Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (81)


__ADS_3

Setelah Laura menonaktifkan handphone nya untuk sementara dia ingin sekali menenangkan pikiran sekarang, Laura ingin sekali rumah tangga nya damai dan bahagia ke depan nya.


"Ketika aku mempunyai semua nya, ketika aku bisa membeli semua nya dengan uang-uang kuu tapi aku tidak memberikan keinginan suamiku untuk bisa menggendong bayi dari rahim ku sendiri."


Laura menangis histeris di dalam mobil nya.


"Lebih baik aku pulang saja, besok saja aku menemui Dokter Rivan."


Laura pun langsung mengendarai mobil nya menuju ke rumah nya,


Barra merasa sangat kesal sekali ketika handphone Laura tidak aktif.


"Sedang apa dia sampai handphone saja di nonaktifkan, sebenarnya aku ingin mengajak untuk makan malam. Tapi yasudah memang tidak harus ada yang di perbaiki lagi sudah jalan nya seperti ini."


Barra pun memilih untuk pulang ke rumah nya dan membatalkan rencana makan malam nya.


Laura sampai terlebih dahulu ke rumah dia pun langsung berjalan dengan cepat menuju ke kamar nya.


"Ada apa lagi dengan Laura, dia seperti sangat terburu-buru sekali."


Rossalinda berdiri di depan kamar Laura dan Barra pun datang.


"Mama, sedang apa Mama berdiri di depan kamar Barra?."


Rossalinda sudah merasa sangat malas sekali untuk membahas tentang Laura di depan Barra.


Rossalinda pun memilih langsung pergi begitu saja.


Barra membuka pintu kamar nya dia melihat Laura yang sudah berada di atas ranjang dengan selimut yang sampai menutupi wajahnya.


Barra memilih untuk tidak banyak bertanya, dia memilih langsung mandi dan bersiap untuk beristirahat.


Keesokan harinya nya.


Gisella sudah bisa pulang ke rumah nya dia hanya di temani oleh ibu nya saja tapi dia terlihat sangat senang sekali.


"Buu, aku akan mendukung Kak Laura jika memang dia ingin bisa hamil dan aku pun akan mulai membuka lembaran baru aku. Dan semoga saja dengan ini aku dan Kak Laura bisa kembali seperti dulu."


Gisella merasa jika dirinya ingin berdamai dengan Laura dia merasa tidak mau hubungan menjadi seperti ini dengan Kakak kandung nya sendiri.


"Baiklah sayaaaaang, tadi ibu memang sangat emosional sekali dengan Kakak kamu. Dia memperlakukan kamu seperti itu ibu tidak tega melihat nya."


Gisella pun bersiap-siap untuk pulang dan menuju ke bagian administrasi dulu.


"Sayang, tunggu di sini yaa. Ibu mau menyelesaikannya dulu administrasi setelah itu kita langsung pulang saja ibu sudah memesan taksi online untuk kita."

__ADS_1


Gisella hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dia pun memegang handphone dan ternyata ada pesan masuk dari Barra.


"Kak Barra mengirimkan pesan untuk aku."


Gisella pun langsung membuka pesan tersebut.


*Gisella bagaimana kabar kamu,? apakah kamu baik-baik saja kan. Kakak sangat menghawatirkan kondisi kamu.*


*Aku baik-baik saja Kak, aku sehat. Sekarang aku sedang ingin membantu ayah dan ibu untuk menjaga toko bunga milik kak Laura.*


*Kamu tidak akan kembali lagi ke rumah,? kamu ingin tetap tinggal bersama dengan orang tua kamu?.*


*Iyaa Kaa, aku ingin di sini bersama dengan Ayah dan Ibu.*


Gisella memilih untuk memasukkan handphone nya ke tas nya, dan melihat ibu nya yang sudah selesai.


"Ayoo sayaaaaang, seperti nya taksi online kita sudah menunggu."


Riana mendorong Gisella di kursi roda untuk menuju ke taksi online yang sudah di pesan nya.


Ketika Riana akan masuk ke dalam mobil nya, dia melihat Rangga yang keluar dari mobil nya dan menghampiri Gisella.


"Erlangga, lebih baik kamu langsung ke rumah saja yaa. Ini taksi online sudah mau berangkat."


"Gisella akhirnya kamu sudah sembuh juga, oke langsung berangkat ke rumah Gisella."


Rangga pun langsung mengikuti mobil yang di kendarai oleh Gisella.


"Kak Laura itu kan kaya raya, kenapa sih dia nggak ngasih mobil buat keluarga."


Rangga pun sampai di depan rumah Gisella dan langsung turun dari mobil membantu Gisella turun dari mobil nya.


"Gisella, kamu masih lemes kan lebih baik aku gendong kamu aja yaa."


Gisella yang awalnya menolak tapi akhirnya dia pun mau di gendong oleh Rangga.


Riana hanya bisa melihat kebaikan Rangga kepada Gisella yang tidak berubah seperti dulu.


"Yaa Tuhan, aku terharu melihat nya. Rangga masih mau bersama dengan Gisell walaupun Gisell sudah menghianati perasaan nya tapi Rangga masih baik kepada Gisella."


Riana pun menyusul Gisella dan Rangga tapi dia berniat untuk membuatkan minuman untuk Rangga.


Tatapan mata Gisella begitu sangat tajam sekali memandangi wajah Rangga.


Rasa penyesalan yang besar ada pada diri Gisella kepada Rangga.

__ADS_1


Rangga sampai di kamar Gisella dan langsung membaringkan nya di tempat tidur.


"Rangga terimakasih banyak kamu masih sangat baik sekali sama aku."


Rangga ingin sekali memeluk erat tubuh Gisella di dalam hati nya dia sangat merindukan Gisella.


"Kamu banyak istirahat yaa, aku nggak mau kamu sakit lagi yaa."


Rangga membelai rambut panjang Gisella sambil tersenyum manis.


Riana pun datang dengan minuman nya untuk Rangga.


"Terimakasih banyak Tante, saya minum yaa."


Rangga langsung menghabiskan minuman nya tersebut.


"Erlangga, semoga kamu mendapatkan wanita yang baik cantik yang lebih-lebih dari Gisella."


Rangga langsung terdiam ketika mendengar perkataan tersebut, dia belum bisa melupakan Gisella di hati nya.


"Rangga lebih baik sekarang kamu pulang yaa, aku tidak mau nanti Mama kamu marah karena kamu terus saja bersama dengan aku."


Gisella Mengetahui jika keluarga Rangga yang sangat kecewa sekali terhadap dirinya sehingga menyuruh Rangga untuk segera pulang.


"Baiklah Gisell, kamu cepat sehat kembali yaa."


Rangga dengan berat hati dia sebenarnya tidak mau meninggalkan Gisella dia masih ingin bersama dengan Gisella.


"Hati-hati yaa Erlangga, jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya."


Rangga menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.


Riana pun menutup rapat pintu kamar Gisella.


"Gisella, ibu rasa Erlangga Rangga masih mempunyai perasaan terhadap kamu. Dia masih sangat sayang sekali kepada kamu karena ibu tahu tidak akan mudah berpaling hati begitu saja."


Gisella pun sejujurnya masih mempunyai perasaan terhadap Rangga tapi dia pun harus terus mengingat kan dirinya sendiri jika dia sudah menikah.


"Aku harus bisa melupakan Rangga Bu, sebagai orang yang pernah aku sayang. Karena walaupun jika nanti aku bisa bersama dengan dia lagi keluarga Rangga tidak mungkin bisa menerima kehadiran aku sebagai Gisella yang dulu."


Riana langsung memeluk erat Gisella.


"Kamu sabar yaa sayang, ibu sangat yakin sekali kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Kamu akan bahagia dengan kehidupan kamu yang baru."


Gisella menggangukan kepalanya sambil menangis di pelukan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2