
Melihat Barra yang sudah pergi jauh, Gisella menatap wajah Rivan.
"Dokter Rivan, kenapa kamu berbicara seperti itu kepada Kak Barra. Kamu bilang jika kita mempunyai hubungan?."
Rivan pun tersenyum kepada Gisella.
"Kamu bilang jika aku adalah kekasih mu di depan orang tua Rangga dan sekarang aku pun melakukan hal sama jadi tidak usah banyak berkomentar yaa."
Gisella pun terpaksa harus mengikuti apa yang di katakan oleh Dokter Rivan.
"Lalu apa di balik ucapan ini, untuk apa ada sesuatu yang Dokter Rivan sembunyikan."
Gisella semakin berani bertanya kepada Dokter Rivan.
"Perkataan apa maksud kamu Gisella, aku tidak mengerti."
Gisella pun tersenyum manis kepada Dokter Rivan.
"Tadi aku mendengar jelas Dokter Rivan bilang kepada Kak Barra, tentang kehamilan Kak Laura yang tidak tahu anak siapa. Apa maksud dari perkataan itu Dokter Rivan."
Rivan mulai gelisah dengan kepintaran Gisella.
"Kenapa harus di pertanyaan lagi, kamu sendiri bisa menemukan jawaban nya sendiri jika Laura itu hamil anak siapa."
Rivan memilih untuk pergi dan Gisella pun semakin merasa mencurigai Dokter Rivan.
"Di seperti sedang memanfaatkan kuu saja, aku tidak mengerti dengan apa yang di rencanakan tapi aku akan mencoba untuk mencari tahu sendiri jawaban nya."
Gisella menghampiri Rossalinda dia yang sebenarnya mengetahui semuanya pembicaraan antara Dokter Rivan dan Barra.
"Ayoo sayaaaaang, sini sama Ibuuu."
Gisella mengambil Tiara dari gendongan Rossalinda.
"Apakah benar kamu sekarang sedang dekat dengan Dokter Rivan Gisella,? Mama merasa Dokter Rivan tidak serius dengan muu."
Gisella pun terkejut ketika Mama Rossa berkata seperti itu kepada dirinya.
"Hmmmmm, aku pun tidak terlalu menanggapi nya. Karena tidak mungkin seorang Dokter Specialis menyukai wanita yang sudah memiliki anak seperti kuu, apalagi dia kan masih lajang."
Rossalinda lebih percaya dengan perkataan Gisella dari pada Dokter Rivan.
"Gisella, kamu harus bisa menjaga diri kamu. Sekarang kamu akan menjadi pusat perhatian banyak orang. Jangan dengan mudah nya menerima kehadiran lelaki untuk menjadi pendamping muu karena sekarang kamu sedang di atas popularitas."
Gisella mengerti dengan apa yang di katakan oleh Mama Rossa kepada nya.
"Iyaa Mam, sekarang aku pamit pulang dulu yaa. Kasihan Tiara dia pasti ingin beristirahat."
Gisella berpamitan pulang kepada Rossalinda.
"Hati-hati yaa sayang, main lah ke rumah omah untuk menginap."
Gisella dan Tiara pun pulang, Gisella merasa jika rumah tangga Kakak nya sedang bermasalah.
"Dokter Rivan seperti nya jatuh cinta dengan Kak Laura, dia hanya memanfaatkan aku saja di hadapan Kak Barra. Tapi kenapa Dokter Rivan bisa memiliki perasaan dengan Kak Laura bukan kah dia tahu jika Kak Laura sedang hamil. Hmmmmm ternyata dia sama saja seperti Rangga."
Gisella sampai di depan rumah nya, Tiara langsung di ambil oleh Riana.
Riana melihat Gisella yang seperti sedang melamun.
"Gisell, semua nya baik-baik saja kan. Kamu tidak mengalami hal yang aneh kan?."
Gisella tersenyum kepada Ibu nya.
"Semua nya baik-baik saja kok Buu, aku hanya sedikit capek saja."
Gisella pun memilih untuk masuk ke dalam kamar nya.
Gisella membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur nya.
Dia memejamkan mata nya dan berharap bisa tidur nyenyak di siang hari ini.
Tapi ternyata handphone nya yang tiba-tiba saja berdering kencang.
Membuat Gisella seketika langsung terbangun dari tidurnya.
"Kak Laura, untuk apa dia menelephone ku. Demi Tuhan aku tidak senang sekali jika Kak Laura menelephone ku seperti ini."
Gisella memilih untuk membiarkan handphone nya berdering kencang di kamar nya.
Gisella memilih untuk keluar dari kamar nya dan menutup rapat pintu kamar nya.
"Jika Kak Laura bertanya kepada Ibu kenapa aku tidak menjawab panggilan telephone dari Kak Laura, ibu bisa bilang jika aku sedang berada di toko bunga."
Gisella pun menghampiri kedua orang tuanya yang sedang beristirahat di toko bunga milik keluarga nya.
Gisella terlihat sangat tergesah-gesah sekali.
"Gisella apakah kamu baik-baik saja,? kamu seperti sudah berlari ada dengan kamu Gisella?."
Gisella duduk di samping ibu nya.
"Tidak apa-apa Buu, aku hanya ingin berlari-lari kecil saja supaya aku tidak mengantuk. Aku tidak mau tidur siang Buu."
__ADS_1
Riana melihat iklan shampo Gisella di televisi dia begitu sangat bahagia sekali.
"Tiara, lihat sayaaaaang. Ada ibu di Tv sayaaaaang, Gisella kamu sangat cantik sekali sayaaaaang."
Gisella begitu sangat senang sekali ketika ibu nya bisa melihat hasil dari pemotretan dan syuting iklan nya.
"Buu, boleh kah aku bertanya tentang Kak Laura?."
Gisella semakin mendekatkan diri nya kepada Ibu nya.
"Menanyakan tentang apa,? yang membuat kamu merasa penasaran sekali yaa."
Tiara pun di bawa oleh Kakek nya karena melihat Gisella seperti sedang serius sekali.
"Kak Laura dan Dokter Rivan itu dulu nya apakah satu sekolah,?"
Riana pun mulai mengingat nya kembali tentang Dokter Rivan dan juga Laura.
Gisella berharap bisa mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang di pikirkan nya.
"Laura dan Dokter Rivan merasa berteman baik pada saat mereka masih sekolah di SMA, merasa berdua memang sangat dekat sekali."
Gisella pun semakin menyangka jika mereka berdua punya hubungan spesial di saat SMA.
"Apakah mereka berdua itu pernah berpacaran Buu,?"
Riana pun mulai mengingat kembali kejadian yang dulu.
"Ibu tidak tahu jika mereka pernah pacaran atau tidak nya, tapi Laura sempat menangis ketika Dokter Rivan yang memilih untuk melanjutkan kuliah nya ke luar negeri."
Riana memperhatikan wajah Gisella yang seperti sedang berpikir.
"Apakah kamu merasa jika Dokter Rivan mempunyai perasaan terhadap Kakak kamu,? sama seperti ibu yang melihat perhatian yang berlebih-lebihan yang Dokter Rivan berikan kepada Kakak kamu pada saat dia di rumah sakit proses penyembuhan pasca operasi Caesar."
Gisella pun langsung membalikkan wajah nya kepada Ibu nya.
"Ibu bisa berpikiran seperti itu juga,? tapi kenapa Dokter Rivan seakan dia mencoba untuk mendekati aku tapi kenyataan nya dia itu menginginkan Kak Laura."
Gisella semakin bingung dengan Dokter Rivan.
"Semua nya salah Laura, dia yang terlalu dekat dengan Dokter Rivan. Di saat dia yang sedang melakukan program kehamilan dia lebih banyak bercerita tentang kehidupan rumah tangga nya dengan Dokter Rivan. Sehingga Dokter Rivan mengetahui isi rumah tangga Laura dan Barra."
Riana memilih untuk meninggalkan Gisella Karena sudah waktunya toko di buka kembali banyak sekali yang akan mengambil pesanan bucket bunga nya.
Setelah mendengar semua nya, Gisella semakin yakin jika Dokter Rivan memang menginginkan Laura.
"Kalau sudah cinta semua cara bisa di lakukan yaa, termasuk mengambil isteri orang yang sedang hamil muda. Luar biasa sekali dunia percintaan ini."
Gisella kembali melihat handphone nya.
"Astagaaaa, 20 panggilan telephone tidak terjawab dari Kak Laura."
Gisella pun lebih memilih untuk tidak menelephone balik Laura.
"Untuk apa aku menelephone dia, cuman buat mendengarkan dia marah-marah saja."
Gisella menyimpan kembali handphone nya tapi handphone nya kali ini bergetar tidak berdering.
Gisella melihat ada pesan masuk dari Dokter Rivan.
"Dokter Rivan, tadi Kak Laura. Apakah mereka berdua sedang merencanakan sesuatu."
Gisella pun membuka pesan tersebut dan membaca nya.
*Gisella mau kamu membantu ku dan juga rumah tangga Kakak muu agar Barra tidak berpikir negatif terhadap kita, malam ini kita makan malam bersama dan mengatakan bahwa kita sedang menjalani hubungan.*
"Sudah ku duga, mereka berdua sedang merencanakan sesuatu. Dan aku yang mereka jadikan korban nya, tapi nggak apa-apa aku akan mengikuti semua permintaan mereka berdua dan juga akan membongkar rahasia mereka juga."
*Oke baiklah aku mau datang saja ke rumah kuu sekarang untuk menjemput kuu.*
Rivan tersenyum manis ketika membaca pesan dari Gisella.
"Terimakasih banyak Gisella kamu sudah membantu kuu."
Rivan pun mulai bersiap-siap untuk pergi menjemput Gisella, tapi dirinya lupa memberikan kabar kepada Laura.
*Laura, Gisella mau mengikuti apa yang kita inginkan.*
"Gisella, tidak menjawab panggilan telephone ku tapi dia dengan cepat membalas pesan dari Rivan. Sungguh luar biasa sekali yaa."
Rencana Rivan tersebut supaya membuat Barra percaya dengan Laura dan tidak berpikir negatif terhadap dirinya.
Laura pun datang ke kantor Barra dia berharap Barra pun mau datang ke tempat tersebut.
Kedatangan Laura tidak di sambut baik oleh Barra, Barra hanya terdiam saja melihat Laura masuk ke dalam ruangan nya.
"Mas, aku mohon jangan seperti ini lagi. Aku ingin menjelaskan semuanya agar kamu tidak berpikir negatif terhadap aku dan Rivan. Aku dan Rivan kita tidak mempunyai hubungan spesial kita hanya berteman baik saja Mas."
Laura mencoba untuk menyakinkan kepada suami nya.
"Sekarang lebih baik kita berdua datang untuk bertemu dengan Rivan, kita bicarakan semuanya apa maksud dari dia mengirimkan bucket bunga untuk kuu."
Laura memegang tangan Barra dia terus memohon kepada Barra.
__ADS_1
Sampai akhirnya Barra pun mau ikut bersama dengan Laura.
"Terimakasih banyak banyak Mas, aku ingin sekali masalah ini cepat selesai dan rumah tangga kita bahagia kembali."
Rencana Rivan dan Gisella yaitu ingin mengatakan kepada Barra jika Rivan itu sedang ingin dekat dengan Gisella.
Mereka berdua merencanakan hal tersebut supaya Barra tidak berpikir negatif terhadap mereka berdua dan tidak berpisah dengan Barra.
Laura begitu sangat bersemangat sekali begitu juga Gisella.
"Hari ini aku akan melihat pemain drama terbaik, aku akan berpura-pura bodoh di hadapan mereka berdua supaya mereka pun percaya jika aku membuat mereka berdua."
Gisella bersiap-siap untuk pergi, dia pun di hampiri oleh Ibu nya.
"Gisella kamu mau pergi ke mana,? kamu bukan nya istrirahat saja."
Ketika Gisella akan menjelaskan kenapa Ibu nya, mobil Rivan sudah datang untuk menjemput nya.
"Aku pergi dulu yaa Buu, nanti aku pasti menjelaskan nya kepada ibu."
Gisella pun langsung berlari menghampiri Rivan.
Dan Rivan pun terdiam ketika melihat penampilan Gisella.
"Tidak usah seperti itu melihat kuu, nanti malah jatuh cinta beneran kepada kuu."
Rivan pun menudukan kepala nya dia langsung membuka kan pintu mobil nya agar Gisella masuk.
Riana sangat terkejut sekali ketika Gisella pergi bersama dengan Rivan.
"Untuk apa Gisella pergi dengan Rivan, ada sebenarnya ini. Apakah Gisella ternyata mempunyai perasaan terhadap Rivan."
Riana pun merasa sangat hawatir sekali dengan Gisella.
Di perjalanan Gisella terlihat sangat santai sekali dan membuat Rivan terus memperhatikan nya.
Rivan tidak bisa membohongi apa yang di lihat jika Gisella begitu sangat cantik sekali.
"Aku dengan Dokter Rivan itu seperti dengan Sugar Daddy yaa, kalau Kak Laura dengan Kak Barra lebih ke Tante-tante pecinta brondong."
Gisella pun tersenyum manis kepada Rivan dan membuat Rivan semakin salah tingkah kepada Laura.
Mereka pun akhirnya sampai di tempat yang sudah mereka rencanakan.
Laura melihat Gisella dan Rivan datang sedangkan Barra merasa sangat kaget sekali ketika melihat Rivan bersama dengan Gisella.
Penampilan Gisella jauh lebih cantik dan menarik dari Laura.
Tidak seperti biasanya dan pandangan mata Barra pun tertuju pada kecantikan Gisella.
Gisella dan Rivan pun duduk berdampingan dan Laura pun memegang tangan Barra karena melihat Gisella yang sangat menggoda sekali penampilan nya.
"Sebenarnya ada apa ini,? kenapa harus ada Gisella di saat kalian berdua mau menjelaskan nya."
Barra memandangi wajah Laura dengan serius sekali.
"Jadi aku ini adalah wanita yang di sukai oleh Dokter Rivan, bukan Kak Laura. Dokter Rivan itu lebih suka dengan aku daripada Kak Laura yaa mungkin karena usia yang lebih muda dan lebih terlihat segar untuk di pandang."
Laura begitu sangat emosional sekali ketika mendengar perkataan Gisella yang seakan bilang jika dirinya sudah tua dan tidak menarik lagi.
Barra pun sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan Gisella.
"Hmmmmm, Barra aku memang sebernarnya menyukai Gisella bukan Laura. Aku memberikan bucket bunga mawar merah dan putih kepada Laura karena ingin sekali meminta bantuan kepada Laura untuk mau mendekati aku dengan Gisella."
Barra merasa sangat tidak yakin dengan ucapan Rivan apalagi Gisella yang bukan wanita gampangan untuk menerima kehadiran lelaki di samping nya.
Gisella pun terus saja tersenyum manis kepada Barra dan membuat Laura merasa sangat kesal sekali.
"Hmmmmm, jadi seperti sayang cerita nya. Jadi mulai sekarang kamu jangan berpikiran negatif terhadap aku dan Rivan yaa."
Laura memegang tangan Barra dengan penuh perasaan dan membuat Rivan terbakar api cemburu.
Gisella pun langsung memperhatikan wajah Dokter Rivan seperti menahan rasa cemburu nyaa.
"Apakah kita membicarakan tentang masalah seperti ini saja, kita tidak makan dulu gitu."
Barra pun langsung memanggil pelayan untuk datang dan memesan makanan untuk mereka semua nya.
"Terimakasih banyak yaa Barra, mengerti sekali yaa kalau aku memang sangat kelaparan sekali."
Barra tersenyum manis kepada Gisella dan Laura pun langsung memanggil wajah Gisella yang seperti wanita penggoda.
Tidak lama kemudian makanan pun datang tapi ternyata Laura tidak kuat dengan aroma masakan yang sangat menyengat sekali.
Laura pun merasakan rasa mual dan seperti ingin muntah, tapi aneh nya Rivan yang sibuk untuk memberikan tissue kepada Laura sedangkan Barra hanya terdiam saja melihat mereka berdua.
__ADS_1