Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (91)


__ADS_3

Barra dan Gisella sedang berbahagia menunggu hasil pemeriksaan Barra.


Sedangkan Gisella dia merasakan banyak keluhan sekali di tubuh nya.


"Seperti nya aku harus pergi ke rumah ibuu, atau ibu yang menemani aku di sini."


Gisella menahan rasa mual nya ketika dia berada di restoran dekat Apartemen nya, Gisella pun dengan perlahan berjalan menuju ke Apartemen nya.


Gisella merasa sangat pusing dan mual sekali ketika dia sampai di Apartemen dia langsung pergi ke kamar mandi.


Keringat dingin bercucuran di tubuh Gisella dia merasa tubuhnya yang sangat lemas sekali.


Gisella memaksa kan untuk berjalan menuju ke tempat tidur nya.


Gisella pun mencoba untuk mengambil handphone dia berniat untuk menghubungi nomer orang tua nya.


"Akhirnya aku bisa berbaring juga, ahhhh ada apa dengan tubuh ku ini yaa. Kenapa aku sepulang dari Rumah Sakit tubuh ku melemah sekali."


Gisella hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur nya, dia berniat untuk menghubungi orang tua nya.


"Kalau aku menghubungi ibu dia pasti sangat hawatir sekali sedangkan pelanggan di toko bunga selalu banyak sekali."


Gisella pun menyimpan kembali handphone nya dan merasa apa dia rasakan sendiri.


Gisella memejamkan mata nya dan mencoba untuk beristirahat untuk mengurangi rasa yang dia rasakan.


Laura begitu sangat sibuk sekali di kantor sampai dia menyadari sudah lewat dari jam 8 malam.


"Astaga, ini sudah malam ternyata yaa. Tapi kenapa yaa Mas Barra tidak menghubungi aku dan menjemput aku."


Pikiran Laura langsung negatif dia berpikir jika Barra sedang bersama dengan Gisella.


"Mas Barra pasti memanfaatkan kesempatan ini, dia pasti sekarang sedang bersama dengan Gisella."


Laura pun berjalan menuju ke tempat parkir mobil nya dia masuk ke dalam mobil nya untuk menuju pulang.


Di perjalanan Laura terlihat sangat marah sekali karena suaminya yang tidak menghubungi nya.


Sampai akhirnya Laura sampai di rumah nya dan saat Barra dan Rossalinda sedang berada di meja makan.


Laura merasa sangat malu sekali ketika dirinya sudah berprasangka tidak baik dengan suaminya itu.


"Laura, bisnis mu semakin maju yaa dan jam kerja mu pun semakin bertambah."

__ADS_1


Ucap Rossalinda kepada Laura dan Barra pun hanya bisa terdiam.


"Iyaa Mam, aku mau mandi dulu yaa Mam."


Laura pun masuk ke dalam kamar nya dengan terburu-buru.


"Barra, tadi Mama menemui Gisella di Apartemen. Dan dia terlihat sangat pucat sekali Gisella seperti sedang sakit jika terjadi sesuatu dengan Gisella maka itu adalah tanggung jawab kamu."


Rossalinda langsung berdiri dari tempat duduk dan berniat untuk pergi.


"Mama sekarang mau ke mana Mam,? kita belum makan malam loh Mam."


Rossalinda mengabaikan ucapan Barra dia langsung saja berjalan menuju kamar nya.


"Yaa Tuhan, kenapa jadi seperti ini sih."


Barra merasa sangat kebingungan sekali dia takut terjadi sesuatu dengan Gisella, sedangkan Gisella hanya sendirian di Apartemen.


Laura yang sudah selesai mandi dia menuju ke meja makan, dan dia melihat Barra yang sedang memegang kepalanya dan Rossalinda yang tidak ada di meja makan.


"Mas, kamu baik-baik saja kan?. Dan di mana Mama Mas,? kenapa dia tidak ada di sini."


Barra tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada Laura.


Laura percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Barra.


"Oh, begitu ya Mas. Oke kalau begitu Mas ayo kita makan aku sangat lapar sekali."


Laura dan Barra menikmati makanan yang ada di hadapannya.


"Mas, aku sangat tidak sabar ingin segera tau hasilnya. Dan semoga saja akhir bulan ini aku bisa langsung hamil yaa Mas, aku berharap besar sekali Mas. Karena aku sudah sangat lelah sekali berjuang untuk bisa hamil."


Barra memegang tangan Laura seperti memberikan kekuatan untuk Laura.


"Kamu pasti hamil sayaaaaang, berjuang yaa dan terus saja berdoa yaa sayang."


Laura pun tersenyum manis ketika mendengar perkataan tersebut.


"Iya Mas, terimakasih banyak yaa kamu udah mendukung aku terus."


Barra mencium tangan Laura dan memandangi wajah Laura.


"Kita berjuang bersama yaa untuk ingin mendapatkan apa yang kita inginkan."

__ADS_1


Melihat pun menyudahi makan malam mereka dan tiba-tiba saja handphone Barra berdering kencang sekali.


Laura pun langsung memperhatikan suami nya tersebut dia berpikir Gisella yang sedang menghubungi suami nya itu.


Barra memandangi wajah Laura dan memilih untuk menjawab panggilan telephone itu di luar.


"Itu pasti Gisella, kenapa sih dia selalu saja jadi pengganggu di hubungan pernikahan aku ini."


Laura terlihat sangat emosional dia terus memandangi suaminya dari jarak jauh.


"Kenapa kamu bisa bilang jika Gisella itu adalah pengganggu di hubungan pernikahan kalian,? sedangkan kamu sendiri kan Laura yang menghadirkan Gisella di hubungan kalian."


Rossalinda mendengar perkataan Laura dan membuat Laura sangat terkejut sekali.


Laura menundukkan kepalanya dia tidak berani menatap wajah Rossalinda.


"Laura kamu jangan terlalu egois kamu juga harus perhatikan Gisella, dia adalah adik kandung kamu kan Laura kenapa kamu jadi seakan membenci Gisella. Sangat aneh sekali kan."


Rossalinda memilih untuk menghampiri Barra untuk menanyakan siapa yang menghubungi nya.


"Barra, siapa itu ? apakah itu adalah Gisella."


Barra pun menjelaskan kepada Mama nya.


"Ini panggilan telephone dari asisten pribadi ku Mam, seperti nya mulai besok jam kerja kita bertambah karena kita sangat sibuk sekali untuk merencanakan proyek besar ini."


Rossalinda pun langsung meninggalkan Barra.


Laura yang mendengar perkataan Barra dengan Mama nya pun lagi-lagi merasa sangat malu sekali.


Laura terdiam dan memikirkan dia yang selalu saja memikirkan negatif terhadap Gisella.


Melihat Barra yang mau menuju ke dalam, Laura langsung segera pergi ke tempat dia semula duduk dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Laura seperti nya aku harus tidur lebih awal karena jam kerja ku bertambah karena ada proyek besar di perusahaan."


Barra pun langsung masuk ke dalam kamar nya sedangkan Laura memilih untuk keluar dia seperti ingin mencari udara segar.


Laura berjalan ke luar rumah nya dia pun duduk sambil melamun di depan rumah nya.


Rossalinda yang juga berada di tempat yang sama memperhatikan Laura yang seperti banyak sekali pikiran di hidup nya.


"Aku harus merelakan hubungan ku dengan adik kandung ku sendiri agar hubungan rumah tangga ku tetap bertahan dan harmonis, aku egois pun tidak masalah karena aku ingin rumah tangga ku selalu langgeng bersama dengan Mas Barra."

__ADS_1


Laura memegang kepalanya dengan kedua tangan nya sampai bergetar, dia seperti sangat lelah sekali dan ingin menangis untuk melampiaskan rasa yang dia pendam.


__ADS_2