Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #202#


__ADS_3

Barra pergi untuk menjemput Gisella dan Tiara, wajah Barra seketika menjadi cerah ketika dia akan bertemu dengan mereka berdua.


Barra seperti memiliki semangat yang baru dia melupakan permasalahan yang sedang dia alami.


Gisella dan juga Tiara sudah sangat siap sekali menunggu kedatangan Barra untuk menjemput mereka berdua.


Sampai akhirnya Barra pun datang di rumah orang tua Gisella.


"Sayaaaaang lihat itu mobil Papa datang, ayoo kita masuk sayaaaaang."


Barra keluar dari mobil nya, dia menghentikan Gisella untuk masuk ke dalam mobil nya.


Barra ingin mengendong Tiara terlebih dahulu.


Riana dan suaminya pun menghampiri mereka berdua.


"Selamat yaa Gisella, ini adalah awal kesuksesan kamu sayaaaaang. Semoga kamu bisa menjadi seorang wanita karir yang sukses yaa, maafkan ibu yang tidak bisa datang ke sana."


Gisella pun memeluk erat kedua orang tuanya.


Dan Barra pun tersenyum manis melihat ke harmonis keluarga tersebut.


"Iyaa Buuu, terimakasih Ayah dan Ibu selalu sabar dalam mendukung aku dan maafkan aku yang selalu membuat Ayah dan Ibu lelah."


Barra pun menghampiri mereka karena harus sampai ke lokasi pemotretan.


"Maaf Ibu dan Ayah, kita harus segera pergi karena sekarang sudah hampir jam 10 siang. Gisella belum untuk bermake-up dan lain-lain nya."


Gisella pun masuk ke mobil Barra dia mengendong Tiara.


Sebelum pergi Gisella melambaikan tangan nya kepada kedua orang tuanya.


Tiara kelihatan begitu sangat bahagia sekali ketika dia bisa bersama dengan kedua orang tua nya.


"Sayaaaaang, anak ibu. Jangan rewel yaa sayang nanti di saat ibu kerja kamu sama Papa dan Omah yaa sayang."


Barra terus saja memandangi wajah Gisella dan Tiara.


Barra merasakan kehangatan rumah tangga yang sesungguhnya.


"Nanti Tiara main yaa bersama dengan Papa yaa sayaaaaang, kita main bersama."


Mereka pun akhirnya sampai di tempat pemotretan tersebut, tempat yang sangat asri dengan daun-daun yang hijau.


Kehadiran Barra membuat Rossalinda langsung berlari menghampiri mobil nya.


Dan Gisella pun keluar duluan dari mobil nya, menitipkan Tiara kepada Rossalinda.


"Mama, aku titip Tiara yaa Mam. Aku harus bersiap-siap dulu."


Gisella pun langsung pergi dengan menitipkan Tiara kepada Rossalinda.


"Astagaaaa, cucu pertama kuu yang sangat cantik sekali. Sayaaaaang kamu di gendong Oma yaa sayaaaaang hmmm Oma sangat bahagia sekali."


Barra merasa sangat terharu sekali ketika melihat Mama nya yang akhirnya bisa menggendong cucu pertama nya.


Barra merasa jika Mama nya, begitu sangat merasakan cinta pertama kali nya dengan Tiara.


"Mam nanti pun Mama akan mendapatkan cucu kembali dari aku dan Laura, kebahagiaan Mama pasti akan bertambah."


Barra hanya bisa memandangi Mama nya dan juga Tiara.


"Lebih baik sekarang aku biarkan saja Tiara dengan Mama, Gisella mungkin butuh bantuan kuu."


Barra mencari keberadaan Gisella yang sedang ber make-up dan menganti pakaian nya


Barra begitu sangat terpesona sekali ketika melihat Gisella yang begitu sangat cantik sekali.



"Gisella kamu sangat cantik sekali, kamu cantik luar biasa."


Gisella mulai melakukan pemotretan nya dengan shampo natural nya.




Barra sangat yakin sekali jika produk shampo ini akan sukses di pasaran.


Rossalinda hanya bisa tersenyum manis ketika melihat keberhasilan Gisella.


"Gisella sangat luar biasa, dia yang merancang sendiri produk nya. Dan dia juga yang sebagian model brand ambassador nya."


Mereka semua terlihat sangat bahagia sekali di acara yang berjalan dengan lancar.


Di saat Gisella sedang merasakan kesenangan dari semua usaha nya.


Laura mulai merasakan ketakutan sekali jika produk Gisella bersaing dengan produk skincare kosmetik nya.


"Produk shampo Gisella itu baru, seharusnya aku tidak perlu harus takut tersaingi dengan nya. Produk kosmetik kuu ini kan sudah sangat terkenal sekali jadi tidak mungkin bisa menjadi saingan bisnis Gisella yang baru saja menetas."


Laura pun sampai di kantor nya, dia melihat media sosial. Gisella yang menjalani pemotretan dan melakukan promosi dengan melalui iklan shampo nya.

__ADS_1


"Oh, ternyata dia juga yang menjadi model nya. Maksud nya sebenarnya ini Gisella hah kamu mau mengikuti kuu dengan sama-sama menjadi model di produk sendiri. Sangat terlihat sekali ingin bersaing nya."


Laura memilih untuk keluar dari ruangan nya, dia melihat para pegawai yang sedang sibuk melihat layar handphone nya masing-masing.


"Sedang apa mereka berkumpul-kumpul seperti itu yaa, lebih baik aku dengarkan dulu apa yang sedang mereka bicarakan. Baru aku menyuruh mereka semua untuk bubar."


Laura dengan diam-diam mendengarkan apa yang sedang di bicarakan oleh para pegawai nya.


"Ini Nona Gisella kan yaa, adik kandung dari Ibu Laura bos kita. Sekarang dia menjadi CEO pemilik perusahaan yaa hebat sekali yaa."


Para pegawai pun fokus melihat video iklan shampo yang di model kan oleh Gisella.


"Wahhhh cantik sekali yaa, natural sekali seperti orang juga. Sesuai sekali dengan nama produk shampo nya."


Laura terus saja mendengarkan perkataan para pegawai nya.


"Hebatnya lagi ini adalah perusahaan milik Ibu Rossalinda mertua nya Ibu Laura, tapi kabarnya Nona Gisella yang membuat semua konsep dari produk nya tersebut. Aku yakin sih produk shampo ini akan laris di pasaran."


Karena sudah merasa sangat kesal sekali mendengar para pegawai nya yang memuji produk milik Gisella.


Laura pun akhirnya menghampiri mereka semua.


"Maksud kalian apa yaa membanggakan produk orang lain dari pada produk kalian sendiri, seharusnya kalian tidak usah berlebih-lebihan seperti itu. Ingat kalian semua berkerja di perusahaan saya bukan di perusahaan Gisella."


Laura terlihat sangat emosional sekali dan para pegawai nya pun merasa sangat bersalah mereka semua menundukkan kepalanya.


"Sekarang kalian semua bubar dan berkerja kembali ke tempat kerja kalian masing-masing."


Laura merasa sangat kesal sekali dia berniat untuk pergi ke kantor Barra.


"Aku harus pergi ke kantor Mas Barra, memastikan dia ada di kantor bukan berada di luar bersama dengan Gisella."


Laura pun berjalan cepat menuju ke mobil nya, dia dengan sangat emosional mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.


"Jangan sampai kamu tidak ada di ruangan kamu Mas, sakit hati sekali aku jika kamu pergi untuk mendukung Gisella. Aku tidak akan bisa menerima nya."


Di perjalanan menuju ke kantor Barra, tiba-tiba saja Laura merasa sangat mual sekali.


Laura yang lupa untuk sarapan pagi dan memeriksa kondisi kehamilan nya.


"Yaa Tuhan, semua terulang lagi dengan kehamilan ku yang ke dua ini. Aku mengabaikan untuk memeriksa kondisi kehamilan ku dan aku juga lupa dengan asupan makanan yang sehat dan bergizi. Bahkan untuk makan pun aku lupa."


Laura yang tidak ingin kembali kehilangan anak nya, dia pun memilih untuk pergi ke Dokter Specialis Kandungan.


Dia mengabaikan terlebih dahulu rencana nya, untuk menemui Gisella.


Laura memilih Rumah Sakit yang lain dia tidak ingin ketahuan oleh Rivan.


Tapi ternyata Dokter tersebut adalah Dokter yang pernah menangani Gisella.


Mendapatkan hasil pemeriksaan yang bagus, Laura begitu sangat bahagia sekali.


Laura mengelus perut nya, dia menunggu pengambilan obat.


"Sayaaaaang, sehat-sehat yaa di perut Mommy. Walaupun mungkin kamu bukan anak dari Papa Barra tapi kamu tetap anak mommy. Mommy akan selalu melindungi kamu sayaaaaang dan mempertahankan kamu."


Laura pun akhirnya bisa langsung pergi dari Rumah Sakit tersebut.


Dokter Arman tiba-tiba langsung teringat dengan Gisella.


"Dia sangat cantik seperti Gisella, apakah dia adalah sodara perempuan Gisella. Ehh tapi wajah nya seperti pernah aku melihat nya tapi di mana yaa. Hmmmmm sudahlah tidak penting juga."


Dokter Arman hari ini akan ketemuan dengan Dokter Rivan, mereka berdua adalah berteman baik.


Mereka berdua bertemu di sebuah Restoran dekat dengan Rumah Sakit Sejahtera, Rumah Sakit tempat Dokter Rivan berkerja.


Dokter Rivan menunggu kedatangan Dokter Arman.


"Rivan maafkan kedatangan ku telat tadi ada pasien yang harus aku tangani."


Dokter Rivan membuka handphone nya dia melihat postingan media sosial milik Gisella yang sedang mempromosikan produk nya.


"Wahhhh, Gisella dia benar-benar luar biasa sekali. Dia mempromosikan produk nya sampai banyak sekali yaa melihat nya."


Dokter Arman seperti mengingat nama tersebut.


"Gisella, dia adalah pasien yang pernah kamu sarankan ke Rumah Sakit ku kan. Dia sudah melahirkan anak pertama nya."


Dokter Arman melihat handphone Dokter Rivan.


"Yaa, Gisella adalah adik dari Laura. Gisella melahirkan anak pertama dengan selamat tetapi Laura tidak."


Laura, Dokter Rivan pun langsung mengingat nama tersebut.


"Apakah Laura Renata,? tadi aku merasa ada pasien yang sangat cantik sekali dan aku berpikir dia sangat mirip sekali dengan Gisella. Mirip karena sama-sama cantik."


Seketika Dokter Rivan pun langsung menunjukkan foto Laura kepada Dokter Arman.


"Apakah ini Laura yang kami maksud???."


Dokter Arman pun menganggukkan kepalaku.


"Yaa, benar sekali tadi dia periksa kandungan nya. Yang masuk usia sekitar 12 Minggu."

__ADS_1


Dokter Rivan serasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Dokter Arman.


Dokter Rivan langsung mengingat kembali saat mereka berdua berhubungan, dan ternyata di saat mereka sudah melakukan nya.


Laura tidak mengalami datang bulan dia langsung positif hamil.


"Ahhhhhhh, terimakasih banyak atas informasinya. Dan jangan pernah kamu katakan jika kita berteman baik dan aku mengetahui tentang kehamilan Laura."


Dokter Arman pun mencurigai Dokter Rivan, dia langsung berpikir negatif.


"Ehhhhh, jangan berpikiran negatif terhadap aku dengan Laura. Laura membenci aku karena dia merasa aku tidak bisa menyelamatkan bayi nya. Jadi dia tidak mau lagi datang ke Rumah Sakit Sejahtera. Dia bilang sakit hati sekali."


Dokter Rivan mencoba untuk menyakinkan Dokter Arman agar dia bisa menjaga rahasia ini.


"Rivan seperti aku harus pergi yaa, lain kali kita bertemu kembali yaa."


Dokter Arman pun langsung pergi meninggalkan Dokter Rivan.


"Laura, aku sangat yakin sekali jika janin yang sedang ada di dalam kandungan mu itu adalah anak kita berdua."


Dokter Rivan melihat kembali update status terbaru Gisella.


"Seperti nya, Gisella masih berada di sana. Aku ingin sekali mengungkapkan selamat kepada Gisella."


Dokter Rivan membeli bunga untuk Gisella, dia sangat suka sekali dengan bunga.


Karena menurut dia wanita itu cantik seperti bunga, yang sikap nya berwarna-warni.


"Gisella, semoga kamu suka dengan bunga ungu ini. Lebih baik aku tidak memberitahu dulu kepada Gisella, biarkan menjadi kejutan untuk nya."


Dokter Rivan pun akhirnya sampai di tempat tersebut, dia melihat ternyata ada Barra.


"Barra, dia bersama dengan Gisella. Kenapa dia tidak menemani Laura untuk periksa kandungan. Apa Laura merahasiakan tentang kehamilan kepada Barra."


Dokter Rivan pun keluar dari mobil nya, pandangan langsung tertuju pada Gisella.


Dan Gisella pun langsung tersenyum ketika dia melihat Dokter Rivan.


"Lihat Dokter Rivan, dia ke sini."


Barra memperhatikan ekpresi wajah Gisella yang kelihatan sangat senang sekali dengan kedatangan Barra.


Rossalinda pun tersenyum manis kepada Dokter Rivan kecuali Barra dia lebih fokus pada Tiara.


"Selamat yaa Gisella, semoga kamu sukses yaa."


Dokter Rivan pun memberikan bunga berwarna ungu kepada Gisella di hadapan Barra.



"Ahhhh, terimakasih banyak. Bisa sama dengan baju yang sedang aku pakai."


Gisella begitu sangat cantik sekali dia terus saja tersenyum kepada Dokter Rivan.


Barra merasa mencurigai Dokter Rivan yang selalu membawa kan bunga-bunga.


Dia mengingat bucket bunga mawar merah yang ada di Apartemen nya.


"Gisella kamu terlihat sangat cantik sekali, seperti belum mempunyai anak."


Dokter Rivan mencari untuk mendekati dengan Gisella.


"Ahhhh, Dokter Rivan. Aku seperti yang Dokter Rivan bicarakan. Ini hanya efek dari luar biasa nya make up saja."


Gisella melirikan mata nya kepada Barra, dia yang hanya terdiam saja ketika Dokter Rivan datang.


Dokter Rivan pun juga memperhatikan Barra.


"Barra, bahagia dengan kondisi Laura. Apakah dia sering merasakan kesakitan di daerah perut nya,?".


Barra menghelakan nafas panjang nya, sebelum dia menjawab pertanyaan dari Dokter Rivan.


"Laura baik-baik saja aku rasa dia sudah sehat total."


Suasana seperti sangat canggung sekali, Barra dan juga Dokter Rivan yang tidak seperti biasa nya.


Barra tidak mengerti kenapa dia merasa sangat tidak suka dengan kedatangan Dokter Rivan.


"Dokter Rivan, tahu dari mana. Aku sedang melakukan pemotretan produk baru kuu di sini."


Dokter Rivan pun mengeluarkan handphone nya.


"Lihat lah posting mu di media sosial sangat viral sekali, bagaimana tidak aku tidak ingin langsung melihat nya."


Gisella pun tersenyum seperti tersipu malu-malu.


"Aku rasa kamu akan bersaingan dengan perusahaan kosmetik milik Laura, kalian berdua akan bersaing ketat."


Gisella pun melihat kembali posting milik nya di media sosial.


"Produk kosmetik skincare milik Kak Laura, sudah sampai ke luar negeri. Sedangkan aku masih baru promosi seperti ini. Tidak mungkin aku jadi saingan Kak Laura."


Mendengar perkataan Gisella yang seperti tidak percaya diri, Rosssa pun menghampiri Gisella.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh merendahkan diri seperti ini, kamu harus percaya diri. Kita tidak tahu kan seperti apa kedepan nya, semoga kamu selalu sukses Gisella."


Dokter Rivan melihat jika Rossalinda yang lebih peka terhadap Gisella tidak dengan Laura.


__ADS_2