
Rossalinda pun berdiri dari tempat duduk nya.
"Mama baru saja pulang dari Apartemen Gisella, dia sangat pucat dan kurus sekali. Dia juga istri kamu Barra jangan pilih kasih seperti ini. Karena kamu pasti akan berterima kasih kepada Gisella bukan Laura."
Rossalinda pun memandangi wajah Barra tapi Barra tetap tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Mama nya.
"Aku pergi Mam."
Barra pun memilih untuk pergi dari kamar Mama Rossa.
Laura mulai memperhatikan jadwal datang bulan nya.
"Seharusnya hari ini adalah jadwal datang bulan kuu yaa walaupun kadang selalu maju mundur tapi aku sangat berharap sekali aku bisa segera hamil dan perjuangan ku tidak sia-sia."
Laura mencoret tanggal tersebut dengan spidol merah nya.
Barra menghampiri Laura ketika dia melihat istrinya yang dengan serius memandangi kalender.
"Kamu sedang apa Laura, mencoret-coret kalender seperti itu."
Laura tersenyum manis kepada Barra.
"Seharusnya hari ini jadwal ku datang bulan dan semoga saja aku tidak datang bulan yaa Mas."
Barra tersenyum manis sambil mengelus rambut panjang Laura.
"Laura, apakah kamu tidak merasa rindu seperti dulu bersama dengan Gisella."
Pertanyaan Barra membuat ekspresi wajah Laura berubah.
"Maksudnya apa Mas, kamu rindu dengan Gisella?."
Laura mulai terbawa emosional kembali.
"Laura bukan seperti itu maksudnya, sampai kapan kamu seperti ini dengan Gisella. Kamu mengabaikan nya kamu tidak mau seperti dulu lagi."
Barra mencoba untuk menenangkan pikiran Laura.
"Coba kamu pikirkan sekarang dengan baik-baik saja, Gisella itu terlalu baik dengan kamu. Dia yang menjadi korban pernikahan kontrak ini yang pasti itu semua adalah rencana kamu."
Laura terdiam mendengar perkataan Barra.
"Aku ingin kamu seperti dulu baik dengan Gisella, apalagi mungkin karena kehadiran Gisella kamu bisa lebih semangat lagi untuk bisa program kehamilan ini."
Barra menatap wajah Laura yang terlihat sangat cantik sekali.
"Gisella Meriska adalah adik kandung kamu, dulu kamu yang mengemis di hadapan nya ingat kembali itu Laura Renita."
Barra pun memilih untuk langsung pergi meninggalkan Laura di kamar nya.
__ADS_1
Barra bersiap-siap untuk pergi sarapan pagi tapi dia melihat Rossalinda yang begitu sangat sibuk sekali pagi-pagi.
"Mama mau pergi ke mana sepagi ini."
Tanya Barra yang begitu sangat heran sekali.
"Mama mau pergi ke Apartemen itu menemui Gisella, kasihan dia butuh asupan gizi yang sangat baik sekali."
Laura mendengar perkataan Rossalinda ketika dia keluar dari kamar nya.
"Mama malas bertemu dengan wanita yang tidak pernah menghargai perasaan orang lain, hanya mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri."
Laura hanya menundukkan kepalanya ketika dia mendengar perkataan Rossalinda.
"Barra, Mama akan mengajak kembali Gisella untuk tinggal bersama dengan kita di sini. Dan jika ada yang keberatan dia bisa pergi dari rumah ini."
Rossalinda pun langsung pergi meninggalkan Barra dan Laura.
Seketika selera makan Barra pun langsung menghilang begitu saja.
"Laura aku langsung pergi ke kantor yaa, aku tidak akan sarapan lagi."
Laura pun memilih untuk duduk di meja sarapan dia begitu sangat emosional sekali.
"Mas Barra dan Mama Rossa mereka berdua lebih peduli dengan Gisella tapi hal itu tidak akan berlangsung lama ketika aku sudah hamil nanti perhatian mereka hanya untuk aku."
Laura memaksakan untuk sarapan pagi karena dia yang harus meminum obat dari resep dokter Rivan.
Laura menyelesaikan sarapan pagi dia pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke kantor nya.
Laura begitu sangat bersemangat sekali karena dia harus melupakan hal-hal yang hanya untuk merusak pikiran nya saja.
Barra mengikuti mobil Mama nya dan dia pun pergi ke Apartemen Gisella.
Rossalinda mengetahui jika Barra mengikuti dirinya.
Rossalinda pun turun dari mobil dan menunggu Barra.
Barra pun menghampiri Rossalinda mereka pun berjalan menuju ke Apartemen Gisella bersamaan.
"Lebih baik kamu saja yang menekan tombol bell nya."
Barra pun menekan tombol bell tersebut dan Gisella pun langsung membuka nya.
Gisella begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Barra yang datang ke Apartemen nya.
Dia tidak bisa membohongi perasaannya jika dia begitu sangat senang sekali ketika kedatangan Barra.
Rossalinda memilih untuk pergi ketika Barra masuk ke dalam Apartemen tersebut.
__ADS_1
Barra pun seketika membalikkan badannya dan mencari Mama nya.
"Kak Barra cari siapa kaa?."
Gisella pun menyangka jika kedatangan Barra bersama dengan Laura.
"Tidak dengan siapapun, aku datang sendiri ke sini Gisella."
Gisella yang begitu sangat penasaran sekali dia kembali membuka pintu dan melihat sesuatu di depan pintu.
Gisella langsung membawa nya ke dalam Apartemen nya.
"Ini semua Kakak yang bawa yaa,? buat aku yaa Kaa?."
Ekspresi wajah Gisella kelihatan sangat senang sekali dan Barra tidak mungkin berkata yang sebenarnya kepada Gisella.
"Iyaa Gisella itu semua nya untuk kamu."
Gisella tersenyum manis kepada Barra dan dia pun langsung memakan roti tersebut di hadapan Barra.
Barra melihat Gisella yang begitu sangat lahap sekali memakan roti tersebut.
Barra melihat Gisella tidak seperti biasa nya, dia melihat ada perubahan pada Gisella.
"Gisella, kamu baik-baik saja kan?. wajah kamu terlihat sangat pucat sekali seperti ini dan badan kamu pun terlihat sangat kurus sekali."
"Keadaan aku seketika langsung membaik ketika aku melihat Kak Barra di sini."
Gisella terus saja memakan makanan yang di bawakan oleh Mama Rossa.
"Gisella, seharusnya Laura yang datang ke sini tapi Laura begitu sangat keras kepala. Aku sebagai suami Laura ingin meminta maaf kepada kamu atas semua yang sudah di lakukan Laura terhadap kamu yaa. Ini memang sangat membuat kamu sakit hati sekali tapi kamu yang tetap sabar."
Gisella memegang perut nya dan tersenyum manis kepada Barra.
"Aku yakin sesuatu yang terjadi yang akan merubah sikap Kak Laura, aku hanya diam saja karena aku tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk berdebat dengan Kak Laura."
Barra memperhatikan Gisella yang terus-menerus memegang perut.
Barra pun langsung memegang perut Gisella.
"Kamu kenapa Gisell,? apa kamu merasakan sakit di perut kamu ini."
Barra mengelus perut Gisella dan seketika Gisella pun merasa sangat senang sekali.
"Perut aku tidak sakit Kak, tapi aku senang sekali Kak Barra yang sangat perhatian sekali."
Gisella memegang tangan Barra agar tetap memegang perut nya dan Barra pun merasa sangat aneh sekali dengan sikap Gisella tersebut.
__ADS_1
"Gisella kamu baik-baik saja kan,? kamu tidak mempunyai penyakit serius kan."