Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *192*


__ADS_3

Hubungan Laura dengan Barra semakin membaik ketika mereka berdua memutuskan untuk honeymoon.


Besok adalah hari keberangkatan mereka dan Laura begitu sangat bersemangat sekali.


"Laura, sudah satu bulan aku tidak bertemu dengan Tiara. Aku sangat merindukan nya sekali kamu boleh ikut jika kamu menginginkan nya."


Barra meminta kepada Laura supaya dia mau mengijinkan nya.


"Kamu boleh bertemu dengan anak itu tapi di saat tidak ada Gisella di rumah, hari ini adalah pembukaan kantor baru milik Gisella dan dia pasti tidak ada di rumah. Memulai untuk berkerja."


Barra pun akhirnya tersenyum itu tandanya dia boleh bertemu dengan Tiara.


"Yasudah sekarang aku pergi yaa sebelum aku pergi ke kantor."


Laura dengan terpaksa menggangukan kepalanya dan Barra pun seketika langsung pergi.


"Bersemangat sekali dia, semoga saja rencana ku untuk honeymoon bisa mempererat hubungan ku dengan Mas Barra."


Laura bersikap untuk pergi ke kantor nya, tapi tiba-tiba saja dia merasa sangat pusing sekali.


"Astagaaaa, kepala kuu pusing sekali."


Laura merasa pandangan mata nya yang berkunang-kunang.


Laura mencoba untuk duduk terlebih dahulu.


"Kenapa aku pusing lagi seperti ini yaa, semenjak aku melahirkan aku sudah tidak pernah pusing seperti ini."


Laura merasa jika dia yang terlalu sibuk sehingga kurang beristirahat.


"Aku harus beristirahat dulu, karena besok aku akan pergi ke Bangkok Thailand. Aku tidak mau rencana honeymoon ku gagal hanya karena aku sakit."


Laura memaksakan untuk tetap pergi ke kantor nya.


Karena dirinya harus menghadiri rapat yang paling penting.


"Laura jangan manja, ayo cepat kita pergi ke kantor."


Laura berjalan menuju ke mobil nya, tapi tiba-tiba dia merasakan mual-mual yang sangat berlebihan.


Laura memilih untuk berlari mencari tempat dia tidak kuasa menahan rasa mual nya.


"Seperti nya, aku masuk angin. Badan tidak enak sekali. Aku terpaksa harus tetap masuk ke kantor."


Laura memilih untuk memakai taksi untuk pergi ke kantor nya.


Di perjalanan Laura seperti merasakan mabuk kendaraan tapi Laura menahan nya.


Sampai akhirnya Laura sampai di depan kantor nya.


Laura di sambut oleh asisten pribadi nya, dia memberikan payung kepada Laura.



Laura terus saja menahan rasa mual nya sampai akhirnya dia berada di dalam ruangan nya.


Laura terus saja bulak-balik ke toilet dia seperti sudah dehidrasi sekali.


"Buuu, lebih baik ibu periksakan kondisi ibu yang seperti ini. Saya sangat hawatir sekali melihat ibu yang terus menerus muntah-muntah dan wajah ibu juga sangat pucat sekali."


Laura pun memang merasa sangat lemas sekali tapi dia memikirkan bagaimana dengan


rapat pertemuan yang sangat penting.


"Biarkan saya saja Buu yang mengantikan ibu di rapat nanti siang."


Laura pun akhirnya memilih untuk pergi ke rumah sakit.


"Aku jangan pergi ke rumah sakit sejahtera, karena itu hanya mempertemukan aku dengan Rivan."


Laura memilih rumah sakit yang jarak lumayan sangat jauh sekali.


Dari pada dia harus bertemu dengan Rivan.


Barra akhirnya sampai di depan rumah Gisella.

__ADS_1


Dengan penuh semangat dia pun langsung berlari dan mengetuk pintu.


Riana pun membukakan pintu tersebut dan Barra langsung bertanya tentang Tiara.


"Buu, di mana yaa Laura. Saya sangat merindukan nya sekali."


Riana pun langsung mengantarkan Barra masuk ke dalam kamar Gisella.


Barra tidak kuasa menahan rasa kerinduan nya dia langsung menggendong Tiara.



"Sayang, Papa sangat merindukan kamu sayang. Andai saja Papa bisa bermalam bersama dengan kamu."


Barra terus saja memandangi wajah Tiara dan dia pun tersenyum manis.


Riana merasa sangat senang sekali ketika melihat kedekatan Barra dan juga Tiara.


"Tiara, sebenarnya Papa ingin sekali berlama-lama bersama dengan kamu tapi Papa harus berkerja. Dan besok selama tiga hari Papa harus pergi ke Bangkok Thailand bersama dengan Mommy Laura."


Riana yang mendengar perkataan tersebut dia langsung menghampiri Barra.


"Barra untuk apa kalian berdua pergi ke Bangkok Thailand, apakah untuk melakukan proses kehamilan Laura kembali."


Riana begitu sangat hawatir kepada Laura.


"Tidak Buu, Laura ingin kita berdua melakukan honeymoon kembali ke Bangkok Thailand. Laura seperti nya sudah tidak mau lagi melakukan program kehamilan."


Riana pun merasa sangat lega sekali ketika mendengar nya.


"Syukurlah, semoga saja apa yang kalian berdua inginkan segera terwujud yaa."


Barra mengembalikan Tiara kepada Riana.


"Buu, seperti nya aku harus pergi ke kantor. Seperti nya ini pun sudah terlambat."


Barra merasa sangat berat sekali ketika harus meninggalkan Tiara.


"Papa pergi dulu yaa sayaaaaang."


Barra keluar dari rumah dan berjalan menuju ke mobil nya tapi tiba-tiba handphone nya bergetar.


Seperti ada pesan masuk dan Barra langsung membaca pesan nya tersebut.


"Laura, pesan dari Laura. Ada apa lagi dengan Laura."


*Pas, aku sekarang sedang berada di Rumah Sakit Mandiri. Cepat lah datang ke sini.*


"Yaa Tuhan, Laura masuk ke Rumah Sakit lagi. Lebih baik aku langsung pergi saja karena aku melihat Ibu sibuk dengan Tiara sedangkan Ayah sibuk dengan Toko Bunga nya."


Barra pun langsung mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.


"Kenapa Laura memilih Rumah Sakit yang jauh, kenapa tidak Rumah Sakit Sejahtera saja."


Sesampainya di sana Barra pun langsung mencari ruangan Laura.


Dan ketika Barra datang dia melihat Laura yang sangat lemas sekali dengan infusan di tangan nya.


Laura sedang bersama dengan Dokter di samping nya.


"Apakah Bapak adalah suami dari Ibu Laura, saya sengaja menunggu kedatangan Bapak. Ibu Laura mengambil mual muntah sampai dia merasa sangat lemas sekali, dan ternyata Ibu Laura sedang hamil selama yaa untuk kalian berdua kalian berdua akan menjadi orang tua."


Seketika Laura yang sedang tertidur lemas pun langsung terkejut ketika mendengar hal tersebut.


Barra hanya bisa terdiam tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Laura, kamu hamil sayaaaaang. Kita berniat untuk honeymoon tapi ternyata Tuhan memberkati dengan cepat kamu untuk hamil."


Laura hanya bisa terdiam saja dia memegang perut nya dengan tangan yang bergetar.


"Terimakasih banyak yaa sayang dengan apa yang sudah kamu berikan kepada aku, kamu dengan cepat nya bisa hamil."


Laura merasa sangat ketakutan sekali jika sampai Rivan mengetahui kehamilan nya ini.


"Hmmmmmm, Mas bagaimana jika kita merahasiakan tentang kehamilan kita ini. Dari keluarga apalagi dari Rivan, aku masih sangat benci pada Rivan dan biarkan kehamilan ini menjadi sebuah kejutan untuk kita semua."

__ADS_1


Laura berharap sekali Barra mau mengikuti apa yang di rencanakan nya.


"Apalagi kan kehamilan kuu ini masih sangat muda sekali Mas, jadi masih sangat rawan sekali kan."


Laura terus memohon kepada Barra, dan Barra merasa jika Laura yang masih trauma dengan kehamilan yang sebelumnya.


"Yasudah baiklah tapi aku sekali kamu tidak mengecewakan kuu, di kehamilan mu yang ke dua ini. Kamu harus menjaga kesehatan nya yaa kamu jangan terlalu banyak bergerak."


Laura tersenyum manis kepada Barra dan Barra pun terlihat sangat senang sekali.


***


Gisella mendapatkan bucket bunga dari Dokter Rivan, Rossalinda pun menghampiri Gisella.


"Kamu mendapatkan bucket bunga dari Barra,? apakah ini benar dari dia."


Rossalinda melihat bunga tersebut dengan adanya boneka love berwarna pink.


"Tidak, itu dari Dokter Rivan. Dia yang memberikan bucket bunga beserta boneka pink berbentuk love itu."


Rossalinda menyimpan kembali bucket bunga tersebut dan dia langsung pergi dari ruangan Gisella.


"Dokter Rivan memberikan bunga kepada Gisella, apakah dia menyukai Gisella. Aku lebih berharap Gisella bisa bersama dengan Barra dan biarkan saja Laura dengan Dokter Specialis Kandungan itu, karena jika Laura hamil dia sangat tidak mau menuruti apa yang di katakan oleh Dokter."


Gisella pun terus saja memandangi bunga tersebut dan handphone nya pun bergetar.


"Pesan dari Dokter Rivan, apalagi yang akan dia lakukan kepada kuu."


Gisella pun langsung membuka pesan singkat tersebut.


*Gisella selamat yaa kamu sekarang menjadi seorang CEO, itu sangat mengagumkan sekali. Dan semoga saja kamu sudah menerima bucket bunga dari kuu ini.*


*Yaa, Terimakasih banyak yaa Dokter Rivan.*


*Gisella bagaimana jika kita berdua dinner malam ini dan aku akan menjemput mu ketika jam kerja mu berakhir.*


*Baiklah, aku setuju sekali*


Rivan tidak menyangka jika Gisella dengan mudah nya dia setuju dengan permintaan nya.


"Gisella seketika berubah sebelum nya sikap nya begitu sangat dingin tapi sekarang dia menjadi cepat sekali mengatakan iya."


Rivan pun mulai menjalankan rencana nya.


"Aku akan mengikuti semua rencana muu Dokter Rivan, karena lelaki seperti muu tidak mungkin secepat itu menyukai seorang wanita."


Gisella mulai menyesalkan pekerjaan nya dengan sangat teliti sekali.


Rossalinda terus memperhatikan Gisella.


"Aku tidak mempunyai hak untuk melarang Gisell berhubungan dengan Dokter Rivan, karena Gisell yang sudah bukan lagi istri Barra. Tapi kenapa aku sangat menghawatirkan sekali Gisella jika dia dekat dengan Dokter Rivan."


Rossalinda hawatir sekali jika Gisella hanya di manfaatkan oleh Dokter Rivan.


Jam kerja pun berakhir Gisella dengan sangat cepat sekali membereskan tugas nya.


Gisella mengeluarkan handphone nya dia memberikan kabar kepada Ibu nya.


*Buu, pulang kerja aku di ajak Dokter Rivan untuk makan malam bersama. Ibu jangan hawatir aku akan menjaga diri aku baik-baik.*


Setelah mengirimkan pesan kepada Ibu nya, Gisella pun berjalan menuju ke depan kantor nya.


Dia duduk untuk menunggu kedatangan Rivan.


Rossalinda terus saja memperhatikan Gisella.


"Gisella seperti sedang menunggu seseorang dia tidak langsung masuk ke dalam mobil pribadi nya."


Dan akhirnya ketika sudah menunggu beberapa menit, Dokter Rivan pun datang untuk menjemput Gisella.


Gisella tersenyum manis kepada melihat Dokter Rivan yang membuka kan pintu mobil nya untuk dirinya.


"Gisella pergi bersama dengan Dokter Rivan, ini tidak bisa di biarkan. Aku harus menyuruh seseorang untuk mengikuti nya."


Rossalinda menyuruh orang kepercayaan untuk mengikuti mobil Rivan dan dia harus memastikan bahwa Gisella pulang dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2