Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *150*


__ADS_3

Laura merasa jika Mama Rossa ingin bersaing dengan produk nya, tapi yang membuat Laura marah kepada harus Gisella yang di ikut sertakan.


"Maksudnya apa sih pakai Gisella, persaingan bisnis istri sah dengan istri kontrak."


Laura sangat di buat emosional sekali dia tidak menyangka jika Mama mertua nya bisa seperti itu kepada nya.


"Apakah Mas Barra mengetahui ini semua, dia menyembunyikan dari aku. Memang tidak salah aku keluar dari rumah itu."


Laura mencoba untuk terus mengatur emosi nya, dia tidak mau harus masuk lagi ke rumah sakit.


Laura mencoba untuk menghubungi suami nya, dia ingin membicarakan ini semua.


*Aku ingin kita bertemu di Cafe biasa, ada yang ingin aku bicarakan.*


Barra yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya pun melihat handphone nya bergetar dan melihat istrinya yang mengirimkan pesan dia langsung membaca nya.


"Kenapa lagi dengan Laura, apalagi yang harus di bicarakan."


Barra merasa sangat tidak nyaman pemikiran nya, dia lebih memilih membalas dulu pesan dari istri nya tersebut.


*Baiklah, kita ketemuan di jam 12 siang.*


Barra mencoba untuk menyelesaikan tugas-tugas nya, karena dia tidak mau tugas semakin bertumpuk.


Barra pun di ingat kan oleh asisten pribadi nya, jika hari dia akan bertemu dengan seorang yang akan berkerja sama dengan perusahaan nya.


Barra pun membaca terlebih dahulu siapa yang akan berkerja sama dengan nya.


Barra pun terkejut ketika membaca nama


"Erlangga Rangga"


"Erlangga Rangga, itu bukan nya mantan kekasih Gisella yang baru saja bertunangan dengan wanita pilihan orang tua nya. Kenapa bisa kebetulan sekali aku akan berkerja sama dengan nya."


Barra pun tidak sabar ingin segera bertemu dengan Rangga.


"Saya akan bertemu dengan istri saya di waktu jam istirahat, setelah itu saya baru bertemu dengan Bapak Erlangga Rangga yaa."


Ucap Barra kepada Asisten pribadi nya.

__ADS_1


"Baiklah Pak, nanti saya sampaikan kepada Pak Erlangga Rangga."


Asisten pribadi itu pun keluar dari ruangan Barra dan Barra pun bersiap untuk pergi menemui Laura.


"Aku harus berangkat sekarang juga, aku harus lebih awal datang nya dari pada Laura. Kalau sampai aku yang telat bisa habis aku di marahin dia."


Barra pun terlihat sangat buru-buru sekali, dan begitu pun juga Laura yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Barra.


"Aku sudah tidak sabar ingin meluapkan semua kekesalan ku kepada Mas Barra."


Mereka berdua datang secara bersamaan Barra yang melihat dulu Laura turun dari mobil nya.


"Seperti nya, aku membiarkan dulu Laura turun dari mobil nya dan berjalan dalam. Jika kita berdua bertemu di parkiran pasti permasalahan ini akan langsung di bicarakan di parkiran bukan di cafe."


Barra pun turun dari mobil nya, dia mulai mengatur pernafasan nya.


"Barra, kamu harus tenang yaa. Jangan sampai emosional. Ingat Laura sangat sensitif sekali dia sedang hamil."


Barra pun menghampiri Laura yang sedang duduk dengan gelisah menunggu kedatangan nya.


Barra melihat ekspresi wajah Laura yang sangat emosional.


Laura terlihat tidak bisa menahan emosi nya.


"Laura, kenapa kamu punya pikiran seperti itu. Bisnis Mama itu belum jadi belum bisa pemasaran. Mama baru mencari desain bentuk botol shampoo nya, nama shampoo nya dan Brand ambassador produk shampo Mama."


Laura pun langsung tersenyum tipis kepada Barra.


"Lalu kenapa harus Gisella, apakah tidak ada artis yang lain. Mama kamu tidak mampu membayar Artis terpopuler."


Barra merasa perkataan Laura sudah kelewatan sekali.


"Kenapa Gisella,??? karena Gisella sekarang sedang hamil. Dia butuh pekerjaan untuk masa depan anak yang di kandung nya. Dan Gisella di sini dia sebagai pekerja."


Barra mulai terbawa emosional terhadap Laura dan Laura pun hanya terdiam.


"Seharusnya aku yang bertanggung jawab atas semua yang di perlukan oleh Gisella, tapi Gisella menolak setiap apapun pemberian dari aku ataupun Mama. Alasan Gisella dia tidak mau Kak Laura cemburu padahal aku yang wajib untuk bertanggung jawab."


Mendengar perkataan Barra, Laura pun menundukan kepala nya.

__ADS_1


"Laura, kamu dan Gisella sama-sama dengan hamil. Tapi pernah kamu merasa kasihan dengan adik kandung kamu. Setiap hari dia harus pergi ke beda-beda rumah untuk menjadi seorang guru private matematika. Dia kepanasan mungkin juga dia kehujanan ketika sedang menunggu kendaraan umum."


Barra memilih untuk beranjak dari tempat duduk nya.


"Dan, aku memberikan fasilitas mobil dengan supir pribadi untuk Gisella. Aku akan memberikan mobil tersebut untuk Gisella."


Barra yang sudah tidak bisa mengontrol emosi nya pun memilih untuk pergi meninggalkan Laura.


"Lebih baik aku pergi sekarang juga karena ada pertemuan yang sangat penting sekali, dan kamu Laura belajar untuk berpikir terlebih dahulu sebelum emosi kepada orang lain."


Laura tidak menyangka jika Barra bisa berbicara seperti itu kepada nya.


"Mas Barra sudah berubah seperti itu, tidak lama lagi dia pasti akan meninggalkan ku. Dan menikah sah dengan Gisella, aku harus mempersiapkan diri jika hal tersebut terjadi."


Laura pun memilih untuk tetap berada di Cafe tersebut, karena dia tidak mungkin bisa mengerjakan pekerjaan nya di saat hati nya sedang emosi.


"Aku sudah tidak merasakan kenyamanan lagi bersama dengan Mas Barra, aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan hidup bersama."


Laura mulai memikirkan kembali tentang perpisahan bersama dengan suami nya tersebut.


"Yang sekarang aku nanti kan adalah kelahiran anak pertama ku ini, setelah itu aku tidak tahu kehidupan ku akan seperti apa."


Laura pun menikmati makanan yang sudah dia pesan, dia merasa sangat tidak menyangka Barra bisa se emosional itu kepada nya.


"Apakah aku harus bertemu dengan Gisella, aku ingin sekali mendengar apa jawaban dari Gisella dengan apa yang aku tanya kan tentang bisnis tersebut."


Laura pun berencana datang langsung ke kantor milik Mama mertua nya tersebut.


"Dan penasaran sekali dengan desain gambar buatan Gisella seperti apa, sampai Mama Rossa percaya kepada nya."


Laura selesai makan dia pun memilih untuk kembali ke kantor nya.


"Selesai aku mencari gambar varian baru untuk tempat kosmetik kuu, setelah itu aku akan pergi ke kantor Mama Rossa penasaran sekali aku ingin cepat pergi ke sana."


Laura pun masuk ke dalam mobil nya, dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.


Laura seperti lupa jika apa yang dia lakukan tersebut bahaya untuk kehamilan nya.


Laura sampai di kantor dengan sangat cepat sekali dia berjalan cepat menuju ke ruangan pribadi nya.

__ADS_1


__ADS_2