
Laura udah sejak dari pagi dia tidak ada di kamar nya, Dokter Rivan semakin hawatir dengan Laura
"Kemana Laura,? tidak bisa nya dia sudah tidak ada di kamar nya dan ini masih jam 6 pagi. Astaga Laura aku rasa kamu yang membuat Gisella hilang.'
Ketika Dokter Rivan hendak keluar dari kamar nya dia menyuruh Suster Mirna untuk menjaga Kenzo.
"Suster Mirna, jaga baik-baik Kenzo. Saya akan pergi untuk mencari Gisella yang menghilang begitu saja di saat besok adalah hari pernikahan dengan Barra. Saya hawatir ini adalah perbuatan Laura."
Dokter Rivan pun langsung pergi dari Apartemen ketika dia hendak pergi dia melihat mobil Barra.
Dan Dokter Rivan pun menunggu Barra untuk menghampiri nya.
"Aku ingin sekali bertemu dengan Laura, apakah dia ada di Apartemen mu itu?."
Barra melihat ekpresi wajah Dokter Rivan yang seperti sedang panik sekali.
"Laura sudah tidak ada di kamar nya sejak jam 6 pagi dan sekarang aku akan mencari nya ke kantor nya."
__ADS_1
Barra menghelakan nafas panjang nya.
"Alesan ku belum melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian, karena aku tidak mau berita ini sampai ke media massa dan pelaku nya itu adalah Laura."
Dokter Rivan pun merasa sangat kebingungan sekali apa yang harus dia lakukan.
"Seperti nya aku akan pergi ke Apartemen ku dulu, dan kamu pergi ke kantor Laura saja Barra."
Mereka berdua pun langsung berlari masuk ke mobil mereka masing-masing.
Laura berani membayar orang hanya agar rencana nya berjalan dengan lancar, Gisella di jemput paksa oleh orang suruhan Laura dan mengantarkan nya ke sebuah rumah kosong.
"Terimakasih banyak yaa atas kerjasama nya, aku membayar kalian berdua dengan bayaran yang fantastis kan."
Laura pun masuk ke dalam rumah kosong itu dan dia melihat Gisella yang di tutup kepalanya dan Laura pun membuka penutup kepala tersebut sehingga Gisella bisa melihat wajah Laura dengan sangat jelas sekali.
Gisella menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menagis dia tidak percaya Laura bisa melakukan ini semua terhadap nya.
__ADS_1
"Maafkan aku yaa Gisella, aku yang terlalu berlebih-lebihan mencintai mantan suami ku. Jadi aku tidak mau kamu menikah dengan Barra."
Laura mengeluarkan benda tajam yang ada di dalam tas nya, Laura pun terus saja berjalan menuju ke arah Gisella sampai akhirnya pisau tersebut ada di depan mata Gisella.
Gisella tidak sedikitpun memejamkan mata nya, dia ingin melihat sendiri betapa kejam nya Laura melakukan itu semua terhadap nya.
"Kamu begitu sangat berani sekali yaa Gisella, kamu tidak memejamkan sedikit pun mata mu itu."
Air mata Gisella terus mengalir deras membasahi ke dua pipi nya tapi tidak sedikit pun Laura mempunyai rasa kasihan kepada Gisella.
"Sebelum kamu menghembus nafsu terakhir mu, apa yang ingin kamu katakan kepada ku. Pesan terakhir untuk kuu."
Laura membuka lakban warna hitam yang menempel di bibir Gisella.
"Apapun yang kamu lakukan kepada ku, hanya karena satu lelaki yang sudah tidak mencintai mu lagi. Kamu rela untuk menghabisi nyawa adik kandung mu sendiri, apa yang sebenarnya ada di pikiran mu sekarang."
Setelah mendengar perkataan dari Gisella, Laura pun langsung memegang erat pisau menuju ke arah perut Gisella.
__ADS_1