
Gisella mulai merasakan hal yang berbeda di tubuh nya.
"Kenapa yaa aku merasa sangat lemas sekali dan teras gampang cape seperti nya tensi darah ku rendah kembali."
Gisella pelan-pelan duduk di sofa sambil memegang kepalanya.
"Kak Barra kan memberikan aku vitamin daya tahan tubuh yaa, aku harus mencari nya."
Gisella segera meminum vitamin tersebut dan langsung bersandar di sofa.
"Ini masih sangat pagi dan aku merasa sangat mengantuk sekali, seperti nya aku tidak bisa hidup sendiri di dalam Apartemen ini. Lebih baik aku tinggal bersama dengan Ibu dan Ayah saja."
Gisella pun memejamkan mata nya sampai dia ketiduran di sofa tersebut.
Laura dengan penuh semangat selalu berkonsultasi dengan Dokter Rivan, dia merasa sangat yakin sekali jika Dokter Rivan bisa membantu nya.
"Rivan Dokter Rivan dia adalah sahabat baik kuu, aku yakin sekali dia adalah seorang yang bisa membantu aku."
Laura lebih sering bertemu dengan Dokter Rivan untuk berkonsultasi.
"Laura semoga saja kamu bisa segera hamil yaa, dan suami kamu bisa kembali ke pelukan kamu."
Laura pun tersenyum sambil melamun ketika mendengar perkataan tersebut.
"Hubungan ku semakin hari semakin tidak harmonis, semoga saja ketika aku hamil. Mas Barra bisa kembali seperti dulu lagi."
Dokter Rivan memegang tangan Laura dengan erat.
"Semangat dan selalu semangat yaa pejuang dua garis biru."
Dokter Rivan pun memilih untuk pergi karena dia ada jadwal praktek.
"Laura aku pergi dulu yaa, banyak pasien yang menunggu aku."
Dokter Rivan pun meninggalkan Laura dan berjalan menuju ke ruangan praktek nya.
"Aku akan selalu bersemangat, aku ingin menjadi seorang ibu. Aku ingin punya anak dari rahim ku sendiri bukan dari orang lain."
Laura pun memilih untuk kembali ke kantor nya dia merasa hatinya sudah tenang.
***
Barra mencoba untuk menyiapkan momen romantis untuk mereka berdua, dia selalu mencoba menghapus rasa kesal nya kepada Laura.
"Aku harus selalu sabar walaupun hati aku selalu di buat kesal oleh Laura."
__ADS_1
Barra pulang ke rumah nya dia berniat untuk menghias kamar nya dengan sangat manis sekali.
Rossalinda melihat Barra yang membawa pernak pernik seperti akan merayakan pesta ulang tahun.
"Barra, untuk apa itu semua nya. Siapa yang ulang tahun Laura?."
Rossalinda bertanya heran kepada Barra.
"Bukan Mam, aku akan mencoba menghiasi kamar kuu supaya lebih indah dan romantis. Karena aku sudah sangat cape sekali Mam selalu saja bertengkar dengan Laura aku ingin seperti dulu lagi."
Rossalinda pun hanya terdiam saja dengan sikap Barra yang selalu mengalah dengan Laura.
Rossalinda pun memilih untuk langsung keluar dari kamar Barra.
Barra mencoba untuk menghias kamar nya tersebut, dia benar-benar ingin menjalani hubungan yang baik dengan Laura.
"Semoga sabar kuu semakin besar aku ingin seperti dulu lagi dan semoga saja Laura tidak membuat aku selalu emosional setiap hari."
Barra harus bisa menyelesaikan nya sebelum Laura datang ke kamar nya.
"Semoga Laura menyukai nya dan dia kembali seperti dulu lagi."
Barra tersenyum ketika melihat kamar yang sudah dia dekorasi dengan sangat indah sekali.
"Sekarang lebih baik aku menunggu kedatangan Laura pulang dan menutup rapat pintu kamar nya kembali."
Bahkan Barra pun ikut serta dalam memasaknya.
Di saat Barra yang sudah menyiapkan kejutan untuk Laura, Laura merasa sangat malas sekali untuk pulang ke rumah.
"Aku pulang ke rumah pasti hanya untuk bertengkar dengan Mas Barra, sedangkan aku harus selalu tenang tidak boleh banyak pikiran itu pun akan berpengaruh terhadap program kehamilan ku ini."
Laura memilih untuk terdiam di dalam mobil nya sambil memikirkan dia akan pergi ke mana.
"Laura, kamu jangan seperti ini. Kamu harus pulang ke rumah. Kalau kamu selalu pergi ke luar itu sama memberikan peluang untuk Mas Barra bertemu dengan Gisella."
Laura pun langsung terdiam ketika memikirkan hal tersebut.
"Yasudahlah Laura, apapun yang terjadi kamu harus pulang ke rumah itu."
Laura pun mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumah nya.
"Aku sudah merasa tidak nyaman sekali untuk diam di rumah itu, aku ingin keluar dari rumah itu tapi itu tidak mungkin karena Mama Rossa tidak punya anak lagi yang bisa menemani nya."
Laura sampai di depan gerbang rumah nya, dia mulai merasa sangat tidak nyaman sekali dengan keadaan di rumah itu.
__ADS_1
"Hahhhh, sabarlah Laura kamu harus tenang dan langsung saja masuk ke dalam kamar."
Melihat Laura yang sudah datang, Barra pun langsung masuk ke dalam kamar nya dan menunggu kedatangan Laura.
Ketika Laura masuk ke dalam dia merasa sangat aneh sekali dengan suasana di dalam rumah.
Para pegawai yang ada di sana semuanya tersenyum manis kepada Laura.
"Kenapa mereka semua tersenyum yaa, oh mungkin gajih mereka di naikkan."
Laura berada di depan pintu kamar nya, dia merasa sangat ragu sekali ketika ingin membuka tersebut.
Laura pun akhirnya membuka pintu kamar nya dan dia langsung terkejut ketika melihat suasana kamar nya yang berubah.
Laura langsung menutup rapat pintu kamar dan dia menghampiri tempat tidur nya, terdapat setangkai mawar merah dengan tulisan.
"I love you Laura Renita."
Terdengar suara Barra sambil memeluk erat Laura dari belakang.
Laura pun tidak kuasa menahan air mata nya ketika Barra kembali seperti dulu.
Laura membalikkan badannya dan mereka saling bertatapan wajah.
Laura langsung memeluk erat Barra dan menangis di pelukan suaminya tersebut.
"Laura, aku ingin kita seperti dulu lagi. Aku tidak mau kita selalu bertengkar setiap hari ingat perjuangan kita dulu sampai kita bisa menikah bersatu seperti ini."
Laura menganggukkan kepalanya sambil tidak berhenti menangis.
"Aku ingin hamil Mas, aku ingin memberikan keturunan untuk kamu dari rahim kuu sendiri sekarang aku sedang berjuang untuk bisa hamil."
Barra merasa sangat tersentuh sekali mendengar perkataan dari Laura dan Barra pun mencoba untuk tidak membahas tentang Gisella di hadapan Laura.
"Terus berjuang yaa sayang, semoga saja apa yang kita inginkan di permudah jalan nya oleh Tuhan."
Barra berusaha untuk menyemangati Laura yang sedang berjuang program kehamilan nya.
"Terimakasih banyak atas dukungan nya, aku menjadi lebih semangat sekali untuk menjalankan program kehamilan ini."
Barra menghapus air mata Laura dan Laura pun kembali tersenyum manis kembali.
"Sekarang kita makan malam yaa, aku sudah menyiapkan makanan spesial untuk kamu malam ini."
__ADS_1
Laura menyimpan setangkai mawar di kasur nya dan mereka pun keluar dari kamar di sambut meriah oleh para pegawai yang ada di depan kamar nya.
Mereka melempari bunga-bunga kepada Barra dan Laura.