Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (68)


__ADS_3

Rangga ingin mengikuti Gisella tapi Barra sudah membawa jauh Gisella.


"Itu Gisella kan, atau hanya perasaan ku saja. Ahhhh aku terlalu memikirkan Gisell jadi nya seperti ini."


Rangga pun memilih untuk pergi dari tempat tersebut.


Barra membawa Gisella ke salon kecantikan langganan Mama nya, dan Barra meminta pegawai salon tersebut untuk merubah tampilan Gisella menjadi lebih dewasa.


"Kamu harus yakin yaa, kamu pasti akan menjadi lebih cantik."


Gisella pun hanya bisa tersenyum dan duduk di depan cermin sambil di make up oleh pegawai salon tersebut.


Barra memilih untuk pergi dia ingin membelikan sesuatu untuk Gisella.


Gisella pun memandangi perubahan wajah nya dia seperti tidak percaya dengan penampilan nya yang baru.


"Astaga apakah ini benar aku yang sekarang, hmmmm ternyata aku bisa cantik juga yaa."


Gisella terus memandangi wajah nya di depan cermin sambil tersenyum manis.


Pegawai salon tersebut memberikan baju yang sudah di pilih kan oleh Barra.


"Silahkan buu, di pakai baju nya yaa."


Gisella pun langsung mengambil pakaian tersebut dan mengganti nya.


"Walaupun aku hanya istri bayaran tapi penampilan ku memang harus sesuai dengan suamiku, aku harus bisa menjaga penampilan ku ini."


Gisella memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Barra.


Dia merasa sangat senang sekali ketika melihat penampilan di cermin.



"Terimakasih banyak Kak Barra yang sudah merubah tampilan kuu ini."


Selesai memakai mengganti baju Gisella pun keluar dari kamar ganti tersebut dan mencari Barra.


"Kemana yaa Kak Barra, kok dia menghilang sih. Apa dia sengaja meninggalkan aku sendiri di sini."


Gisella terlihat sangat panik dia terus saja mencari keberadaan Barra.


"Ahhhhhh, Kak Barra. Kemana sih nyebelin banget deh."


Gisella mencoba untuk mencari-cari keberadaan Barra.


Tiba-tiba saja ada seorang yang menutupi mata Gisella dari Belanda.


Gisella pun langsung berteriak kencang dan membalikkan badannya.

__ADS_1


Ternyata itu adalah tangan Barra, dan Barra pun terpesona dengan kecantikan Gisella.



"Gisell, kamu cantik sekali. Yaa Tuhan kamu seperti super model."


Barra benar-benar terkejut sekali ketika melihat penampilan Gisella.


"Ini semua kan karena Kak Barra, yang membuat aku seperti ini. Kak Barra kan sekarang Sugar Daddy aku hahahaha."


Semakin melihat Gisella tertawa lepas semakin terlihat kecantikan Gisella.


"Oh, iya Gisell. Ini barang-barang yang akan kamu pakai yaa, sekarang kamu adalah tanggung jawab aku yaa. Apapun itu dari mulai pakaian, sepatu, tas make up semua nya aku yang bertanggung jawab yaa."


Barra terlihat sangat bahagia sekali ketika dirinya bisa membahagiakan istri nya.


Gisella wanita yang pertama kali di belikan fasilitas olah Barra.


"Bagaimana jika Kak Mengetahui nya,? apakah dia akan marah-marah lagi dengan apa yang sudah Kak Barra berikan kepada aku."


Gisella merasa sangat ketakutan sekali dia tidak semakin berhubungan tidak baik dengan Laura.


"Sudah yaa, Laura tidak mungkin marah. Karena Laura lebih suka membeli apapun itu dengan uang nya bukan uang dari suami nya dan apapun yang aku belikan tidak pernah dia pakai sama sekali."


Terlihat jelas di wajah Barra dia begitu sangat sedih sekali.


Genggaman tangan Gisella seakan menguatkan Barra.


Barra berniat untuk membawa Gisella ke rumah nya, tapi dia merasa Gisell butuh waktu tenang untuk berada di rumah nya.


"Gisell, Kak Barra tau sekarang kamu sedang mencoba untuk menenangkan pikiran dan perasaan kamu. Tapi nanti jika kamu sudah baik-baik saja kamu kembali yaa ke rumah."


Barra membelai rambut panjang Gisella.


"Kak, bagaimana kalau aku tinggal di suatu tempat saja. Karena aku tidak mungkin bisa tinggal bersama dengan Kak Laura apalagi dengan setatus ini."


Gisella tidak ingin Laura semakin membenci dirinya.


"Karena Kak Laura itu pasti akan selalu menyimpan perasaan ini kepada aku, walaupun dia sudah minta maaf kepada kuu tapi aku juga seorang wanita aku tau Kak Laura tidak menginginkan kehadiran ku di antara kalian berdua."


Barra seketika saja memeluk erat Gisella, dia tidak menyangka sekali jika Gisella bisa mempunyai pikiran seperti itu. Sedangkan Laura dia hanya tetap saja tidak berubah.


Gisella melepaskan pelukan Barra yang di berikan di depan umum.


"Pulang yuu Kaa, aku pengen liat apa aja sih yang Kakak berikan untuk aku."


Gisella pun langsung berlari menghampiri mobil Barra.


"Maafkan aku yaa Kaa, aku tidak mau Kak Barra merasa nyaman dekat aku. Aku tidak mau mengambil kebahagiaan Kak Laura."

__ADS_1


Ucap Gisella di dalam hati nya.


Barra pun langsung membuka pintu mobil nya dan Gisella masuk ke dalam mobil nya.


Tiba-tiba saja hujan sangat deras sekali beruntung sekali mereka berdua sudah ada di dalam mobil.


"Yaampuun hujan nya langsung deras saja yaa, aku takut sekali dengan suara petir Kaa."


Gisella merasa sangat ketakutan sekali dan Barra pun memilih untuk tidak menyalakan mesin mobil.


"Yasudah kita jangan dulu berangkat yaa, kita tunggu hujan nya reda dulu yaa."


Barra melihat Gisella yang begitu sangat ketakutan sekali.


"Kita pindah duduk di belakang yaa."


Mereka berdua pun memilih untuk duduk di kursi belakang, Barra melihat Gisella yang terus saja menutupi wajahnya.


"Apa yang harus aku lakukan Gisell, agar bisa tenang."


Barra mencoba untuk memeluk Gisella tangan Gisella begitu sangat bergetar sekali.


"Kamu harus tenang yaa kamu harus melawan rasa takut kamu ini yaa."


Gisella pun terus memegang tangan Barra, sampai akhirnya Gisella sampai tertidur pulas di pelukan Barra.


"Gisella sudah tidur, aku harus pulang ke mana yaa. Ini sudah jam 11 malam."


Barra menidurkan Gisella di kursi belakang.


"Jika aku pergi ke hotel aku tidak mungkin membangun kan Gisella, kasihan dia sudah tertidur pulas sekali."


Barra mulai mengendarai mobil nya dia sangat kebingungan sekali harus membawa Gisella kemana.


"Jika Gisell aku bawa pulang nanti mengganggu waktu istirahat mereka."


Bara pun memilih untuk pergi ke villa nya saja.


"Yasudahlah lebih baik aku pergi ke villa saja, kasihan Gisella."


Barra menuju ke villa dengan membawa Gisella.


Ketika Barra sampai di villa dia lebih memilih untuk mengendong Gisella daripada membangunkan nya.


"Tolong yaa bawa semua barang-barang yang ada di dalam mobil bawa ke dalam, tapi harus dengan hati-hati yaa."


Para pegawai pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Barra.


Barra masuk ke kamar yang dulu di jadikan kamar malam pertama mereka berdua setelah menikah.

__ADS_1


__ADS_2