
Barra masuk ke dalam kamar nya ketika Laura sudah selesai menelephone Ibu nya.
"Kenapa kamu belum juga tidur Laura, ini sudah larut malam loh."
Barra menghampiri istrinya tersebut dan Laura pun hanya bisa tersenyum manis kepada Barra.
"Aku tidak bisa tidur Mas, aku ingin sekali secepatnya besok. Aku tidak sabar melihat hasil testpack ku besok."
Barra membeli rambut panjang Laura dia melihat Laura yang begitu sangat bahagia sekali.
"Iyaa, aku tau kok sayaaaaang. Tapi kamu jangan sampai begadang seperti ini yaa, besok juga kamu kan harus pergi ke kantor."
Laura memegang tangan Barra dan mencium nya.
"Jika sampai aku hamil, aku ingin kamu selalu bersama dengan aku yaa Mas. Dan aku pun akan bicarakan ini dengan Gisella dia pun pasti akan sangat mengerti sekali dengan kondisi aku yang sedang hamil butuh perhatian besar dari suaminya."
Ketika Barra mendengar perkataan tersebut dia langsung berpikir bagaimana jika Gisella pun hamil juga.
Barra melihat sikap Gisella yang sekarang berubah menjadi lebih emosional.
"Yasudah jangan dulu pikiran hal tersebut yaa, sekarang lebih baik kamu istrirahat yaa Laura Renita."
Barra membaringkan tubuh Laura dan menyelimuti nya.
"Sekarang kita istirahat yaa semoga besok kita mendapatkan kebahagiaan."
Barra mematikan lampu kamar dan mereka pun berdua pun memejamkan mata nya.
*** Keesokan harinya ***
Laura terbangun sangat pagi sekali dan dia pun dengan sangat tidak sabar, langsung pergi ke kamar mandi.
"Ini masih jam 5 pagi, baiklah waktu nya aku mengambil testpack."
Laura menghelakan nafas panjang nya berkali-kali dia begitu sangat bergetar sekali.
"Oke Laura, kamu harus tenang yaa tenang dan yakin."
Laura memasukkan testpack tersebut dan memejamkan mata nya.
Laura mencoba untuk membuka mata nya secara perlahan dan akhirnya.
Tangan Laura begitu sangat bergetar sekali ketika melihat hasil dari testpack nya tersebut.
Laura pun langsung berteriak-teriak kencang dan membuat Barra seketika terbangun dari tidurnya.
"Lauraaaa."
Barra langsung membuka pintu kamar mandi dan melihat Laura sedang menangis histeris.
Barra pun langsung menghampiri istrinya tersebut.
__ADS_1
"Kenapa,? kenapa kamu berteriak kencang sekali Laura dan ini masih sangat pagi."
Laura memberikan hasil testpack nya kepada Barra.
"Garis dua, Laura kamu hamil sayaaaaang."
Barra merasa tidak percaya dengan hasil testpack tersebut.
"Iyaa Mas, aku hamil Mas. Hasil testpack ku positif hamil."
Barra langsung memeluk erat tubuh Laura, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Penantian panjang pernikahan mereka.
Barra pun langsung mengajak Laura keluar dari kamar nya, Barra berlari menuju ke kamar Mama Rossa.
Barra mengetuk kencang pintu kamar Mama Rossa, dan membuat Mama Rossa merasa sangat terganggu sekali dengan ketukan pintu tersebut.
"Ada apa sih Barra, sepagi ini dia mengetuk pintu kamar kuu."
Rossalinda pun membuka pintu kamar tersebut dan Barra seketika langsung memeluk erat tubuh Mama Rossa.
"Mam, akhirnya Mam. Laura hamil dan Mama akan mempunyai cucu pertama."
Rossalinda melepaskan pelukan erat dari Barra dan dia melihat hasil dari testpack tersebut yang terlihat masih sangat samar.
"Barra kenapa secepat ini lihat in masih sangat loh, jangan kamu jangan terlalu berlebih-lebihan dulu."
Barra mengabaikan ucapan Mama nya.
Rossalinda tidak bisa banyak bicara dia lebih memilih untuk diam ketika Barra yang sudah berprilaku berlebihan sekali.
"Terserah kamu saja Barra, Mama sudah memberitahu kepada kamu. Yasudah ya sekarang Mama akan bersiap untuk mandi dan pergi ke kantor."
Rossalinda menutup rapat pintu kamar nya, Barra pun langsung kembali menghampiri Laura.
"Laura sekarang kita harus segera pergi dari Dokter Specialis Kandungan yaa, kamu harus bersiap-siap yaa."
Barra begitu sangat bahagia sekali dia masih tidak menyangka jika dia akan menjadi seorang Papa.
Laura pun mengelus perut nya dan tersenyum manis sambil memandangi wajah nya di cermin.
"Sehat-sehat yaa sayaaaaang di perut mommy yaa, mommy sangat mengharapkan kehadiran muu sayaaaaang."
Melihat Laura yang sedang bercermin sambil memegang perut nya, Barra pun memeluk Laura dari belakang dan memegang perut Laura.
"Sehat-sehat yaa jagoan Papa, sehat juga buat Mommy nya."
Laura pun semakin bahagia dan seperti semakin di cinta oleh Barra.
__ADS_1
"Aku akan bertemu dengan Gisella, kita akan merayakan kehamilan ini. Aku ingin dia mengetahui semuanya."
Barra pun hanya bisa terdiam saja dia mengikuti apa yang di lakukan oleh Laura.
Laura mengambil handphone nya dia akan menghubungi orang tua nya.
*Hallo Buuu, buuu aku positif hamil buuu akhirnya aku bisa menjadi seorang ibu.*
Seketika saja Riana yang menerima panggilan telephone dari Laura dia langsung teringat dengan Gisella.
*Syukurlah Nak, ibu ikut senang. Kamu harus jaga baik-baik ya kandungan kamu itu yaa.*
*Iyaa buuuuuu, pasti aku akan menjaga baik-baik kandungan ini.*
*Iyaa sayang, ini lah hasil dari penantian panjang kamu yaa.*
*Iyaa buuuuuu, ini juga karena doa dari ibu juga. Oh iya buuu sekarang aku akan pergi ke Dokter Specialis Kandungan dan besok aku akan merayakan kehamilan ku ini. Ibu harus datang yaa bersama dengan Gisella.*
*Iyaa, ibu akan datang bersama dengan Gisella.*
*Yaudah yaa Buu, aku bersiap-siap dulu yaa.*
Laura mengakhiri panggilan telephone dengan Ibunya.
"Apa yang ada di pikiran Laura, dia tidak punya hati sekali. Dia membuat perayaan kehamilan dan mengundang Gisella. Laura tidak menghargai perasaan Gisella."
Riana begitu sangat kesal sekali dengan sikap Laura yang sangat berlebih-lebihan seperti itu.
"Sudahlah Buu, Gisella jauh lebih dewasa dari Laura. Gisella pasti mengerti dengan sikap Laura yang seperti itu."
Ayah Laura mencoba untuk menenangkan perasaan istri nya tersebut.
"Iyah yah, yasudah sekarang kita pergi ke Apartemen Gisella. Kita hubungi dulu Gisella nya yah."
Ketika Riana mencoba untuk menghubungi Gisella, Gisella sedang bersiap untuk pergi ke Dokter Specialis Kandungan.
"Ibu, ada apa yaa ibu sepagi ini menelephone aku."
Gisella pun menjawab panggilan telephone dari Ibunya.
*Hallo Buu, ada apa Buu?.*
*Gisella sayang, ibu rindu sekali. Ibu dan ayah ingin bertemu dengan kamu.*
*Baiklah Buu, tapi sekarang aku akan pergi dulu yaa Buu. Nanti kalau aku sudah pulang aku akan memberitahu ibu yaa.*
*Baiklah sayaaaaang, hati-hati yaa.*
Riana mengakhiri panggilan telephone nya.
Riana binggung bagaimana dia harus membicarakan hal ini kepada Gisella.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan Gisella, Laura pasti akan berkata pedas kepada Gisella dan membuat Gisella tersakiti hati nya."
Riana pun bersender sambil memikirkan perkataan nya terhadap Gisella.