Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #209#


__ADS_3

Melihat Barra yang pergi ke kantor, Gisella hanya di sibukkan dengan Tiara.


"Mungkin hari adalah aku bisa merasakan apa yang di rasakan oleh ibu, susah nya mengurus ku waktu kecil tapi bagaimana jika aku kehilangan pekerjaan kuu."


Laura begitu sangat jahat sekali kepada Gisella.


"Sepertinya ini adalah cara Kak Laura agar produk ku tidak bersaing dengan nya, dia sangat jahat sekali kepada kuu."


Gisella pun terus saja memandangi wajah Tiara, agar kesal dia menghilang kepada Laura.


Rossalinda pergi ke ruangan Gisella, dia tidak melihat Gisella berada di ruangan pribadi nya.


"Kemana yaa Gisella, kenapa dia belum juga datang ke kantor sudah hampir jam masuk ini."


Rossalinda merasa jika Gisella tidak mungkin sengaja tidak masuk kerja kalau tidak mempunyai alasan tertentu.


"Aku jadi hawatir sekali dengan Tiara, apakah Tiara sakit sehingga Gisella tidak masuk berkerja."


Rossalinda pun memilih untuk menghubungi nomer handphone Gisella, dan Gisella yang sedang mengendong Tiara pun mengambil handphone nya.


"Mama Rossa, apa yang harus aku katakan kepada nya yaa. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya."


Gisella merasa sangat kebingungan sekali dia pun akhirnya menjawab panggilan telephone tersebut.


****Hallo Mama Rossa.*


*Gisella, sekarang kamu sedang berada di mana?. Kamu tidak ingat jika sekarang kita harus mempromosikan produk shampo ini dengan seorang yang sangat penting sekali***.*


Gisella melupakan hal tersebut, pikiran yang terus saja teringat dengan perkataan Laura.


*Maafkan saya Mam, saya sekarang sedang berada di Apartemen bersama dengan Tiaraa. Tiara tidak ada yang menjaga.*


Mendengar perkataan Gisella, Rossalinda pun mengakhiri panggilan telephone dari Gisella.


"Sudah ku duga Gisella pasti sedang terjadi sesuatu dengan nya, kenapa dia berdua dengan Tiara di Apartemen. Aku harus melihat kondisi Gisella."


Rossalinda pun bersiap-siap untuk pergi ke Apartemen Gisella, dia juga mengejar waktu agar Gisella bisa menghadiri Rapat penting tersebut.


"Apakah Gisella di usir dari rumah orang tua nya,? tapi aku rasa kedua orang tua Gisella sangat baik sekali kepada Gisella."


Di perjalanan menuju ke Apartemen, Rossalinda terus saja memikirkan Gisella.


Sampai akhirnya Rossalinda sampai di Apartemen nya, dan Gisella pun sudah selesai beres-beres Apartemen dia sedang duduk santai bersama dengan Tiara.


Terdengar suara bell berbunyi, Gisella pun langsung membuka pintu dan melihat Rossalinda yang ada di hadapan nya.


"Berikan Tiara kepada Mama, cepat lah ganti baju sekarang juga. Kita ada rapat penting untuk mempromosikan produk shampo kita."


Rossalinda langsung menggendong Tiara dan Gisella pun pergi untuk menganti pakaian nya.


Tiara yang sebelumnya anteng tidak menangis dia meneteskan air mata nya seperti mengadu kepada Omah nya.


"Kenapa sayang kamu menangis di hadapan Omah, kamu mau cerita yaa tentang ibu yaa. Mau mengadu dengan Omah."


Gisella yang sudah siap pun merasa langsung berjalan menuju ke mobil.


Rossalinda tidak berani menanyakan apa yang terjadi, dia lebih fokus pada jadwal Gisella hari ini.


"Gisella, kamu fokus saja dengan perkerjaan kamu yaa. Mama akan mengantar kamu langsung ke tempat nya dan kamu jangan memikirkan Tiara yaa, Tiara aman bersama dengan Mama. Kamu fokus saja dan berpikir jika semua ini adalah untuk Gisella."


Gisella merasa sangat beruntung sekali ketika melihat orang-orang yang sangat sayang sekali dengan Tiara.


"Terimakasih banyak Mam, sekarang aku turun dulu yaa. Tiara sayaaaaang doakan ibu mu agar menjadi seorang yang sukses lebih sukses dari wanita itu."


Gisella pun turun dari mobil nya dan berjalan menuju ke gedung yang sudah di persiapkan.


"Sudah ku duga ini pasti karena Laura, sedang hamil kerjaan nya selalu saja membuat adik nya sakit hati. Aku tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Laura, jahat sekali dengan Gisella selalu saja jahat."


Rossalinda memilih untuk membawa Tiara ke rumah nya.


Gisella melihat perwakilan dari produk skincare kosmetik milik Laura yang di wakilkan oleh asisten pribadi nya.


"Kak Laura ternyata tidak datang, apakah rencana dari Kak Laura menyuruh aku untuk pergi dari rumah Ibu dan Ayah. Agar tidak bisa menghadiri rapat penting ini, Astagaaaa rencana mu sangat licik sekali Kak Laura."


Gisella semakin percaya diri dan bersemangat ketika menghadiri rapat besar tersebut.


Rossalinda membawa Tiara ke rumah besar nya, semua pegawai langsung menyambut kedatangan Tiara.


"Ini adalah Tiara, Baby Tiara. Dia adalah anak dari Gisella dan Barra dan dia adalah penerus perusahaan besar keluarga kami."


Para pegawai yang ada di dalam rumah pun begitu sangat gemes sekali ketika melihat Tiara.


"Seharian ini Omah yang akan menjadi baby sister Tiara yaa sayaaaaang, jangan rewel yaa sayang. Lihat mungkin rumah besar ini untuk kamu sayaaaaang."

__ADS_1


Rossalinda bener-bener bahagia sekali ketika dirinya bisa bersama dengan Tiara.


***


***Laura memilih untuk menunggu toko bunga nya, sedangkan Riana memilih untuk pergi tidak ingin melihat Laura.


Jika Riana melihat Laura dia merasakan sakit hati nya yang luar biasa.


Tapi Laura memilih untuk tidak memikirkan sikap dari ibu nya tersebut.


Laura begitu sangat santai sekali dia menunggu toko bunga nya dengan Ayah nya.


Tapi tiba-tiba saja handphone nya bergetar seperti ada pesan masuk.


Laura dengan santai nya dia mengambil handphone nya dan membaca pesan tersebut.


*Bu Gisella, hadir di rapat ini buu. Dia terlihat sangat santai sekali seperti tidak mempunyai permasalahan**.


Laura seketika langsung berpikir tidak mungkin dengan waktu yang sangat cepat Gisella bisa mendapatkan seorang pengasuh dengan waktu yang sangat cepat.


"Siapa yang mengasuh anak Gisella, apakah ini ada kaitannya dengan Barra dan Mama Rossa. Gisella menghubungi mereka berdua untuk membantu nya."


Dimas memperhatikan wajah Laura yang seperti sangat kesal sekali, Laura terus saja memandangi layar handphone nya.


"Laura,? kamu kenapa? apakah kamu mempunyai permasalahan yang sedang kamu pikirkan sekarang?."


Dimas duduk di samping Laura dan Laura pun menyembunyikan handphone nya.


"Tidak apa-apa Ayah, aku baik-baik saja tidak mempunyai permasalahan apapun."


Dimas merasa Laura yang sedang menyembunyikan sesuatu kepada nya.


"Laura, kamu menginap di sini lalu bagaimana dengan Suami mu ?. Apakah dia tahu kamu berada di sini bersama dengan Ayah dan Ibu."


Laura pun langsung terdiam karena memang Barra tidak mengetahui kalau dirinya sedang berada di rumah orang tua nya.


"Aku belum memberitahu kepada Mas Barra, tapi nanti dia pasti datang ke sini untuk mencari kuu Ayah . Tenang saja aku tidak mempunyai permasalahan dalam rumah tangga kuu karena sekarang aku yang sedang mengandung anak ke dua, Mas Barra semakin sayang dan perhatian kepada kuu."


Laura mencoba untuk menutup permasalahan rumah tangga nya.


***


Rossalinda sangat senang sekali bisa bersama dengan Tiara, begitu yang di rasakan oleh para pegawai yang ada di rumah nya ketika melihat Rossalinda yang begitu sangat bahagia.


"Andai saja Barra dan Gisella masih bersama, Tiara pasti akan tinggal bersama dengan ku di sini. Biarlah Gisella dan Barra berkerja dengan semangat."


"Kenapa di kehamilan Laura yang ke dua perasaan ku biasa saja yaa, kenapa aku merasa datar sekali padahal Laura pun sedang hamil anak Barra."


Rossalinda mengabaikan pemikiran nya yang negatif terhadap Laura dia hanya fokus pada Tiara.


Gisella menyelesaikan tugas nya dengan sangat baik dan sempurna, Gisella pun menghampiri Asisten pribadi Laura.


Gisella tersenyum manis kepada Asisten pribadi Laura tersebut.


"Sudah kah kamu mengatakan jika aku bisa hadir di rapat penting ini,? laporan dengan CEO muu itu. Sayang sekali kenapa bukan dia yang datang ke sini yaa kenapa harus kamu apakah CEO kamu takut? tolong sampaikan semua ucapan ku ini."


Asisten pribadi Laura hanya bisa menahan malu ketika Gisella berbicara seperti itu di hadapan banyak orang.


Gisella pun langsung memilih untuk pergi dari tempat tersebut.


"Ayoo Gisella, kamu pasti bisa. Jangan pernah melihat jika dia itu adalah Kakak mu tapi lihat dia adalah saingan mu. Karena dia pun begitu sangat licik sekali dengan mu."


Gisella yang merasa sangat kesal sekali dengan sikap Laura memilih untuk pergi menjemput Tiara.


Gisella pun langsung masuk ke dalam mobil pribadi nya, dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Tiara.


"Hanya Tiara yang membuat aku semangat, hanya Tiara yang membuat aku berani melawan sikap Kak Laura. Bukan aku tidak menghargai dia itu adalah Kakak ku tapi sikap nya membuat aku emosional sekali."


Gisella pun akhirnya sampai di rumah mewah milik Rossalinda.


"Aku tidak menyangka aku kembali lagi ke rumah ini, aku datang ke rumah ini untuk Tiara ."


Kedua Gisella pun membuat semua para pegawai memperhatikan penampilan Gisella yang berubah.


Gisella terlihat sangat cantik sekali dan anggun terlihat lebih dewasa sekali.


Gisella pun menuju ke Ruangan yang sering di pakai untuk membicarakan sesuatu tentang keluarga dan akhirnya Gisella pun bertemu dengan Tiara.


"Tiara sayaaaaang, ibu pulang Nak."


Gisella langsung mengendong Tiara dia begitu sangat merindukan sekali Tiara.


"Gisella, apa yang membuat kamu lebih memilih untuk tinggal berdua dengan Tiara di Apartemen. Kenapa kamu keluar dari rumah orang tua kamu?."

__ADS_1


Rossalinda yang begitu sangat penasaran sekali dia menginginkan jawaban dari Gisella langsung.


"Supaya aku berpikir untuk lebih mandiri lagi tidak selalu membuat orang tua ku kerepotan dengan mengurus aku dari hamil sampai melahirkan. Jadi aku memilih untuk pergi dari rumah Ayah dan Ibu."


Rossalinda merasa tidak percaya dengan apa yang Gisella ceritakan.


"Apakah ini karena Laura,? dia yang membuat kamu seperti. Buktinya kenapa kamu pergi di saat kamu harus hadir di acara yang sangat penting seperti ini."


Gisella tidak mau memperpanjang permasalahan nya dengan Laura, Gisella memilih untuk berpamitan dengan Mama Rossa.


"Aku pulang dulu ya Mam, terimakasih banyak Mama sudah merawat Tiara sampai aku selesai pulang."


Gisella bersalaman dengan Mama Rossa dia pun langsung pergi dari rumah tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju ke Apartemen nya kembali.


***


Di saat berkerja Barra terus saja memikirkan Gisella, dia merasa tidak bisa konsentrasi sama sekali.


"Apakah Gisella sedang bermasalah dengan Ayah dan Ibu sehingga Gisella memilih untuk keluar dari rumah."


Barra pun memilih untuk pergi dari ruangan nya, dan mencari Asisten pribadi nya.


"Melati tolong kamu selesai semua perkejaan ini, saya ingin bertemu dengan keluarga saya."


Setelah itu Barra pun berjalan menuju ke mobil nya, dia menuju ke rumah orang tua Laura.


"Aku sangat berharap besar tidak terjadi sesuatu dengan Gisella dan Orang tua nya, semoga saja semua nya baik-baik saja."


Barra pun akhirnya sampai di depan rumah orang tua Laura, dari kejauhan dia seperti melihat Laura yang sedang berada di toko bunga nya.


"Apakah itu Laura,? dia ada di sini ternyata. Jika Laura berada di sini itu tandanya Laura yang membuat permasalahan ini."


Barra keluar dari mobil nya, dia melihat Laura yang sedang melayani pembelian bunga dan bucket bunga.


Laura tidak menyadari kehadiran Barra di toko bunga nya tersebut.


Ketika Laura sudah selesai melayani para pembeli nya, Barra pun baru menghampiri


Kedatangan Barra membuat Laura sangat terkejut sekali.


"Kenapa kamu berada di sini,? bukan kah hari seharusnya kamu datang ke rapat penting itu. Kenapa kamu lebih untuk di sini."


Laura tidak menyangka jika Barra harus datang ke rumah orang tua nya.


"Aku menyuruh asisten pribadi ku yang mengantikan ku, dan aku rasa dia bisa menyelesaikan semua nya."


Barra langsung tersenyum tipis kepada Laura.


"Apakah ini penyebab Gisella keluar dari rumah ini dan pergi ke Apartemen,? kamu tidak ingin Gisella datang ke acara tersebut. Sangat licik sekali kamu yaa Laura."


Laura merasa tidak ingin kedua orang tuanya tahu, dia langsung menarik tangan Barra untuk menuju ke kamar pribadi nya.


Riana melihat Laura yang menarik kasar tangan Barra sampai Barra masuk ke dalam kamar nya.


Riana pun memilih untuk menghampiri kamar Laura dan berdiri di pintu kamar nya.


"Mas, aku mohon yaa jangan sampai kita ribut di sini. Aku tidak mau Ayah dan Ibu mengetahui nya."


Riana pun mengetuk pintu kamar Laura, dan Laura pun membuka kunci kamar tersebut.


"Laura, ikut bersama dengan Ibu sekarang juga. Ibu ingin berbicara dengan kamu."


Laura dengan sangat terpaksa harus meninggalkan Barra di dalam kamar nya sendiri.


Dan Barra pun mulai memperhatikan kamar Laura.


Barra duduk di kursi belajar milik Laura, dan dia pun tiba-tiba saja menjatuhkan pulpen ke bawah meja.


Ketika Barra hendak mengambil pulpen tersebut dia melihat seperti ada laci yang tersembunyi.


Barra yang sangat penasaran sekali dia membuka laci tersebut dan banyak sekali foto-foto kebersamaan Laura waktu masih SMA.


"Ini kan Laura dan ini Rivan, mereka berdua sangat akrab sekali yaa. Sampai banyak foto kebersamaan mereka berdua."


Barra pun melihat kembali foto-foto tersebut dan mengambil salah satu foto tersebut untuk dia bawa.


Setelah mendapatkan foto tersebut Barra keluar dari kamar Laura, dia hendak mempertahankan foto tersebut kepada Rivan.


Karena jika Barra menayakan kepada Laura hanya akan memancing sebuah keributan besar.


"Laura, aku pergi kembali ke kantor yaa."


Barra bersalaman dengan Riana dan berpamitan untuk pergi.

__ADS_1


"Aku pergi dulu yaa Buu, semoga semua nya dalam keadaan baik-baik saja."


Riana merasa jika Barra mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2