
Asisten pribadi Laura memberitahu Laura jika Barra tadi datang ke kantor nya.
*Bu Laura tadi Pak Barra datang untuk mencari ibu. Wajah nya sangat serius sekali.*
Laura yang membaca pesan tersebut langsung melihat panggilan teleponnya di handphone yang khusus hanya keluarga nya.
"Astaga, ternyata Mas Barra menghubungi aku. Tapi aku tidak menyadari nya. Hmmm lebih baik aku menyimpan nomor handphone Rivan di handphone khusus kantor saja aku tidak mau Mas Barra mengetahui nya."
Laura melanjutkan perjalanan untuk bisa ketemuan dengan Dokter Rivan.
"Sudah saatnya aku menceritakan semua nya dengan Rivan, aku yakin dia tidak akan pernah bilang ke siapapun."
Laura memilih untuk bertemu dengan Dokter Rivan di sebuah cafe, Dokter Rivan yang ternyata sudah menunggu Laura terlebih dahulu.
Dokter Rivan merasa aneh kenapa Laura hanya datang sendiri tidak bersama dengan suaminya.
"Bukan kah dia ingin menjalankan program kehamilan tapi kenapa hanya dia sendiri datang."
Laura pun tersenyum manis ketika dirinya datang dan duduk saling berhadapan dengan Dokter Rivan.
"Maafkan aku yaa Dokter Rivan, aku telat datang nya. Dan membuat Dokter Rivan menunggu lama di sini."
Dokter Rivan memperhatikan wajah Laura yang seperti sedang mempunyai masalah.
"Langsung saja yaa, aku ingin menceritakan semua kenapa ingin sekali bisa secepatnya hamil. Ibu mertua ku memilih sebuah perusahaan yang pasti ingin sekali mempunyai penerus untuk memajukan perusahaan ketika suami sudah tidak muda lagi dan dia menginginkan aku untuk bisa segera hamil."
Dokter Rivan mendengarkan curahan hati Laura dengan sangat serius sekali.
"Tapi aku tidak pernah bisa memberikan nya, sampai melakukan hal yang sangat bodoh sekali. Aku menyuruh suamiku untuk menikah kontrak dengan Gisella adik kandung ku sendiri, dia menikah hanya sampai dia bisa melahirkan anak untuk kita berdua."
Mata Laura mulai berkaca-kaca saat menceritakan hal tersebut kepada Dokter Rivan dan Dokter Rivan merasa sangat terkejut sekali dengan cerita Laura.
"Karena aku tidak mau jika suamiku menikah dengan wanita lain jadi aku memutuskan agar Mas Barra menikah dengan Gisella dan sekarang aku merasa sangat menyesal sekali dan aku di buat cemburu di saat Mas Barra bersama dengan Gisella."
Dokter Rivan memberikan tissue kepada Laura.
"Laura, tidak ada wanita yang rela melihat suaminya menikah dengan wanita lain walaupun itu adalah adik kandung mu sendiri."
__ADS_1
Laura semakin menangis histeris di hadapan Dokter Rivan.
"Aku mohon Dokter Rivan, kamu adalah Dokter yang terbaik dan juga sahabat terbaik aku tolong aku. Semoga saja bulan depan aku bisa segera hamil."
Laura terus-menerus memohon kepada Dokter Rivan.
"Laura jika kamu benar-benar ingin melakukan program kehamilan secara cepat, harus di lakukan dengan suami mu juga. Kita bisa cek kesehatan kalian berdua di mana permasalahan nya."
Laura terdiam karena Barra tidak mungkin mau melakukan nya.
"Suamiku seperti nya tidak mau, dia seperti tidak percaya jika aku akan segera hamil. Dia pasti lebih menunggu kehamilan dari Gisella."
Dokter Rivan merasa hubungan Laura yang kurang harmonis dengan suaminya menjadi penyebabnya.
"Jika seperti ini sangat sulit sekali, seperti nya hubungan kamu pun sedang tidak baik dengan suami kamu. Seharusnya kalian berdua meluangkan waktu berdua lebih lama melakukan waktu berdua bersama dan kamu jangan terlalu sibuk dengan aktifitas kamu di kantor."
Laura merasa dia memang sangat sibuk sekali tapi dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya tersebut.
"Laura cobalah berhubungan baik dengan suami mu itu, kamu harus selalu dalam keadaan happy tidak boleh banyak pikiran seperti ini. Selesai permasalahan yang kamu hadapi."
Laura pun mulai merasa sangat tenang sekali ketika dirinya bisa meluapkan semua isi hatinya.
Dokter Rivan memilih untuk meminum air mineral yang ada di hadapannya.
***
Ketika Laura sedang meluangkan waktu kebersamaan bersama dengan Dokter Rivan sahabat nya sendiri.
Gisella yang mereka kondisi sudah membaik terbangun dari tidurnya.
Gisella merasa sangat terkejut sekali dia yang terbangun dari tidurnya sedangkan Barra tidak ada di kamar nya.
"Aku bangun tidur lalu di mana yaa Kak Barra, astaga dia pasti langsung pergi karena aku mengabaikan aku tidur."
Gisella mulai merasa sangat membaik sekali dan sudah bisa terbangun dari tidurnya.
"Kondisi ku sudah sangat membaik sekali, lebih baik nanti sore aku datang untuk mengembalikan uang tersebut."
__ADS_1
Gisella keluar dari kamar nya dia mencari ibu nya yang tidak ada di dapur.
"Seperti nya ibu sedang berada di toko, aku ke toko saja sekarang. Aku merasa sangat bosan sekali hanya terbaring di tempat tidur."
Gisella berjalan dengan sangat perlahan-lahan menuju ke toko bunga tersebut.
Melihat Gisella yang mau menghampiri toko, Riana langsung berlari ke arah Gisella.
"Gisella, kenapa kamu keluar kamar. Sudahlah lebih baik kamu istirahat saja sekarang kamu jangan memaksa untuk keluar rumah."
Gisella memegang erat tangan Ibunya.
"Aku sudah membaik Buu, aku berencana untuk pergi ke rumah Kak Barra. Aku sudah ingin menyelesaikan permasalah ini."
Gisella begitu sangat ingin terbebas dari pernikahan kontrak ini.
"Sabarlah dulu Nak, ibu tidak mau kamu mengakhiri pernikahan kontrak ini dan ternyata kamu sedang hamil anak Barra. Ibu tidak mau itu terjadi Nak."
Gisella duduk di depan toko bunga tersebut.
"Pernah ibu membayangkan jika aku hamil dan Kak Laura juga hamil, maka Kak Laura yang lebih di perhatikan oleh keluarga Kak Barra bukan anak aku Buu. Aku sudah mempersiapkan segala nya dari sekarang apapun yang terjadi terhadap kuu."
Riana tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika Gisella memang sudah tidak kuat lagi.
"Baiklah, tapi kamu jangan sendiri yaa. Ayah dan Ibu juga harus ada di samping kamu yaa."
Riana tidak mau Gisella merasa sendiri dia harus ada di samping Gisella.
"Tidak usah Buu, biarkan aku sendiri saja yang pergi. Semuanya pasti akan baik-baik saja Buu."
Gisella seperti sangat percaya diri sendiri dia yakin ini adalah jalan terbaik untuk kehidupan nya.
"Setelah selesai aku akan memulai kehidupan ku yang baru, aku akan bangkit dari keterpurukannya ku ini. Aku harus menjadi Gisella yang sukses dengan cara ku sendiri."
Gisella ingin sekali bisa mencari pekerjaan dia juga ingin sekali bisa lebih sukses dari Laura.
"Aku ingin sekali bisa membahagiakan ayah dan ibu dengan hasil uang ku sendiri, dan aku akan terus bersama dengan ayah dan ibu di sini sampai kapanpun. Karena aku merasa tidak percaya dengan pernikahan yang seperti ini."
__ADS_1
Gisella mengambil salah satu bunga yang ada di hadapannya.