Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (116)


__ADS_3

Gisella bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, dia harus sendiri tanpa di temani lagi Rangga.


"Gisella mulai lah untuk berjuang sendiri yaa, jangan selalu ingin di bantu oleh orang lain."


Gisella pun keluar dari kamar dan Riana menghampiri nya.


"Nak, biar ibu antar yaa sayang. Ibu sangat hawatir sekali."


Gisella memegang tangan ibunya sambil tersenyum.


"Tidak Buu, aku ingin sendiri saja aku pasti kuat kok buu. Ibu tidak usah terlalu hawatir yaa."


Gisella pun berjalan menuju ke taksi online yang sudah dia pesan.


"Ayoo Gisell, kamu harus kuat yaa."


Gisella menyemangati diri nya sendiri.


"Semoga saja hasil dari pemeriksaan ku hari bagus, walaupun aku yang banyak pikiran dan permasalahan yang tiada henti nya."


Gisella terus memegang perut nya di sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit.


Sampai akhirnya Gisella pun sampai di rumah sakit dan langsung pergi ke Dokter Specialis Kandungan.


Ketika nama Gisella di sebut, dia pun dengan sangat semangat sekali masuk ke ruangan tersebut dan bertemu dengan Dokter Rivan.


"Gisella, bagaimana apakah ada keluhan yang kamu rasakan dalam kehamilan mu ini."


Tanya Dokter Rivan sambil memeriksa Gisella.


"Saya sering merasa perut yang sangat kencang dan keram Dok."


Dokter Rivan terlihat sangat serius sekali memeriksa Gisella.


"Oke Gisella, kandungan kamu sudah memasuki 17 Minggu yaa. Semua nya sehat semua hasil pemeriksaan bagus tapi jika kamu merasa seperti keram lebih baik kamu langsung istirahat saja yaa."


Gisella merasa sangat senang sekali dengan hasil pemeriksaan tersebut.


"Terimakasih Dok, saya sangat senang sekali dengan hasil pemeriksaan hari ini."


Dokter Rivan meresepkan vitamin untuk Gisella.


"Silahkan kamu berikan ini yaa, dan jangan lupa selalu di minum vitamin nya yaa."


Setelah mendapatkan resep obat dari Dokter Rivan, Gisella pun langsung pergi dari ruangan Dokter Rivan.


"Dia wanita yang sangat kuat sekali, di usia dia yang masih sangat muda sekali dia harus di hadapi dengan konflik rumah tangga yang luar biasa hebat nya "

__ADS_1


Dokter Rivan terus memperhatikan Gisella dia membuka pintu dan melihat Gisella yang seperti nya memilih untuk pergi mencari ruang rawat Laura.


"Seperti nya Gisella memilih untuk langsung mencari ruang rawat Laura, semoga saja semua baik-baik Laura tidak terbawa emosional lagi."


Gisella mencoba untuk menanyakan kamar Laura, dan akhirnya Gisella pun menemukan nya juga.


"Akhirnya aku menemukan nya juga."


Gisella mengetuk pintu kamar tersebut dan Barra pun langsung membuka nya.




Barra begitu sangat terkejut sekali dengan kedatangan Gisella.


"Gisella, silahkan masuk Gisella."


Gisella masuk dan langsung melihat kondisi Laura yang terbaring lemas tidak berdaya di atas ranjang.


Laura pun terdiam ketika melihat Gisella yang menghampiri nya.


"Aku tidak akan berlama-lama di sini karena aku takut jika aku berlama-lama mempengaruhi kondisi Kakak."


Gisella memandangi wajah Barra dan Barra pun menghampiri Gisella.


"Kak Barra, mulai sekarang dan mungkin sampai anak ini terlahir ke dunia ini. Kak Barra sudah tidak perlu memperdulikan aku lagi yaa Kaa, sekarang Kakak fokus saja pada kehamilan Kak Laura. Aku masih punya Ibu dan Ayah yang selalu ada di samping ku."


Barra merasa tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Gisella.


"Gisella,? kamu kenapa berbicara seperti ini ada apa sebenarnya."


Gisella melirik mata nya kepada Laura tapi Laura masih saja tetap diam, dia seperti tidak menginginkan kehadiran Gisella.


"Kak, sekarang apa yang Kakak inginkan selama ini sudah Kakak dapat kan sebuah kepercayaan untuk menjadi orang tua. Jadi aku ingin Kakak sekarang lebih fokus lagi dengan Kak Laura, aku akhiri pernikahan kontrak ini dan aku akan mengembalikan uang tersebut kepada Tante Rossa."


Barra seperti tidak menginginkan pernikahan kontrak ini berakhir sebelum waktunya.


"Kakak tidak usah hawatir dengan bayi yang ada di dalam kandungan ku ini, jika dia lahir aku akan sangat sangat kepada nya."


Laura melihat pengorbanan Gisella untuk menyelamatkan rumah tangga nya.


"Biarkan aku yang mengalah untuk kebahagiaan rumah tangga kalian sekarang aku pergi dulu yaa, aku belum menebus resep yang telah di berikan Dokter Rivan kepada kuu."


Tampa berpamitan terlebih dahulu Gisella langsung pergi dari ruangan tersebut.


Barra merasa sangat kasihan sekali melihat Gisella yang harus berkorban lagi.

__ADS_1


"Anak itu adalah anak kandung ku juga, aku harus bertanggung jawab kepada nya."


Barra sebenarnya ingin sekali mengejar Gisella tapi dia juga melihat Laura yang menatap wajah nya dengan sangat tajam sekali.


Barra menghampiri Laura, dia merasa sangat kecewa sekali dengan sikap Laura kepada Gisella.


"Laura kenapa kamu hanya terdiam saja ketika Gisella datang ke sini, kamu dengar kan semua ucapan dari Gisella."


Barra mencoba untuk menahan emosi nya di hadapan Laura, karena dia tidak mau membuat Laura menjadi marah-marah kepada nya.


"Aku sudah sangat malas untuk melihat wajah nya dan akhirnya dia pun mau mengakhiri pernikahan kontrak ini."


Laura seperti sudah tidak ada lagi perasaan terhadap Gisella.


"Sekarang kamu hanya fokus pada aku dan anak yang ada di dalam kandungan ku ini Mas."


Ucap Laura dengan nada yang sangat tegas sekali.


"Ya, tapi tetap saja aku harus bertanggung jawab dengan anak yang di kandung oleh Gisella. Itu adalah anak kandung ku Laura "


Laura kembali terdiam dia memilih untuk memejamkan mata nya.


Ketika mereka berdua sedang berdebat datang lah Dokter Rivan untuk memeriksa kondisi Laura.


Dokter Rivan merasa sudah ada sesuatu hal di dalam ruangan ini, melihat Dokter Rivan datang Barra memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.


Barra berharap besar masih bisa bertemu dengan Gisella dan menanyakan hal dari pemeriksaan kandungan nya tadi.


"Laura,? kamu baik-baik saja kan. Apa kamu merasakan pusing kembali?."


Dokter Rivan mulai memeriksa Laura dan ternyata tensi darah nya masih tinggi.


"Tensi darah kamu masih tinggi Laura, ayolah coba untuk tenangkan diri kamu Laura."


Dokter Rivan terus saja menyemangati Laura.


"Sebentar lagi tensi kuu akan segera normal kembali, aku tidak akan lagi masuk ke dalam rumah sakit untuk di rawat."


Perkataan Laura terdengar sangat percaya diri sekali.


"Apa yang sebenarnya terjadi sehingga kamu bisa berbicara seperti ini Laura ?."


Laura menghelakan nafas panjang nya.


"Gisella datang dia ingin mengakhiri pernikahan kontrak nya, dia sudah tidak mau lagi jika Mas Barra menemui nya lagi. Mulai sekarang perhatian Mas Barra hanya untuk aku dan anak ada di kandungan ku ini."


Dokter Rivan hanya bisa terdiam saja ketika Laura berkata seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2