Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *175*


__ADS_3

Laura sudah mulai beraktifitas kembali dia tidak memperdulikan perkataan Dokter yang seharusnya dia beristirahat dulu.


Barra sudah pergi ke kantor nya, dia tidak membangunkan Laura.


"Oke Laura, hari adalah lembaran baru kamu. Kamu harus fokus dan semangat."


Laura keluar dari Apartemen nya, dia bergegas untuk segera pergi ke kantor.


Tidak tampak wajah yang bersedih semua pegawai di kantor nya merasa sangat aneh dengan Laura.


Laura seperti tidak dalam keadaan berduka cita, dia selalu dengan pandangan mata nya yang serius.


Ketika dia sampai di ruangan nya, dia melihat sudah ada bucket bunga di meja kerja nya.



Laura begitu sangat bahagia sekali dia menyangka jika bunga tersebut dari suaminya.


"Mas Barra, masih sempat nya dia membelikan aku bunga."


Laura membaca kertas ucapan di bunga tersebut.


*Semangat berkerja kembali Laura Renita, aku tahu kamu pasti tidak akan beristirahat. Rivan Mahendra.*


"Rivan, kenapa dia bersikap aneh ketika aku kehilangan anak ku. Astaga jangan sampai Mas Barra berpikiran negatif terhadap ini semuanya dan jangan sampai juga Mas Barra mengetahui jika Rivan itu adalah mantan ku pada saat SMA."


Laura mencopot kertas ucapan tersebut dia langsung membuang nya ke tempat sampah.


"Aku harus menjaga jarak dengan dia mulai sekarang, dia tidak berpikir aku kan sudah mempunyai Mas Barra."


Laura pun meminta pegawai nya untuk membuang bunga tersebut.


"Hmmmmm, jadi perhatian yang dia berikan kepada ku ini ada maksud nya. Astagaaaa Laura kamu jangan sampai tergoda oleh Rivan."


Laura merasa tidak bisa berpikir jernih dia terus saja memikirkan Rivan.


Dokter Rivan menyuruh mata-mata untuk mengikuti Laura, dia melaporkan bahwa bunga tersebut di buang oleh Laura.


Membaca laporan dari orang suruhan nya, Dokter Rivan merasa sangat kecewa sekali dengan sikap Laura.


"Kenapa kamu harus membuang nya, Laura kamu hanya mempertahankan rumah tangga yang tidak akan berujung kebahagiaan. Ketika kelahiran anak Gisella maka Barra pasti akan lebih perhatian kepada Gisella, karena dia melihat anak nya."


Dokter Rivan tidak pernah menyerah dia akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan Laura.


Laura pun memilih untuk mengajak suami untuk makan siang bersama, dia ingin melupakan masalah ini.

__ADS_1


"Aku harus semakin dekat dengan Mas Barra, jangan sampai aku membiarkan hubungan ku semakin hambar karena kesibukan ku ini."


Laura pun pergi dari kantor nya, dan menuju ke kantor suami nya.


Terlalu banyak bergerak membuat Laura merasa sangat sakit di bagian perut nya.


"Ahhhh, sakit sekali perut kuuu. Aku tidak pernah mau cek operasi ku ini oleh Rivan, aku harus memilih lagi Dokter yang lebih baik."


Laura merasa sangat kesakitan sekali dia sampai tidak bisa mengendarai mobil nya.


Laura hanya bisa diam di dalam mobil nya dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.


Ketika Laura yang ingin terus bersama dengan Barra.


Barra terus saja memikirkan Gisella.


"Kapan yaa Gisella mulai merasakan kontraksi, Gisella memilih untuk lahiran normal. Apakah aku bisa untuk menemani nya di proses persalinan nya nanti."


Barra tersenyum manis sambil membayangkan bayi perempuan cantik yang akan segera terlahir di dunia.


"Dia pasti secantik ibu nya, aku pun harus menyediakan nama untuk nya."


Barra merasa sangat bahagia sekali dia sebernarnya ingin bisa bertemu dengan Gisella setiap hari.


"Walaupun hubungan ku sudah berakhir tapi dia tetap akan perempuan ku."


"Barra, apakah kamu baik-baik saja?. Mama perhatian kamu terus saja tersenyum seperti itu."


Barra pun mengungkapkan perasaan hati nya.


"Aku tidak sabar Mam, ingin sekali bertemu dengan bayi perempuan ku. Walaupun aku pasti harus bertengkar dahulu dengan Laura."


Rossalinda mengerti dengan posisi Barra.


"Semenjak kehilangan anak nya, Laura semakin membenci Gisella. Tapi dia juga harus menerima kenyataan bahwa Gisella yang berhasil memberikan keturunan untuk keluarga kita."


Barra pun semakin hawatir dengan sikap Laura kepada Gisella.


"Semoga saja sikap Laura bisa berubah ketika dia melihat wajah bayi perempuan tersebut, Laura akan menyanyangi nya seperti anak nya sendiri."


Rossalinda merasa tidak yakin dengan perkataan Barra.


"Mama akan memberitahu Gisella tentang perusahaan yang akan Mama berikan untuk nya nanti di saat dia sudah melahirkan, Gisella pemilik resmi kantor tersebut dan dia akan berjuang untuk bisa mendirikan perusahaan tersebut."


Barra pun berterima kasih kepada Mama nya.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Mam, aku sangat senang sekali mendengar nya."


Rossalinda pun keluar dari ruangan Barra.


Barra melihat handphone nya tidak ada pesan masuk dari Laura.


"Seperti nya dia masih beristirahat, lebih baik aku tidak menggangu nya."


Barra pun memilih untuk menyimpan handphone nya di meja kerja.


Dia lebih memilih untuk fokus dengan pekerjaan nya.


Orang suruhan Dokter Rivan melihat Laura tidak sadarkan diri di dalam mobil nya.


Dia pun langsung memberitahukan kepada Dokter Rivan.


***Dokter Rivan, Ibu Laura seperti nya tidak sadarkan diri di dalam mobil nya. Dia masih berada di tempat kerja nya.


*Kamu jaga dia baik-baik, Saya akan segera ke sana**.


"Laura sangat keras kepala, sudah di bilang dia harus beristirahat dulu. Dia memilih untuk berkerja."


Dokter Rivan yang sedang libur bertugas dia pun langsung menuju ke tempat tersebut.


Dokter Rivan sampai di tempat tersebut, dia melihat Laura yang masih ada di dalam mobil tersebut.


Beruntunglah kaca mobil nya terbuka sehingga Dokter Rivan bisa membuka pintu mobil nya.


"Saya akan membawa Laura ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Laura, kamu pakai mobil saya dan bawa ke rumah sakit."


Dokter Rivan memindahkan Laura ke kursi belakang mobil.


Sedangkan Dokter Rivan mengendarai mobil tersebut.


"Lebih baik aku bawa Laura ke Apartemen ku saja, aku bisa mengobati nya di sana dan juga bisa berduaan dengan Laura."


Dokter Rivan melihat Laura yang sangat pucat sekali dia tahu penyebab Laura pingsan karena rasa sakit di perut nya.


"Laura kamu harus mempunyai suami seorang Dokter, agar dia bisa selalu mengobati mu di saat kamu terluka seperti ini."


Dokter Rivan tersenyum puas ketika dirinya bisa bersama dengan Laura, dia begitu sangat hati-hati sekali ketika memindahkan Laura ke kursi roda agar lebih mudah membawa nya ke Apartemen.


Laura masih saja belum sadarkan diri, dan Dokter Rivan pun membawa Laura ke dalam kamar nya.


Dokter Rivan mulai membuka baju Laura karena akan mengobati luka nya.

__ADS_1


"Luka mu masih basah tapi kamu memaksakan untuk bergerak bebas seperti tidak mengalami operasi sebelumnya."


Selesai mengobati luka yang ada di perut Laura, Dokter Rivan membiarkan Laura tertidur di kasur nya.


__ADS_2