
Gisell langsung turun dari mobil nya, dan melambaikan tangan nya kepada Kakaknya.
"Hati-hati yaa Kak di jalan nya, pelan-pelan saja jangan ngebut-ngebut."
Laura hanya membalas senyuman kepada Adiknya tersebut.
"Hmmm, semoga semua berjalan seperti keinginan aku."
Laura tiba di rumah nya, dia melihat banyak gaun indah di ruangan tamu.
"Coba kamu pilih kan gaun pengantin untuk Adik mu dan Suami mu. Mama sudah membelikan nya tadi."
Seketika air mata Laura jatuh dari pipinya, hati nya terasa terbakar ketika harus memilih pakaian untuk pernikahan suaminya.
"Kenapa hati aku langsung terasa sakit, padahal ini adalah rencana ku sendiri, tapi kenapa aku harus menangis sedih seperti ini."
Laura menatapi foto pernikahan nya dengan suaminya sambil memegang baju pengantin untuk Adiknya.
Laura memilihnya baju pengantin untuk Adiknya tersebut, ia memilih yang sederhana.
__ADS_1
"Kita percepat pernikahan nya, karena kita tidak akan berpesta ini hanya keluarga saja dan jangan sampai banyak orang yang tahu," ucap Mama Rossa sambil memilih kan baju untuk Barra.
Laura hanya bisa mengelus dada ya sambil mempersiapkan semuanya.
"Apa yang harus aku katakan kepada Gisell, ini sangat cepat sekali. Mereka belum bisa mengenal satu sama lain nya."
Laura pun langsung mencoba untuk menghubungi Gisella
*Hallo De, persiapan untuk pernikahan kamu dengan Mas Barra sudah di siapkan oleh Mama Rossa. Dia sudah membelikan gaun pengantin untuk kamu pakai nanti.*
Gisell tidak tahu harus bagaimana dia sebenarnya tidak mau menikah dengan suami Kakak nya tersebut tapi dia juga sebelum nya sudah menyetujui pernikahan kontrak tersebut.
Gisell memilih untuk menutup panggilan telephone dari Laura, dia merasa sangat tidak tega sekali.
"Aku berjanji Kaa, setelah aku bisa memberikan keturunan untuk Kakak dan Mas Barra kehidupan Kakak akan bahagia selamanya."
Gisella mulai memikirkan bagaimana dia menghadapi semua ini, dia harus mempersiapkan pernikahan nya itu.
Laura sudah memilih kan gaun pengantin untuk Gisella dan Suaminya, dia pun langsung tersenyum.
__ADS_1
"Aku harus tegar aku tidak boleh berpikiran negatif, Gisell adalah adik kandung kuu dia tidak mungkin menghianati kuu."
Laura pun masuk ke dalam kamar nya, dia melihat suami nya yang sedang tertidur pulas membelakangi nya.
"Seperti nya Mas Barra sangat lelah sekali, aku tidak akan menggangu nya."
Laura memilih untuk menyelimuti suami nya tapi tiba-tiba Barra membalikkan badannya dan memegang tangan Laura.
Seketika Laura pun sangat terkejut sekali ketika tangan nya di tarik begitu saja.
Laura jatuh di pelukan suaminya mereka berdua saling bertatapan wajah.
Barra pun langsung mencium kening Laura.
"Aku bahagia walaupun hanya hidup berdua dengan kamu, aku tidak mau membuat kamu sakit hati. Karena tidak mungkin ada wanita yang sanggup melihat suami nya menikah dengan wanita lain walaupun itu adalah adik kandung kamu sendiri."
Laura terdiam mendengar perkataan dari suami nya, dia memang merasa sangat yakin sekali jika dirinya suatu saat pasti akan hamil karena memang tidak ada keluhan di dalam tubuh nya.
Tapi Laura tidak tahan dengan ucapan mertua nya yang selalu menanyakan keturunan kepada dirinya seakan membuat Laura merasa sangat tertekan sekali tiap hari harus di tanyakan hal yang sama.
__ADS_1