
Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil untuk menuju ke rumah Barra.
Di perjalanan terlihat sekali Gisella tampak sangat gugup.
Laura terus saja memperhatikan Gisell, dia merasa Gisell takut menghadapi ibu mertua nya.
"Gisell, kamu kenapa sih. Seperti tidak tenang seperti itu. Apakah kamu merasa tidak enak badan lagu ?."
Gisell menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dia tidak tahu harus berkata apa kepada Laura.
"Kamu tenang saja yaa, di rumah nggak ada Mama Rossa. Kita hanya bertiga saja."
Gisell merasa sangat tenang sekali ketika Laura mengatakan hal tersebut, dia seperti mulai bisa bernafas kembali.
"Kak, jika nanti aku menikah dengan Kak Barra. Apakah akan tetap tinggal di rumah itu kak ?."
Pertanyaan Gisell membuat Laura semakin yakin jika adik nya tersebut itu tidak nyaman dengan kehadiran Mama mertua nya.
"Seperti nya jika kamu sudah hamil, kamu harus tinggal di sana. Supaya kamu di perhatikan oleh Mama Rossa dari semua nya karena dia pasti ingin yang terbaik untuk cucu nya."
Gisell kembali terdiam ketika mendengar hal tersebut, belum juga apa-apa dia sudah merasakan jika nanti Mama Rossa pasti sangat overprotektif sekali kepada nya.
"Kamu tenang saja yaa, Kakak pasti akan menemani kamu koo."
__ADS_1
Laura memegang erat tangan Gisella dan mereka pun akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumah mewah tersebut."
Gisella pun langsung membuka pintu mobil nya dan menunggu Laura untuk masuk ke dalam secara bersamaan.
Barra menunggu mereka masih duluan dia masih berada di dalam mobil nya.
Laura pun membalikkan badannya dan melihat Barra yang masih diam saja.
"Ayoo Gisell kita langsung masuk saja yaa "
Gisell mengikuti apa yang di perintahkan oleh Laura, mereka berdua pun masuk ke dalam rumah tersebut.
Laura langsung membuka Gisella ke ruangan yang sudah di siapkan berbagai macam gaun putih berwarna putih.
Gisell merasa sangat terkejut sekali ketika melihat gaun-gaun indah seperti di negeri dongeng saja.
Laura memilih untuk meninggalkan Gisella sendiri dan dia pun langsung bertatap wajah dengan suami nya.
Barra memandangi serius wajah istri nya tersebut.
"Aku minta maaf atas perilaku aku dan perkataan aku kepada kamu Mas, maafkan aku yaa Mas."
Laura memegang tangan Barra dia merasa sangat menyesal sekali karena terus saja memaksa Barra
__ADS_1
"Ini tidak akan lama kok Mas, mungkin hanya satu tahun saja. Dan setelah itu kita akan hidup bahagia bersama dengan anak kita Mas."
Laura terus saja menyakinkan suami nya tapi Barra yang dasar nya tidak mempunyai perasaan terhadap Gisella merasa sangat ragu apakah mereka akan secepatnya mempunyai keturunan seperti yang di inginkan oleh Laura.
"Yaa, semoga saja yaa sayang seperti yang kamu inginkan."
Laura pun langsung menarik tangan suaminya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut untuk menemani Gisella.
Barra dengan sangat terpaksa harus mengikuti apa yang di inginkan oleh istrinya tersebut.
Mereka berdua pun masuk ketika Gisella sedang memakai salah satu gaun putih yang dia pilih.
Gisella terlihat sangat cantik sekali apalagi dia mungkin terbilang masih sangat muda.
Laura pun sangat terpesona sekali melihat kecantikan adik nya tersebut dan langsung menghampiri Gisella.
"Kamu cantik sekali Gisella, kamu cantik seperti berbie hidup."
Gisell hanya bisa tersenyum manis ketika Laura mengatakan hal tersebut.
"Kamu suka dengan gaun pengantin yang ini Gisell,? kalau begitu Mas Barra juga harus memakai jas pasangan gaun tersebut."
Laura membawa kan jas tersebut kepada suaminya, dan Gisella memperhatikan ekpresi wajah Barra ketika Laura membawa kan jas pernikahan tersebut.
__ADS_1
Barra hanya terdiam saja tanpa ekspresi ketika melihat jas pengantin tersebut.