Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (71)


__ADS_3

"Lalu kenapa tidak bangun kan saja dia dan antarkan Laura pulang, sebenarnya ini hanya alesan kamu saja Mas lebih ingin bersama dengan Gisell dari pada dengan aku."


Laura memilih untuk langsung pergi dia merasa sangat kesal sekali dengan Barra.


Laura pergi dengan hati yang sangat kesal sekali dia berniat untuk mendatangi Gisella.


"Aku harus menemui Gisella, dia harus menghargai aku sebagai istri selamanya Mas Barra."


Laura mengambil handphone nya dia berniat untuk mengirimkan pesan kepada Gisella.


*Kakak ingin kita ketemuan di taman dekat rumah ada yang ingin Kakak bicarakan*


Membaca pesan tersebut Gisella hanya bisa pasrah.


"Sudah ku duga pasti akan seperti ini, Kak Laura cemburu karena Kak Barra lebih memilih bersama dengan aku."


Gisella pun membalas pesan dari Laura.


*Baiklah aku akan segera pergi ke sana sekarang juga*


Tampa berpikir panjang Gisella pun datang menemui Kakak nya.


Laura sampai di taman itu dia menunggu kedatangan Gisella.


"Aku harus bersikap tegas terhadap Gisella, jika di biarkan dia akan bersikap seenaknya dengan Mas Barra."


Melihat Laura yang sedang duduk di bawah pohon rindang, Gisella pun mempercepat langkah nya. Karena dia tau jika Kakak yang super sibuk.


"Akhirnya dia datang juga."


Gisella pun langsung duduk di samping Laura.


"Gisella, Kakak tahu kamu sekarang itu adalah istri nya Mas Barra juga. Tapi kamu juga harus ingat yaa kamu itu hanya istri sementara bukan istri selamanya jadi kamu tidak harus selalu bersama dengan Mas Barra."


Suara Laura terdengar sangat tinggi sekali mempunyai Gisella merasa terbawa emosional nya.


"Iyaa, aku tahu Kak. Aku ini hanya wanita bayaran atau istri sementara tapi ini juga bukan keinginan aku Kak, apakah aku harus menolak keinginan dari seorang suami."


Gisella mulai terbawa emosional karena sikap Laura kepada nya.


"Kalau Kakak ingin suami Kakak terus bersama dengan Kakak, beri dia perhatian yang lebih pikiran suami Kakak bukan selalu menomber satukan perkejaan Kakak."

__ADS_1


Gisella berdiri dari tempat duduk nya.


"Ingat Kak suami Kakak itu seorang pengusaha yang sukses dan hebat, Kakak tidak berkerja pun dia mampu memenuhi kebutuhan Kakak."


Gisella memilih untuk pergi begitu saja meninggalkan Laura.


"Demi Tuhan, aku menyesali pernikahan kontrak ini. Jika akhirnya jadi seperti ini."


Perkataan Gisella membuat Laura semakin membenci adik kandung nya itu.


"Aku harus bagaimana sekarang yaa, Gisella mulai tidak bisa untuk di nasehati."


Laura memilih untuk diam di taman tersebut sambil memikirkan rencana nya.


"Ahhhh, kepala ku sakit sekali memikirkan ini semua. Aku akan pergi ke kantor Mas Barra saja."


Laura memutuskan untuk pergi ke kantor suaminya, kedatangan Laura membuat para pegawai yang ada di kantor tersebut terkejut.


"Selamat siang Bu Laura, terakhir saya melihat Bu Laura itu ketika mau pergi honeymoon bersama Pak Barra. Semoga bulan depan langsung hamil yaa buu."


Mendengar perkataan dari salah staf pegawai di kantor Barra, Laura hanya bisa tersenyum manis saja.


Laura berjalan menuju ke ruangan pribadi Barra, dia langsung membuka pintu tersebut tampa mengetuk nya terlebih dahulu.


"Mas, aku ingin membicarakan sesuatu kepada kamu."


Laura duduk berhadapan dengan Barra dan Barra hanya terdiam menunggu apa yang akan di bicarakan oleh Laura.


"Bagaimana kalau kita menjalani program bayi tabung saja Mas, kita akhiri pernikahan kontrak ini jika aku bisa segera hamil."


Barra tidak menyangka dengan apa yang di katakan oleh Laura, dengan mudahnya Laura ingin mengakhiri pernikahan kontrak tersebut.


Barra langsung tersenyum kepada Laura sambil memandangi wajah nya.


"Semudah itu kamu ingin mengakhiri pernikahan kontrak ini,? lalu bagaimana cara nya aku mengembalikan mahkota Gisella jika pernikahan ini selesai."


Barra tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala istri nya tersebut.


"Aku sanggup membayar 1 Milyaran kepada Gisella, asalkan dia mau mengakhiri pernikahan kontrak ini."


Laura begitu sangat yakin sekali dengan apa yang sudah dia ucapkan.

__ADS_1


"Laura kamu tega sekali mau membayar harga diri adik kandung kamu, Laura ada apa dengan kamu yang sekarang kenapa berbeda dengan Laura yang dulu."


Barra sampai berdiri dari tempat duduk nya.


"Karena aku sangat ketakutan sekali jika Gisella akan mengambil kamu dari pelukan aku Mas, contoh nya saja sekarang kalian berdua sudah honeymoon tapi Gisella masih ingin bisa tidur bersama dengan kamu Mas."


Barra menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Aku yang menginginkan tidur bersama di malam itu bukan Gisella, jadi kamu jangan selalu berpikir negatif kepada Gisella."


Barra berjalan dia membuka pintu agar Laura bisa segera pergi dari ruangan nya.


"Aku akan rapat dan ini rapat yang sangat penting sekali, kamu jangan merusak suasana hati aku dan lebih sekarang kamu pergi dari ruangan ini."


Laura tidak menyangka dia sampai di usir oleh suaminya sendiri.


"Kamu bisa berkata lebih baik lagi kan sama aku jangan seperti ini, ini sama saja kamu mengusir istri kamu sendiri."


Ketika Laura yang tidak mau keluar dari ruangan nya, Barra pun memilih untuk pergi dari ruangan nya sendiri.


"Ahhhhhh, tuhkan sekarang Mas Barra aja nggak mau mengakhiri pernikahan kontrak ini. Ini tanda nya Mas Barra sudah mempunyai rasa yang dalam kepada Gisella."


Dengan sangat terpaksa Laura pun keluar dari ruangan Barra dia memilih untuk pergi ke kantor nya.


"Aku harus fokus dalam mengendarai mobil ini, jangan sampai terjadi sesuatu karena aku yang terus-menerus memikirkan Gisella dengan Mas Barra."


Di perjalanan Laura memikirkan bagaimana cara nya agar Barra mau meninggalkan Gisella.


"Apa aku harus datang sendiri ke Dokter Specialis Kandungan yaa, aku melakukan program di sana. Tapi sudah berkali-kali aku datang ke Dokter Specialis Kandungan yang berbeda pun jawaban mereka semua sama tidak ada penyakit semua nya normal, tapi kenapa di usia pernikahan ku yang sudah 3 tahun ini aku belum juga bisa hamil."


Laura memilih memberhentikan mobilnya di sebuah cafe dia ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu.


"Lebih baik aku masuk ke dalam cafe itu, aku tidak mungkin pergi ke kantor dengan kondisi aku yang seperti ini."


Laura pun masuk ke dalam cafe tersebut dia duduk dan memesan minuman.


Ketika Laura sedang memesan minuman dia seperti mengenal lelaki yang sedang bersama dengan wanita di samping nya.


"Seperti nya aku kenal lelaki itu yaa, tapi siapa yaa. Hmmmmm wajah nya tidak jelas dia memakai topi."


Laura terus saja memperhatikan lelaki tersebut dia begitu sangat penasaran sekali siapa lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2