Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (114)


__ADS_3

Gisella kembali ke rumah nya dengan wajah yang cape sekali.


"Gisella, besok aku jemput kembali kamu yaa. Karena besok adalah jadwal kamu cek kandungan."


Gisella merasa jika Laura di bawa ke rumah sakit yang dan dia pun memilih untuk pergi sendiri karena ingin melihat kondisi Laura.


"Tidak usah Rangga, besok aku pergi sendiri saja yaa. Karena aku ingin melihat Kak Laura dia pasti berada di rumah sakit itu juga."


Rangga pun mengikuti apa yang di katakan oleh Gisella.


"Baiklah Gisella, kamu hati-hati yaa. Aku selalu menghawatirkan kamu."


Gisella pun tersenyum manis kepada Rangga.


"Kamu juga hati-hati yaa bawa mobil nya, jangan perlahan saja."


Riana melihat Gisella yang semakin dekat dengan Rangga, Riana sangat hawatir jika mereka kembali bersama karena keluarga Rangga yang sudah sangat kecewa dengan Gisella.


Gisella pun membuka pintu dan melihat ibu nya sudah menunggu kedatangan nya.


"Gisella, kamu sudah pergi ke saja dengan Rangga. Gisella ibu rasa kamu jangan terlalu dekat dengan Rangga karena Rangga kelihatan sekali masih mempunyai harapan sama kamu."


Gisella langsung duduk dia terlihat sangat kelelahan sekali.


"Aku tadi berniat untuk pergi ke rumah Kak Barra, tapi ternyata Kak Laura pingsan di bawa ke rumah sakit."


Riana begitu sangat terkejut sekali ketika dia mendengar Laura yang pingsan.


"Lalu bagaimana sekarang dengan kondisi Kakak kamu Gisella,? apakah dia baik-baik?."


Riana terlihat sangat hawatir sekali.


"Aku tidak tahu Buu, aku belum melihat nya. Seperti nya Kak Laura di rawat di RS yang biasa aku periksa kandung."


Riana langsung berniat untuk bersiap-siap pergi.


"Kalau begitu ayah dan ibu akan pergi ke rumah sakit yaa, kamu istirahat dulu saja. Besok saja kamu pergi ke sana nya."


Riana pun langsung meninggalkan Gisella yang sedang duduk kelelahan.


"Hmmm, kenapa selalu saja ada kendala di saat aku ingin mengakhiri pernikahan kontrak ini."


Gisella pun memilih untuk beristirahat di kamar nya.


Gisella melempar tas nya ke atas kasur nya dan tiba-tiba saja perut Gisella terasa sangat kencang sekali.

__ADS_1


"Astaga, ada apa dengan perut ku ini yaa. Kenapa rasanya seperti kencang sekali."


Gisella membaringkan tubuh nya di kasur dia terus mengelus perut nya.


"Seperti nya aku yang terlalu cape dan membuat perut ku kencang dan keram seperti ini, lebih baik aku beristirahat saja."


Riana datang ke kamar Gisella untuk berpamitan pergi.


"Gisella ibu pergi dulu yaa sayang, kamu hati-hati ya di rumah. Jika terjadi sesuatu langsung hubungi ibu saja yaa sayang."


Gisella tersenyum manis kepada ibu nya sambil mengelus perut nya yang terasa sangat kencang sekali.


"Iyaa Buu, aku baik-baik saja kok Buu. Bilang kepada Kak Laura mungkin besok aku akan ke sana karena besok adalah jadwal cek kandungan ku."


Gisella bersalaman dengan Ibu nya.


"Iya sayang nanti ibu sampai kan kenapa Laura."


Riana pun pergi meninggalkan kamar Gisella dia langsung pergi menuju ke rumah sakit.


"Bu, kenapa dengan Laura. Ayah sangat hawatir sekali apalagi dengan kondisi kehamilan nya."


Riana pun merasakan hal yang sama dia berharap semoga semua nya baik-baik saja.


Laura melihat Barra yang mencium tangan nya dan mengelus perut nya.


Masih merasakan pusing yang luar biasa, Laura pun bertanya kepada suaminya.


"Mas, apa yang sebenarnya terjadi dengan aku. Kenapa aku sekarang berada di rumah sakit."


Suara Laura terdengar sangat serak sekali sehingga membuat Barra sangat hawatir sekali.


"Laura ketika kamu turun dari mobil kamu tiba-tiba saja pingsan, dan aku langsung membawa kamu ke rumah sakit."


Seketika Laura pun langsung hawatir dengan kandungan nya.


"Lalu bagaimana dengan kondisi kehamilan ku Mas,? bayi kita baik-baik saja kan Mas."


Laura terlihat sangat hawatir dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kandung mu baik-baik saja tapi tensi darah kamu sangat tinggi sekali Laura dan itu cukup bahaya. Kamu jangan terlalu banyak pikiran yaa kamu harus selalu happy yaa sayang."


Barra mengelus rambut panjang Laura, tapi Laura merasa dia tidak mungkin bisa selalu happy dalam keadaan seperti ini.


Laura terlihat seperti melamun sedang membayangkan sesuatu, tapi tatapan mata nya yang kosong dan berkaca-kaca.

__ADS_1


Riana pun akhirnya datang ke rumah sakit dan menemukan ruangan Laura.


Laura seketika terkejut sekali melihat kedua orang tua yang datang untuk menjenguk nya.


Riana langsung berlari menghampiri Laura dan memeluk erat Laura.


"Maafkan Buu yaa Naak, maafkan ibu."


Riana merasa sangat menyesal sekali karena sebelumnya mereka berdua berdebat terlebih dahulu.


"Kenapa ibu harus meminta maaf kepada kuu Buu,? semoga memang sudah takdir nya harus seperti ini."


Barra memilih untuk pergi membiarkan Laura bersama dengan kedua orang tua nya.


Barra keluar dari ruangan Laura dia lebih memilih untuk menunggu di luar.


"Laura, Maafkan Gisella yang tidak bisa datang ke sini yaa. Mungkin besok dia akan ke sini karena besok adalah jadwal cek kandungan nya."


Laura pun hanya tersenyum saja ketika mendengar perkataan tersebut.


"Kenapa kamu bisa pingsan seperti ini,? apakah kamu kurang makan Laura?. Laura kamu harus makan yang banyak agar kamu banyak tenaga dan tidak mudah sakit seperti ini."


Riana melihat Laura yang terlihat sangat kurus sekali.


"Badan mu begitu sangat kurus sekali Nak, dan seperti nya kamu tidak mengalami kesulitan untuk makan kamu tidak seperti Gisella yang selalu merasakan mual muntah yang berlebihan di pagi hari."


Laura melirikan mata nya kepada Ayah nya, dia seperti ingin bercerita kepada Ayah nya.


"Buu, bisakah ibu membiarkan aku berdua bersama dengan Ayah saja. Aku merasa sangat nyaman sekali ketika bercerita dengan Ayah."


Riana merasa jika Laura berpikir ibu nya yang lebih berpihak kepada Gisella.


Laura merasa jika ibu nya yang lebih menyayangi Gisella bukan dirinya.


Dengan berat hati Riana pun langsung pergi dari ruangan Laura.


"Baiklah, ibu pergi sekarang juga Laura."


Riana berjalan menuju pintu dia menutup rapat pintu tersebut.


Barra yang sedang duduk pun terkejut melihat Riana keluar dari ruangan tersebut.


"Laura lebih memilih untuk bercerita dengan Ayah nya, seperti nya Laura berpikir jika Ibu lebih sayang dengan Gisella dari pada dirinya."


Riana pun duduk di sebelah Barra dengan wajah yang sangat sedih sekali.

__ADS_1


"Emosi Laura sangat tinggi sekali sehingga tensi darah nya pun tinggi, dia harus bisa menurunkan tensi darah nya. Jangan sampai tensi darah Laura selalu tinggi itu sangat bahaya'dengan kehamilan nya."


Riana pun akhirnya mengetahui apa penyebab dari Laura harus di rawat di Rumah Sakit.


__ADS_2