
Laura mencoba untuk cepat sampai di Apartemen tapi perut nya yang mendadak keram dan membuat dirinya harus perlahan-lahan sampai di Apartemen.
Laura menyempatkan untuk membeli susu hamil, agar menjadi alasan jika dia keluar dulu dari Apartemen jika Barra sudah sampai di Apartemen nya.
Ketika Laura sampai dia melihat pintu yang sudah terbuka dan drama akting Laura pun di mulai.
Laura masuk ke dalam dan mencari keberadaan suami nya, yang ternyata sedang duduk di atas kasur seperti sedang menunggu nya.
Laura mencoba untuk menyiapkan alasan-alasan untuk suami nya.
Laura menghampiri suami dan duduk di samping sambil membawa susu hamil.
"Kamu sudah datang Mas, maafkan aku yang tadi pergi ke luar untuk membeli susu hamil. Karena terlalu lama menunggu kedatangan kamu."
Barra merasa sangat kecewa sekali ketika Laura yang sudah banyak sekali membohongi nya.
"Laura, tidak lelah kah kamu bersandiwara. Berbohong dan terus saja membohongi suami mu."
Barra berdiri di hadapan Laura dan Laura menundukkan wajahnya.
"Laura, jika kamu sudah tidak mau menjalankan hubungan rumah tangga ini lebih baik kita akhir saja. Aku sudah sangat lelah sekali dengan sikap kamu Laura dan asal kamu Laura aku sudah berada di dalam Apartemen kamu ini dari semenjak aku menelephone kamu."
Laura memegang tangan Barra dan bersujud di hadapan suami nya tersebut.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku. Lebih sekarang kita perbaiki hubungan rumah tangga kita berdua ini."
Laura terus menerus memohon kepada Barra.
"Aku sudah mengetahui perselingkuhan mu dengan Dokter Rivan, aku menjebak kalian berdua ketika aku meminta kamu untuk makan malam. Aku melihat kalian berdua dan berpura-pura untuk pergi padahal aku ada melihat semua nya."
Laura seketika langsung menangis histeris di hadapan Barra.
"Mas, aku tidak pernah mencintai Rivan. Aku tidak pernah mempunyai perasaan terhadap nya dia yang selama ini selalu menggangu aku Mas percaya kepada ku."
Dengan semua kebohongan-kebohongan yang di lakukan oleh Laura, Barra semakin yakin dengan keputusan nya.
Dia ingin sekali berpisah dengan Laura secepatnya.
"Laura, berdiri lah jangan seperti ini yaa. Aku ingin pergi dari rumah ini jangan memegang tangan ku lepaskan Laura lepaskan."
Laura lebih memegang erat tangan suami nya, dia tidak mau Barra meninggalkan nya.
"Tidak Mas, Tidaaaaaak aku tidak akan melepaskan genggaman tangan ku. Kamu tidak boleh pergi tetap bersama dengan ku Mas aku nggak mau kehilangan kamu."
Barra melepaskan paksa genggam Laura dan membuat Laura kesakitan sekali dengan sikap kasar Barra terhadap nya.
Barra pun segera meninggalkan Apartemen milik Laura.
"Apa yang akan dia lakukan sekarang dia bilang dia sudah lelah dengan pernikahan ini. Lalu bagaimana jika dia ingin pisah dengan kuuu."
Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil memegang perut nya.
"Nggak, dia nggak boleh menceraikan aku. Barra tidak boleh menceraikan akuuuuuuuu."
Laura menangis histeris sambil berteriak-teriak kencang sekali.
Laura membanting setiap barang-barang yang ada di hadapan nya, Laura seperti despresi sekali ketika dia di perlakukan seperti itu oleh Barra untuk pertama kali nya
Barra masuk ke dalam mobil nya, dia merasa keputusan nya sudah sangat bulat sekali.
"Sudah Barra, ini mungkin yang terbaik kamu harus berpisah dengan Laura. Kamu yang sudah sabar dan berjuang dalam rumah tangga ini."
Barra pergi menuju ke Apartemen nya dan besok nya dia baru mendatangi pengacara nya untuk menangani proses perceraian nya dengan Laura.
Sesampainya di Apartemen Barra begitu sangat kelelahan sekali dia berharap bisa bermimpi indah di malam ini.
~Ke esokan hari nya~
Gisella bersiap-siap untuk pergi ke kantor nya, dia pun berpamitan dulu dengan Tiara Putri kesayangan nya.
"Tiara sayaaaaang, Ibu pergi berkerja dulu yaa. Kamu baik-baik dengan Suster Dina yaa sayang. Jangan rewel ya sayang."
Gisella mencium pipi tembem Tiara dan langsung berniat untuk pergi.
"Tiara sarapan pagi dulu yaa, dan kamu tidak usah hawatir dengan Tiara karena Mama juga yang akan menemani dan menjaga Tiara di rumah. Urusan pekerjaan di kantor Mama serahkan semua kepada kamu."
Gisella pun memilih untuk langsung pergi saja ke kantor.
"Terimakasih Mama sudah memberikan kepercayaan kepada ku, seperti nya aku sarapan nya nanti saja yaa Mam."
__ADS_1
Gisella pun menghampiri Rossalinda dan bersalaman untuk pergi ke kantor.
Ketika Gisella mau masuk ke dalam mobil dia melihat mobil Barra yang masuk.
"Kak Barra datang lebih baik aku langsung pergi saja, aku tidak mau mendengar permasalahan rumah tangga nya dengan Kak Laura itu hanya membuat ku pusing saja."
Gisella pun meminta supir pribadi untuk segera berangkat sehingga dia tidak bertemu dengan Barra.
"Itukan Gisella, kenapa dia terlihat sangat terburu-buru sekali yaa. Yasudah yang penting aku harus bertemu dengan Mama."
Barra pun keluar dari mobil nya dan mulai mencari Mama yang ternyata sedang bersama dengan Tiara.
"Mama, bisa berikan dulu Tiara kepada Suster Dina. Ada hal penting yang akan aku bicarakan dengan Mama kita bicara di ruangan keluarga."
Melihat wajah Barra yang terlihat sangat serius sekali, akhirnya Rossalinda pun mengikuti apa yang di katakan oleh Barra.
"Aku belum pernah melihat Barra dengan wajah yang sangat serius sekali seperti ini, ada apa yaa sangat membuat penasaran sekali aku."
Rossalinda pun dengan sangat cepat sekali dia masuk ke dalam ruangan keluarga.
"Mam, hari ini aku akan membuat surat perceraian dengan Laura."
Seketika Rossalinda langsung terkejut ketika mendengar hal tersebut.
"Kamu serius Barra, kamu mau berpisah dengan Laura. Barra kamu itu orang cepat luluh dengan istri kamu. Lebih baik kamu berpikir-pikir lagi yaa Barra jangan sampai kamu mempermainkan perpisahan ini dan kalian berdua kembali bersama itu hanya membuat Mama sangat malu sekali Barra."
Rossalinda yang mengenal jelas sekali sikap Barra yang mudah luluh dengan Laura.
"Aku sangat serius sekali Mam, Laura berselingkuh dengan Dokter Rivan. Dokter Rivan yang bilang sendiri dengan aku jika dia masih mempunyai perasaan terhadap Laura."
Rossalinda seketika langsung terdiam mendengar perkataan Barra, wanita yang sangat Barra cintai ternyata malah berselingkuh di belakang Barra.
"Kamu yakin Barra,? apakah kamu memiliki bukti yang kuat dengan ucapan Dokter Rivan tersebut."
Barra menghela nafas panjang sambil menyenderkan tubuhnya ke tembok.
"Aku melihat Laura yang selalu bersama dengan Rivan, yang lebih membuat aku kesal mereka berdua mengobrol di kantin Rumah Sakit dan Rivan sampai memegang perut Laura dan Laura pun memilih untuk diam."
Rossalinda melihat Barra yang memang sudah sangat lelah sekali.
"Mama mendukung kamu Barra, semua yang terbaik untuk kamu yaa. Semoga kamu mendapatkan istri yang jauh lebih baik dari Laura."
Rossalinda pun memilih untuk keluar dari ruangan tersebut, dia membiarkan Barra sendiri di ruangan tersebut.
Barra pun beranjak dari tempat duduk nya untuk pergi ke pengacara agar segera menyiapkan rencana nya tersebut.
Barra keluar dari ruangan dan mencari Tiara, Barra langsung menghampiri Tiara dan mengendong nya.
"Sayaaaaang, Papa pergi dulu yaa sayaaaaang. Maafkan Papa yang tidak bisa lama bersama dengan Tiara, Papa harus menyelesaikan permasalah Papa dulu ya sayang."
Barra mencium kening Tiara dengan penuh rasa cinta dan memberikan kembali kepada Suster Dina.
Rossalinda terus saja memperhatikan Barra.
"Jika memang ini akhir dari cerita cinta Laura dan Barra, semoga saja semua berakhir dengan damai tidak menjadi permasalahan besar. Apalagi Laura dia selalu pintar dalam berbicara meluluh kan hari Barra."
Rossalinda pun memilih untuk bermain bersama dengan Tiara.
***
Barra menuju ke tempat pengacara nya, dia ingin menyelesaikan semua secara cepat.
"Pak Barra, ini akan menjadi kabar yang sangat mengejutkan sekali. Karena perusahaan Bapak yang besar begitu juga dengan perusahaan kosmetik milik Bu Laura."
Pengacara tersebut tahu bagaimana perjuangan Barra untuk mendapatkan Laura, mulai dari perbedaan umur mereka yang sangat jauh dan sampai tidak di berikan Restu oleh Orang tua Barra.
"Saya sudah sangat yakin sekali ingin berpisah dengan Laura, kirimkan surat nya ke perusahaan Laura."
Tidak banyak berkata-kata Barra pun pergi meninggalkan tempat pengacara tersebut.
Barra berniat untuk datang ke rumah orang tua Laura.
"Lebih baik aku langsung datang ke rumah orang tua Laura, dari pada orang tua Laura yang mengetahui duluan dari Laura."
Barra yang mengetahui sifat Laura, dia sangat takut jika Laura memutar balik kan fakta.
Dengan sangat berat hati sekali, Barra pun sampai di depan rumah orang tua Laura.
Kedatangan Barra di ketahui oleh Riana dan kebetulan di toko sedang sepi.
__ADS_1
"Ayah lihat itu Barra, ayo kita keluar dari toko dan menghampiri nya. Ibu sangat yakin sekali ada sesuatu yang akan di katakan oleh Barra kepada kita."
Dimas dan Riana pun lebih memilih untuk menghampiri Barra dan mereka duduk di depan pohon yang rindang.
Barra pun mulai bersalaman dengan kedua orang tua Laura.
"Ayah dan ibu, maafkan saya sebelumnya. Kedatangan saya ke sini mungkin membuat kalian berdua terkejut sekali."
Barra memandangi wajah orang tua Laura, Barra seperti tidak tega untuk mengatakan nya. Tapi Barra juga harus bertanggung jawab atas semua nya.
"Saya datang ke sini ingin memberitahu kan jika saya ingin berpisah dengan Laura."
Seketika Riana langsung meneteskan air mata nya, walaupun dia tahu ini semua pasti karena sikap Laura kepada Barra.
Barra lebih memilih tidak mengatakan jika Laura yang berselingkuh dengan Dokter Rivan, Laura tidak mau membuat kedua orang tua Laura merasa sangat sedih.
"Maafkan saya yang selama ini tidak bisa mendidik Laura dengan baik, saya sebagai suami yang tidak bisa merubah sikap Laura. Tapi ini semua sudah menjadi keputusan saya Buu."
Riana langsung memeluk erat tubuh Barra.
"Maafkan Laura, maafkan Laura yang selalu membuat kamu menahan emosi. Maafkan Laura yang membuat kamu kecewa yaa."
Barra terdiam ketika mendengar perkataan Ibu Riana, seakan dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Barra semoga kamu mendapatkan wanita yang terbaik untuk masa depan kamu yaa, wanita mau mengikuti apa yang kamu perintah. Ibu merasa sangat malu sekali dengan kelakuan Laura. Padahal kamu sudah sangat baik sekali kepada Laura."
Riana terus saja menangis di hadapan Barra.
"Saya permisi yaa Ayah dan Ibu, saya rasa hanya itu yang bisa saya sampaikan. Saya terlebih dahulu datang ke sini karena Laura tidak mengetahui nya mungkin surat nya akan datang ke kantor Laura nanti siang."
Ayah Laura hanya bisa terdiam saja ketika rumah tangga Laura yang sekarang berakhir begitu saja.
Barra pun pergi dari tempat tersebut dia pun langsung menuju ke mobil nya.
"Lebih baik hari aku tidak pergi ke kantor, lebih baik aku bersembunyi di Apartemen saja. Karena jika sudah menerima surat tersebut dia akan mencari ku dan berteriak-teriak kencang di kantor. Itu sangat memalukan sekali."
Barra pun menjalankan mobil nya untuk menuju ke Apartemen nya sedangkan Laura yang sedang berada di kantor nya dia tiba-tiba saja merasa sangat panik sekali.
"Aku memikirkan ucapan nya, apa mungkin dia akan menceraikan kuu. Tidak itu tidak mungkin terjadi Mas Barra itu sangat sayang sekali ketika ku dan aku harus mencoba untuk merayu nya kembali."
Laura mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Barra.
*Sayaaaaang, semangat yaa berkerja nya. Aku mohon lupakan permasalahan tadi malam kamu tidak serius kan mengatakan itu semua kepada ku. Ingat kita mau mempunyai anak Mas sebentar lagi kita akan menyambut anak ke dua kita*
Barra yang baru saja sampai di depan Apartemen nya dia melihat ada pesan yang masuk.
"Laura, dia mengirimkan pesan apalagi yaa. Lebih baik aku abaikan saja pesan nya."
Barra lebih memilih untuk menonaktifkan handphone supaya tidak di ganggu oleh Laura.
"Maafkan aku Laura, aku tidak mau bertambah pusing apalagi nanti jika kamu mendapatkan surat tersebut."
Barra mengunci pintu Apartemen nya, dia menonaktifkan handphone. Dan Barra pun menikmati kesendirian di dalam Apartemen nya
Laura merasa sangat kesal sekali ketika pesan nya tidak di balas oleh Barra.
"Biasanya sibuknya dia pasti membalas pesan dari kuu."
Laura mencoba untuk menghubungi nomer handphone Barra.
"Ahhhhhhh, kenapa nomber handphone tidak aktif. Tadi pesan aku terkirim kok seperti nya setelah dia mengetahui itu dia langsung menonaktifkan handphone karena tidak mau lagi menerima panggilan telephone dari aku."
Laura mulai merasa sangat panik sekali dia tidak mau hal itu sampai terjadi.
"Tidaaaaaak, tidak mungkin Barra melakukan hal tersebut. Barra sangat sayang sekali kepada kuu dia tidak mungkin melakukan nya."
Laura mencoba untuk menenangkan perasaan dan pikiran negatif nya.
"Laura kamu harus cepat tenang dan tenang, jangan berpikiran negatif."
Ketika Laura sedang panik tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangan nya.
"Yaa, silahkan masuk saja."
Ternyata itu adalah asisten pribadi nya yang membawa sebuah surat.
"Ini ada surat untuk ibu Laura Renita."
Laura pun langsung mengambil surat tersebut dan asisten pribadi pun pergi.
__ADS_1
"Apaaaaa, surat dari pengadilan. Apa maksud nya ini."
Tangan Laura yang seketika saja langsung bergetar ketika memegang surat tersebut.