Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *151*


__ADS_3

Barra sampai di kantor nya dan dia melihat jika Rangga sudah menunggu nya di ruangan nya.


Barra pun tersenyum ketika melihat Rangga yang ada di hadapannya.


"Saya tidak menyangka sekali yaa, bisa berkerja sama dengan perusahaan Pak Erlangga."


Rangga pun hanya bisa terdiam karena dia sebenarnya tidak mau jika tahu harus berkerja sama dengan perusahaan Barra.


Tapi ini semua karena desakan dari ke dua orang tuanya, Barra harus mempunyai pekerjaan karena dia yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


"Baiklah sekarang kita bicarakan tentang rencana bisnis yang akan perusahaan kita jalankan."


Rangga dan Barra begitu sangat serius sekali membicarakan tentang rencana bisnis yang akan mereka lakukan.


Mereka berdua sangat profesional sekali tidak membawa permasalahan pribadi di bisnis mereka berdua.


Selesai membicarakan tentang rencana bisnis mereka, Rangga pun berpamitan untuk pergi.


"Terimakasih banyak Pak Barra, saya pergi sekarang juga."


Rangga meninggalkan ruangan Barra, Rangga merasa sangat merindukan sekali Gisella.


"Aku sudah sangat lama sekali tidak melihat Gisella, di mana yaa sekarang dia. Setiap menunggu di depan halaman rumah nya, tidak pernah melihat dia keluar dari rumah nya."


Rangga pun terus saja memikirkan Gisella bukan tunangan nya Fransisca.


"Semoga saja aku bisa bertemu dengan Gisella di jalan."


Rangga pun masuk ke dalam mobil nya.


Gisella begitu sangat bersemangat sekali, dia berkerja dengan penuh semangat.


"Gisella, kamu sudah banyak menggambar banyak sekali. Lebih baik sekarang kamu mencari varian aroma nya."


Rossalinda merasa tidak percaya jika Gisella begitu sangat pintar sekali dalam menggambar dia juga merasa jika Gisella bisa menjadi seorang yang sukses.


"Gisella, lebih baik kamu istrirahat dulu yaa. Kasihan bayi kamu yaa. Sana makan dulu yaa sudah Mama siapkan buah-buahan nya juga."


Gisella pun mengikuti apa yang di katakan oleh Mama Rossa, karena dia sangat peduli sekali terhadap kesehatan bayi nya.


"Baiklah Mam, aku makan dulu yaa."


Gisella pun pergi ke tempat yang sudah di sediakan makanan untuk nya.


"Astaga, ini sih benar-benar makanan 4 sehat 5 sempurna. Semangat sekali aku makan nya."


Gisella pun langsung menyantap makanan tersebut.

__ADS_1


Ketika di perjalanan Rangga seperti melihat mobil milik Laura.


"Itu kan mobil nya Kak Laura, di mau pergi ke mana yaa. Kecepatan mobil nya sangat tinggi sekali."


Rangga yang merasa sangat penasaran pun mencoba untuk mengikuti mobil tersebut.


"Oke, kita ikuti saja. Takut nya terjadi sesuatu pada Gisella."


Rangga terus mengikuti mobil tersebut sampai akhirnya dia melihat seperti kantor.


Laura turun dari mobil dia berjalan sangat cepat sekali.


"Ini kan sebuah kantor, ini kantor siapa yaa dan Kak Laura kenapa dia seperti terburu-buru seperti itu yaa."


Rangga mencoba untuk turun dari mobil nya dia menghampiri satpam yang ada di sekitar tempat tersebut.


"Selamat siang Pak, boleh saya tahu ini sebenarnya kantor milik siapa yaa."


Rangga bertanya kepada satpam tersebut sambil memastikan Laura masih ada di dalam.


"Oh, ini adalah kantor milik Bu Rossalinda. Yang akan dia berikan kepada menantu nya."


Rangga pun sangat terkejut sekali ketika Laura mendapatkan kembali bisnis.


"Maksud apa ini nanti nya akan menjadi kantor milik Bu Laura Renita,? bukan nya dia sudah mempunyai bisnis kosmetik yaa Pak."


Rangga begitu sangat penasaran sekali karena dia tahu hubungan Laura dengan Rossalinda yang tidak harmonis.


Rangga pun sangat terkejut sekali mendengar nya, ternyata apa yang dia curiga itu adalah benar.


"Terimakasih banyak yaa Pak atas informasinya, saya pergi dulu."


Rangga masuk kembali ke dalam mobil nya dia berniat untuk kembali ke perusahaan Barra.


Rangga terlihat sangat emosional sekali kepada Barra.


"Barra jadi dia lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap Gisella, dan apa yang ada di pikiran nya. Menikah dengan Kakak dan Adik nya, apa pikiran dia masih berfungsi dengan baik."


Rangga begitu sangat kesel sekali kepada Barra.


"Aku akan membatalkan rencana bisnis ini, aku tidak mau menjalankan bisnis dengan dia."


Rangga kembali ke kantor Barra, dia di terima dengan sangat baik sekali. Karena sebelumnya sudah bertemu dengan Barra.


Asisten pribadi Barra membuka kan pintu untuk Rangga masuk, dan Rangga pun masuk, Asisten pribadi itu keluar menutup rapat pintu tersebut.


"Erlangga, ada apa yaa. Apakah ada berkas yang ketinggalan di ruangan saja."

__ADS_1


Rangga tidak menjawab pertanyaan dari Barra dia terus berjalan menuju ke hadapan Barra.


Dan tiba-tiba saja


"Bukkkkk"


Rangga memukul Barra dengan penuh emosional sekali.


Barra langsung terjatuh ke lantai dan Rangga menarik paksa Barra agar tetap bisa berdiri.


Wajah mereka berdua pun saling bertatapan.


"Bisa-bisa nya ada lelaki yang menikah dengan Kakak nya ketika Kakak nya tidak bisa memiliki keturunan dia menikah dengan Adik."


"Buuukkk"


Rangga memukul kembali Barra dengan sangat kuat sekali dan membuat Barra tidak berdaya.


Barra mencoba untuk berbicara kepada Rangga dia ingin menjelaskan semuanya tapi pukulan Rangga yang sangat kuat sekali membuat Barra kesulitan untuk bicara.


"Kita berdua saling mencintai, aku dan Gisella. Kita berdua berniat untuk segera tunangan tapi kamuuuuuu BARRA mengambil kebahagiaan itu."


Rangga mulai mengatur nafas nya dia tidak mau membuat Barra, lenyap di hadapan nya.


"Barra, kamu manusia paling sekarang yang ada di dunia ini. Sebaiknya kamu harus banyak konsultasi ke psikiater setelah ini."


Rangga pun memilih untuk langsung pergi dari ruangan Barra dan menghampiri Asisten pribadi Barra.


"Bawa Bos tampan kamu itu ke Rumah Sakit, dan jangan lupa juga ketika dia sudah sembuh. Suruh dia konsultasi ke Psikiater karena aku rasa mental dia bermasalah."


Asisten pribadi Barra pun langsung berlari menghampiri Barra.


Dia sangat terkejut sekali ketika melihat Wajah Barra yang memar dan berdarah.


"Astaga Pak Barra, bapa tidak apa-apa kan."


Asisten pribadi itu langsung mengangkat Barra untuk bisa duduk.


Barra tidak melawan Rangga karena posisi nya yang memang salah.


"Jangan sampai orang kantor tahu dengan masalah ini, apalagi ibu dan istri saya."


Asisten pribadi itu pun menganggukkan kepalanya sambil mencoba untuk mengobati luka Barra.


Barra merasa dirinya sangat rendah sekali ketika dia di sebut serakah menikahi Kakak dan Adik kandung.


Barra mencoba untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan.

__ADS_1


"Melati, kamu gantikan posisi saya. Dan bilang jika saya pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis. Saya akan menyembuhkan dulu luka saya ini jangan sampai Mama dan Istri saya hawatir apalagi sampai melaporkan Rangga ke polisi itu jangan sampai terjadi."


Barra terus saja menghelakan nafas panjang nya.


__ADS_2