
Laura merasakan sakit yang luar biasa sekali di perut nya, dia sampai tidak sanggup bangun dari tempat tidur nya.
"Astagaaaa, perut kuuu kenapa sangat sakit sekali yaa."
Laura terus saja memegang perut nya, dia tidak menahan rasa sakit yang sangat luar biasa sekali.
Laura mencoba untuk mencari handphone nya, dia ingin sekali menghubungi suami nya.
Laura berusaha untuk mengambil handphone yang dia simpan di meja.
"Ahhhhhhh, sakit sekali perut ku ini. Mulas dan pinggang ku terasa sangat panas sekali."
Laura mengambil handphone nya ketika dia ingin mencari kontak milik suami nya, tapi ntah mengapa nama Gisella yang dia panggil.
Laura mencoba untuk membatalkan panggilan telephone tersebut tapi Gisella langsung menjawab panggilan telephone nya.
*Hallo, Kak Laura. Ada apa yaa.*
Laura memilih mengakhiri panggilan telephone tersebut dia masih mengingat kembali kejadian malam itu.
"Ahhhh, aku tidak mau meminta bantuan kepada Gisella. Aku tidak mau."
Laura sangat tidak tahan sekali menahan mulas yang yang dia rasakan.
Dan akhirnya Laura pun tidak sadar diri di tempat tidur nya.
Gisella yang merasa sangat curiga dengan Laura pun langsung menghubungi Barra.
*Hallo, Kak Barra. Tadi Lalu Laura menelephone aku tapi panggilan telephone langsung dia tutup. Aku hawatir terjadi sesuatu dengan Kak Laura.*
*Gisella, sekarang kamu sedang berada di mana. Kak Barra akan kirimkan alamat Apartemen milik Kak Laura. Bisakah kamu ke sana sekarang. Kak Barra sebentar lagi akan melakukan rapat yang sangat penting sekali.*
*Baiklah Kak, silahkan kirimkan alamat nya*
Gisella mengakhiri panggilan telephone nya, dia pun menyuruh supir nya untuk ikut bersama dengan nya ke dalam Apartemen.
"Pak, pergi ke alamat ini yaa. Kita masuk bersama ke dalam Apartemen tersebut."
Supir pribadi itu pun mengikuti apa yang di katakan oleh Gisella.
"Bu Gisell, memang nya ibu Gisell kuat. Ibu Gisell juga kan sedang hamil besar."
Gisell memandangi perut besar nya, dia merasa sangat yakin sekali jika dia kuat.
"Saya kuat kok Pak, saya pasti kuat. Tenang saja yaa."
Supir pribadi itu pun sampai di depan Apartemen, Gisella turun bersama dengan supir tersebut dan mencari kamar Laura.
__ADS_1
Supir pribadi Gisella, begitu sangat hawatir sekali melihat Gisella.
Dia takut terjadi sesuatu dengan Gisella dan kandungan nya.
"Pak, ini adalah kamar nya. Dan semoga saja pintu nya tidak terkunci."
Supir tersebut mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut dan ternyata langsung terbuka.
Gisella pun langsung masuk berjalan menuju ke kamar Laura.
"Kak Lauraaaaaaa, Kak Laura."
Gisella membuka pintu kamar tersebut dan dia melihat wajah Laura yang pucat dengan darah yang banyak di sprei nya.
Seketika Gisella pun sangat terkejut sekali melihat hal tersebut, dia langsung memanggil supir pribadi untuk menolong Laura.
"Paaaakkk, cepat ke sini. Saya sangat takut sekali melihat nya."
Supir tersebut pun langsung membawa Laura, Gisella masih merasa bergetar sekali ketika melihat banyak nya darah di sprei tersebut.
"Apakah Kak Laura mengalami pendarahan lagi, Yaa Tuhan. Bagaimana ini apakah yang sekarang janin nya akan selamat."
Gisella pun langsung berjalan cepat menuju ke mobil nya, Gisella duduk di kursi belakang dia menemani Laura.
"Pak, di percepatan saja yaa kecepatan nya. Saya sangat takut sekali terjadi sesuatu dengan kehamilan Kakak nya."
Gisella meneteskan air mata nya, dia tidak mau jika Laura sampai kehilangan anak nya.
"Kak Lauraaaaaaa, harus kuat yaa. Harus sabar jangan sampai apa yang Kakak inginkan selama ini hilang begitu saja."
Gisella terus saja memegang tangan Laura, dia ketakutan kehilangan Kakak nya tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter Rivan. Sangat terkejut sekali apa yang dia takutkan akhirnya terjadi.
Dia langsung membawa Laura untuk di tindak.
Gisella mengeluarkan handphone nya, dia mulai memberitahu kepada orang-orang terdekat nya.
****Kak Barra, Kak Laura tidak sadarkan diri di kamar nya. Dia mengalami pendarahan kembali dan sekitarnya sedang di tindak di rumah sakit sejahtera.*
*Buuu, Kak Laura masuk kembali ke rumah sakit. Aku mohon ibu datang ke sini.*
*Mama Rossa, datanglah ke rumah sakit sejahtera. Kak Laura tidak sadarkan diri***.*
Setelah mengirimkan pesan kepada Barra, ibu nya dan Mama mertua nya.
Gisella pun menunggu kabar dari Dokter yang memeriksa kondisi Laura.
__ADS_1
Gisella pun tetap harus menjaga kesehatan nya.
"Pak, saya ke kantin dulu yaa. Saya mau cari makan saya harus meminum obat yang sudah di diresepkan oleh Dokter."
Gisella pun pergi ke kantin dia memesan makanan sambil memandangi handphone nya.
Tidak satu balasan pun dari pesan-pesan yang dia kirimkan.
"Sesibuk itu kah mereka, sampai tidak ada yang membalas pesan dari kuu."
Gisella pun mementingkan isi perut nya karena dia harus meminum obat.
Selesai makan dan meminum obat, Gisella kembali ke tempat untuk menunggu tersebut.
Gisella melihat belum ada Dokter yang keluar.
"Semoga saja kondisi kesehatan Kak Laura baik-baik saja, semua nya sehat baik Kak Laura maupun Janin nya."
Ketika Gisella hendak duduk Dokter Rivan pun keluar dari ruangan tersebut.
Dia melihat hanya ada Gisella tidak ada Barra di samping Gisella.
Jika Dokter Rivan mengatakan semuanya kepada Gisella, dia takut sekali Gisella menjadi kaget dan pikiran mengganggu kesehatan kehamilan Gisella.
"Gisella, di mana Barra. Saya ingin sekali bicara dengan Barra. Kenapa dia tidak ada di sini."
Gisella pun menghampiri Dokter Rivan.
"Kak Barra, Bu Rosssa dan Ibu saya sendiri merasa sudah saya kirim pesan tapi tidak ada satu pun yang datang ke sini."
Gisella semakin penasaran sekali apa yang terjadi dengan Laura.
"Bagaimana dengan kondisi Kak Laura,? dia baik-baik saja kan. Kandungan nya pun sehat kan."
Dokter Rivan tersenyum kepada Gisella.
"Lebih saya sampaikan semua nya kepada Barra langsung saja, Gisella lebih baik sekarang kamu pulang saja. Biarkan suster yang menemani Laura, kamu harus menjaga kesehatan kehamilan kamu juga."
Gisella merasa sangat aneh sekali kenapa Dokter Rivan lebih memilih dia untuk pergi bukan untuk menemani Laura.
"Bu Gisell, lebih baik kita pulang saja yaa. Bu Gisell pulang. Ikuti apa yang di katakan oleh Dokter. Saya sangat hawatir sekali dengan kondisi kandungan Bu Gisell."
Gisell pun akhirnya pergi mengikuti apa yang di katakan oleh Dokter Rivan, dia sebenarnya sangat hawatir sekali dengan kondisi Laura.
"Semoga saja Kak Laura dan kehamilan nya baik-baik saja, aku sangat kasihan sekali ketika melihat ini."
Gisella begitu sangat sedih sekali ketika melihat kehamilan Laura yang harus selalu masuk ke rumah sakit.
__ADS_1