Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (104)


__ADS_3

Barra seperti ingin menghampiri Gisella tapi Laura memegang erat tangan Barra.


Rangga pun memperhatikan Barra yang seperti ingin mendekati Gisella.


"Ada apa yaa Kak Barra, seperti nya Kak Barra ingin mendekati Gisella."


Gisella pun seketika langsung memegang erat tangan Rangga di hadapan Barra.


Dokter Rivan yang melihat tersebut hanya bisa terdiam ketika Barra mengetahui jika kedua istrinya hamil secara bersamaan.


"Gisella, kenapa kamu merahasiakan kehamilan kamu ini kepada kita keluarga kamu."


Tanya Barra kepada Gisella dengan suara yang sedikit bergetar.


"Karena Gisell, ingin menjaga perasaan Kak Laura. Yaa walaupun Kak Laura itu selalu bersikap buruk kepada Gisella."


Laura begitu sangat emosional sekali ketika mendengar perkataan dari Rangga.


"Maksudnya apa ya Rangga, kamu berkata seperti itu. Kamu mau menjatuhkan harga diri saya di depan banyak orang yang hadir di sini."


Laura sampai menghampiri Rangga dia bicara di depan wajah Rangga.


"Yasudahlah Kak Laura, tidak usah se emosional seperti itu. Yang pasti sekarang Kak Laura sudah tahu jika aku Gisella sekarang sedang hamil juga."


Gisella tersenyum manis sambil memandangi wajah Barra dan membuat Barra lebih memilih untuk menundukkan kepalanya.


"Rangga, aku ingin pulang sekarang juga. Aku merasa sangat mual dan ingin muntah-muntah."


Gisella mengandeng tangan Rangga dan membuat Barra merasa sangat cemburu sekali melihat nya.


"Yasudah pulang saja sana, kehadiran kalian berdua hanya membuat suasana menjadi tidak nyaman."


Riana yang melihat kebersamaan Gisella dengan Rangga pun merasa sangat terharu sekali.


Laura menghampiri ibunya yang terlihat sangat sedih sekali.


"Buuu, jangan pulang sekarang yaa. Aku ingin ibu di sini sampai acara selesai nanti aku akan nyuruh supir pribadi aku yang mengantar ibu pulang."


Riana hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis kepada Laura.


Dokter Rivan menghampiri Barra, dia seperti mencoba untuk menenangkan perasaan Barra.


"Ketika Tuhan memberikan kamu kebahagiaan, ketika kedua istri mu hamil dan itu patut kamu syukuri."

__ADS_1


Dokter Rivan menepuk pundak Barra dan Barra pun hanya bisa terdiam.


Barra memikirkan kedekatan Gisella dengan Rangga yang merupakan mantan kekasih Gisella.


"Bagaimana kalau Rangga melakukan sesuatu kepada Gisella, dan kenapa dia begitu sangat dekat sekali dengan Gisella."


Barra terus saja memikirkan Gisella dan mengabaikan acara tersebut.


Laura melihat Barra yang lebih diam ketika mengetahui kehamilan Gisella.


"Kenapa Gisella harus hamil bersama dengan aku sih, ini akan membuat Mas Barra menjadi perhatian kepada Gisella."


Laura menghampiri Barra dan wajah Laura begitu sangat emosional sekali.


"Mas, kamu masih memikirkan Gisella yaa. Memikirkan kehamilan Gisella, bagaimana kalau itu hanya cara membuat kamu jadi perhatian kepada Gisella kita belum tahu kan kebenaran Gisella itu hamil atau tidak."


Laura mencoba untuk membuat Barra tidak lagi memikirkan Gisella.


"Gisella itu benar sedang hamil, dan benar juga usia kandungan nya sudah 8 Minggu. Karena saya yang memeriksa nya."


Perkataan Dokter Rivan seperti membuat Laura terpojokkan.


Barra pun langsung menghampiri Dokter Rivan dia seperti ingin banyak tahu mengenai kehamilan Gisella.


Laura merasa sangat kesal sekali melihat Barra yang mulai perhatian lagi kepada Gisella.


Laura pun memilih untuk pergi dan mencari keberadaan ibunya.


"Bayi nya sehat dan kuat tapi tekanan darah Gisella yang selalu rendah membuat nya sering pusing dan mungkin juga dia sering mengalami mual muntah di pagi hari."


Barra merasa sangat bersalah sekali ketika dia baru mengetahui kehamilan Gisella.


"Dan lelaki itu,? siapa lelaki itu yaa. Dia yang begitu sangat setia menemani Gisella di saat Gisella mengetahui kehamilan nya untuk pertama kalinya."


Barra pun semakin tidak menyukai Rangga ketika Rangga yang selalu ada untuk Gisella.


"Dia adalah mantan Gisella, dia tidak tahu jika aku adalah suami Gisella. Yang dia tahu suami Gisella sibuk berkerja di luar kota."


Dokter Rivan merasa hubungan pernikahan yang sangat rumit sekali.


"Oh seperti itu cerita nya, yasudahlah sekarang jangan hanya memikirkan Laura tapi juga pikirkan kondisi Gisella. Bukan kah Gisella yang kalian harapkan untuk memberikan keturunan untuk keluarga kalian."


Dokter Rivan memilih untuk pulang dia merasa acara yang sudah tidak akan menyenangkan.

__ADS_1


Rangga membawa Gisella ke dalam mobil nya, Gisella tidak berhenti menangis.


"Gisella, kenapa Kak Barra menatap wajah kamu begitu sangat tajam sekali ketika dia mengetahui jika kamu sedang hamil?. Itu sangat aneh sekali dan dia juga mencoba untuk menghampiri kamu padahal istri nya ada di samping nya."


Gisella merasa Rangga pasti akan mengetahui semuanya walaupun tidak harus dia beritahu.


"Rangga aku ingin pulang sekarang ya, dan aku rasa Ibu pasti akan pulang bersama dengan Kak Laura."


Rangga pun mengikuti apa yang di katakan oleh Gisella dia tidak mau membicarakan tentang kejadian di acara tersebut.


"Baiklah Gisella, tapi kandungan kamu baik-baik saja kan."


Rangga memegang perut Gisella sambil mengelus nya.


"Kandungan ku pasti sangat kuat sekali dan aku yakin tidak akan terjadi apa-apa."


Rangga pun langsung menyalakan mesin mobil nya dan menuju ke rumah Gisella.


Gisella tidak bisa menutupi kesedihannya di sepanjang perjalanan menuju rumah Gisella terus saja menangis.


Rangga merasa tidak tega melihat kesedihan yang Gisella rasakan.


Rangga merasa terjadi sesuatu di dalam hubungan keluarga Gisella, Rangga merasa Gisella memiliki sesuatu di antara Gisella dan Barra.


Gisella menghapus air mata ketika dia hendak turun dari mobil Rangga.


Gisella tidak mau Ayah nya melihat kesedihan yang di alami oleh Gisella.


"Terimakasih banyak atas semua kebaikan kamu yaa Rangga, aku tidak tahu harus membalaskan semua dengan apa."


Rangga hanya bisa tersenyum ketika mendengar perkataan Gisella.


"Melihat kamu bahagia bersama dengan pasangan yang kamu pilih itu sudah yang cukup membalas kan semuanya."


Gisella tidak menyangka jika Rangga memiliki hati yang sangat tulus kepada nya.


Rangga masih bisa bersikap baik dengan nya, walaupun mereka sudah tidak mungkin bisa bersama.


"Kebahagiaan kuu akan aku rasakan ketika aku bisa melihat anak ku ini, dia adalah penyemangat hidup ku. Walaupun mungkin aku hanya bisa memandangi wajah anak hanya dalam hitungan menit saja."


Gisella membuka pintu mobil nya dia langsung berjalan menuju ke rumah nya tampa berpamitan terlebih dahulu dengan Rangga.


"Apa maksud perkataan Gisella, dia hanya bisa melihat wajah anak nya dalam hitungan menit saja. Memang Gisella akan pergi ke mana kenapa dia tidak bisa bersama dengan anak nya."

__ADS_1


Rangga semakin bertanya-tanya apa yang terjadi di balik ini semua nya.


__ADS_2