Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #222#


__ADS_3

Barra melihat kondisi Laura dia pun akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia melihat Laura dengan perban di kepala nya.


"Bangun lah Laura, jangan menjadi putri tidur seperti ini. Bangun besok adalah sidang perceraian kita kamu harus bangun."


Barra hanya melihat Laura dia tidak menyentuh Laura sedikit pun.


Barra hanya memilih untuk duduk di kursi sambil memandangi wajah Laura.


"Begitu sangat kuat sekali anak yang ada di dalam kandungan mu Laura, dia tidak pernah mengalami pendarahan kontraksi padahal kandungan ini kamu tidak pernah memeriksa kan nya ke Dokter Specialis Kandungan."


Rivan melihat Barra yang hanya diam saja sambil memandangi Laura dia tidak menyentuh Laura sedikit pun.


"Barra benar-benar sudah tidak peduli dengan Laura, bahkan menyentuh Laura pun dia sudah tidak mau. Laura kenapa kamu ingin mempertahankan pernikahan dengan lelaki yang tidak mencintai kamu."


Rivan pun memilih pergi dari ruangan Laura dia harus pergi pulang karena besok pagi dia ada jadwal praktek.


"Aku merasa tenang ketika Barra yang sudah menemani Laura, setidaknya Laura tidak sendiri di sana."


Ketika Rivan keluar dari Rumah Sakit dia melihat Rossalinda bersama dengan Gisella yang akan datang untuk melihat Laura.


Rivan melihat Gisella dengan ekpresi wajah yang datar ketika melihat dirinya.


"Dokter Rivan, bagaimana dengan kondisi Laura sekarang?. Apakah dia sudah sadar ?."


Dokter Rivan tersenyum manis kepada Rossalinda.


"Laura belum sadar tapi sudah ada Barra di samping nya, sebentar lagi pun Laura pasti akan sadar karena ada Barra."


Gisella yang seperti tidak mau berlama-lama untuk melihat Dokter Rivan dia pun lebih memilih untuk berjalan menuju ke dalam Rumah Sakit.


Dokter Rivan pun memperhatikan sikap Gisella yang menjadi berubah.


"Baiklah, kalau begitu saya akan melihat kondisi Laura di dalam."


Rossalinda berlari untuk mengejar Gisella.


"Ini bukan lagi Gisella yang dulu, Gisella sekali yang jauh lebih berani dari sebelumnya karena sikap Laura yang sangat keterlaluan sekali."


Rivan pun akhirnya masuk ke dalam mobil nya, karena dia juga memikirkan kondisi Kenzo di Apartemen nya.


"Kenzo pasti sangat rewel sekali, dia pasti merasakan apa yang mommy nya rasakan. Laura segera sadar kita berdua akan membangun rumah tangga bersama."


Rivan begitu sangat menghawatirkan kondisi Laura dan dia juga berpikir bagaimana cara agar membuat Laura sadar kembali.


"Barra sudah tidak mempunyai perasaan terhadap Laura, dia tidak bisa membuat Laura terbangun kembali. Apakah aku harus membawa Kenzo ke Rumah Sakit agar Laura bisa segera sadar kembali tapi bagaimana mungkin itu terjadi. Aku harus membawa Kenzo di saat tidak ada yang melihat Laura."


Rivan pun mulai memikirkan nya, dia tidak mau Laura sampai meninggalkan nya begitu saja.


Rivan pun akhirnya sampai di depan pintu Apartemen nya dia masuk dan melihat Kenzo yang masih saja menangis.


Rivan pun segera menghampiri Kenzo yang sedang di gendong oleh Suster Mirna.


"Dokter Rivan, Kenzo yang terus-menerus berteriak-teriak dan menagis. Seperti nya Kenzo memang sangat menghawatirkan kondisi Mommy nya dia ingin bertemu dengan Mommy nya."


Rivan pun tersenyum menggendong Kenzo dan mencoba untuk menenangkan Kenzo.


"Sayaaaaang, Papa tahu kamu sekarang sangat menghawatirkan kondisi Mommy kamu yaa sayaaaaang. Iyaa Mommy Laura yang belum bisa menyadarkan diri nya dan semoga saja Mommy Laura baik-baik saja karena dia yang sedang mengandung adik kamu sayaaaaang."


Dokter Rivan mencoba untuk memperlihatkan foto-foto dan video Laura yang ada di handphone nya kepada Kenzo.


Seketika Kenzo pun langsung terdiam mendengar suara Laura yang ada di video, dia tersenyum karena mungkin merasa jika Laura yang sedang mengajak nya mengobrol.


Dokter Rivan merasa sangat terharu sekali ketika melihat Kenzo yang terdiam ketika melihat foto dan video Laura.


"Sayaaaaang, sekarang tidur yaa sayaaaaang. Ini sudah sangat larut malam sekali yaa sayang. Ayo kita tidur yaa sayaaaaang mungkin besok Papa bisa membawa kamu untuk bertemu dengan Mommy Laura."


Dokter Rivan memberikan Kenzo kepada Suster Mirna dia mencoba untuk menenangkan Kenzo dan membuat nya agar bisa tidur dengan nyenyak.


Suster Mirna membawa Kenzo ke kamar dan dia juga membuat kan susu formula untuk Kenzo.

__ADS_1


Suster Mirna merasa sangat kasihan sekali melihat Dokter Rivan, dia sangat tahu perjuangan Dokter Rivan untuk Kenzo dia rela memperlakukan apapun untuk Kenzo.


Kenzo yang terlahir prematur pun membuat Kenzo yang butuh perawatan fasilitas yang mewah agar Kenzo bisa bertahan hidup kembali.


Semua Dokter Rivan lakukan karena tidak mau di sebut sebagai yang membuat anak dari Laura meninggal dunia karena Dokter Rivan tahu jika Laura yang sangat menginginkan anak tersebut.


Suster Mirna akhirnya bisa menidurkan Kenzo dengan cepat dan dia melihat Dokter Rivan yang memilih untuk tidak di sofa.


***


Gisella mencari ruangan Laura dan dia pun akhirnya menemukan nya, dia melihat Barra yang sedang duduk di hadapan Laura.


Gisella memperhatikan Barra yang tidak bergerak sama sekali dia hanya memperhatikan Laura saja.


Rossalinda pun berada di belakang Gisella, dia melihat Gisella yang sedang memperhatikan Barra.


"Barra sudah tidak mempunyai perasaan terhadap Laura, dia benar-benar ingin berpisah dengan Laura. Rencana perceraian mereka pun dengan berat hati harus di tunda beberapa hari sampai Laura sembuh total."


Gisella pun mencoba untuk membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam untuk menemani Barra.


Gisella menarik kursi sehingga dia bisa duduk berdampingan dengan Barra.


Barra melirikan mata nya kepada Gisella yang juga sedang memperhatikan Laura yang tidak berdaya di area kasur nya.


"Apakah ini yang di nama kan dengan cinta yang sudah mendalam sekali, sampai rela melakukan apapun agar bisa kembali bersama dengan seseorang yang dia cintai."


Gisella melirikan mata kepada Barra.


"Tapi percuma saja dia melakukan hal ini, karena aku yang sudah tidak mempunyai perasaan terhadap Laura. Sekarang aku merasa sangat nyaman sekali dengan wanita yang ada di sebelah ku ini."


Gisella terdiam ketika mendengar perkataan Barra yang semakin nyata terdengar di telinga nya.


"Gisella, aku merasa nyaman sekali bukan hanya karena sekarang tapi kamu yang memang sangat berbeda sekali dengan Laura."


Gisella merasa sangat tidak nyaman sekali ketika Barra yang harus mengatakan itu semua di hadapan Laura yang tidak sadar.


"Kak Barra, lebih baik sekarang jangan mengatakan hal ini di depan Kak Laura yang kondisi nya tidak sadar seperti ini. Sekarang lebih baik kita fokus dengan Kak Laura apalagi dengan bayi yang ada di kandungan nya sekarang ini."


"Mam, aku pulang yaa. Tiara sekarang lebih membutuhkan kuu sekarang dan besok aku baru akan memberitahu Ayah dan Ibu."


Gisella keluar dari ruangan dan Barra pun mencoba untuk mengejar Gisella.


Barra memegang tangan Gisella, dia tidak ingin Gisella pergi sendirian.


"Aku akan mengantar kamu untuk pulang, aku tidak mau kamu pulang sendirian seperti ini. Aku tidak mau melihat nya."


Genggaman tangan Barra yang begitu sangat erat sekali dan Gisella akhirnya luluh dengan perkataan Barra mereka pun pulang berdua bersama.


Gisella merasa dirinya yang begitu sangat jahat sekali ketika yang bersamaan dengan Barra ketika istri nya yang sedang tidak sadar diri.


"Kak Barra, aku ternyata lebih jahat dari Kak Laura. Aku bersama dengan suami yang bukan lagi suami ku tapi mantan suami kuu."


Barra pun mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat rendah sekali, Barra seperti nya sangat menginginkan kebersamaan yang lama bersama dengan Gisella.


"Laura yang jahat sekali dengan mu Gisella, sampai akhirnya aku yang dulu sangat mencintai Laura sekarang langsung tidak mempunyai perasaan terhadap Laura sedikit pun. Aku tidak peduli dan persamaan datar ketika melihat sikap bodoh Laura yang sampai mempertaruhkan nyawa nya hanya karena dia tidak mau menghadiri sidang perceraian kita berdua yang pertama."


Barra memilih untuk menghentikan mobil nya di dekat tanam kota, Barra memejamkan mata nya dia merasa sangat kelelahan sekali dengan perjalanan hidup nya.


"Aku akan melakukan test DNA ketika anak tersebut lahir tanpa sepengetahuan Laura, aku hanya ingin tahu apakah benar anak itu adalah anak ku dengan Laura karena tidak ada rasa simpati ku terhadap kehamilan Laura yang ke dua."


Gisella yang sebelumnya juga meragukan kehamilan Laura yang ke dua tapi dia juga berpikir bagaimana mungkin Laura yang melakukan nya dengan lelaki lain sedangkan dia yang terlihat sangat mencintai Barra.


"Aku hanya berharap yang terbaik saja untuk hubungan rumah tangga kalian berdua, apapun akhirnya itu anak menjadi yang terbaik untuk kalian berdua."


Gisella pun merasa sangat ngantuk berat dia terus saja menguap di hadapan Barra dan Barra pun tersenyum manis melihat Gisella yang seperti sangat mengantuk sekali.


Barra terus saja memandangi wajah cantik Gisella dan membuat Gisella membuka mata nya dan merasa sangat gugup sekali ketika Barra yang terus menerus mendekati nya.


"Kamu cantik sekali Gisella, pantaslah Tiara begitu sangat cantik sekali seperti kamu."

__ADS_1


Gisella seperti salah tingkah ketika Barra yang terus menerus memandangi nya.


"Hmmmmmm perkataan itu membuat ku sedikit gugup sekali, bisakah tidak terlalu dekat memandangi ku nya. Aku takut terjadi sesuatu yang membuat kita berdua tidak bisa menolak nya."


Barra pun tersenyum sambil kembali duduk ke tempat nya kembali.


"Seperti nya apa yang di katakan oleh Kak Laura itu benar yaa, aku ini seorang wanita penggoda. Buktinya sekarang aku sedang bersama dengan suami nya dalam satu mobil di saat dirinya yang sedang tidak sadar diri."


Barra pun memegang tangan Gisella dan langsung mencium nya, Gisella merasa sangat terkejut sekali ketika melihat apa yang di lakukan oleh Barra terhadap nya.


"Apakah perselingkuhan harus di balas dengan perselingkuhan kembali.".


Perkataan Gisella yang terdengar sangat jahat sekali terdengar nya.


"Seperti nya seperti itu, agar dia merasakan bagaimana mana sakit nya di dua kan hatinya ketika dia mencoba untuk memperjuangkan perasaan hati ini yang sering terluka tapi tetap ingin bertahan."


Barra tersenyum manis kepada Gisella dan melanjutkan kembali perjalanan menuju ke rumah nya.


Di perjalanan Gisella pun terlihat sangat menikmati kebersamaan bersama dengan Barra.


Barra yang memang sangat terlihat sangat tampan sekali dan dia juga yang merasa dekat karena mereka berdua yang seumuran.


Akhirnya Barra pun sampai di depan rumah nya.


"Gisella, aku akan kembali ke Apartemen yaa. Dan kamu hati-hati yaa di rumah selalu sabar dan menjaga Tiara besok kamu pergi ke kantor saja yaa."


Barra tetap saja memandangi wajah cantik Gisella yang tersenyum manis kepada nya.




Gisella pun berjalan menuju ke kamar nya dan dia melihat Tiara yang sudah tertidur pulas sekali.


Gisella tersenyum manis melihat Tiara yang sangat mengemaskan sekali.


"Tiara, Ibu tidak tahu kenapa harus ada perasaan seperti ini terhadap ibu dan Papa kamu. Semakin kita berdua dekat semakin kita merasakan kenyamanan yang ada dan ibu tidak tahu apakah perasaan ini salah atau tidak mempunyai perasaan terhadap lelaki yang masih mempunyai seorang istri. Mereka berdua yang belum bercerai atau tidak akan bisa berpisah."


Gisella lebih baik untuk menghentikan halusinasi nya saja karena tidak mau, akan menyesal di akhir nya.


"Sudahlah Gisella hapus semua pikiran mu ini yaa, jangan lagi memikirkan hal yang seperti itu karena itu tidak akan pernah terjadi. Jika kamu bisa sampai menikah dengan Kak Barra mungkin di sebelum hari pernikahan mu tiba hidup mu akan berakhir oleh Kakak mu sendiri.".


Gisella pun memindahkan Tiara agar tidur bersama dengan di kasur yang sama, Gisella ingin sekali memeluk erat Tiara karena itu adalah sebuah kenyamanan yang sangat nyata.


***


Di Rumah Sakit, Laura mulai sadar tapi dia begitu sangat terkejut sekali ketika dia melihat Rossalinda yang sampai tertidur di kursi.


Laura berharap Barra yang menunggu nya, dengan merasa sangat sakit di bagian kepala nya.


"Kenapa bukan suami ku yang menunggu ku, kenapa dia tidak menghawatirkan ku sama sekali. Aku yang mengalami kecelakaan seperti."


Ucap Laura dengan suara yang masih sangat lemas dan bergetar.


Laura pun seketika langsung memegang perut nya dia pun mencoba untuk mengelus perut besar nya.


Dan ternyata masih terasa sekali gerakan aktif bayi di dalam kandungan nya.


"Ahhhhhhh, kamu baik-baik saja sayaaaaang. Astaga Mommy sangat menghawatirkan mu."


Laura mengelus perut besar nya dan dia pun seketika saja mengingat Kenzo, Laura tidak mengerti kenapa dia selalu saja memikirkan Kenzo selalu.


"Kenapa aku merasa punya ikatan batin dengan Kenzo, hanya karena dia yang seumuran dengan Bryan. Tapi Kenzo itu bukan Bryan tapi aku selalu merasa jika Bryan yang masih hidup."


Laura berencana untuk menanyakan secara detail tentang Kenzo kepada Dokter Rivan.


"Apakah Kenzo itu adalah Bryan yang di selamat kan oleh Rivan untuk kuu."


Laura memegang kembali kepala nya dia mulai merasa jika halusinasi nya yang terlalu berlebih-lebihan.

__ADS_1


"Laura jangan sampai kamu memikirkan seperti itu, lebih baik sekarang aku berpura-pura tidur supaya aku tidak harus datang ke persidangan itu besok."


Laura mulai kembali dengan drama nya.


__ADS_2