
Barra dan Gisella pun sampai di rumah nya, semua barang-barang yang sudah Barra pesan sudah sampai di rumah nya.
Ayah Gisella begitu sangat terkejut sekali ketika melihat barang-barang di beli oleh Gisella.
Gisella pun turun dari mobil Barra dan tersenyum manis kepada Ayah.
"Ayah hari ini aku membeli perlengkapan bayi bersama dengan Kak Barra."
Gisella terlihat sangat bahagia sekali dan membuat Barra menghampiri Gisella.
"Gisella lebih baik sekarang kita tempel-tempel pernak pernik di kamar kamu yaa, kita hias bersamaan."
Gisella pun berpamitan dahulu kepada Ayah nya.
"Ayah aku masuk ke dalam kamar dulu yaa, oh iyaa Ayah ternyata cucu Ayah itu berjenis kelamin perempuan loh Ayah dan semuanya sehat dan normal."
Ayah Gisella begitu sangat bahagia sekali ketika mendengar hal tersebut.
"Yaa Tuhan, berikan kebahagiaan untuk putri cantik ku Gisella Reviska. Sudah banyak sekali pengorbanan yang sudah dia lakukan semoga saja setelah hadir nya Putri cantik nya Gisella akan selalu bahagia selalu."
Ayah Gisella selalu berharap yang terbaik untuk Gisella.
Gisella dan Barra pun masuk ke dalam kamar Gisella dan mereka pun sangat bersemangat sekali untuk bisa mendekorasi kamar tersebut.
Gisella dan Barra terlihat sangat kompak sekali dan membuat Barra merasa sangat nyaman sekali ketika dia bersama dengan Gisella.
"Kak Barra, sebaiknya sekarang Kakak pergi ke rumah sakit untuk melihat Kak Laura. Dan aku berterimakasih sekali atas semua yang sudah Kakak berikan untuk kuu hari ini."
Barra baru saja menyadari jika dirinya sudah melupakan Laura yang sekarang masih berada di rumah sakit.
"Iyaa Gisella, sekarang Kak Barra pergi dulu yaa."
Sebelum pergi Barra mengelus perut besar Gisella dan mencium nya.
"Sayaaaaang, baby girl Papa. Papa pergi dulu yaa sayaaaaang. Sehat-sehat terus yaa sayaaaaang, Papa ingin sekali cepat bertemu dengan kamu."
Barra pun langsung pergi dari kamar Gisella.
"Hati-hati yaa , Ayah dari anak ku."
Ucap Gisella dengan suara yang sangat pelan-pelan sekali.
Gisella pun merasa sangat bahagia sekali ketika kamar nya berubah menjadi hello Kitty Pink.
"Lucu sekali yaa, apa yang di pesan oleh Kak Barra."
Barra mengendarai mobil menuju ke rumah sakit, dan Dokter Rivan lagi-lagi datang menghampiri Laura.
"Bu Riana, jika ibu akan pulang silahkan saja. Biarkan saya yang akan menunggu Laura."
Riana merasa sangat risih sekali ketika melihat Dokter Rivan yang terlalu berlebih-lebihan perhatian kepada Laura.
Riana sangat takut sekali Barra berpikir negatif terhadap Dokter Rivan.
"Tidak apa-apa saya saja yang menunggu Laura, karena besok juga Laura sudah bisa pulang kan jadi biarkan saja Saya di bersama dengan Laura."
Laura hanya terdiam saja ketika mendengar perdebatan antara ibu nya dengan Dokter Rivan.
Dan tiba-tiba saja Barra dengan membawa bucket bunga kesukaan Laura.
Laura pun sangat bahagia sekali ketika melihat kedatangan suami nya.
__ADS_1
Ekpresi wajah Dokter Rivan seketika berubah ketika melihat melihat kedatangan Barra.
Dan Barra pun mencium kening Laura sambil memberikan bucket bunga tersebut.
"Kamu kenapa sih Mas, baru ke sini. Kamu sudah tidak peduli lagi yaa sama aku."
Melihat Laura yang bersikap manja kepada Barra membuat Dokter Rivan merasa sangat cemburu sekali melihat nya.
Dan akhirnya Dokter Rivan memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.
Riana yang melihat sikap Dokter Rivan dia semakin yakin jika Dokter Rivan memiliki perasaan terhadap Laura.
"Barra, besok Laura sudah bisa pulang. Dan seperti nya Ibu juga akan pulang saja sekarang karena sudah ada kamu di sini. Ibu kasihan kepada Gisella karena dia yang sudah hamil besar takut nya dia merasa kontraksi."
Riana pun langsung berpamitan kepada Laura dan Barra.
"Sayaaaaang, ibu pulang dulu yaa. Besok kamu sudah bisa pulang dan semoga saja kamu bisa langsung sehat dan beraktivitas kembali."
Riana pergi dari ruangan Laura dan berjalan menuju ke mobil yang sudah menunggu nya.
"Mas, kamu masih cinta kan sama aku. Walaupun sekarang aku gagal memberikan kamu keturunan."
Barra tersenyum manis sambil membelai rambut panjang Laura.
"Aku akan tetap cinta kepada kamu Laura, aku kan pernah bilang sama kamu. Walaupun kita harus hidup hanya berdua tapi kita akan bahagia bersama."
Laura merasa sangat bahagia sekali ketika Barra yang masih setia dengan nya.
"Terimakasih banyak atas semua yang sudah kamu berikan untuk aku yaa Mas, aku juga tidak akan pernah menghianati pernikahan kita ini."
Laura meneteskan air mata nya dan Barra menghapus air mata tersebut dengan tangan nya.
"Kamu harus semangat yaa Laura, mulai sekarang kamu jangan dulu memikirkan tentang kehamilan lagi. Biarkan semua mengalir apa adanya seperti air mengalir."
Dokter Rivan melihat kebersamaan mereka berdua, dia pun mengetuk pintu kamar bersama dengan suster untuk melihat luka operasi Laura.
"Maafkan menggangu waktu kebersamaan kalian tapi saya mau melihat luka operasi Laura."
Barra pun seketika saja langsung pergi meninggalkan mereka dan duduk menunggu hasil pemeriksaan di luar.
Dokter Rivan pun dengan penuh hati-hati melihat hasil operasi tersebut.
"Luka sudah membaik tapi kamu tetap harus membatasi aktifitas kamu yaa Laura, aku sarankan walaupun kamu sudah pulang kamu harus istirahat dulu di rumah."
Dokter Rivan kembali menutup perban dan menganti dengan yang baru.
"Rivan, aku tidak bisa beristirahat seperti itu. Aku itu seorang wanita karir yang memiliki perusahaan. Jadi setelah aku pulang dari rumah sakit aku pasti langsung fokus pada bisnis skincare kosmetik kuu. Aku ingin sekali bisnis kosmetik ku menjadi maju kembali setelah beberapa lama aku menyerahkan semuanya kepada asisten pribadi aku."
Dokter Rivan hanya bisa terdiam saja ketika Laura yang tidak bisa di beri tahu.
"Rivan, terimakasih banyak atas semua kebaikan kamu yaa. Selama aku di rawat di rumah Sakit ini kamu yang selalu ada di samping ku dan begitu sangat perhatian sekali ketika suami sibuk mengurus pemakaman anak ku."
Dokter Rivan hanya tersenyum dan pergi dari ruangan Laura.
Melihat Dokter Rivan keluar dari ruangan Laura, Barra pun langsung menghampiri Dokter Rivan.
"Bagaimana Dok, semuanya baik-baik saja kan. Luka bekas operasi nya sudah baik."
Wajah Barra begitu sangat panik sekali.
"Luka nya baik tapi Laura seperti biasa dia tidak mau mendengarkan perkataan Dokter, di pikiran nya setelah dia pulang dari rumah sakit dia kembali dengan perkerjaan nya."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut, Barra pun kembali masuk ke dalam ruangan Laura.
***
Riana sampai di rumah nya dia pun langsung mencari Gisella, Riana masuk ke dalam kamar Gisella.
Riana begitu sangat terkejut sekali ketika melihat kamar Gisella yang berubah menjadi kamar hello Kitty pink.
"Astaga Gisell, kenapa kamar kamu berubah seperti ini. Menggemaskan sekali sangat lucu sekali Ibu melihat nya."
Gisella pun tersenyum manis kepada Ibu nya dan menghampiri nya.
"Buu, tadi aku di antar oleh Kak Barra untuk periksa kehamilan kuu. Dan ternyata Dokter bilang semua baik dan jenis kelamin bayi aku adalah perempuan."
Riana pun langsung memeluk erat tubuh Gisella.
"Gisella, Ibuuu sangat bahagia sekali sayaaaaang mendengar nya. Semoga saja kamu baik-baik dan sehat sampai waktu persalinan tiba yaa sayang."
Gisella menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukan erat tersebut.
"Iyaa Buuu, aku merasa tidak percaya sekali. Aku akan menikah di usia muda ku dan juga akan menjadi seorang ibu. Aku sangat bahagia sekali Buu."
Gisella meneteskan air mata nya ketika teringat kembali kejadian pernikahan nya.
"Oh iyaa buuuuuu, bagaimana dengan kondisi Kak Laura. Apakah dia sudah membaik."
Gisella menanyakan tentang kondisi Laura.
"Laura besok sudah bisa pulang dan Ibu rasa kamu jangan bertemu dengan Laura, dia begitu sangat sensitif sekali terhadap kamu sayang."
Gisella merasa sangat sedih sekali dia pun mengingat kembali kejadian Laura yang menusuk Apple merah dengan pisau dan di lemparkan ke hadapan nya.
"Baiklah Buu, jika memang itu yang terbaik untuk aku dan juga kesehatan Kak Laura."
Riana pun melihat dekorasi kamar dan melihat wajah Gisella yang begitu sangat bahagia sekali.
"Sayaaaaang, lebih baik sekarang kamu istirahat yaa sayang."
Ketika Riana hendak pergi dari kamar Gisella, dia memegang tangan Ibu nya.
"Buu, aku merasa tidak nyaman sekali dengan sikap Rangga. Dia yang selalu saja bilang jika dia masih penyimpanan perasaan terhadap kuu dia mengatakan itu semua di hadapan Kak Barra."
Riana pun kembali duduk di samping Gisella.
"Begitu banyak orang yang sayang kepada kamu Gisella, tapi posisi nya bukan kah dia akan segera menikah dengan wanita pilihan orang tua nya."
Gisella pun terlihat sangat sedih sekali dia berjalan menuju ke jendela kamar nya.
"Rangga dari dulu memang tidak suka dengan Fransisca, Fransisca memang menyukai Rangga dari awal kita kuliah bahkan di depan aku pun Fransisca berani mengungkapkan perasaan hati kepada Rangga."
Riana merasa jika rasa cinta Gisella masih ada kepada Rangga tapi takdir berkata lain dengan jalan hubungan mereka berdua.
"Gisella, kamu jangan memikirkan apapun lagi yaa tentang Rangga atau pun calon istri nya. Apapun yang terjadi dengan mereka berdua itu sudah bukan lagi urusan kamu yaa sayaaaaang."
Riana mencoba untuk menyemangati Gisella.
"Tapi Buu, aku pun harus bersiap untuk menahan perkataan jahat dari mulut Fransisca. Jika sampai pernikahan mereka berdua gagal, sama seperti Kak Laura. Fransisca pun selalu menyalahkan aku setiap apa yang terjadi pada hubungan mereka. Selalu saja aku yang menjadi korban nya. Padahal aku sendiri posisi nya tidak tahu apa-apa."
Riana memegang tangan Gisella dia tersenyum manis kepada Gisella.
"Bersabarlah Gisella, kamu pasti akan bisa melewati semua nya. Kamu adalah wanita yang kuat dan tegar, apalagi kamu lebih memutuskan untuk menjadi singel mother."
__ADS_1
Gisella merasa mendapatkan semangat baru.