Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *180*


__ADS_3

Setelah di bersihkan bayi cantik itu pun di berikan pada Gisella.


Gisella masih tidak menyangka jika dia sedang melihat bayi yang sudah lama sekali dia tunggu-tunggu.


Orang tua Gisella begitu sangat bahagia sekali melihat Gisella mengendong bayi nya.


Barra pun tidak bisa menutupi kebahagiaan nya dia terus saja tersenyum melihat Gisella dan putri kesayangannya.


Gisella melihat Barra dari awal perjuangan dirinya melahirkan anak nya.


Gisella merasakan ketulusan hati Barra yang dengan sabar mau menemani proses persalinan nya.


"Kak, mau mengendong nya?."


Gisella menawarkan Barra untuk bisa menggendong bayi nya.


Orang tua Gisella merasa hati Gisella yang mudah luluh tidak seperti keinginan sebelum melahirkan anak ini.


Yang tidak menginginkan anak nya tahu jika Barra itu adalah Ayah nya.


Barra dengan senang hati langsung mengendong bayi cantik nya.


"Sayaaaaang, ini papah nak. Jadi anak yang baik yaa sayang. Sungguh besar sekali pengorbanan yang sudah di lakukan oleh Ibu kamu ketika melahirkan kamu."


Barra mencium kening bayi perempuan tersebut.


Orang tua Gisella lebih memilih untuk pergi menghampiri Gisella dan membiarkan Barra bersama dengan Putri cantik nya.


"Kamu baik-baik saja kan Nak,? kamu tidak merasakan sakit apa-apa kan."


Riana memegang kening Gisella dia memastikan kondisi Gisella baik-baik saja.


"Sakit sudah tidak terasa mereka hilang begitu saja ketika aku melihat bayi cantik kuu Buu."


Riana merasa sangat senang sekali akhirnya dia mempunyai cucu pertama nya dari Gisella.


Tapi seketika juga dia langsung mengingat Laura, bagaimana perasaan Laura jika melihat Barra yang begitu sangat sayang sekali dengan Putri nya.


Rian pun memilih untuk pergi ke luar dia menarik tangan suami nya.


"Sayaaaaang, ibu dan ayah keluar dulu. Silahkan kamu menikmati waktu kebersamaan dengan Barra."


Orang tua Gisella pun keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Gisella bersama dengan putri cantik nya dan Barra.


Barra menghampiri Gisella, dia seperti langsung melupakan rencana makan malam romantis nya bersama dengan Laura.


"Lihat dia putih cantik seperti kamu, Gisella terimakasih banyak. Kamu sudah mengijinkan aku untuk bisa mengendong nya."


Hati Gisella seakan luluh dan melupakan apa yang pernah dia katakan.


"Maafkan aku yang tidak bisa memberikan bayi ini untuk kalian berdua, tapi aku menginginkan jika kalian berdua mau melihat nya."


Barra merasa sangat tersentuh sekali dengan sikap Gisella yang mudah luluh hati nya, berbeda sekali dengan sikap Laura yang tetap saja keras dengan sikap nya.


"Tidak apa-apa Gisella, bisa melihat nya saja . Sudah sangat merasa sangat senang sekali."


Barra terus saja mengendong bayi cantik itu dan tersenyum manis kebahagiaan.


"Aku akan memberikan dia nama Mutiara, aku ingin dia bisa selalu bersinar seperti Mutiara. Dan apakah Kakak mau mencari kan nama belakang nya."

__ADS_1


Barra pun langsung berpikir nama belakang untuk putri cantik nya tersebut.


"Hmmmmm, bagaimana dengan Belinda. Mutiara Belinda. Kita bisa memanggil dengan nama Tiara, Baby Tiara."


Gisella pun tersenyum ketika mendengar nama tersebut.


"Mutiara Belinda, baiklah. Sayaaaaang kamu betah sekali yaa di gendong oleh Papa."


Mendengar Gisella berkata Papa, Barra pun merasa sangat bahagia sekali.


"Yaa, Papa akan selalu merindukan kamu. Walaupun Papa tidak bisa bersama dengan Ibu kamu tapi percayalah Papa akan selalu sayang dan rindu pada muu."


Gisella terdiam ketika mendengar nya, andai saja dia menikah dengan lelaki yang benar-benar menjadi suami nya bukan suami yang hanya hitungan bulan saja.


"Oh iyaa Kaa Barra, bagi dengan Kak Laura. Apakah dia sudah tahu jika aku sudah melahirkan."


Seketika Barra pun langsung mengingat Laura yang sedang menunggu nya di sebuah Restoran.


"Astagaaaa, aku melupakan Laura. Malam ini kita berdua berniat untuk melakukan makan malam bersama tapi seketika aku melupakan."


Barra pun langsung memberikan bayi nya kepada Gisella.


"Gisella, aku mau menghubungi dulu Laura yaa. Sayaaaaang Papa keluar dulu yaa sayaaaaang."


Barra pun dengan terburu-buru keluar dari ruangan Gisella dan orang tua Gisella pun memperhatikan nya.


"Lihat Ayah, Barra kelihatan sangat terburu-buru sekali. Seperti nya di mau menghubungi Laura."


Wajah ke dua orang tua Gisella terlihat sangat was-was sekali dia takut sekali jika Laura marah-marah kepada Barra dan semakin membenci Gisella ketika Gisella bisa melahirkan anak pertama untuk Barra.


Barra pun mencoba untuk menghubungi nomer handphone Laura tapi dia melihat banyak sekali panggilan masuk dari Laura.


Laura masih bersama dengan Rival, Rivan begitu sangat setia untuk menemani Laura.


Dan tiba-tiba saja handphone Laura berdering kencang sekali.


Laura pun melihat itu adalah panggilan telephone dari Barra.


Laura yang merasa sudah malas dia membiarkan panggilan telephone dari Barra.


Rivan yang melihat panggilan telephone dari Barra dia pun langsung mengambil handphone tersebut kepada Laura.


"Jawab lah panggilan telephone nya, mungkin dia akan menjelaskan kenapa dia tidak bisa datang ke sini."


Laura masih saja terdiam dia kelihatan sangat marah sekali.


Dan akhirnya Rivan yang menjawab panggilan telephone tersebut dia mengeraskan suara telephone tersebut.


*Hallo Lauraaaaaaa, Lauraa maafkan aku yang tidak bisa datang ke Restoran itu dan membuat gagal rencana makan malam romantis kita berdua. Aku harus mengantarkan Gisella ke Rumah Sakit dia mengalami kontraksi dan sekarang Gisella sudah melahirkan anak perempuan nya.*


Seketika Laura merasa sesak di dada nya, dia merasa nafas nya tidak beraturan ketika Barra menemani proses persalinan Gisella.


Laura menangis tersedu-sedu di hadapan Rivan dan Rivan pun merasa sangat tidak tega ketika Laura harus menerima kenyataan jika Gisella yang bisa memberikan keturunan untuk Barra.


*Laura, seperti nya malam ini aku menginap semalam saja di Rumah Sakit ini. Maafkan aku yaa Laura anak ini begitu sangat cantik sekali.*


Laura yang merasa tidak tahan dengan perkataan Barra dia langsung mengakhiri panggilan telephone nya.


Dan melemparkan handphone nya, Rivan pun sangat terkejut sekali ketika melihat sikap Laura.

__ADS_1


Rivan segera mengambil handphone Laura yang di lemparkan ke lantai.


Laura pun berdiri dia terus saja menangis.


"Gisella sudah merebut suami kuu, sudah ku duga sebelumnya. Semuanya pasti akan berakhir seperti ini."


Laura pun berteriak-teriak kencang sekali dan membuat Rivan pun memilih untuk memaksa Laura untuk pergi dari tempat tersebut.


Rivan menyuruh orang suruhan nya untuk membawa mobil nya, sedang kan dia bersama dengan Laura memakai mobil pribadi Laura.


Laura terus saja menangis di dalam mobil nya, dan Rivan hanya bisa terdiam saja dia tidak mau bertanya kepada Laura karena itu hanya membuat Laura semakin kesal saja.


"Gisella, melalui anak nya dia bisa mengambil cinta dari suami kuu. Sekarang dia rela meninggalkan aku sendiri di sini sedangkan dia lebih memilih untuk bersama dengan Gisella di rumah sakit. Sampai harus menginap di rumah sakit itu."


Laura kembali berteriak-teriak kencang di dalam mobil nya.


"Mungkin Barra melakukan ini semua nya, karena di saat Gisella hamil. Barra tidak pernah ada di samping Gisella, bahkan Barra pun tidak pernah mengantar Gisella untuk periksa kandungan nya. Sedangkan Gisella sedang hamil anak Barra."


Laura pun langsung melirikan mata sinis nya kepada Rivan.


"Gisella sudah membuat surat perjanjian dia tidak mau Barra mengakui jika anak itu adalah anak Barra dan dia juga akan membesarkan anak tersebut sendirian. Lalu kenapa sekarang ketika dia mau melahirkan dia ingin di temani oleh Barra suami kuu, itu semua tidak sesuai dengan perjanjian yang dia buat."


Rivan merasa jika hati Gisella yang seketika saja luluh ketika melihat Barra dan Rivan pun sangat yakin sekali bukan Gisella yang meminta untuk di temani di saat persalinan nya tiba tapi itu pasti adalah permintaan orang tua Gisella.


"Yasudahlah, sekarang kita pergi ke suatu tempat yang sunyi senyap yang bisa membuat kamu merasa sedikit tenang."


Rivan berniat untuk membawa Laura ke villa nya yang berada di Bogor.


Laura yang sudah merasa sangat pasrah sekali dia hanya terdiam ketika dia di bawa oleh Rivan pergi.


Rivan memberikan jas nya untuk di pakai oleh Laura.


"Pakai lah jas hitam ku ini, karena di sana sangat dingin sekali."


Laura pun mengambil Jas hitam tersebut dengan tatapan mata yang kosong.


Di perjalanan Laura tidak berbicara sama sekali dia terus saja meneteskan air mata yang membasahi pipinya.


Rivan merasa sangat kasihan sekali melihat Laura seperti ini, tapi adalah kesempatan dia untuk bisa memiliki Laura malam ini.


Mereka pun akhirnya sampai di villa milik keluarga Rivan, Villa yang masih saja asri dengan udara yang sangat sejuk sekali.


Rivan pun mengajak Laura untuk duduk sambil menikmati hangatnya Coffe yang sudah di sediakan.


"Duduk lah Laura, kamu akan merasa lebih baik dengan suasana dingin di malam ini dan di temani dengan hangat nya Coffe ini."


Laura meminum Coffe hangat tersebut dia tatapan mata masih saja kosong.


"Kenapa dulu aku tidak merencanakan rencana ku untuk membuat Gisella kehilangan anak nya juga, mungkin semua tidak ada terjadi seperti ini. Sekarang Gisella sedang tersenyum di atas penderitaan kuu."


Laura terus saja minum Coffe hangat tersebut sampai habis.


Rivan menggelengkan kepalanya ketika mendengar perkataan jahat Laura.


"Sudahlah Laura, lupakan sejenak semua nya di sini. Sekarang kamu lebih baik menenangkan pikiran dan perasaan kamu yang seperti ini."


Laura tersenyum sinis kepada Laura.


"Maksud kamu aku harus melupakan ketika suami sedang bermalam bersama dengan Gisella, bagaimana jika merencanakan pernikahan dan aku di cerai kan oleh Mas Barra. Aku tidak mau hal tersebut terjadi Rivaaannnn, aku sangat mencintai Mas Barra dia adalah cinta terakhir untuk kuu. Tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua kecuali takdir."

__ADS_1


Rivan merasa jika Laura begitu sangat keras kepala sekali.


__ADS_2