
Laura mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali sehingga membuat kedua orang tuanya merasa sangat ketakutan sekali.
Terlihat sekali wajah Laura yang sangat emosional sekali.
"Laura jangan seperti ini Nak, ini bisa membahayakan nyawa kita semua."
Mendengar perkataan dari ibu nya Laura pun seketika langsung memberhentikan mobilnya.
"Maafkan aku ibu dan ayah, maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan emosi kuu ini."
Laura pun menangis dia tidak bisa menyembunyikan perasaan hati nya di hadapan kedua orang tuanya.
"Apa aku akan kuat menjalani kehidupan ini, apakah aku akan bisa menerima kenyataan yang ada di kehidupan yang baru."
Laura menarik nafas panjang nya dan mencoba untuk mengusap air mata nya.
"Ibu tahu apa yang kamu rasakan sekarang, walaupun wanita yang menikah dengan Barra adalah adik kandung kamu sendiri tapi hati kamu pasti sangat sakit sekali untuk menerima nya. Tapi sekarang semua sudah terjadi semoga saja apa yang kamu rencana bisa sesuai dengan apa yang kamu inginkan."
Ayah Laura hanya bisa terdiam saja dia sangat tidak tega sekali melihat kondisi Laura.
"Iya Buu Laura mengerti dan semoga saja semua berakhir indah."
__ADS_1
Laura pun langsung mengendarai kembali mobil nya yang sebentar lagi dia sampai di rumah nya.
Sesampainya di depan gerbang rumah nya, Laura turun dari mobil nya dan membuka pintu gerbang tersebut.
Dia kembali ke dalam mobil dan memasukkan kembali mobil nya.
Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah, Laura memilih untuk pergi ke kamar nya.
Orang tua Laura hanya bisa memperhatikan Laura.
"Kita harus selalu bersama dengan Laura jangan biarkan Laura sendiri."
"Ini adalah kamar kuu yang menjadi saksi sebuah kerja keras pekerjaan kuu selama membangun perusahaan kosmetik."
Laura melihat foto-foto kebersamaan bersama dengan Barra di saat mereka berdua masih pacaran.
"Awal mula kisah cinta kuu yang tidak di setujui oleh Mama Rossa karena aku yang terlalu tua untuk Barra, aku menunda pernikahan di usia muda karena aku yang harus berkerja keras untuk bisa membiayai kuliah Laura dan menjadi tulang punggung keluarga kuu."
Laura memilih untuk menyimpan foto tersebut dan memeluk erat foto tersebut.
"Apakah suatu saat nanti kamu akan mencintai Gisella, ketika nanti Gisella bisa memberikan keturunan kepada kamu."
__ADS_1
Pikiran Laura mulai negatif terhadap pernikahan kontrak ini.
"Tapi mereka kan sudah berjanji jika Gisella melanggar perjanjian dia harus mengembalikan kembali uang tersebut."
Laura merasa sangat kelelahan sekali dia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Pandangan mata Laura pun tertuju pada jam yang ada di kamar nya, jam yang sudah menunjukkan pukul 22:30.
"Ini sudah sangat malam sekali, apakah mereka berdua sudah melakukan nya."
Laura pun langsung memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Untuk apa aku harus memikirkan hal tersebut, itu bukan urusan kuu dan aku tidak harus memikirkan nya."
Laura menarik selimut dan mengambil guling kesayangan nya.
"Aku harus diam di rumah ini selama satu minggu lama nya, karena Mama mengatakan jika aku dan Mas Barra sedang berlibur berdua ke luar kota."
Laura mulai di hadapan dengan banyak nya kebohongan di hari-hari nya ke depan.
Laura harus terbiasa dengan kebohongan karena dia harus menjaga nama baik perusahaan suami nya.
__ADS_1