
Setelah menandatangani surat perjanjian Gisella pun langsung menghampiri Laura.
Gisella tersenyum manis kepada Laura.
"Kak, bayi yang ada di kandungan ku ini adalah bayi ku milik ku. Apapun yang terjadi aku tidak bisa memberikan bayi ini kepada Kakak dan semoga setelah kejadian ini hubungan kita bisa menjadi membaik seperti dulu lagi."
Laura memandangi sinis wajah Gisella.
"Kamu tenang saja Gisella, Kakak pasti lebih memilih anak ini dan Kakak tidak akan pernah mengambil anak kamu itu."
Gisella pun langsung tersenyum manis kepada Laura.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi sekarang juga."
Rossalinda memegang tangan Gisella.
"Gisella, mau kah kamu berkerja di perusahaan kami. Mama melihat kamu adalah wanita yang sangat cerdas sekali."
Gisella langsung melirikan mata nya kepada Laura.
"Terimakasih banyak atas kebaikan Mama, tapi sekarang aku sedang ingin menjadi guru private matematika."
Rossalinda merasa sangat terkejut sekali ketika mendengar hal tersebut.
"Nah kan sudah Mama duga kamu sangat cerdas sekali, pokoknya Mama ingin kamu berkerja di perusahaan keluarga ini yaa. Kapan pun kamu mau bisa langsung masuk ke dalam perusahaan kami."
Laura memilih untuk pergi dari ruangan tersebut karena dia merasa semua nya sudah selesai.
"Iya, nanti aku pikirkan lagi yaa Mam. Mungkin jika aku sudah melahirkan anak ini karena aku tidak mau terlalu cape bekerja ketika sedang hamil seperti ini."
Rossalinda menghampiri Gisella dia memegang perut Gisella.
"Kamu pasti terlihat menjadi seorang yang pintar dan sukses, ke cerdas kamu mengalir dari kedua orang tua mu. Sehat selalu yaa sampai saat nya tiba omah ingin sekali melihat wajah kamu."
Gisella pun hanya bisa tersenyum manis saja dan dia berniat untuk pulang.
Barra melihat Gisella yang masih memakai cincin pemberian nya.
"Gisella ayo aku antarkan pulang, aku ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu."
Gisella menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak, aku pulang sendiri saja. Kita baru saja berdamai Kak. Jangan memulai permasalahan kembali, sekarang sikap Kakak seperti dulu saja karena aku rasa Rangga sudah mencurigai kita berdua."
Gisella pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut dia pun berjalan menuju ke luar rumah.
__ADS_1
"Gisella, kamu pulang bersama dengan supir pribadi di rumah ini. Kamu jangan memakai taksi online yaa."
Gisella merasa Laura masih punya perhatian kepada nya.
"Iya, terimakasih banyak."
Gisella pun berjalan menuju ke luar untuk menunggu mobil yang akan membawa nya pergi.
Ketika mobil itu berada di hadapannya, Gisella pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
"Aku pulang dulu ya Kak, semoga Kakak selalu bahagia dengan Kak Barra."
Gisella pun meminta untuk menutup jendela mobil nya.
Gisella terus memegang perut nya sambil tersenyum manis.
"Nak, sayaaaaang. Bunda yakin kebahagiaan kita akan di mulai hari ini yaa sayaaaaang, selalu buat Bunda kuat dan semangat untuk menjalankan kehidupan ini yaa sayaaaaang. Bunda yakin bisa membuat kamu bahagia dengan kesuksesan Bunda."
Gisella terus meneteskan air mata nya di sepanjang perjalanan menuju ke rumah nya.
"Aku tidak boleh menangis seperti ini, jangan sampai Ayah dan Ibu melihat kesedihan ku seperti ini."
Gisella pun menghapus air mata nya dan mencoba untuk tetap tersenyum manis di hadapan orang tua nya.
Gisella melihat kedua orang tuanya yang sudah menunggu nya pulang.
Gisella turun dari mobil nya dan langsung menghampiri kedua orang tuanya.
Riana seketika langsung memeluk erat Gisella sambil menangis tersedu-sedu.
"Buuuu, kenapa ibu harus menangis seperti ini. Apa yang harus kita tangis kan buuu."
Gisella mencoba terlihat tegar di hadapan ibu nya.
Riana memandangi wajah Gisella dia mencium kening Gisella.
"Sabar yaa Nak, kamu pasti akan bahagia setelah ini."
Gisella pun tersenyum manis dan memegang tangan ibu nya.
"Aku bahagia sekali buuu, akhirnya aku bisa bersama dengan anak ku selama nya. Aku tidak memberikan anak ku kepada Kak Laura."
Gisella pun memilih untuk masuk ke dalam rumah nya.
"Buuuu, aku masuk dulu yaa. Aku mau rebahan dulu aku cape sekali."
__ADS_1
Gisella pun berjalan menuju ke rumah nya dan Riana membiarkan Gisella untuk beristirahat.
Gisella merasa sangat pusing sekali dia pun membaringkan tubuh nya di atas kasur.
Gisella melihat handphone nya yang ternyata banyak sekali pesan yang masuk.
Gisella merasa sangat terkejut sekali ketika banyak sekali yang meminta untuk Gisella untuk menjadi guru private matematika.
Gisella yang memposting di semua media sosial nya pun langsung mendapatkan respon yang sangat baik.
"Ahhhhhh, akhirnya sayaaaaang. Banyak sekali yang meminta untuk Bunda menjadi guru private dan ini adalah awal dari rezekinya kamu sayang."
Gisella seperti mendapatkan energi yang baru.
"Terimakasih Tuhan, akhirnya aku bisa berdiri sendiri atas semua kerja keras ku."
Gisella pun mulai membagi jadwal mengajar nya.
Ketika Gisella yang sedang berbahagia dengan apa yang dia dapat kan.
Laura mulai sibuk dengan menyimpan kamar untuk anak pertama nya.
Laura yang sempurna dan sangat mewah sekali untuk kehadiran anak nya nanti.
"Mas, kita harus mempersiapkan kamar untuk anak kita nanti. Dan kita juga harus mendekorasi kamar nya dari sekarang Mas."
Barra mulai merasakan rasa nya berkurang kepada Laura pun hanya bisa terdiam saja mendengar perkataan Laura.
"Mas, kenapa kamu diam seperti itu sih. Kamu seperti nggak senang yaa sama aku yaa."
Rossalinda yang melihat Barra dan Laura seperti sedang berdebat pun langsung menghampiri mereka berdua.
"Ada apa ini Laura dan Barra, kenapa suara Laura terdengar sangat kencang sekali."
Barra pun memilih untuk pergi dia masuk ke dalam kamar nya.
"Aku hanya ingin membuatkan kamar untuk anak ku nanti, dan mendekorasi kamar tersebut dari sekarang. Karena pasti kehamilan itu tidak akan terasa."
Laura terlihat sangat emosional sekali.
"Laura, itu bisa kita siapkan di usia kandungan kamu sudah menginjak 7 sampai 8 bulan. Sekarang kandungan kamu masih sangat muda sekali dan yang harus kamu pikirkan adalah menjaga kondisi kesehatan kehamilan kamu."
Rossalinda merasa jika sikap Laura yang begitu sangat berlebih-lebihan sekali dari mulai hasil kehamilan nya yang baru saja positif.
Laura yang merasa mempunyai banyak penghasilan pun dia ingin melakukan apa yang dia inginkan untuk anak nya sendiri.
__ADS_1
"Seharusnya aku tidak harus berkata kepada mereka berdua, padahal ini kan uang hasil kerja keras ku. Memang salah memberikan kebahagiaan untuk anak kita sendiri."
Laura pun memilih untuk menyiapkan nya sendiri dia sudah tidak mau lagi banyak meminta pendapat terhadap suaminya dan Mama mertua nya.