Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *182*


__ADS_3

Keesokan harinya Laura merasa tidak berdaya dia melihat hanya sendiri di kamar.


Laura langsung menarik selimut nya untuk menutupi tubuh nya.


Laura tidak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan bersama dengan Rivan di malam itu.


"Aku sudah mengecewakan suami kuu, aku sudah berbuat seperti ini. Aku harus bagaimana dengan ini."


Mendengar suara Laura yang sudah terbangun, Rivan pun masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas teh hangat.


"Kamu sudah terbangun, silahkan minum teh hangat ini."


Rivan memberikan teh hangat tersebut tetapi Laura tidak mau menerima nya.


"Kita melakukan nya dengan suka sama suka dan tidak ada paksaan sama sekali jadi untuk apa kamu menyesali nya."


Laura pun langsung menangis di atas ranjang tersebut.


"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikah dengan muu. Aku tidak akan lepas tanggung jawab."


Rivan mendekati Laura dan mencoba untuk memegang rambut panjang nya tapi Laura menepis tangan Rivan.


"Kamu sudah puas,? sudah puas kamu mengambil semua nya. Harga diri kuu ini."


Laura menarik kemeja putih Rivan dengan sangat kencang sekali.

__ADS_1


Rivan pun mencoba untuk melepaskan tangan Laura yang membuat dirinya kesakitan.


"Bukan kah kita merasakan kepuasan bersama-sama?, sudahlah Laura tidak usah di bahas lagi yang penting aku mau bertanggung jawab atas semua yang kita perbuat malam itu."


Rivan meninggalkan kamar tersebut.


"Cepat sana mandi, kita harus bersiap-siap pergi untuk menemui Gisella."


Laura merasa jika Rivan tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan kepada nya.


"Jahat sekali kamu Rivan, kamu seperti tidak berdosa sama sekali. Bagaimana dengan nasib rumah tangga kuu jika Mas Barra mengetahui semuanya ini."


Laura menangis kembali dia merasa tubuhnya sangat kotor sekali.



Dan Laura pun akhirnya dia keluar dari villa tersebut.



Laura memandangi wajah Rivan dengan penuh emosional.


"Ayo cepat masuk ke dalam, kita jangan sampai terkena macet karena kabar nya pada saat malam itu banyak sekali pohon yang tumbang di jalan."


Laura pun masuk dengan ekspresi wajah yang kesal.

__ADS_1


"Rivan, aku tidak mau sampai suami kuu mengetahui apa yang sudah kita lakukan malam itu. Aku ingin bersama dengan suami kuu apa ingin bersama dengan nya."


Rivan pun tersenyum manis kepada Laura.


"Maksud nya kamu ikhlas dengan apa yang sudah kita lakukan semalam dan kamu kembali lagi bersama dengan suami muu setelah kamu sudah tidur bersama dengan kuu."


*Plaaaakkkkkkk*


Laura menampar pipi Rivan yang sedang mengendarai mobil dan Rivan pun langsung terkejut sampai memberhentikan mobilnya secara tiba-tiba.


"Kamu jahat sekali Rivan kamu jahat, aku benci sekali dengan kamu."


Laura berniat untuk keluar dari mobil Rivan tapi Rivan menahan nya.


"Lauraaaaaaa, jangan keluar secara tiba-tiba seperti itu bahaya."


Rivan menutup kembali pintu mobil nya tersebut.


"Oke, jika itu keinginan kamu. Kita rahasiakan apa yang sudah kita lakukan dan kita bersikap seperti tidak ada apa-apa diantara kita berdua. Terkadang besar nya rasa cinta itu membuat kita menjadi bodoh."


Rivan pun kembali menyala kan mesti mobil nya, dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.


Laura terus saja mengingat perkataan Rivan yang menyebutkan dirinya itu bodoh.


Laura terpaksa melakukan ini karena dia tidak mau kehilangan Barra.

__ADS_1


__ADS_2