Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (86)


__ADS_3

Barra membangunkan Gisella ketika mobil sudah sampai di Apartemen nya.


"Gisell, bangunlah kita sampai di depan Apartemen kamu."


Gisella membuka mata nya secara perlahan-lahan, dan dia sangat terkejut sekali kenapa dia di bawa ke sini.


"Loh, Kaa ko kita ke sini. Kenapa Kak Barra nggak bawa aku pulang ke rumah saja."


Gisella masih memegang kepalanya dia masih sedikit pusing.


"Di toko bunga ada mantan kamu dan ibu kamu juga yang menyarankan untuk pembawa kamu ke pengingat. Yasudahlah sekalian saja bawa ke Apartemen yang Mama janjikan untuk kamu."


Barra membuka pintu mobil nya dia memegang tangan Gisella karena takut Gisella terjatuh.


"Kamu hati-hati yaa, kamu harus menjaga kesehatan kamu selama di Apartemen ini."


Gisella menggangukan kepalanya dan Barra pun mengantarkan Gisella ke pintu Apartemen nya.


"Ini adalah Apartemen milik kamu sekarang, kamu bisa jauh-jauh dari mantan kamu itu. Di sini kamu pasti sangat aman sekali."


Gisella terpesona dengan kemewahan Apartemen tersebut.


"Apakah ini tidak terlalu mewah untuk aku yaa, ini bagus sekali padahal aku kan hanya istri bayaran."


Barra menutup bibir Gisella dengan ke dua tangan nya.


"Husss, jangan berkata seperti itu yaa. Semoga kamu betah dan bahagia di sini."


Gisella tersenyum manis kepada Barra.


"Terimakasih banyak atas semua kebaikan Kak Barra sama aku, Kak Barra baik sekali sama aku."


Barra memberikan vitamin daya tahan tubuh untuk Gisella.


"Minum ini secara rutin yaa kamu harus kuat yaa, jaga kesehatan kamu istirahat yang cukup."


Barra memberikan ATM nya kepada Gisella.


"Ini ATM ku dan ini nomor pin nya, setiap bulan aku akan mentransferkan uang untuk kebutuhan kamu. Kamu pakai yaa dengan baik."


Gisella merasa sangat beruntung sekali ketika dia bisa bersama dengan lelaki yang sangat perhatian kepada nya.


Walaupun lelaki tersebut hanya tinggal sesat di hati nya.


"Aku tidak boleh membuat Kak Barra kecewa, dia sudah sangat baik sekali kepada kuu maka aku pun harus bisa memenuhi keinginan nya."

__ADS_1


Ucap Gisella di dalam hati nya, Gisella pun tersenyum manis menggoda kepada Barra.




Barra memandangi wajah Gisella, senyuman yang begitu sangat menggoda sekali.


Barra pun memilih untuk menundukkan kepalanya dia memilih untuk memainkan handphone agar dia tidak fokus dengan Gisella.


Tapi Gisella menghampiri Barra dan membuat Barra bergetar.


Gisella belum pernah memulai nya dia selalu malu dan memejamkan mata nya.


Tapi malah ini Gisella tampak sangat berbeda sekali dia kelihatan lebih menggoda dan sangat cantik.


Gisella meletakkan ke dua tangan ke pundak Barra dan membuat mereka berdua saling bertatapan wajah.


Gisella menyentuh bibir Barra dengan jari-jari tangan nya yang lentik.


"Terimakasih atas semua kebaikan nya, dan aku pun akan membalas semua nya dengan apa yang kamu inginkan."


Barra memejamkan mata nya ketika Gisella semakin mendekati nya, bibir mungil Gisella menyentuh bibir Barra.


Dan membuat Barra seketika membuka mata nya.


Dia pun langsung membawa Gisella naik ke ranjang.


Gisella nambak sangat liar sekali di malam itu tidak seperti malam-malam yang sudah-sudah.


Barra merasa kan hubungan suami istri yang indah di malam itu dengan perasaan suka dengan suka dan saling menikmati satu dengan lain nya.


"Harus kah mengatakan ini, aku tidak mau mengakhiri kebersamaan kita berdua di malam ini."


Ucap Gisella di telinga Barra dengan suara yang lirih.


Barra pun merasa kembali apa yang dirinya tidak rasakan selama bersama dengan Laura.


Keesokan harinya Gisella masih terlihat lemas sekali di tempat tidur, Barra hanya bisa tersenyum manis melihat Gisella yang tertidur pulas seperti itu.


Barra tidak berani untuk membangunkan Gisella, dia memilih untuk langsung pergi ke kantor.


"Aku berangkat kerja dulu ya istri kuu sayaaaaang."


Barra mencium kening Gisella dan bersiap untuk pergi ke luar dari Apartemen nya.

__ADS_1


"Aku merasa sangat bersemangat sekali untuk masuk ke kantor, terimakasih banyak Gisella atas malam itu."


Ketika Barra yang terlihat sangat menikmati harinya tapi tidak dengan Laura dia terbangun dari tidurnya dan melihat suaminya tidak ada di sebelahnya.


"Sudah ku duga dia memilih untuk tidur bersama dengan Gisella, awas saja aku akan berusaha sangat keras sekali agar aku bisa segera hamil dan kamu Mas tidak bisa lagi seperti ini kepada aku."


Laura semakin bersemangat untuk sering berkonsultasi dengan Dokter Rivan.


Semangat Laura sangat tinggi sekali dan dia pun tidak memperdulikan Barra.


"Aku yakin bisa hamil dengan resep yang diberikan oleh Dokter Rivan, aku tidak perlu melakukan program bayi tabung."


Laura yang sudah sangat cantik pun keluar dari kamar nya dan melihat suaminya yang baru saja datang.


*Foto Laura*


"Kenapa kamu harus pulang, kenapa tidak langsung saja kamu pergi ke kantor. Jangan buat pagi ku menjadi tidak berwarna saja, kamu pasti sudah menghabiskan waktu bersama dengan Gisella kan. Padahal Gisella itu baru sembuh dari sakit nya tapi mau saja diajak bermalam bersama dengan suami orang."


Ucapan Laura membuat Barra menarik nafas panjang nya, dan langsung menghampiri Laura.


"Ada berkas penting yang harus aku bawa karena hari ini ada Rapat yang sangat penting di perusahaan."


Barra pun langsung masuk ke dalam kamar nya dan mengambil berkas tersebut, Barra merasa sangat emosional sekali mendengar perkataan Laura.


"Ahhhhhh, sudahlah lebih baik aku langsung pergi saja. Aku tidak mau berdebat pagi-pagi dengan Mas Barra hanya membuang-buang waktu pagi ku saja."


Laura memilih untuk langsung pergi ke kantor dia mengabaikan Rossalinda yang sedang duduk untuk menunggu sarapan pagi.


"Dia semakin tidak mempunyai etika, mungkin dia despresi menghadapi permasalahan rumah tangga nya yang dia buat rumit sendiri."


Rossalinda pun melihat Barra yang sudah keluar dari kamar nya dengan wajah yang memerah seperti sedang menahan emosi.


"Apakah kamu akan menemani Mama sarapan pagi Barra, kamu terlihat sangat terburu-buru sekali."


Barra pun menghampiri Rossalinda.


"Maafkan aku Mam, aku harus pergi ke kantor. Aku sudah telat sekali."


Barra pergi setelah berpamitan dengan Mama nya.


"Ahhhhhh, aku sangat kesepian sekali. Andai saja Gisella ada di sini dia yang akan menemani kuu saat ini."


Rossalinda pun menikmati sarapan pagi nya hanya seorang diri.


"Semoga saja Gisella bisa segera memberikan aku cucu, mungkin hidup ku tidak akan kesepian seperti ini selalu."

__ADS_1


Rossalinda lebih mengharapkan kehadiran cucu dari Gisella, dia begitu sangat sayang Gisella di saat baru pertama kali bertemu.


__ADS_2