
Laura membuat Rivan merasa sangat pusing sekali, Rivan tidak menyangka dengan sikap keras kepala Laura.
Tapi tiba-tiba saja angin berhembus sangat kencang sekali dan hujan turun dengan derasnya.
Rivan pun langsung melindungi Laura dari deras nya hujan, dia membuka jas nya agar Laura tidak terkena air hujan.
Rivan membawa Laura masuk ke dalam villa nya.
Dan Laura pun melihat villa tersebut yang sangat sepi sekali.
"Apakah villa ini kosong tidak berpenghuni,? sangat seram sekali."
Laura terus saja memandangi semua sudut ruangan di dalam villa tersebut.
"Tidak, villa ini tidak kosong. Hanya saja mereka datang untuk membersihkan villa ini di waktu pagi hari dan pulang di sore hari."
Laura membuka jas hitam milik Rivan dan memberikan kepada Rivan.
"Ambil lah aku sudah tidak butuh lagi."
Laura berjalan mendekati jendela dia melihat hujan yang sangat deras dan angin yang kencang.
"Bagaimana aku pulang jika hujan deras seperti ini, dan tidak mungkin aku harus menginap dengan lelaki lain di sini."
Laura memandangi sinis wajah Rivan.
"Di sini ada dua kamar, kamu bisa aman di sini dan tidak berpikiran negatif terhadap aku."
Laura mengabaikan perkataan Rivan dia terus saja memandangi jendela dan tiba-tiba saja terdengar suara petir membuat Laura merasa sangat ketakutan sekali.
Laura seketika langsung berlari menghampiri Rivan.
"Aku sangat takut sekali dengan suara petir."
Laura diam di belakang tubuh tegap Rivan.
Rivan pun membalikkan badannya dan memegang ke dua pundak Laura.
"Bukan hanya sekedar takut petir kamu juga takut dengan kegelapan di saat hujan deras seperti ini."
Laura melepaskan tangan Rivan dia tidak terlalu lama memandangi wajah Rivan.
"Sudah jangan lagi kamu membahas mengenai masa lalu kita berdua, itu sudah tidak perlu di ceritakan lagi."
Laura menghampiri salah satu kamar yang ada di sana dan dia pun membuka nya.
"Laura, lebih baik kita bermalam di sini saja. Suami mu pun tidak ada di rumah kan. Dia sedang bersama dengan Gisella dan putri kesayangannya."
Rivan membuat Laura merasa sangat kesal sekali.
"Bisakah jangan membahas tentang itu,? aku sangat benci sekali mendengar nya."
Laura pun membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalam nya.
Laura melihat kamar yang sangat nyaman untuk di tempati.
"Aku memilih kamar ini yaa, dan kamu jangan pernah melakukan hal yang negatif terhadap aku."
Laura mendorong tubuh Rivan agar keluar dari kamar nya dan dia pun menutup rapat pintu kamar nya.
Rivan pun memilih untuk duduk di sofa dekat dengan kamar tersebut dia merasa sangat hawatir jika tiba-tiba saja listrik padam.
Laura pun duduk di atas tempat tidur tersebut sambil memikirkan rumah tangga nya.
"Apakah rumah tangga kuu akan terus bertahan lama, setelah kehadiran bayi itu. Mas Barra pasti akan lebih sering melihat bayi tersebut."
Handphone Laura berdering dia melihat panggilan telephone dari Ibu nya.
"Ibu, dia pasti akan memberitahu kuu jika Gisella sudah melahirkan."
Laura yang sebenarnya merasa malas tapi dia tidak mungkin mengabaikan panggilan telephone dari ibu nya tersebut.
***Iyaa Buuu, ada apa yaa buuu.
*Laura, Gisella sudah melahirkan Di rumah sakit Bunda dekat dengan rumah kita. Datang lah besok untuk melihat adik muu.*
*Baiklah Buu, aku usahakan besok datang. Buuu maafkan aku yaa. Aku sangat lelah sekali dan mau beristirahat karena hari ini sangat luar biasa sekali**.
__ADS_1
Laura pun langsung mengakhiri panggilan telephone tersebut.
"Aku malas sekali sebernarnya, tapi semua demi Ibu. Aku harus terpaksa datang."
Laura pun memilih untuk keluar dari kamar nya.
Dia mencoba untuk keluar dari kamar dan menghampiri Rivan.
Rivan sangat terkejut sekali ketika Laura datang menghampiri nya.
Laura duduk di samping Rivan dan menghela nafas panjang nya.
"Besok aku di minta datang untuk menemui Gisella dan itu adalah keinginan Ibu kuu, besok temani aku ke Rumah Sakit. Aku tidak mau datang sendiri."
Rivan pun tersenyum manis kepada Laura.
"Baiklah, tugas ku di sana untuk menjaga emosi kamu yang berlebih-lebihan kan."
Laura pun menyenderkan tubuh nya ke sofa tersebut.
Dia memandangi atas dan dia pun memejamkan mata nya.
Rivan terus saja memandangi wajah Laura yang begitu sangat dekat dengan nya.
Rivan tersenyum manis dia bisa melihat wajah Laura dengan jarak yang sangat dekat sekali.
Laura yang merasa sangat kelelahan sekali dia pun akhirnya tidur di sofa tersebut.
Rivan menyenderkan kepala Laura ke pundak nya, Rivan tidak menyangka jika mereka berdua bisa menghabiskan waktu bersama berdua.
Laura terlihat sangat pulas sekali dan Rivan pun membeli rambut panjang Laura dengan sangat lembut sekali.
"Laura, aku sangat mencintaimu. Dan aku ingin memiliki kuuu. Kita akan hidup bahagia karena aku memiliki apa yang kamu inginkan."
Rivan mencoba untuk mencium kening Laura dan membuat Laura langsung terbangun dari tidurnya.
Laura langsung menatap wajah Rivan yang jarak nya begitu sangat dekat sekali.
"Rivan apa yang kamu lakukan kepada kuu."
Laura mencoba untuk mendorong tubuh Rivan.
Laura terlihat sangat ketakutan sekali dia mencoba lari dari Rivan.
"Laura kamu jangan bersikap seperti itu, ingat Suami mu juga sedang bersama dengan Gisella. Mungkin dia pun melakukan apa yang aku lakukan seperti tadi."
Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil tersenyum.
"Tidaaaaaak, tidak mungkin Mas Barra melakukan hal tersebut. Dia hanya bermalam bukan karena Gisella tapi karena bayi nya."
Laura pun mencoba terus mundur sampai di depan pintu kamar nya.
Rivan terus saja mendekati Laura sampai akhirnya Laura membuka pintu kamar tapi tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat kencang sampai menyambar tiang listrik.
Seketika Listrik pun padam dan Laura berteriak kencang sekali membuat Rivan panik.
Rivan mencoba untuk mencari Laura dari kegelapan.
"Laura,? kamu di mana aku mencari muuu."
Laura pun hanya terdiam menahan rasa takut nya.
Dia tidak mau Rivan sampai menemukan kan.
"Aku baik-baik saja Rivan, aku bisa mengatasi rasa ketakutan kuu. Dan aku bisa pergi untuk mencari lilin."
Laura naik ke tempat tidur nya dia pun terus meraba di mana guling yang bisa dia peluk.
"Baiklah Laura, kamu diam di tempat aku akan mencoba untuk mencari senter dan memasang lilin."
Rivan pergi meninggalkan Laura, dia mencoba untuk mencari senter dan lilin.
Laura begitu sangat ketakutan sekali dia terus saja memeluk erat guling nya.
"Yaa Tuhan, aku sangat ketakutan sekali. Tangan kuu sangat gemetaran sekali menahan ketakutan ini."
Tidak menunggu lama akhirnya Rivan pun datang dengan lilin di tangan nya.
__ADS_1
Rivan menyimpan lilin tersebut di meja.
Kehadiran Rivan membuat Laura merasa sedikit tenang.
Suara petir yang terus saja terdengar membuat Laura semakin erat memeluk guling nya tersebut.
Rivan pun memilih untuk pergi meninggalkan Laura tapi karena Laura yang merasa sangat ketakutan sekali dia memegang tangan Rivan dengan sangat terpaksa sekali.
"Aku sangat ketakutan sekali, jangan pergi dan temani aku di sini."
Laura dengan terpaksa harus mengatakan hal tersebut.
Rivan pun duduk di samping Laura dan Laura terus saja memegang tangan Rivan sangat kuat sekali.
Rivan pun mencoba untuk menenangkan Laura.
"Aku ada di sini kamu jangan takut yaa, aku akan selalu ada di samping kamu."
Laura pun menganggukkan kepalanya sambil terus memegang tangan Rivan.
Malam semakin larut tapi Laura tidak bisa memejamkan mata nya.
Rivan pun mulai menarik selimut karena pun merasakan kedinginan.
"Sudah malam dan udara semakin dingin, apakah kamu tidak ingin tidur?."
Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Aku tidak bisa tidur jika petir itu selalu terdengar jelas, aku takut sekali."
Rivan pun semakin mendekati dirinya dengan Laura, mereka berdua pun duduk bersampingan di tempat tidur tersebut.
Rivan menarik selimut agar mereka berdua tidak kedinginan.
Rivan tidak pernah menyangka dia akan satu ranjang bersama dengan Laura.
Rivan semakin mendekati wajah dengan Laura, dan Laura pun hanya bisa terdiam saja.
Ketika lelaki dan perempuan bersama dalam suatu ruangan hal-hal yang tidak mungkin bisa terjadi.
Laura yang terus saja memikirkan Barra, seketika dia seperti melihat Barra yang ada di hadapan nya.
"Mas Barra, kamu di sini untuk kuu."
Seketika Laura langsung memeluk erat Rivan yang di pikiran nya itu adalah Barra.
Rivan pun hanya bisa terdiam ketika Laura terus saja memanggil nya dengan nama suami nya.
Rivan melepaskan pelukan erat dari Laura dia pun langsung memandangi wajah Laura.
Rivan menyentuh kan bibir nya pada bibir mungil Laura.
Semakin dekat Rivan pun mencium bibir mungil tersebut dan Laura pun mulai menyadari jika lelaki yang ada di hadapannya itu adalah Rival bukan Barra.
Laura mencoba untuk melepaskan pelukan erat Rivan serta ciuman nya tersebut.
Tapi Rivan lebih kuat dari Laura dan membuat Laura pun hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Rivan kepada nya.
Rivan mulai menyentuh area yang membuat Laura meradang.
"Ahhhhhhh, Rivan aku mohon jangan lakukan ini dengan kuu."
Rivan mengabaikan perkataan Laura karena dia sudah tidak bisa mengendalikan diri nya sendiri.
Cahaya lilin yang semakin meredup membuat mereka berdua semakin menjadi satu.
Suasana sunyi senyap dan petir yang menghilang membuat suara-suara semakin menyata.
Mereka berdua pun menikmati apa yang sedang mereka lakukan bersama.
Laura yang awalnya menolak dia seperti tidak bisa menahan semua rasa yang telah di berikan oleh Rivan kepada nya.
Laura tidak menyangka dia bisa menghianati cinta nya dengan suami nya.
Laura dengan mudah nya memberikan semuanya kepada Rivan yang merupakan mantan kekasih nya masa lalu.
Rivan terus memandangi wajah cantik Laura.
__ADS_1
"Ternyata kamu menikmati juga yaa."
Laura pun membalikkan wajah nya dengan penuh rasa berdosa.