
Gisella melihat jam di handphone nya, dia pun memikirkan permintaan dari Barra yang ingin mengajak nya untuk bertemu di Apartemen.
"Apakah aku harus bertemu dengan Kak Barra, aku merasa tidak nyaman dengan Kak Laura. Tapi seperti nya Kak Barra ingin bercerita tentang masalah kehidupan rumah tangga nya."
Gisella berpikir ulang kembali dia harus pergi atau tidak.
"Hmmmmm, pergi nggak yaa. Aku kok jadi bimbang begini yaa."
Gisella terus saja memandangi layar handphone nya dan tiba-tiba saja aku yang mengetuk pintu ruangan nya.
"Silahkan masuk."
Gisella pun langsung berdiri dari tempat duduk nya dia melihat Barra yang sudah ada di hadapan nya.
"Kak Barra,? ke sini ?. Astagaaaa kenapa secepat kilat datang ke sini."
Barra pun duduk berhadapan dengan Gisella.
"Selamat yaa Gisella, produk shampo milik kamu menjadi favorit sampai di urutan ke dua."
Gisella pun merasa malu sekali ketika Barra mengatakan hal tersebut.
"Seharusnya Kak Barra mengucapkan selamat untuk Kak Laura juga, dia selalu berada di nomor satu dan aku tidak bisa mengalahkan nya."
Barra pun hanya tersenyum tipis kepada Gisella ketika dia mengatakan tentang Laura.
Gisella pun merasa sangat bersalah sekali ketika dia mengatakan hal tersebut.
"Gisell, aku merasa sudah lelah sekali menikah dengan Laura tapi aku selalu ingat anak yang sedang di kandung oleh Laura itu yang membuat aku kuat untuk bertahan."
Tampa sepengetahuan Gisella dan Barra Rossalinda mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Kenapa kaa, bukan kah Kak Barra sudah terbiasa dengan sikap Kak Laura yang seperti itu. Kenapa sekarang Kakak merasa lelah dengan Kak Laura."
Barra pun mulai mengatur nafas nya.
"Ntah lah, di kehamilan Laura yang ke dua rasa simpatik rasa sayang itu seperti pudar tidak seperti dulu ketika Laura hamil anak pertama."
Gisella merasa sangat sedih sekali ketika mendengar curahan hati Barra.
Gisella pun merasa sangat bersalah sekali, jika dia tidak menikah kontrak dengan Barra. Mungkin rumah tangga Laura tidak akan seperti ini.
"Kak Barra, aku minta maaf yaa kaa. Mungkin jika aku tidak mengikuti permintaan Kak Laura dengan pernikahan kontrak ini rumah tangga Kakak tidak akan seperti ini."
Barra tersenyum ketika melihat wajah Gisella yang sedih.
"Aku tidak pernah menyesal pernah menikah dengan kamu Gisella Reviska, kamu yang telah memberikan aku bidadari cantik Mutiara Belinda. Terimakasih banyak ya Gisella."
Rossalinda mengetuk pintu dan mereka berdua pun langsung terdiam ketika melihat Rossalinda masuk ke dalam ruangan nya.
"Mama Rossa," ucap Gisella dengan suara yang bergetar.
"Barra, ada apa kamu selalu menemui Gisella. Bagaimana dengan kondisi Laura?. Apakah dia baik-baik saja? "
Barra merasa sudah tidak ada lagi yang di sembunyikan oleh Barra.
"Laura sekarang sedang hamil muda Mam, Laura sekarang sedang hamil anak ke dua."
Ekpresi wajah Rossalinda terlihat sangat biasa saja ketika mengetahui bahwa Laura sedang hamil.
"Mama Rossa akan bertambah cucu dan mungkin nanti nanti dia yang mengisi kebagian di dalam rumah besar itu."
Gisella mencoba untuk mencairkan suasana tapi Rossalinda masih saja terdiam.
"Barra kenapa kamu sering sekali bertemu dengan Gisella,? apakah Laura mengetahui hal ini. Kamu tau kan jika Laura sampai tau dia pasti akan membuat Gisella sakit hati dengan ucapan nya."
Barra hanya bisa terdiam karena dia memang merasa salah.
"Jika kamu merasa nyaman dengan Gisella, selesai dulu hubungan pernikahan muu. Ingat Barra yaa Gisella sudah bukan lagi istri kamu dia mantan istri kamu. Jadi kamu harus berjaga jarak dengan Gisella kasihan Gisella selalu saja mendapatkan ancaman dari Laura."
Rossalinda pun memilih untuk pergi dari ruangan Gisella.
Gisella melihat jika Rossalinda sudah sangat tidak peduli dengan Laura.
"Yasudah yaa Kak Barra, aku pulang dulu yaa. Aku sangat merindukan Tiara."
Gisella pun langsung berlari keluar dari ruangan nya.
Sehingga Barra hanya sendirian di ruangan Gisella.
"Benar apa yang Mama katakan tapi aku tidak mungkin berpisah dengan Laura di saat kondisi Laura yang sedang hamil."
Barra pun pergi dari ruangan tersebut dan melihat Gisella yang di jemput oleh Rivan.
"Dokter Rivan menjemput Gisella, dan Gisella pun tidak menolak permintaan itu. Apakah Gisella sudah mempunyai perasaan terhadap Gisella."
Hari Barra merasa sangat hampa sekali ketika melihat hal tersebut.
__ADS_1
"Walaupun aku tidak bisa mendapatkan Gisella, setidaknya aku bisa mengobrol dengan nya dan mengurus Tiara bersama-sama."
Barra masuk ke dalam mobil dia memilih untuk pulang ke Apartemen nya.
Di perjalanan menuju Apartemen Barra merasa sangat lelah sekali ketika dia harus kembali ke Apartemen nya.
Barra membuka pintu Apartemen nya dia melihat Laura yang belum sampai.
"Laura belum sampai, akhirnya aku bisa tenang untuk beristirahat."
Barra membaringkan tubuh nya di atas kasur dan mulai memejamkan mata nya untuk beristirahat.
Baru saja ingin merasakan kenikmatan tidur tanpa gangguan.
Terdengar suara seperti sedang menutup pintu depan suara yang sangat keras sekali.
"Ahhhhhhh, Gisella kamu menyebalkan sekali sihh. Sekarang kamu mau merebut posisi kosmetik kuu ihhhhh."
Barra langsung membuka mata nya ketika dia mendengar suara teriak-teriak Laura.
"Astagaaaa, tidak bisa kah dia bersikap baik dan tidak selalu marah-marah seperti itu."
Akhirnya dengan sangat terpaksa Barra pun beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan untuk menghampiri Laura.
"Laura Renita, bisakah kamu tidak berteriak-teriak kencang seperti ini?. Sangat menggangu sekali waktu istirahat suami kamu yang pulang dari kantor kelelahan lapar sedang kan istri nya tidak ada rumah. Di saat suami nya ingin beristirahat kamu datang dengan kebisingan."
Laura merasa tambah kesal dengan Barra.
"Kamu Mas, untuk apa sih kamu segala mempromosikan produk shampo milik Gisella dan sekarang produk shampo itu sudah ada di peringkat ke dua. Kamu tidak pernah mempromosikan produk skincare kosmetik aku menyebalkan sekali sih kamu."
Laura begitu sangat cemburu sekali dengan Gisella.
"Memang salah aku membantu Gisella,? seharusnya kamu yang lebih baik lagi. Kamu merasa takut tersaingi oleh adik kandung kamu? mungkin produk shampo milik Gisella itu jauh lebih bagus."
Barra sangat pusing sekali setiap dua bertemu dengan Laura dia selalu saja bertengkar dan bertengkar.
"Salah kamu Mas, karena aku istri kamu Mas bukan Gisella. Jadi kamu tidak boleh seperti itu kepada Gisella."
Barra membalikkan badannya dan menghampiri Laura.
"Kenapa aku membuat mempromosikan produk shampo milik Gisella,? karena usaha ini akan menjadi masa depan untuk Tiara nanti anak ku dengan Gisella. Gisella berjuang sampai bisa seperti ini karena dia ingin bisa membuat perekonomian dia lebih baik."
Barra menatap wajah Laura dengan serius sekali.
"Gisella tidak pernah mau menerima uang dari kuu dan juga Mama, sedangkan Tiara itu adalah penerus perusahaan besar."
Laura sendiri di Apartemen.
Laura membiarkan Barra pergi meninggalkan nya, dia begitu sangat marah sekali dengan apa yang sudah di katakan Barra kepada nya.
"Aku harus menyuruh Rivan agar dia bisa menikah dengan Gisella, jika Gisella menikah dengan Rivan maka tidak akan lagi ada permasalahan di rumah tangga ini."
Laura memilih untuk pergi langsung menemui Rivan di Apartemen nya, sedangkan Rivan sedang bersama dengan Gisella.
Gisella ingin sekali menayakan tentang Kenzo kepada Rivan tapi dia tidak tahu harus bagaimana acara mengawali pembicaraan nya.
"Hmmmmm, Dokter Rivan. Bagaimana jika Dokter Rivan mengantarkan aku dulu ke Rumah Sakit Sejahtera ke Dokter Specialis Anak."
Rivan sangat terkejut sekali ketika Gisella yang ingin menemui Dokter Specialis Anak.
"Ada apa kamu ingin bertemu dengan Dokter Specialis Anak Gisella,? memang nya Tiara sedang sakit yaa."
Gisella harus tetap bersikap tenang di hadapan Dokter Rivan.
"Begini Dokter Rivan, aku ingin sekali memberikan yang terbaik untuk Tiara. Aku ingin di rumah ada stok obat untuk Tiara yaa contoh nya obat penurun panas yang ampuh gitu dari Dokter Specialis Anak yang terbaik di Rumah Sakit Sejahtera. Supaya aku tidak terlalu panik jika tiba-tiba saja Tiara demam di rumah."
Rivan sempat mencurigai Gisella yang mendengar pembicaraan nya bersama dengan Suster di telephone tapi setelah mendengar penjelasan Gisella yang logis.
Rivan pun dengan senang hati dia mau mengantarkan Gisella ke Rumah Sakit Sejahtera.
"Baiklah Gisell, akan aku antar kan."
Gisella begitu sangat bahagia sekali semoga saja dia bisa mengetahui siapa itu Kenzo.
Gisella dan Dokter Rivan sampai di depan Rumah Sakit Sejahtera, dan Dokter Rivan berjalan menuju ruangan Dokter Specialis Anak yang terbaik.
"Dokter Rivan saja yang meminta resep obat nya, aku menunggu di luar bagaimana supaya lebih cepat mendapatkan resep obat nya."
Rivan pun mengikuti apa yang di katakan oleh Gisella ketika Rivan masuk ke ruangan pribadi Dokter Specialis Anak yang kebetulan sedang istirahat.
Gisella pun pergi untuk menanyakan ruangan anak atas nama Kenzo.
Gisella pun akhirnya mengetahui nomor kamar nya.
"Beruntung sekali aku nama Kenzo yang di rawat di sini hanya ada satu, jadi aku bisa dengan cepat untuk mendapatkan nomor kamar nya."
Gisella pun langsung berlari dengan cepat untuk mencari nomber kamar tersebut.
__ADS_1
Tepat di depan pintu tersebut, Gisella pun langsung melihat dari balik kaca pintu ruangan.
Dia melihat bayi lelaki itu yang seperti seumur dengan Tiara.
"Seperti nya, dia seumuran dengan Tiara deh dia sekitar dua bulan. Kenapa Dokter Rivan mempunyai anak asuh yang masih sangat bayi yaa."
Selesai mendapatkan resep obat nya, Rivan pun langsung mencari keberadaan Gisella yang tidak ada di ruangan tunggu.
"Gisella pergi ke mana dia yaa, Astagaaaa Rumah Sakit Ini sangat luas sekali sehingga tidak mudah mencari tempat Gisella kecuali kita tidak mempunyai handphonenya."
Rivan pun langsung menghubungi nomer handphone Gisella tapi Gisella mengabaikan nya.
Dan ternyata ada Dokter yang mau memeriksa kondisi Kenzo.
Membuat suster yang ada di dalam ruangan pun langsung keluar.
Terlihat sekali wajah sedih Suster tersebut dan Gisella yang merasa kan jiwa seseorang ibu pasti sangat sedih sekali ketika melihat anak nya harus di infus dan di rawat di Rumah Sakit padahal usia mereka yang masih muda.
Gisella mencoba untuk menghampiri Suster tersebut, menanyakan tentang kondisi Kenzo.
"Maaf yaa Suster, itu anak nya sakit apa yaa?. Seperti nya seumuran dengan anak perempuan saya."
Suster tersebut melihat wajah Gisella dia di larang untuk memberikan informasi tentang Kenzo kepada siapapun.
"Panas turun naik dan membuat nya harus di rawat inap."
Suster tersebut mencoba untuk menghindari Gisella dan Gisella pun menyadari nya.
Gisella mencoba diam dan menjauhi Suster tersebut dan sampai akhirnya Rivan pun menemukan Gisella.
"Astagaaaa Gisella, akhirnya kamu ketemu juga. Meresahkan sekali kamu Gisell."
Suster tersebut sangat terkejut sekali melihat Dokter Rivan di hadapan nya.
Dokter Rivan pun terdiam ketika melihat Suster Mirna dan kamar rawat Kenzo.
Gisella pun memperhatikan mereka berdua, tapi ekpresi wajah mereka berdua seperti hanya terkejut saja.
Mereka berdua tidak saling sapa sama sekali seperti tidak saling mengenal.
Dokter Rivan pun langsung menghampiri Gisella, dia Gisella pun tersenyum manis kepada Dokter Rivan.
"Aku tadi melihat anak yang sedang di rawat di ruangan itu, aku melihat dia seperti seumuran dengan Tiara dan aku juga melihat wajah Suster itu seperti sangat sedih sekali."
Rivan pun langsung memegang tangan Gisella.
"Ayo kita pulang sekarang yaa, kasihan Tiara sudah menunggu kedatangan Ibu nya di rumah."
Gisella pun akhirnya pergi dengan belum mendapatkan informasi tentang siapa itu Kenzo.
Handphone Rivan berdering kencang sekali dia melihat itu adalah panggilan telephone dari Laura.
Rivan begitu sangat terkejut sekali ketika Laura menelephone nya, tapi dia tidak mungkin untuk menjawab panggilan telephone karena dia sedang bersama dengan Gisella.
"Oh iyaa Gisella ini resep obat demam batuk pilek juga untuk Tiara, semoga saja Tiara cocok tapi aku rasa ini obat sangat bagus sekali."
Gisella pun mengambil resep obat tersebut.
"Terimakasih banyak yaa Dokter Rivan."
Handphone Rivan terus saja berdering kencang dan Rivan hanya mengabaikan nya saja.
"Dokter Rivan seperti nya itu panggilan telephone yang sangat penting sekali deh, berdering kencang berkali-kali."
Rivan pun dengan sangat terpaksa menonaktifkan handphone nya
Dan Laura pun sangat marah sekali ketika panggilan telephone tidak di jawab.
"Rivan, kenapa sih dia tidak menjawab panggilan telephone dari aku. Sudah hampir satu jam aku berada di depan pintu Apartemen nya."
Laura merasa sangat kesal sekali dia yang memang sebelumnya sudah kesal dengan Barra sekarang harus juga di buat kesal oleh Rivan.
Rivan mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.
Sehingga membuat Gisella merasa sangat ketakutan sekali.
Akhirnya Gisella pun sampai di depan rumah nya, dengan nafas nya yang sesak sekali.
"Maafkan aku yaa Gisella, aku sangat terburu-buru sekali yaa maafkan yaa."
Rivan pun langsung menjalankan kembali mobil nya dengan kecepatan yang tinggi sekali.
"Apasih yang sedang dia kejar, kenapa sangat aneh sekali sih."
Gisella pun langsung berjalan menuju ke rumah nya dan kedatangan Gisella pun langsung di sambut manis oleh Tiara.
"Tiara sayaaaaang, ibu sangat merindukan kamu Nak."
__ADS_1
Gisella pun langsung memeluk erat Tiara.