
Laura begitu sangat bahagia sekali ketika mendapatkan hadiah tersebut dari Barra.
"Mas, kamu tahu tidak foto pernikahan kita yang tiba-tiba saja terjatuh dan peceh membelah menjadi dua. Pikirkan ku langsung negatif terhadap pernikahan kita Mas, aku sangat takut sekali pernikahan kita berakhir."
Laura menatap tajam wajah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Laura, kita harus selalu berpikiran positif yaa. Ingat kamu sekarang sedang hamil dan kamu juga jangan banyak pikiran jangan sampai kamu hipertensi kembali yaa."
Barra memilih untuk pergi untuk mandi dia harus bersiap untuk pergi ke kantor, karena sudah beberapa hari dia tidak masuk kerja hanya untuk menemani Laura.
Laura yang di haruskan untuk beristirahat pun dia mulai memikirkan perkerjaan nya.
"Bagaimana dengan kondisi kantor ku, sudah tiga hari aku tidak masuk kerja. Aku sebernarnya tidak percaya jika orang lain yang mengendalikan pekerjaan ku ini, walaupun itu adalah asisten pribadi kepercayaan ku sendiri."
Laura ingin sekali kembali ke kantor nya dia merasa kondisi badan sudah sangat membaik sekali.
Barra yang selesai mandi dia memperhatikan Laura yang begitu sangat fokus pada handphone.
__ADS_1
"Seperti nya Laura sedang memperhatikan kantor nya, dia pasti sangat hawatir sekali dengan kondisi kantor."
Barra menghampiri Laura yang sangat fokus pada handphone nya.
"Laura, Dokter Rivan menyarankan kamu untuk beristirahat untuk beberapa hari saja. Dan aku sangat menginginkan kamu untuk diam di dalam kamar saja, apapun yang kamu inginkan bisa di layani oleh para pelayan yang ada di rumah ini. Dan aku juga akan meminta suster untuk bisa membantu kamu di rumah ini."
Laura merasa sangat keberatan sekali dengan sikap Barra yang sangat overprotektif sekali kepada nya.
Laura merasa dia tidak seperti Gisella yang selalu mual dan muntah setiap hari.
Laura tidak pernah mengalami hal tersebut di selama kehamilan nya.
Laura mencoba untuk memohon kepada Barra.
"Mas aku mohon yaa jangan terlalu memanjakan aku seperti ini, aku kuat kok Mas kandungan juga sehat."
Laura memeluk Barra dengan sangat erat sekali.
__ADS_1
Tapi Barra langsung melepaskan pelukan erat tersebut.
"Laura, seperti nya kamu selama ini tidak menghargai pekerjaan ku. Kamu pikir aku bekerja tidak memikirkan masa depan anak kita,??? kenapa sih kamu selalu saja lebih menginginkan semua nya itu dari hasil pekerjaan kamu saja kamu tidak menghargai penghasilan suami kamu !!!."
Laura merasa sangat terkejut sekali ketika melihat untuk pertama kalinya Barra marah-marah kepada nya dengan nada yang sangat tinggi sekali.
"Ketika aku memberikan sesuatu untuk Gisella kamu tidak terima kamu marah kamu emosi, tapi apapun yang aku berikan kepada kamu tidak pernah kamu hargai."
Barra merasa dia sudah sangat emosional sekali kepada Laura, dan Barra memilih untuk pergi tampa berpamitan dengan Laura.
Barra pergi begitu saja dengan wajah emosi nya.
"Mas Barra, baru kali ini dia bisa emosional sekali kepada aku. Sebelum nya dia tidak pernah seperti ini, apakah ini gara-gara Gisella yang mengakhiri pernikahan itu sehingga membuat Mas Barra merasa sangat emosional sekali dengan aku."
Laura pun langsung duduk di atas kasur nya dia mencoba untuk menenangkan pikiran nya.
"Laura, kamu tenang kan diri kamu yaa. Kamu jangan emosi yaa tenang dan tenang Laura semua demi kehamilan mu ini."
__ADS_1
Laura terus memegang perut nya sambil mengatur nafas nya.