
Laura diam-diam pergi ke Dokter Specialis Kandungan tampa sepengetahuan Barra.
"Lebih baik aku datang sendiri saja untuk menjalani program kehamilan ini jika mungkin Dokter menyarankan aku untuk program bayi tabung aku akan mengikuti apa yang terbaik agar aku bisa secepatnya hamil."
Laura sampai di Rumah Sakit besar dan dia pun mulai mulai mengisi formulir pendaftaran.
Laura mulai mengambil nomor antrian dan menunggu dirinya di panggil.
Laura terus memakainya handphone sampai akhirnya nama dia yang di panggil.
Laura merasa sangat gugup sekali ketika dirinya harus bertemu kembali dengan Dokter Specialis Kandungan.
Ketika Laura masuk dia buat terkejut ketika melihat Dokter tampan yang ada di hadapannya.
Rivan Mahendra, Dokter Specialis Kandungan yang ada di hadapannya itu adalah teman Laura di saat mereka berdua masih sekolah SMA.
"Astaga, Rivan Mahendra. Kobisa yaa kamu yang jadi Dokter Specialis Anak aku."
Laura merasa sangat senang sekali ketika bisa melihat kembali wajah teman masalalu.
Rivan Mahendra yang memilih untuk melanjutkan kuliah kedokteran nya di luar negeri.
"Laura Renita, kamu pasti sekarang sudah menjadi pembisnis yang sangat hebat sekali yaa. Bagaimana dengan kabar kamu Laura semakin tua semakin cantik saja."
Laura tersenyum manis kepada Rivan Mahendra.
"Nanti aku ceritakan bukan sekarang karena masih banyak pasien yang menunggu kamu di luar, sekarang cepat lah periksa aku sudah 3 tahun aku menikah tapi belum juga bisa mempunyai keturunan. Aku ingin sekali bisa menjadi seorang ibu."
Dokter Rivan langsung menyuruh Laura untuk berbaring dan mencoba untuk memeriksa kondisi Laura.
Dokter Rivan mencoba untuk melakukan USG 4D, dan melihat dengan teliti.
"Laura semua nya baik-baik saja tidak ada tanda penyakit yang aku temukan, dan aku rasa kamu sehat."
Lagi-lagi Laura mendengar perkataan yang sama dari semua Dokter Specialis Kandungan yang dia temui.
"Kamu mungkin adalah Dokter Specialis Kandungan yang ke 5 yang mengatakan hal yang sama, tapi sampai sekarang aku tetap saja belum bisa hamil."
Wajah Laura terlihat sangat sedih sekali ketika dirinya tidak tahu harus bagaimana lagi.
__ADS_1
"Apakah setiap kamu konsultasi ke Dokter hanya kamu saja yang di periksa, sedangkan suami kamu tidak. Seharusnya kita kalian ingin memiliki seorang anak harus suami istri yang di periksa tidak hanya kamu saja."
Dokter Rivan meresepkan obat dan vitamin untuk Laura.
"Coba bicara dulu dengan suami kamu, kembali bersama di bulan depan tapi semoga saja dengan obat itu kamu bisa langsung hamil."
Laura mengambil kertas resep tersebut dan menyimpan ke dalam tas.
"Semoga saja yaa Rivan, aku sudah ingin sekali mempunyai anak. Apalagi itu adalah permintaan dari Mama Rossa, Mama mertua ku."
Ketika Laura sudah merasa selesai dia pun langsung pergi dari ruangan praktek tersebut.
Rivan Mahendra memberikan kartu nama nya kepada Laura.
"Kamu bisa menghubungi ku kapan pun kamu butuh penjelasan yaa."
Laura pun langsung mengambil kartun nama tersebut.
"Oke, terimakasih banyak Dokter Rivan."
Laura pun keluar dari ruangan tersebut dan memandangi kartu nama tersebut.
Laura pun kembali ke dalam mobil nya, dia yang berniat untuk melakukan honeymoon bersama dengan Barra.
"Aku harus lihat dulu kapan waktu yang tepat untuk bisa honeymoon bersama dengan Mas Barra, ini harus jadi aku harus meluangkan waktu bersama dengan Mas Barra."
Laura memilih untuk kembali ke kantor nya dan dia pun memilih perkembangan produk masker wajah yang baru dia keluarkan.
"Produk ini ternyata sangat di sukai oleh banyak orang, ini akan memperlancar bisnis kuu. Aku yakin bisnis ku akan sangat sukses di tahun ini."
Laura merasa sangat merindukan kedua orang tuanya, dan dia pun ingin sekali melihat bagaimana dengan bisnis toko bunga nya.
"Aku pun harus memantau perkembangan bisnis toko bunga kuu, hmmmmm perjuangan ku memang tidak sia-sia. Aku mengorbankan masa remaja hanya untuk pekerjaan ku ini dan sekarang aku mendapatkan kesuksesan itu."
Setelah selesai melihat perkembangan produk koleksi nya, Laura pun berniat untuk pergi ke rumah orang tua nya.
"Semoga saja toko bunga kuu pun bisa sesukses bisnis kosmetik ku, dan aku akan memasang foto kuu agar mereka tahu jika toko bunga tersebut milik kuu."
Di perjalanan menuju ke rumah orang tua nya, Laura membelikan buah-buahan untuk orang tua nya.
__ADS_1
"Kenapa yaa hari ini tiba-tiba saja aku ingin membawakan buah-buahan padahal biasanya aku membelikan kue kesukaan ayah dan ibu, semoga saja ayah dan ibu di rumah baik-baik saja semua nya sehat."
Perasaan Laura tiba-tiba saja langsung teringat dengan Gisella, dia merasa sangat sesak sekali dan mengingat Adik nya tersebut.
"Kenapa perasaan ku sangat aneh sekali hari ini, sekarang aku tiba-tiba saja teringat Gisella apakah Gisella sedang sakit yaa."
Laura pun langsung mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali sehingga dia dengan cepat sampai di depan rumah nya.
Ketika Laura hendak keluar dari mobil nya dia melihat Ibu nya yang seperti akan pergi.
"Mau pergi ke mana yaa Ibu,? seperti nya dia sangat buru-buru sekali."
Laura pun dengan cepat membuka pintu mobil nya dan berlari menghampiri Ibu nya.
"Buuuu, ibuuuuuuu."
Teriak Laura memanggil ibu nya.
Riana pun merasa sangat terkejut sekali ketika melihat kedatangan Laura dengan membawa buah-buahan di tangan nya.
"Ibu, mau ke mana? kenapa ibu seperti terburu-buru sekali."
Riana memilih untuk jujur kepada Laura.
"Ibu harus secepatnya ke Rumah Sakit, Gisella sakit dan sekarang Gisell sedang bersama dengan Rangga. Ibu harus segera mengantikan Rangga karena dia juga pasti ingin cepat pulang."
Riana pun memilih untuk langsung masuk ke dalam taksi yang sudah ada di hadapannya.
Mendengar Gisella sakit, Laura hanya bisa terdiam seperti patung saja.
Riana pun memperhatikan wajah Laura yang hanya terdiam saja.
"Laura benar-benar tidak peduli kepada Gisell, seharusnya dia yang mengajak ku untuk pergi ke Rumah Sakit bersama nya bukan membiarkan ibu nya naik taksi."
Riana benar-benar kecewa sekali dengan sikap Laura terhadap Gisella.
Ayah Laura menghampiri nya dan mengajak untuk masuk ke toko bunga.
"Laura, lebih baik kamu melihat adik mu. Bukan terdiam seperti ini. Bagaimana pun juga Gisell yang mau membantu muu untuk bisa memberikan keturunan untuk keluarga Barra."
__ADS_1