
Barra di buat sangat panik sekali ketika melihat Gisella yang tiba-tiba saja menangis.
"Ntah kak aku tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini, aku suka menangis secara tiba-tiba begitu dan kadang aku pun tidak mengerti dengan yang aku rasakan sekarang."
Gisella ingin sekali melihat ekspresi wajah Barra ketika dia mengetahui bahwa dirinya sekarang sedang mengandung anak pertama nya.
Gisella merasa Barra adalah orang pertama yang harus mengetahui tentang kehamilan nya ini.
Gisella tiba-tiba saja memegang tangan Barra dan itu membuat Barra sangat terkejut sekali.
"Kak, aku ingin mengatakan sesuatu kepada Kakak. Aku nggak tau apakah Kakak akan lebih senang mendengar dari aku atau dari Kak Laura."
Gisella semakin serius memandangi wajah Barra dan Barra pun mulai merasa sangat tegang sekali.
Tapi di saat Gisella akan mengatakan semuanya handphone Barra berdering kencang sekali.
Dan membuat Barra lebih fokus dengan handphone nya.
"Laura, Gisella ini panggilan telephone dari Laura."
Gisella pun hanya bisa terdiam saja dia mulai berpikir jika tidak seharusnya dia mengatakan sekarang kepada Barra.
"Langsung pergi saja ya Kak, jangan telephone di sini. Aku mau istirahat."
Gisella mulai memperlihatkan kekesalannya terhadap Barra
Dan Barra pun langsung terkejut ketika mendengar perkataan Gisella yang terkesan emosi kepada nya.
Barra mengabaikan panggilan telephone dari Laura dia langsung menghampiri Gisella.
Kehamilan Gisella membuat perasaan nya sangat sensitif sekali.
Barra menghampiri Gisella yang sedang terbaring di tempat tidur nya.
"Gisella, kamu kenapa?. Kamu tidak seperti biasa nya."
Gisella menghela nafas panjang nya.
"Kak, aku juga kan istri Kakak. Yaa walaupun mungkin aku hanya di pandang sebelah mata. Tapi kenapa sih Kakak sekarang seperti mulai sama sikapnya seperti Kak Laura."
Barra memandangi wajah Gisella yang seperti mulai menginginkan perhatian dari nya.
"Gisella, Kakak tau maksud dari perkataan kamu tapi kamu juga kan tau sikap Laura yang sangat sensitif terhadap kamu apalagi sekarang dia lagi berkerja keras untuk bisa hamil."
__ADS_1
Gisella tersenyum manis kepada Barra.
"Lalu jika Kak Laura sudah hamil, apa yang akan kalian lakukan berdua dengan aku ini. Apa kalian akan berencana untuk memberikan aku uang yang banyak untuk pergi dari kehidupan kalian berdua."
Barra memegang tangan Gisella dan mencoba untuk menenangkan perasaan Gisella.
"Gisella kenapa kamu mempunyai pikiran seperti itu, kita berdua tidak mungkin mengabaikan kamu apalagi membuat rencana supaya kamu pergi."
Gisella melepaskan genggaman tangan Barra.
"Kak, apakah Kakak sadar dengan sikap Kakak yang sekarang kepada aku. Di awal-awal Kakak seperti mencoba untuk bersikap adil untuk ku dan Kak Laura tapi seketika saja Kakak langsung berubah dan mencoba untuk melupakan kehadiran aku."
Gisella menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil memegang kepalanya.
"Gisella apa yang sudah terjadi dengan kamu sekarang,? kenapa kamu jadi cepat marah seperti ini hanya karena tadi ada panggilan telephone dari Laura."
Rossalinda mendengar semua pembicaraan antara Gisella dan Barra.
"Semenjak kehamilan nya Gisella menjadi lebih berani untuk mengungkapkan perasaan nya kepada Barra, aku juga harus bisa menjaga kandungan Gisella. Ntah sampai kapan Gisella menyembunyikan kehamilan dari Barra."
Rossalinda pun menghampiri mereka berdua.
"Barra, seharusnya kamu mengerti dengan apa yang di ungkapkan oleh Gisella. Kamu harus berlaku adil dengan Gisella dan Laura, karena mereka berdua adalah istri kamu juga."
"Iya Mam, maafkan aku. Aku melakukan ini hanya ingin menyelamatkan pernikahan ku dengan Laura saja di saat hubungan pernikahan kita selalu saja bermasalah."
Gisella pun memilih menarik selimut nya dia langsung memejamkan mata nya.
"Seperti nya Gisella ingin beristirahat, lebih baik kamu pergi saja jangan menunggu waktu istirahat Gisella."
Barra memilih langsung pergi dari Apartemen tersebut, melihat Barra yang sudah keluar dari Apartemen nya.
Rossalinda pun membangun Gisella dan Gisella pun bangun karena dia hanya berpura-pura tidur saja.
"Gisella, kamu bisa menyembunyikan dari Barra tapi kamu tidak bisa menyembunyikan dari Mama."
Gisella terdiam dan langsung memegang perut nya.
"Emosi kamu yang tidak stabil dan perubahan fisik kamu itu sangat terlihat sekali jika kamu sekarang sedang hamil."
Gisella menundukkan kepalanya dia merasa sangat bersalah sekali.
"Apa yang membuat kamu menyembunyikan kehamilan ini,? apa karena kamu hanya ingin menjaga perasaan Laura sedangkan Laura yang sekarang sedang berjuang ingin hamil mungkin tujuan dia hanya untuk bisa langsung memberitahukan kepada kamu."
__ADS_1
Rossalinda memegang tangan Gisella dan Gisella pun tidak berani untuk menatap wajah Rossalinda.
"Sikap kamu yang terlalu baik kepada Laura yang membuat Mama ingin ada di samping kamu sekalian menemani kamu di sini karena tidak mudah ada di posisi kamu sekarang."
Gisella meneteskan air mata nya dia tidak kuasa menahan nya.
"Gisella kamu adalah korban dari ke egoisan Kakak kamu, dan kamu memang pantas untuk di bela."
Gisella seketika langsung memeluk erat tubuh Mama Rossa.
"Terimakasih banyak atas semua ya Mam, aku berjanji akan selalu menjaga kehamilan ku ini."
Rossalinda melepaskan pelukan erat Gisella dan menghapus air mata yang membasahi pipi Gisella.
"Kamu jangan memendam rasa di dalam hati kamu, luapkan saja semuanya yaa."
Rossalinda mengelus rambut panjang Gisella.
"Nanti Mama akan menyuruh Barra untuk menemani kamu yaa di sini, biarkan Laura yang hanya bisa menerima kenyataan ini semua."
Rossalinda mencoba untuk membaringkan kembali kembali Gisella.
"Nggak usah deh Mam, nanti malah Kak Laura datang marah-marah ke aku dan membuat emosi ku meluap meledak-ledak kepada Kak Laura."
Gisella mulai merasakan dia tidak suka dengan sikap Laura seperti mulai menghapus rasa baik nya terhadap Laura.
"Baiklah, nanti Mama akan siapkan suster yang akan membantu kamu di sini yaa."
Rossalinda terlihat sangat bahagia sekali akhirnya dirinya bisa mendapatkan cucu pertama nya dari Barra.
"Iya Mam, aku lebih setuju seperti itu daripada harus Kak Barra yang menemani aku."
Rossalinda mencium kening Gisella secara tiba-tiba.
"Mama pulang dulu ya, kamu baik-baik di sini yaa. Bila terjadi sesuatu langsung telephone Mama yaa."
Gisella tersenyum manis dia tidak menyangka jika Mama Rossa bisa sangat baik sekali kepada nya.
"Iyaa Mam, aku akan menghubungi Mama. Terimakasih banyak yaa Mam."
Rossalinda meninggalkan Gisella sendiri di dalam Apartemen nya.
"Di saat aku di abaikan Kak Laura, ada Mama Rossa yang begitu sangat perhatian sekali sama aku dan aku merasa sangat beruntung sekali."
__ADS_1
Gisella mengelus terus perut nya sambil tersenyum manis bahagia.