Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *138*


__ADS_3

Laura sampai di rumah nya dengan di temani kedua orang tuanya.


Sikap Laura menjadi sangat berubah sekali dia menjadi seperti overprotektif sekali dengan kandungan nya.


Laura begitu sangat hati-hati sekali setelah kejadian sebelumnya yang dia alami.


"Bu, rasanya aku ingin sekali ibu yang menemani aku di kehamilan ku ini. Aku sangat ingin sekali ibu ada di samping aku."


Perkataan Laura membuat Barra dan Rossalinda terkejut.


"Laura, jangan seperti itu. Aku bisa menyiapkan suster yang bisa membantu kamu di rumah ini. Jangan ibu kasihan anak ibu dia pasti nanti sangat cape sekali."


Ucap Barra pada Laura, dan Riana pun langsung memikirkan Gisella.


"Kenapa tidak boleh,? aku pun sama anak ibu. Yasudah kalau begitu aku pulang saja ke rumah orang tua aku. Agar aku bisa bersama dengan mereka berdua."


Barra tidak mengerti kenapa sikap Laura berubah menjadi seperti ini.


Barra pun juga langsung memikirkan Gisella Gisella jika Laura ingin tinggal bersama dengan Ayah dan Ibu nya.


"Yasudah Laura, ibu hanya bisa satu sampai dua hari saja menemani kamu di sini. Ibu tidak bisa meninggalkan toko bunga terlalu lama juga kan. Karena Gisella sekarang dia menjadi guru private matematika dan dia harus pergi setiap hari."


Riana merasa sangat berat hati sekali dia harus tinggal di rumah ini tapi Riana juga tidak mau jika Laura pulang ke rumah nya hanya membuat keributan saja bersama dengan Gisella.


Apalagi sekarang Gisella sudah mulai menunjukkan rasa tidak suka nya terhadap Laura.


Mendengar perkataan tersebut Laura pun langsung tersenyum manis kepada Ibu nya.


Barra pun langsung mendorong kursi roda milik Laura ke arah kamar.


"Buuu, ayah pamit pulang yaa. Kasihan Gisella sendiri di rumah nya."


Barra pun langsung menghentikan dorongan kursi roda nya, ketika mendengar hal tersebut.


"Iya Ayah jangan lupa yaa buatkn susu coklat hangat kesukaan Gisella jika dia pulang malam, susu hami untuk Gisella."


Barra merasa sangat senang sekali ketika kedua orang tua Gisella yang begitu sangat perhatian kepada Gisella.

__ADS_1


Barra rasa ini hanya keinginan Laura saja yang tidak mau ibu nya terlalu perhatian kepada Gisella.


"Gisella, enak sekali yaa. Di buatkan susu hangat setiap malam oleh ibu. Gisella mendapatkan perhatian khusus dari Ibu."


Barra mengangkat Laura dan membaringkan nya di atas kasur.


"Gisella harus berkerja di saat dia sedang hamil, mendapatkan perhatian seperti itu sangat wajar. Sedangkan kamu tidak perlu memikirkan tentang keuangan karena kamu mempunyai suami yang bertanggung jawab terhadap kamu."


Barra menyelimuti tubuh Laura dan duduk di samping Laura.


"Mulai besok aku sudah pergi ke kantor. Dan mohon jangan membuat ibu kecapean berada di sini. Setelah dua hari ibu berada di sini aku akan langsung menyiapkan dua Suster sekaligus untuk kamu Laura."


Laura pun hanya terdiam saja ketika Barra berkata seperti itu kepada nya.


"Ingat yaa Laura, jangan melakukan aktivitas fisik yang berat. Belajar dari kejadian sebelumnya jika kamu ingin mempertahankan kandungan kamu yaa. Sekarang lebih baik kamu langsung istirahat saja."


Barra pun memilih untuk meninggalkan Laura, dia ingin sekali bicara dengan Ibu mertua nya.


"Baiklah Mas, aku akan mengikuti semua perintah kamu. Semua nya demi anak kita."


Ketika Barra keluar dari kamar nya dia langsung mencari Ibu mertua nya.


Riana kelihatan sangat tidak nyaman sekali berada di rumah Barra.


"Mbak, tolong siapkan kamar yang bersih dan rapih untuk Ibu mertua saya. Kemungkinan akan menginap satu sampai dua hari di sini."


Pelayan itu langsung pergi menyiapkan kamar sesuai dengan perintah Barra.


Barra mengajak Ibu mertua nya untuk mengobrol berdua.


"Bu, saya ingin sekali bicara dengan ibu. Membicarakan tentang Gisella, tapi jangan di sini kita mengobrol saja di ruangan keluarga."


Riana pun mengikuti apa yang di katakan oleh Barra.


Rossalinda yang melihat Barra dan Riana berjalan menuju ke ruangan keluarga pun langsung mengikuti nya.


"Seperti nya mereka berdua mau membicarakan sesuatu, aku juga harus tau apa yang di bicarakan mereka berdua."

__ADS_1


Rossalinda pun langsung berjalan menuju ke ruangan keluarga tersebut.


Riana, Barra dan Rossalinda pun duduk di kursi yang saling berhadapan.


"Buuu, sebelum nya saya minta maaf kepada Ibu. Saya bukan lepas tanggung jawab kepada Gisella saya ingin sekali memberikan fasilitas yang terbaik kepada Gisella di saat kehamilan ini. Tapi saya rasa Gisella tidak mau menerima semua nya."


Riana pun tersenyum kepada Barra.


"Gisella dia sangat perkerjaan keras sekali, penyemangat nya adalah kehamilan nya. Sekarang dia sedang menghindari Laura dan Gisella pun sekarang sangat sensitif sekali dia tidak se sabar dulu."


Barra merasa sangat malu sekali ketika Gisella yang harus berkerja keras untuk anak di kandungan nya.


"Bu saya ingin sekali membantu Gisella, saya memberikan uang untuk kebutuhan Gisella kepada Ibu. Karena jika kepada Gisella dia pasti menolak nya karena bagaimana pun juga Gisella sedang hamil anak saya, yaa walaupun dalam perjanjian Gisella menginginkan anak tidak tahu jika saya adalah ayah kandung nya."


Rossalinda pun mulai menyiapkan uang untuk Gisella.


"Seperti nya tidak usah memberikan uang kepada Gisella, karena saya pun tidak akan diam. Saya masih mampu untuk membantu Gisella jadi saya rasa tidak perlu memberikan uang untuk Gisella."


Barra pun langsung terdiam mendengar perkataan tersebut, seperti nya Ibu mertua nya menolak karena tidak mau Laura sampai mengetahui nya.


"Sekarang Laura merasa kecemburuan kepada Gisella, dia pun dekat dengan ibu nya. Dan saya rasa itu yang sedang di rasakan oleh Laura sekarang."


Rossalinda pun langsung memikirkan perusahaan kosmetik milik Laura.


"Barra, menurut Mama yaa. Bagaimana jika Gisella saja yang mengantikan posisi Laura di perusahaan nya. Mama rasa Gisella sangat cerdas sekali dia beritahu beberapa kali pun pasti langsung mengerti."


Barra tidak kepikiran ke arah itu, daripada Laura memberikan perusahaan nya di kelola oleh orang lain lebih baik oleh Gisella saja.


"Aku akan mencoba untuk membicarakan hal ini secara perlahan-lahan dengan Laura, Jika Gisella bisa maka Laura akan lebih tenang untuk diam di rumah tanpa harus memikirkan perusahaan kosmetik nya selalu."


Mendengar pembicaraan antara Barra dan Mama nya, Riana merasa jika Laura tidak mungkin mau memberikan kepada Gisella.


Dan Riana pikir itu hanya membuat permasalahan baru untuk Barra dan juga Laura.


Pemikiran Riana, Laura takut perusahaan nya di ambil alih oleh Gisella.


Karena Riana sangat mengetahui sikap asli Laura seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2