
Gisella menghampiri Laura yang sedang duduk di kursi, dia mendatangi Laura dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
"Apa sebenarnya yang Kakak inginkan di balik pernikahan ini,? Kakak hanya ingin aku mengakhiri hubungan dengan Rangga. Kalau memang tujuan Kakak seperti itu tandanya Kakak sudah berhasil."
Gisella mendorong koper nya dia benar-benar ingin keluar dari rumah ini.
Barra memegang tangan Gisella dia menghentikan Gisella pergi.
"Jika kamu ingin pergi, kamu tidak bisa pergi sendiri. Aku akan menemani kamu karena kamu adalah istri ku sekarang."
Gisella menghampiri Rossalinda dia berpamitan untuk pergi.
"Mama Rossa, terimakasih banyak ya atas semua pembelajaran yang di berikan untuk aku. Aku pamit pulang yaa maafkan aku yang hanya menjadi beban di rumah ini."
Rossalinda memeluk erat tubuh Gisella.
"Kamu hati-hati yaa Nak, cepat kembali ke rumah ini."
Gisella hanya bisa tersenyum manis kepada Rossalinda.
"Aku pergi yaa Kaa, semoga Kakak bisa segera menghapus rasa benci Kakak kepada aku."
Laura hanya bisa menangis sambil menundukkan kepalanya saja.
__ADS_1
Barra dan Gisella pun pergi meninggalkan rumah tersebut, Barra begitu sangat perhatian sekali kepada Gisella.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil mewah Barra.
Gisella terus meneteskan air mata nya sambil memegang cincin putih pernikahan nya.
"Gisella, kamu harus kuat yaa. Maafkan apa yang sudah di lakukan oleh Laura. Aku pun tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Laura saat ini."
Gisella hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Barra melihat Gisella begitu sangat sedih sekali, ketika dulu Laura yang memaksa pernikahan ini tapi setelah semua nya terjadi Laura seperti membenci Gisella di saat mereka berdua sedang berdua an di dalam kamar ketika sedang di villa.
Barra memegang perut Gisella dan mengusap nya.
Barra begitu sangat menantikan kehadiran anak dari hasil pernikahan nya dengan Gisella.
"Semoga saja aku bisa segera hamil yaa Kaa, dan kalian berdua bisa bahagia bersama."
Gisella pun memegang perut nya, sambil tersenyum tipis.
Mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah Gisella, mereka berdua melihat toko bunga yang sudah selesai.
"Oh, jadi ini bisnis ke dua Laura."
__ADS_1
Barra membukakan pintu mobil nya untuk Gisella, kedua orang tuanya Gisella pun langsung menghampiri mereka berdua.
Gisella memeluk erat tubuh ibu nya dengan sangat erat sekali, tapi Gisella menahan air mata nya.
"Aku sangat merindukan sekali Ibuuu, aku ingin sekali tinggal di sini. Walaupun Kak Laura memaksa aku untuk tinggal bersama dengan nya di sana."
Barra tidak menyangka jika Gisella berbohong hanya untuk menutupi sikap benci Laura kepada nya.
"Oh begitu ya, mungkin Kakak kamu begitu sangat ingin selalu bersama dengan kamu."
Gisella pun hanya tersenyum tipis kepada Ibunya.
"Gisell, nanti sore aku akan kembali untuk mengajak kamu membelikan kebutuhan kamu. Sekarang kamu istirahat dulu yaa di rumah."
Barra bersalaman kepada Riana dia hendak segera pergi.
"Saya pamit dulu yaa buuu, saya harus segera ke kantor. Tapi nanti sore saya akan kembali ke sini."
Barra langsung bergegas pergi dan melambaikan tangan nya.
Gisella pun melambaikan tangan nya kembali sambil tersenyum manis kepada Barra.
"Hati-hati yaa Kaa Barra."
__ADS_1
Perhatikan kecil yang di berikan oleh Gisella adalah perhatian yang sudah jarang sekali di katakan oleh Laura kepada nya.