Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *160*


__ADS_3

Laura masih saja menangis di pelukan Ayah nya, dia merasa sudah tidak akui lagi anak oleh ibu nya sendiri.


Laura harus berusaha untuk berdiri sendiri dalam menghadapi kenyataan kehidupan nya.


"Ayah, aku pulang dulu yaa. Ini sudah larut malam."


Laura pamit dengan hati yang sangat pedih, dan Ayah nya pun tidak tega melihat Laura pulang dengan kondisi seperti itu.


"Nak, lebih baik kamu menginap saja yaa semalam di sini. Ayah hawatir sekali dengan kondisi kamu yang seperti ini mengendarai mobil sendiri."


Laura teringat Ibu nya yang sudah terlanjur benci kepada nya.


"Tidak Ayah, aku ingin pulang saja. Aku masih sangat kuat untuk mengendarai mobil."


Riana membuka gorden jendela kamar Gisella, dia juga merasa sangat kasihan dengan Laura tapi mendengar tadi perkataan Laura kepada Gisella perkataan yang sangat keterlaluan sekali.


Gisella pun berjalan menuju ke arah jendela kamar nya, dia juga melihat Laura yang berjalan menuju ke mobil nya.


"Kenapa Kak Laura seperti itu yaa, aku ingin Kak Laura bisa berubah baik seperti dulu lagi. Bukan selalu menyuruh aku untuk menyelamatkan kehidupan nya."


Riana menggenggam erat tangan Gisella dan menatap wajah nya yang begitu sangat pucat sekali.


"Sudahlah sayaaaaang, pergi istirahat yaa. Kamu juga harus memikirkan kehamilan mu juga. Ibu tidak mau kondisi kehamilan kamu terganggu karena kamu yang memikirkan permasalahan ini."


Gisella pun mengikuti apa yang di katakan oleh Ibu nya, dia pun kembali membaringkan tubuh nya di tempat tidur.


Riana keluar dari kamar Gisella, dia menutup rapat pintu kamar tersebut.


Gisella mengelus lembut perut nya sambil meneteskan air mata nya.


"Aku ingin sekali bisa segera melahirkan anak pertama ku ini, anak ini adalah penyemangat hidup kuu. Dan dia yang membuat aku berjuang untuk bisa hidup bahagia bersama dengan nya nanti."


Gisella memilih untuk memeriksakan kondisi kehamilan nya besok, dia merasa sangat hawatir sekali karena Gisella yang lebih banyak melamun dan menangis.


***


Laura sampai di depan Apartemen nya, ketika dia hendak membuka pintu.


Barra terlebih dahulu membukakan pintu untuk Laura masuk.


Barra melihat wajah Laura yang basah dengan air mata nya.


"Laura,? apakah kamu baik-baik saja?. Kamu habis menangis lagi ? apa yang sudah terjadi di sana. Kamu tidak membuat keresahan kan."

__ADS_1


Laura mengabaikan pertanyaan Barra, dia memilih langsung pergi ke kamar nya.


"Seperti nya permasalahan bertambah lagi, Laura pasti berbicara yang tidak pantas kepada Gisella."


Barra menghampiri Laura yang terus saja berjalan menuju ke kamar nya.


Ketika Laura membuka pintu kamar nya, semua sudah kembali rapih dan bersih.


Laura pun berjalan menuju ke tempat tidur nya, dia berbaring sambil menarik selimut sampai menutupi wajahnya.


Barra tidak berani untuk banyak bertanya kepada Laura, karena itu hanya akan membuat Laura marah-marah kepada nya.


Barra memilih untuk menutup kembali pintu kamar tersebut.


"Seperti nya Laura habis bertengkar dengan Gisella, Sesabar nya hati Gisella. Dia juga sama seperti manusia biasa yang punya batas kesabaran."


Barra memilih untuk tidur di sofa, dia pun juga memikirkan Rangga.


"Seperti nya, besok aku mulai pergi kembali ke kantor. Semoga saja Rangga tidak membahas tentang pernikahan kontrak ini ke media massa. Semoga saja Rangga mendengar perkataan Gisella kepada nya."


Barra mencoba untuk terus berpikir positif, dia harus selalu yakin dengan apa yang dia pikirkan.


Keesokan harinya~~~


"Laura, dia masih saja tertidur pulas. Tapi aku hawatir sekali dengan kondisi nya. Semoga saja dia tidak demam."


Barra membuka pintu kamar dan dia berjalan menuju ke Laura, Barra memegang kening Laura.


"Syukurlah, dia tidak demam. Suhu tubuh nya normal."


Barra pun mencium kening Laura dan mengelus rambut panjang nya.


"Selalu semangat yaa istri kuu, kamu adalah wanita yang kuat dan tangguh. Semoga saja bisnis kosmetik mu kembali maju."


Barra meninggalkan Laura sendiri di Apartemen nya, dia memaksa kan untuk tetap masuk kerja walaupun luka memar di wajah nya masih terlihat jelas sekali.


Ketika Barra pergi ke kantor nya, Gisella pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi kehamilan nya.


Gisella sangat menghawatirkan sekali karena permasalahan demi permasalahan yang membuat dirinya sering sekali menangis dan melamun.


"Semoga saja kamu sehat yaa Nak, baik-baik di dalam perut ibu."


Gisella pergi ke rumah sakit dengan menggunakan supir pribadi nya.

__ADS_1


Gisella begitu sangat bersemangat sekali, setiap dia mau melihat calon bayi nya.


"Pak, tunggu saya yaa. Habis ini kita langsung pergi ke kantor nya Bu Rossa."


Supir pribadi tersebut pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis kepada Gisella.


"Baik Bu Gisell, hati-hati yaa."


Gisella pun masuk ke dalam tidak harus menunggu lama dia pun di persilahkan untuk masuk ke dalam ruangan.


Gisella bertemu dengan Dokter Rivan, dan dia melihat jika hari ini bukan jadwal nya untuk periksa kandungan.


"Apakah ada yang kamu rasakan,? keluhan kehamilan?."


Gisella pun mulai menceritakan semuanya kepada Dokter Rivan.


"Aku sekarang sedang banyak sekali permasalahan dan membuat aku banyak melamun dan bahkan menangis, aku hawatir sekali jika terjadi sesuatu dengan kandungan ku ini."


Dokter Rivan pun mempersilahkan Laura untuk di USG.


"Semua baik-baik saja sekarang kandungan mu sudah masuk ke 7 bulan, posisi kepala sudah di bawah, air ketuban cukup dan bbj pun normal."


Gisella merasa sangat senang sekali mendengar hasil dari pemeriksaan nya.


"Gisella,? sudah dua bulan ini Laura tidak pernah memeriksa kondisi kandungan nya. Laura yang terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sampai dia mengabaikan bayi yang ada di kandungan nya."


Gisella hanya bisa terdiam saja ketika Dokter Rivan mengatakan hal tersebut.


"Yasudah, Gisella kamu tinggal menunggu waktu 2 bulan lagi. Untuk menjadi seorang ibu, jaga baik-baik kandungan kamu ini yaa. Karena kelahiran bayi ini pasti yang paling kamu tunggu-tunggu."


Gisella menganggukkan kepalanya dan dia pun memilih untuk langsung keluar dari ruangan tersebut.


"Kak Laura, sebenarnya dia lebih sayang dengan pekerjaan nya atau dengan kesehatan kandungan nya. Bisa-bisa nya dia tidak memeriksa kandungan nya sudah 2 bulan."


Gisella pun menunggu pengambilan obat dan dia pun langsung memilih untuk pergi agar bisa segera sampai di kantor nya.


Gisella menjadi memikirkan kondisi kehamilan Laura, apalagi setelah kejadian malam itu.


Laura yang di tampar oleh ibu nya, itu pasti berpengaruh terhadap kondisi kehamilan.


"Apa aku beritahu Kak Barra yaa, tentang ini. Tapi ini pasti malah akan menambah lagi masalah."


Gisella pun memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil nya.

__ADS_1


__ADS_2