
Rivan terlihat begitu sangat perhatian sekali kepada Laura, Gisella langsung memandangi wajah Barra.
Barra terlihat tersenyum tipis ketika melihat Rivan bersama Laura.
"Hmmmm, Kak Barra boleh aku minta saos tomat yang ada di dekat Kak Barra."
Rivan pun langsung kembali duduk di samping Gisella dia seperti tidak sadar telah melakukan hal tersebut kepada Laura.
Laura pun terlihat salah tingkah kepada Barra yang yang terus saja memandangi nya, Barra memberikan saos tomat kepada Gisella.
"Terimakasih kasih banyak Kak Barra."
Gisella melakukan hal tersebut agar bisa mengalihkan perhatian Barra kepada Laura.
"Gisella kamu butuh apa biar aku yang mengambil nya,"
Rivan memulai perhatian nya kepada Gisella.
"Tidak, aku rasa cukup aku hanya butuh saos tomat saja."
Barra merasa dia tidak nyaman dengan makan malam yang hanya sandiwara semata.
"Aku rasa aku hanya membuang-buang waktu ku untuk datang di acara makan malam ini, aku pamit pulang. Laura jika kamu masih betah di sini silahkan saja, aku mau pulang saja."
Barra pun berdiri dari tempat duduk nya, dan pergi begitu saja.
Laura merasa sangat syok sekali ketika mendengar perkataan Barra jika makan malam ini adalah sandiwara.
Laura ingin sekali melampiaskan kekesalannya terhadap Rivan tapi ada Gisella di samping Rivan.
"Gisella, bisakah kamu berpakaian lebih sopan. Pakaian kamu seperti wanita penggoda."
Gisella merasa sangat kesal sekali dengan perkataan Laura.
"Jika Kakak kesel dengan suami Kakak tidak usah melampiaskan sama akuu, seharusnya Kakak itu bersyukur aku mau bermain di permainan kalian berdua. Walaupun aku di sini hanya untuk di korban kan atau hanya untuk menutup aib yang kalian berdua perbuat."
Gisella pun memilih untuk pergi dari tempat tersebut, tapi Rivan memegang tangan Gisella.
"Kamu harus pulang bersama dengan kuu, karena kamu ke sini pun bersama dengan kuu. Aku harus bertanggung jawab."
Gisella dan Rivan pun langsung meninggalkan Laura sendiri di tempat tersebut.
"Ahhhh, menyebalkan sekali. Kenapa jadi seperti ini sih. Mas Barra menjadi tambah marah besar kepada kuu."
Laura begitu sangat menyesal sekali mengikuti apa yang di katakan oleh Rivan.
"Ini semua nya gara-gara Rivan, aku jadi seperti ini."
Melihat semua nya yang sudah pergi, Laura memilih juga pergi dari tempat tersebut.
"Aku menyesal sekali dengan makan malam bersama ini, ini hanya membuat semakin menambah permasalahan saja."
Laura melihat Barra yang sudah menunggu nya di dalam mobil, Laura lebih memilih untuk menundukkan kepalanya dia merasa sangat bersalah sekali terhadap Barra.
Laura membuka pintu mobil dan dia masuk, Barra langsung menjalankan mobil nya. Dia terlihat diam tidak berekspresi wajah nya.
Laura binggung harus bagaimana lagi agar Barra mau kembali perhatian kepada dirinya.
"Aahhhhh sakit sekali, perut ku ini sangat sakit sekali Mas."
Barra terkejut dan langsung memberhentikan mobilnya.
"Kenapa dengan kandungan kamu Laura, kamu tidak makan sesuatu yang di larang kan."
Barra terlihat sangat panik sekali dan dia pun memegang perut Laura.
"Perut kuu sakit dan keram aku nggak makan yang macam-macam kok."
Barra terus mengelus perut Laura dengan penuh perasaan.
Laura pun terdiam dia terpaksa berbohong kepada Barra, karena dia tidak mau Barra marah kepada nya.
"Udah Mas, udah lumayan baikan perut aku nya. Sudah kamu bisa melanjutkan lagi menjalankan mobil nya."
Barra pun mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat rendah, dia hawatir Laura mengalami sakit kembali di bagian perut nya.
"Laura lebih baik kamu pejamkan saja mata kamu itu yaa, beristirahat lah. Kamu terlalu beraktivitas berlebihan."
Laura tersenyum manis karena Barra melupakan permasalahan itu dan kembali perhatian kepada nya.
"Iya Mas, aku istirahat sekarang."
Laura mengikuti apa yang di katakan oleh Barra, dia memejamkan mata nya.
Barra pun memperhatikan Laura, dia merasa kasihan kepada istri nya tersebut.
***
Rivan dan Gisella baru saja masuk ke dalam mobil nya.
Gisella terus saja memperhatikan wajah Rivan dan dia pun mencurigai Dokter Rivan dia yang sangat dekat sekali dengan Laura.
__ADS_1
"Dokter Rivan, sedekat apa hubungan kalian berdua. Maksud aku dulu kalian berdua pernah satu sekolah yaa SMA dan kalian berdua terlihat sangat akrab sekali."
Rivan pun langsung menjawab pertanyaan dari Gisella.
"Aku dan Laura kita memang sangat akrab sekali, hubungan kita berakhir ketika aku harus melanjutkan kuliah kedokteran di luar negeri."
Gisella mendengar Rivan mengatakan hubungan mereka berakhir karena Rivan yang harus kuliah kedokteran di luar negeri.
Itu tandanya mereka sebelum pernah menjalani hubungan.
Gisella memilih untuk tidak memperpanjang pertanyaan nya, dia pun memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka berdua.
Tapi tiba-tiba saja handphone Rivan berdering kencang sekali.
Rivan pun memilih untuk memberhentikan dulu mobil nya untuk menjawab panggilan telephone yang masuk.
*Hallo Suster, ada apa yaa tumben sekali menelephone saya.*
Terdengar jelas sekali suara tangisan bayi yang kencang.
Gisella pun seketika langsung memandangi wajah Dokter Rivan, tapi dia langsung mengambil handphone nya.
Dia tidak mau membuat Dokter Rivan merasa tidak nyaman dengan diri nya.
****Dokter Rivan, Kenzo terus saja menangis seperti nya dia demam dari tadi dia menangis dan tidak mau meminum susu formula.*
*Bawa langsung ke Rumah Sakit Sejahtera, saya akan langsung menghubungi Dokter Specialis Anak yang terbaik untuk Kenzo.*
*Baiklah Dokter Rivan saya akan segera membawa Kenzo ke Rumah Sakit Sejahtera***.*
Wajah Dokter Rivan begitu sangat panik sekali, dia melihat ke arah Gisella.
Gisella yang memakai headset sangat fokus dengan video yang dia lihat di layar handphone nya.
"Seperti nya dia tidak mendengar pembicaraan ku dengan Suster Mirna, jangan sampai Gisella mengetahui nya."
Gisella sebenarnya mendengar suara percakapan antara Dokter Rivan dengan Suster nya, karena suara mereka yang sangat kencang sekali karena panik.
Dia memakai headset di saat Dokter Rivan selesai dengan panggilan telephone nya.
Gisella membuka headset yang ada di telinga nya.
"Wahhh, ternyata sebentar lagi sudah sampai rumah. Terimakasih banyak yaa Dokter Rivan yang sangat bertanggung jawab sampai di antarkan sampai ke rumah."
Rivan hanya bisa tersenyum manis kepada Gisella.
"Kamu hati-hati yaa Gisella, dan maafkan ucapan Laura yang selalu menyakitkan sekali untuk kamu."
"Aku sudah terbiasa tapi sekarang jika perkataan itu terlalu berlebih-lebihan seperti kehidupan nya yang sekarang. Aku pasti akan melawan nya karena aku juga punya hati."
Gisella keluar dari mobil Dokter Rivan dan dia pun melambaikan tangan nya.
"Hati-hati yaa Dokter Rivan."
Gisella pun berjalan menuju ke rumah nya.
"Tangisan bayi siapa yaa itu, aku sangat penasaran sekali jadinya. Bukan kah Dokter Rivan belum pernah menikah atau ternyata Dokter Rivan itu seorang Duda."
Gisella terus saja memikirkan nya.
Setelah mengantar kan Gisella, Rivan segera pergi ke Rumah Sakit Sejahtera.
Dia begitu sangat menghawatirkan kondisi Kenzo.
"Dokter Rivan, Kenzo demam nya sangat tinggi sekali. Tapi sekarang dia sudah di tangani oleh Dokter Specialis Anak."
Setelah mendengar penjelasan dari Suster, Rivan pun langsung mencari kamar Kenzo.
Tapi ternyata Kenzo sedang di periksa, Rivan hanya melihat nya dari balik kaca pintu.
"Kenzo, kamu anak yang kuat Nak. Kamu harus berjuang untuk bertahan sayaaaaang."
Rivan merasa tidak tega sekali ketika melihat kondisi Kenzo yang lemes tidak berdaya.
~Ke esokan hari nya~
Laura mulai membiasakan diri untuk menyiapkan sarapan untuk Barra, dia ingin berubah menjadi sedikit lebih baik.
Barra masih dengan ekspresi datar nya, tidak ciuman mesra serta senyuman manis untuk Laura.
Tapi Laura mencoba untuk tetap sabar dengan sikap Barra, semua demi rumah tangga nya.
"Sayaaaaang, kamu mau menambah makan nya. Ini spesial sekali loh aku masak untuk kamu."
Barra hanya menggangukan kepala nya saja, dan Laura pun mulai merasa sangat kesal sekali dengan sikap Barra kepada nya.
Laura pun memilih untuk diam juga untuk menahan emosi nya.
"Sarapan ku sudah selesai, aku berangkat kerja dulu yaa. Kamu hati-hati di rumah."
Barra pun pergi begitu saja dia mengabaikan Laura.
__ADS_1
"Ahhhhhhh, sampai kapan aku di perlakukan seperti ini terus. Aku ingin seperti dulu di mana suami ku memperlakukan ku seperti seorang Ratu."
Laura pun memilih untuk pergi ke kantor nya, karena dia merasa tidak nyaman untuk tinggal di rumah sendiri.
Laura memegang perut nya, Laura merasa jika kehamilan nya yang ke dua ini sangat kuat sekali.
"Aku tidak mungkin harus selalu berpura-pura kesakitan agar suami ku mau kembali baik dengan aku. Aku juga tidak mau jika karena aku yang terlalu berbohong kandungan ku malah menjadi bermasalah."
Laura pun tiba-tiba saja mengingat di saat dirinya mual muntah di acara makan malam bersama dengan Rivan dan Gisella.
"Kenapa aku bodoh sekali yaa, di saat Rivan yang mencoba untuk memberikan aku tissue apakah Rivan langsung berpikir jika aku sedang hamil."
Laura merasa beban kehidupan nya semakin bertambah.
"Ahhhhhhh, lebih baik sekarang aku berpikir positif dan menghindari bertemu dengan Rivan. Aku tidak mau Mas Barra semakin membenci aku dan sikap ku pun harus sabar."
Laura pun langsung masuk ke dalam mobil pergi ke kantor nya.
***
Gisella mulai bersiap-siap untuk pergi ke kantor nya, tapi dia melihat handphone nya ada pesan masuk.
"Kak Barra, dia mengirimkan pesan untuk kuu. Atau jangan-jangan ini pesan dari Kak Laura dia sekarang menyebut aku sebagai wanita penggoda."
Gisella yang sangat penasaran sekali dia pun langsung membuka pesan tersebut.
*Gisella, bagaimana jika pulang kerja kita bertemu kembali di Apartemen.*
Gisella pun langsung terkejut ketika membaca isi pesan tersebut.
"Ini Kak Barra atau Kak Laura yaa, aku takut di jebak oleh Kak Laura."
Gisella memandangi handphone saja sambil berpikir.
"Ehhhhh, tapi kan Kak Laura tidak tahu Apartemen aku yang dulu. Yang tahu Apartemen itu hanya Mama Rossa dan Kak Barra, itu tanda nya ini Kak Barra asli."
*Baiklah Kaa, aku hari ini pulang jam 4 sore.*
Barra tersenyum manis ketika membaca balasan pesan dari Gisella.
"Kenapa yaa mudah sekali aku bilang iya ketika aku bertemu dengan mantan suami kuu, apakah aku ini memang seorang wanita penggoda atau pelakor seperti yang di sebut Kak Laura."
Gisella pun memilih untuk langsung pergi ke kantor dengan berpamitan dengan Tiara dan juga orang tua nya.
Gisella terlihat sangat ceria sekali ketika dia masuk ke dalam mobil nya.
"Kenapa hati kuu tiba-tiba saja bahagia ketika aku bisa bertemu dengan Kak Barra, ingat Gisella kamu harus bisa berjaga sikap kamu dia itu adalah mantan suami kamu suami dari Kakak kamu yang super menyebalkan."
Gisella mencoba untuk tetap fokus pada pekerjaan nya.
Ketika Gisella sampai di kantor nya, semua pegawai ribut sedang berkumpul, Gisella pun sangat penasaran sekali dia pun langsung menghampiri mereka.
"Ada apa yaa kalian ramai sekali lagi bicarakan apa ya?."
Salah satu pegawai Gisella memberikan handphone nya kepada Gisella.
"Lihat Buu Gisell, produk kita menduduki peringkat ke 2 produk terfavorit. Yang peringkat ke 1 sih tetep skincare kosmetik milik Bu Laura."
Gisella pun langsung mengambil handphone milik pegawai nya dia merasa tidak percaya dengan ucapan pegawai nya.
Gisella pun langsung terdiam tidak percaya melihat nya
"Kok bisa yaa, produk kita kan baru tapi kenapa bisa sampai ada di peringkat no 2 yaa. Aku tidak percaya sekali ini seperti mimpi."
Rossalinda pun langsung menghampiri Gisella.
"Ini bukan mimpi Gisella, ini adalah sebuah kenyataan bukti perjuangan kamu yang menghasilkan. Selamat yaa Gisella kamu berhasil memimpin perusahaan ini."
Rossalinda pun langsung memeluk erat tubuh Gisella.
"Iyaa Mam, ini semua juga karena Mama yang mau memberikan aku kepercayaan penuh untuk memimpin perusahaan ini. Walaupun aku belum pernah berpengalaman."
Gisella merasa sangat beruntung sekali mendapatkan mertua yang masih baik dengan nya walaupun sudah tidak lagi menjalin hubungan dengan anak nya.
Ketika Gisella yang sedang sangat senang sekali, Laura di buat syok dengan pemberitaan media sosial tersebut.
"Ahhhhhhh, aku rasa ini tidak benar dan tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin produk yang baru saja keluar dia bisa menjadi pesaing produk ku yang sudah bertahun-tahun."
Laura membanting kan majalah tersebut, dia begitu sangat kesal sekali.
"Kenapa selalu saja Gisella dan Gisella yang menjadi saingan kuu, hahhh kenapa dia harus menjadi adik kandung kuu."
Laura semakin membenci Gisella, dia benar-benar tidak terima dengan kenyataan ini.
Laura duduk dia melihat handphone nya dia melihat media sosial milik Rivan dan Barra mempromosikan produk shampo milik Gisella.
"Apa-apa an ini mereka berdua kompak untuk mempromosikan produk shampo milik Gisella, suami ku sendiri pun juga. Selama aku bisnis kosmetik dia tidak pernah bersikap seperti ini dengan kuu. Gisella dia benar-benar membuat semua orang simpatik dengan dirinya, apa sih yang spesial dari Gisella."
Laura merasa sangat permasalahan di hidup nya semakin menambah berat.
"Aku yang sedang hamil harus berjuang dengan banyak nya permasalahan yang terjadi, kapan aku bisa merasakan kebahagiaan."
__ADS_1
Laura merenungi kehidupan yang sedang dia jalani.