Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *163*


__ADS_3

Satu bulan setelah Laura ke luar dari rumah sakit dia terus saja mengalami kontraksi palsu di usia kandungan yang masih 7 bulan.


Padahal selama satu bulan setelah keluar dari rumah sakit Laura tidak pernah melakukan aktifitas apapun, dia hanya terbaring di tempat tidur.


Laura merasakan sakit yang sangat luar biasa sekali sehingga Barra pun langsung menghampiri nya.


"Laura, kamu baik-baik saja kan. Ada apa lagi dengan perut kamu itu. Kita baru saja pulang dari rumah sakit satu bulan yang lalu jangan sampai kita harus kembali lagi ke rumah sakit."


Laura terlihat sangat kesakitan sekali dia terus saja memegang perut nya, sehingga Barra dengan terpaksa membawa kembali Laura ke tempat tidur.


"Tadi, aku terjatuh di kamar mandi Mas. Aku sudah tidak tahan sekali. Sehingga aku memaksa kan untuk pergi sendiri saja."


Mendengar perkataan dari istri nya, Barra pun segera membawa Laura kembali ke rumah sakit.


Seluruh orang yang ada di dalam rumah pun sangat hawatir sekali melihat Laura yang kesakitan sambil memegang perut nya.


Sesampainya di rumah sakit, Laura pun langsung di tindak dan ternyata sudah ada pembukaan untuk melahirkan.


Dokter Rivan pun segera memberitahukan kepada Barra, jika Laura harus melahirkan di usia kandungan 7 bulan.


Dokter Rivan terus saja memandangi wajah Laura, dan dia mengetahui kenapa kondisi Laura menjadi seperti.


"Laura, lagi-lagi kamu melanggar apa yang di ucapkan oleh aku. Jika kamu ingin pergi ke kamar mandi sendiri, apa gunanya 2 suster yang aku kirimkan ke rumah kamu untuk merawat kamu."


Dokter Rivan merasa sangat kesal sekali dengan Laura dan akhirnya mereka pun memilih untuk melakukan jalur operasi Caesar.


Semua demi keselamatan bersama, karena tensi darah Laura yang tidak beraturan.


Laura tidak menginginkan melahirkan secara prematur karena dia sangat tidak mau kehilangan anak nya.


Barra begitu sangat cemas sekali dia, pun di temani oleh Mama Rossa.


"Lebih baik kita memberitahu kepada keluarga Laura, ketika Laura sudah beres operasi saja yaa. Jangan buat mereka hawatir."


Barra mengikuti apa yang di katakan oleh Mama nya, pikiran Barra pun selalu saja negatif terhadap proses persalinan Laura.


"Laura, kamu harus semangat yaa. Kamu bisa melahirkan anak pertama kita dengan selamat."


Barra terus saja berdoa di saat proses operasi istri nya tersebut, Rossalinda terus saja menyemangati Barra.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Dokter Rivan pun datang menghampiri Barra.

__ADS_1


Dia berkata jika operasi sudah selesai dan bayi Laura berjenis kelamin laki-laki.


Seketika saja Barra merasa sangat senang sekali, tapi ketika dia memiliki anak pertama nya.


Dan bayi tersebut pun di bawa ke ruangan inkubator.


Setelah memberitahu hal tersebut, Dokter Rivan. Menatap tajam wajah Barra dia seperti mempunyai perasaan yang tidak baik kepada Barra dan juga Laura.


Barra dan Rossalinda pun akhirnya bisa melihat anak dari Laura dan juga Barra.


"Mam, akhirnya aku mempunyai anak juga. Aku menjadi seorang Papa."


Barra merasa tidak menyangka sekali jika hal tersebut terjadi kepada nya.


Tapi Rossalinda merasa sangat sedih sekali karena bayi prematur harus dapat penanganan khusus.


"Barra, apakah Laura mampu untuk menjaga anak ini ?. Anak muu ini terlahir prematur dia harus mendapatkan asi eksklusif dari Laura dan harus selalu hangat di pelukan Laura. Sedangkan Laura dia terus saja memikirkan bisnis nya."


Perkataan Mama Rossa membuat Barra langsung terdiam.


"Aku rasa Laura akan berubah Mam, dia pasti akan memilih untuk merawat bayi nya dan meninggalkan pekerjaan nya."


Rossalinda pun meninggalkan Barra dan dia berjalan menuju ke ruangan Dokter Rivan.


Laura mulai menanyakan bagaimana dengan kondisi anak nya kepada suster.


"Bagaimana dengan anak saya suster, apakah saya sudah dapat bertemu dengan nya?."


Laura sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bayi nya.


Setelah selesai berbicara dengan Rossalinda, Dokter Rivan pun kembali ke ruangan Laura.


Kedatangan Dokter Rivan, membuat Laura banyak berterima kasih kepada Dokter Rivan.


"Dokter Rivan, terimakasih banyak yaa semua karena kamu juga. Akhirnya aku bisa memiliki anak, aku berterima kasih sekali."


Mata Laura begitu sangat berkaca-kaca ketika dirinya berterima kasih kepada Dokter Rivan.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang Laura, ketika kamu di percaya oleh Tuhan bisa menjadi seorang ibu."


Laura pun mengungkapkan isi hatinya kepada Dokter Rivan.

__ADS_1


"Aku akan lebih giat lagi untuk berkerja, kehadiran anak ku adalah penyemangat baru aku untuk bisa meningkatkan kembali bisnis kuu."


Dokter Rivan lagi-lagi kecewa sekali mendengar perkataan Laura yang ternyata sesuai dengan ucapan Rossalinda.


Setelah mendengar suara Laura , Dokter Rivan pun memilih pergi dari ruangan Laura.


Ketika Dokter Rivan keluar, Barra pun masuk ke dalam ruangan Laura. dia terlihat begitu sangat bahagia sekali.


Barra mencium kening Laura, dan dia memandangi wajah Laura.


"Terimakasih atas semua yang kamu lakukan untuk kuu, perjuangan kamu yang menginginkan anak di tengah keluarga kecil kita. Semoga dengan hadir nya anak ini membuat hubungan rumah tangga kita menjadi harmoni."


Barra terus saja mencium kening Laura, dan dia.


"Bayi itu sangat tampan sekali hidung mancung sama seperti kamu Laura, dia sangat tampan sekali. Kira-kira kita kasih nama apa yaa."


Laura begitu sangat bahagia sekali ketika dia akhirnya bisa memberikan keturunan untuk keluarga Barra.


Perjuangan Laura tidak sia-sia walaupun dia harus melihat suami nya menikah dengan adik kandung nya sendiri.


"Bryan Leonal saja Mas, kita kasih nama itu."


Ucap Laura kepada Barra, dan Barra pun tersenyum manis kepada Laura.


"Laura, kamu tunggu sebentar yaa. Aku ingin mencari Dokter Rivan, apakah kamu bisa melihat bayi kita."


Barra keluar dari ruangan Laura, dan dia berusaha untuk mencari Dokter Rivan.


Tapi ternyata Dokter Rivan, sedang mengatasi bayi prematur yang baru saja lahir.


Seketika Barra langsung teringat dengan bayi nya yang baru saja lahir.


Dan ternyata benar saja Briyan yang sedang di tangani oleh para medis.


Barra begitu sangat panik sekali dia tidak mau kehilangan anak nya.


Dan akhirnya Dokter Rivan pun menghampiri Barra, dan mengatakan bahwa bayi nya hanya bisa bertahan hidup di luar selama satu jam saja.


Seketika Barra pun tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Dokter Rivan, dia yang hanya bisa melihat anak nya dari kejauhan.


Akhirnya dia bisa melihat bayi nya ada di hadapan dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

__ADS_1


Barra tidak membayangkan bagaimana dengan Laura jika dia mengetahui bahwa bayi nya sudah tidak bernyawa lagi.


__ADS_2