
Barra akhirnya sampai di rumah sakit dia langsung mencari ruangan Laura.
Barra melihat Mama Rossa yang sedang menunggu di depan ruangan.
"Mam, apa yang sebenarnya terjadi dengan Laura. Kenapa dia bisa seperti ini."
Barra bertanya kepada Mama nya dengan nafas yang tidak beraturan.
"Mama rasa Laura membereskan kamar yang dia inginkan untuk anak nya nanti, dia kecapean karena Mama tidak melihat nya. Dan tiba-tiba saja Laura sudah tidak sadar nya diri di depan pintu kamar nya."
Barra merasa sangat hawatir sekali dengan kondisi Laura, dia pun menunggu penjelasan dari Dokter yang menangani Laura.
Dokter Rivan akhirnya keluar dari ruangan tersebut dan Barra pun langsung menghampiri nya.
"Bagaimana dengan kondisi Laura,? dan juga janin yang ada di kandungan nya ? apakah semuanya baik-baik saja kan."
Barra memegang tangan Dokter Rivan, tangan Barra yang begitu sangat bergetar hebat.
"Saya sudah memberikan penguatan kandungan, dan semoga saja Laura tidak mengalami pendarahan lagi. Laura harus benar-benar istrirahat kandungan sangat lemah sekali dan seperti nya Laura harus diam saja di dalam kamar."
Perkataan Dokter Rivan tidak mungkin bisa Laura terima, karena Laura yang selalu saja ingin berkerja keras.
"Saya akan mencoba untuk membicarakan semua ini kepada Laura. Semoga saja Laura bisa menerima nya."
Rossalinda dan Barra langsung masuk ke ruangan Laura.
Dia melihat Laura yang sedang menangis sambil memegang perut nya.
Barra menghampiri Laura dan mencium kening Laura.
"Laura kamu harus menjaga baik-baik kehamilan mu ini yaa, jangan sampai terjadi lagi seperti ini. Kamu harus beristirahat total karena kandungan mu ini sangat lemah sekali dan kamu harus mengorbankan pekerjaan mu demi anak kita ini."
Rossalinda pun menghampiri Laura dia merasa sangat kasihan sekali melihat kondisi Laura.
"Semoga saja semua nya baik-baik saja, Dokter Rivan sudah memberikan yang terbaik untuk kamu Laura."
Laura terus saja menangis dia takut kehilangan anak nya.
"Aku tidak mau kehilangan anak ku ini, aku sangat menginginkan anak ku ini."
Seketika saja Laura langsung mengingat pada Gisella.
"Handphone kuu Mas, di mana handphone ku."
Laura mencari handphone nya dia terlihat sangat panik sekali.
__ADS_1
"Tidak ada handphone Laura, mungkin handphone kamu terjatuh di depan kamar kita ."
Laura berniat untuk menghapus percakapan nya bersama dengan Rangga.
Laura tidak mau Barra sampai membaca percakapan tersebut.
"Jika kamu menemukan handphone ku di rumah, kamu langsung non aktif kan saja yaa handphone nya. Aku tidak mau banyak panggilan telephone yang menggangu kuu."
Barra pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan terus memandangi wajah Laura.
"Laura seperti nya nanti aktivitas kamu di rumah hanya di tempat tidur saja, kamu harus benar-benar istrirahat total."
Laura pun menganggukkan kepalanya dia memang harus lebih berhati-hati.
Barra mulai mengaktifkan kembali handphone setelah baterei di handphone nya full.
Barra melihat banyak sekali panggilan telephone masuk dari Mama nya
"Maafkan aku Mam, handphone ku baru aktif dan aku baru tahu jika Mama terus menghubungi ku."
Barra pun memilih untuk keluar ruangan dia mencoba untuk menghubungi Gisella.
"Lebih baik aku memberitahu Gisella tentang keadaan Laura sekarang, seperti nya Gisella tidak sedang sibuk. Dia pasti langsung datang ke sini."
Barra yang sebenarnya ingin sekali bertemu dengan Gisella, dia merasa sangat merindukan Gisella.
Gisella mengambil handphone nya yang berdering kencang sekali.
"Sebenarnya yaa sayaaaaang, Ibu mau menjawab panggilan telephone dulu yaa. Kamu coba untuk mengerjakan sendiri yaa nanti Ibu kembali lagi yaa."
Gisella memilih untuk keluar dari ruangan tersebut karena dia tidak menggangu konsentrasi muridnya.
***Hallo Kak Barra, ada apa yaa Kaa
*Gisell, kamu sekarang sedang berada di rumah kah?.*
*Tidak Kak, aku sedang berada di salah satu rumah murid ku Kaa. Ini adalah hari pertama aku menjadi guru private matematika untuk anak sekolah dasar.*
*Ouhhh Kakak pikir kamu berada di rumah, Kakak hanya ingin memberitahu sama kamu kalau Laura dia mengalami pendarahan dan sekarang di rawat kembali di rumah sakit sejahtera.*
*Yaa Tuhan, Kak Laura kenapa bisa seperti itu. Aku akan datang setelah selesai mengajar yaa Kaa. Aku pasti akan datang ke sana.*
*Yasudah yaa Gisell, kamu fokus dulu saja dengan murid kamu yaa.*
*Iyaa Kaa**.
__ADS_1
Barra mengakhiri panggilan telephone nya dan dia kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Gisella, kandungan dia begitu sangat kuat sekali. Sekarang Gisella menjadi seorang guru private matematika untuk anak sekolah dasar. Kelak nanti akan kita akan menjadi anak yang pintar seperti ibu nya."
Laura memperhatikan Barra yang tersenyum sambil memegang handphone nya.
"Kamu sedang chatting dengan siapa Mas, kenapa kamu senyam-senyum sendiri seperti itu."
Rossalinda mencoba untuk menenangkan perasaan Laura.
"Laura kamu jangan berpikir negatif yaa, mungkin saja Barra sedang melihat sesuatu yang lucu di media sosial nya."
Barra pun memilih untuk memasukkan handphone nya ke kantung celana nya.
"Laura kamu harus tahan emosi kamu yaa, aku tidak akan macam-macam ko aku setia menunggu kamu di sini."
Barra kembali menghampiri Laura dia memegang tangan Laura.
"Mas, kamu akan tetap bersama dengan aku akan apapun yang terjadi dengan aku. Kamu akan selalu setia dan tidak akan pernah meninggalkan aku."
Laura kelihatan sangat tidak mau kehilangan suami nya, di saat kondisi nya seperti ini.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, sekarang kamu positif thinking yaa. Jika bayi kita kuat di dalam perut kamu yaa."
Melihat Laura dan Barra, Rossalinda memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.
Rossalinda ingin membelikan Laura buah-buahan yang segar.
Ketika Rossalinda hendak pergi dia seperti melihat Gisella yang berjalan menuju ke arah nya.
"Apakah itu Gisella, seperti nya Barra yang memberitahu ini semua."
Rossalinda melambaikan tangan nya dan Gisella pun dengan cepat menghampiri Rossalinda.
"Gisell, kamu jangan berjalan cepat seperti itu."
Rossalinda memegang perut Gisella dan dia merasakan getaran di perut Gisella.
"Dia bergerak seperti nya dia tahu dia sedang bertemu dengan omah nya."
Gisella melihat ekpresi wajah gembira Mama Rossa ketika merasakan gerakan halus di perut Gisella.
"Sayang, ini omah nak. Sehat-sehat di perut Ibu mu yaa sayang jadi anak yang kuat sampai waktu nya kita bertemu yaa Nak."
Rossalinda terus saja mengelus perut Gisella.
__ADS_1
Gisella terlihat sangat senang sekali ketika melihat perhatian yang di berikan oleh Mama mertua nya terhadap nya.
Walaupun Gisell menyadari jika dirinya bukan menantu seutuhnya.