Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #236#


__ADS_3

Rossalinda langsung menghampiri Barra dan Barra terlihat sangat lemas sekali.


"Barra, apa yang sebenarnya terjadi dengan Gisella. Mama sangat hawatir sekali dengan Gisella."


Handphone Dokter Rivan pun berdering kencang dan Barra langsung menjawab nya.


*Hallo Barra, ini saya Rivan. Kamu cukup dengarkan saja yaa. Saya mendapatkan panggilan telephone dari Laura yang sedang sangat kesakitan sekali dan terdengar suara teriakan dari Gisella, akhirnya saya sampai di tempat itu dan saya melihat Laura yang sedang kesakitan dan terbaring di lantai dengan sudah pecah nya ketuban dan Gisella yang di ikat kaki dan tangan nya. Di dekat kursi yang dekat Gisella saya melihat ada pisau yang terjatuh.*


Barra memilih untuk langsung mengakhiri panggilan telephone nya dan Rossalinda pun begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar penjelasan dari Dokter Rivan.


"Tega sekali Laura mau melukai Gisella, dia benar-benar tidak mempunyai perasaan."


Barra memilih untuk menghampirinya Gisella di kamar nya.


"Gisella sayaaaaang, buka pintu nya yaa. Jangan sendiri seperti ini sekarang kamu sudah punya aku calon suami kamu."


Gisella pun akhirnya membuka pintu kamar nya, dan Barra pun langsung masuk ke kamar Gisella.


Barra memeluk erat kembali Gisella dan dia mencoba untuk menenangkan perasaan Gisella.

__ADS_1


"Kamu sudah tidak perlu bercerita tentang apa yang sudah terjadi yaa."


Gisella melepaskan pelukan erat nya dan dia menatap wajah Barra.


"Besok adalah hari pernikahan kita, aku ingin pernikahan yang sederhana. Aku tidak mengecewakan hati kamu."


Barra tersenyum manis kepada Gisella.


"Kamu tidak perlu memikirkan tentang rencana untuk kita yaa, lebih baik kita batalkan saja yaa pulihkan dulu hati kamu yaa."


Gisella menggelengkan kepalanya sambil memaksa untuk tersenyum.


Gisella sudah merasa sangat kesal sekali dengan sikap Laura kepada nya, dia lebih memilih untuk menikah dengan Barra dari pada dia yang harus terus mengikuti permintaan Laura yang hampir mau mengakhiri hidupnya.


"Terimakasih banyak Gisella, aku akan mencoba untuk membahagiakan kamu."


Barra pun memeluk kembali Gisella dan mencoba untuk membuat Gisella nyaman di pelukan.


Ketika Gisella dan Barra memulai kebahagiaan nya, Laura sedang berada di ruangan operasi Caesar anak ke dua nya.

__ADS_1


Hanya Dokter Rivan yang ada untuk menemani Laura di ruangan operasi bukan Barra.


Dokter Rivan mencoba untuk memberikan semangat untuk Laura, Dokter Rivan memegang tangan Laura dengan sangat erat sekali.


Di saat operasi berlangsung Laura memikirkan bagaimana dengan nasib nya, ketika Gisella yang sudah selamat dan kembali ke Barra dan keluarga nya.


Sampai akhirnya suara tangisan bayi kencang sekali dan bayi tersebut terlahir dengan selamat dan sehat.


"Laura, anak ke dua mu lelaki lihat dia sangat tampan sekali loh."


Laura begitu sangat bahagia sekali ketika dia yang bisa melihat anak ke dua yang terlahir dengan selamat.


Setelah kelahiran bayi nya, Dokter Rivan pun baru bisa menghubungi orang tua Laura.


Mereka pun langsung datang dan merasa sangat senang sekali, akhirnya Laura bisa mempunyai anak.


Laura pun lebih memilih untuk beristirahat karena tensi Laura yang tidak stabil.


Laura terus saja memikirkan Gisella dia pasti akan melaporkan nya ke polisi karena dia yang gagal melukai Gisella.

__ADS_1


Laura terlihat terus saja melamun dia seperti mengabaikan kehadiran anak ke dua nya.


__ADS_2