Barra pun mengikuti apa yang di katakan oleh Mama karena memang harus tanggung jawab dengan Gisella.


"Laura maafkan aku, yang masih saja menemui Gisella. Ini juga adalah kewajiban ku karena aku juga suami Gisella."


Barra pun dengan cepat mengendarai mobil nya menuju ke Apartemen Gisella.


Di Apartemen Gisella hanya bisa terbaring lemas seharian, dia pun beruntung ketika banyak nya makanan yang di beri dari Rossalinda.


"Beruntung sekali Mama Rossa begitu sangat perhatian sekali sama aku, seperti nya aku besok pulang saja."


Gisella berniat untuk mematikannya lampu kamar nya dia merasa sudah terlalu lelah sekali tapi Barra tiba-tiba saja ada di hadapannya.


Dan kedatangan Barra membuat Gisella langsung berteriak-teriak kencang sekali dia sangat terkejut ketika Barra yang tiba-tiba ada di hadapan.


Barra pun langsung menghampiri Gisella dan Gisella pun langsung seketika saja terdiam.


"Kak Barra, malam-malam begini Kakak ada di sini."


Tatapan mata Gisella membuat Barra tidak tega meninggalkan nya

__ADS_1


"Gisella, bagaimana kondisi kamu sekarang. Kamu sudah membaik kan?."


Gisella tidak mau membuat Barra menjadi hawatir dengan kondisi nya.


"Aku baik-baik saja kok Kaa, lihat aku banyak menghabiskan buah-buahan dan makanan yang Mama Rossa berikan untuk aku."


Barra tersenyum manis sambil memegang pipi Gisella.


"Gisella, aku harus kembali ke rumah. Aku tidak mau Laura curiga aku pergi ke menemui kamu di sini kamu baik-baik yaa di sini kalau ada apa-apa lebih baik kamu langsung hubungi Mama saja yaa."


Gisella pun terdiam ketika dirinya sudah tidak bisa menghubungi lagi Barra, dia pun tersenyum tipis kepada Barra


"Baiklah Kaa, aku tidak akan menghubungi nomer handphone Kakak lagi."


Barra merasa sangat sedih sekali ketika dia harus mengatakan hal tersebut kepada Gisella.


Barra pun langsung memeluk erat tubuh Gisella.


"Aku pergi dulu yaa Gisella maafkan aku yang banyak sekali menyakiti hati kamu."


Barra segera pergi dari Apartemen tersebut dia tidak mau Laura curiga terhadap nya.


"Gisella kamu jangan sedih hey, ingat Kak Barra itu adalah suami Kak Laura jangan berpikiran yang berlebih-lebihan dalam hubungan ini. Apalagi sampai berharap yang berlebih-lebihan dengan Kak Barra."


Gisella menarik kembali selimut nya dia pun berharap bisa bermimpi indah malam ini.


Barra merasa sangat bersalah sekali ketika dia harus meninggalkan Gisella.


"Gisella sangat pucat sekali, dia pasti masih sakit. Maafkan aku Gisella maafkan aku yaa."


Barra kembali dengan cepat dan dia pun langsung masuk ke dalam kamar nya.


Barra melihat Laura yang sudah tertidur pulas sekali.


Barra memilih untuk tidur di sofa karena dia tidak mau mengganggu Laura.


Pikiran Barra terus saja memikirkan Gisella.


"Ahhhhhh, kenapa aku sampai tidak bisa tidur seperti ini."


Barra terbangun kembali dari tidurnya sambil memandangi Laura yang sedang tertidur pulas.


"Barra jangan seperti ini Barra, lihat Laura lihat. Jangan memikirkan yang lain nya kamu harus fokus dengan Laura."

__ADS_1


Barra pun memaksa untuk bisa tidur dengan nyenyak karena dia harus menjalankan tugas yang sangat berat besok di perusahaan nya.


__ADS_2