Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (117)


__ADS_3

Barra mencoba untuk mengejar Gisella, dia mencari Gisella yang ternyata sedang berada di menunggu resep Dokter.


"Itu Gisell, aku harus menghampiri nya."


Ketika Barra ingin menghampiri Gisella, Gisella beranjak dari tempat duduk nya untuk mengambil vitamin yang di sarankan oleh Dokter.


Barra memegang tangan Gisella dan Gisella pun menatap wajah Barra.


"Ada apa lagi Kak,? semua nya sudah selesai kan. Dan aku mohon jangan lagi menemui aku lagi yaa Kak, aku tidak mau nanti aku yang selalu tersalahkan."


Gisella mencoba untuk menghindari Barra tapi Barra terus saja memegang tangan Gisella.


"Kita bicarakan ini baik-baik yaa, kamu mungkin sudah tidak mau bertemu dengan aku tapi aku punya tanggung jawab besar dengan anak yang ada di kandungan kamu itu."


Barra pun langsung menarik tangan Gisella mereka berdua pun memilih untuk duduk di depan lapangan parkir rumah sakit.


Rangga yang mengikuti Gisella pun melihat Barra dan Gisella sedang duduk bersama.


"Itu kan Kak Barra kenapa dia kelihatan sangat akrab sekali dengan Gisella sampai memegang tangan Gisella seperti itu yaa."


Rangga seperti ingin menghampiri mereka berdua tapi Rangga berpikir kembali.


"Lebih baik pandangi dulu aja dari dalam mobil saja, aku nggak boleh berpikiran negatif karena mereka berdua itu kan adik ipar dan kakak ipar saja."


Rangga terus saja memandangi Gisella dan Barra dari dalam mobil nya.


"Kak Barra, aku tahu ini adalah anak Kakak tapi sekarang pun Kakak sudah mempunyai anak dari Kak Laura. Aku ikhlas kok kak kalau pun Kakak tidak mau bertanggung jawab atas semua ini tapi aku mohon di saat anak ini lahir dia menjadi milik aku dan dia tidak usah tahu jika ayah nya adalah Kakak."


Perkataan Gisella membuat Barra merasa sangat terkejut sekali.


"Maksud kamu apa Gisella,??? kamu ingin anak ini terlahir Tampa ayah. Sedangkan ayah nya masih ada dan mampu untuk memberikan perhatian dan tanggung jawab."


Barra merasa tidak terima dengan perkataan Gisella, dia tidak mau Gisella harus berjuang keras membesarkan anak nya.


"Kak, kalau sampai anak ini tahu Kakak adalah ayah nya ini akan menambah permasalahan lagi dan kecemburuan juga. Sudahlah Kak aku mohon setujui saja apa yang aku inginkan jangan banyak berkomentar apapun lagi yaa."


Gisella pun beranjak dari tempat duduk nya dia berniat untuk pergi.


Rangga semakin serius sekali memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


"Mereka berdua bertengkar, masalah apa yaa. Sebenarnya mereka berdua itu bicarakan apa sih."


Rangga akhirnya turun dari mobil nya dan membuat Barra berhenti mengejar Gisella.


"Gisell, ayo masuk ke dalam mobil."


Gisella memandangi wajah Rangga dia pun langsung teringat dengan perkataan Veronica Mama nya Barra.


"Rangga, kamu jangan lagi-lagi mengikuti aku. Lebih baik kamu fokus saja dengan wanita pilihan orang tua kamu. Aku nggak mau selalu di salah kan."


Gisella memilih untuk menunggu taksi dan Rangga hanya bisa terdiam ketika Gisella berkata seperti itu.


"Seperti nya, Mama datang menemui Gisella. Hahhhh menyebalkan sekali."


Rangga pun memilih untuk masuk kembali ke dalam rumah nya dan Barra pun memperhatikan Rangga.


"Seperti nya Rangga masih mencintai Gisella, tapi restu mereka berdua terhalang."


Barra terpaksa kembali ke rumah sakit untuk menemui Laura.


Gisella melihat Barra dan Rangga sudah tidak ada dan itu membuat Gisella merasa sangat tenang sekali.


Udara panas membuat Gisella memilih untuk membeli ice cream kesukaan nya.


"Aku harus selalu happy walaupun itu hanya untuk memakan ice cream strawberry kesukaan aku."


Semua rasa lelah yang di rasakan oleh Gisella pun seakan hilang sudah.


Gisella harus bisa memperjuangkan kehidupan bersama dengan anak nya nanti.


Gisella mengelus perut nya sambil tersenyum manis.


"Sayaaaaang, kita berjuang bersama yaa. Kita nggak boleh lemah yaa. Kita harus tetap semangat yaa sayang, Bunda akan selalu berjuang untuk kamu sayang."


Gisella masuk ke dalam taksi dia berniat untuk langsung pulang saja ke rumah nya.


Barra kembali menemui Laura dan dia melihat Laura yang tersenyum manis kepada nya.


Barra merasa itu adalah senyuman di atas kesedihan Gisella.

__ADS_1


"Aku sangat bahagia sekali akhirnya kita memiliki kesempurnaan hidup bahagia kembali bersama dengan anak kita nanti."


Barra langsung menghampiri Laura dia merasa Laura sangat jahat sekali.


"Laura, jika nanti anak Gisella terlahir dia tidak mau anak nya mengetahui jika aku adalah ayah kandung nya dan Gisella tidak akan memberikan anak nya tersebut dia akan berjuang untuk menghidupi sendiri."


Laura pun hanya terdiam dengan wajah yang sangat datar sekali.


Laura pun menghelakan nafas panjang sambil memaksakan senyum kepada suaminya.


"Mas, kita kan sudah mau mempunyai anak jadi yaa jika Gisella tidak mau memberikan anak nya yasudahlah itu hak dia. Gisell kan mengakhiri kontrak pernikahan lebih awal kan yasudahlah biarkan saja."


Barra menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat sikap Laura terhadap Gisella.


"Laura kamu tidak seperti yang aku kenal dulu, Laura yang baik lemah lembut sekarang pikiran kamu jahat sekali Laura."


Barra ingin sekali meninggalkan Laura sendiri di rumah sakit.


"Kamu tenang saja Mas, setelah kejadian ini aku akan memperbaiki hubungan ku dengan Gisella. Kita akan seperti dulu lagi."


Laura mengambil handphone nya dia mencoba untuk menghubungi keluarga nya.


Laura mencoba untuk menghubungi ayah nya, tapi panggilan telephone tidak ada jawaban nya.


"Kenapa tidak di jawab sih mereka sedang apa, tidak mungkin ayah dan ibu sibuk secara bersamaan seperti ini."


Barra yang sudah terlalu emosional pun langsung meninggalkan Laura sendiri di dalam ruangan nya.


Laura menyimpan kembali handphone nya ketika melihat Barra yang pergi begitu saja.


"Akhirnya Mas, kamu kembali milik kuu selama nya. Cinta mu tidak akan terbagi dua. Cinta kamu hanya untuk aku dan anak mu ini, beruntung sekali Mas Barra tidak menikah kontrak dengan wanita lain."


Laura memilih untuk memejamkan mata nya dia merasa ini adalah waktu nya istirahat yang tepat.


Barra merasa sangat tidak terima dengan perkataan Gisella.


"Bagaimana pun juga anak yang sekarang Gisella kandung itu adalah anak yang sebenarnya di inginkan dari pernikahan ini tapi Tuhan yang begitu baik nya memberikan kehadiran anak secara bersamaan seperti ini. Aku akan tetap bertanggung jawab dengan anak tersebut dia adalah anak kandung ku juga."


Barra akan terus berjuang untuk Gisella walaupun dia lakukan di belakang Laura.

__ADS_1


Barra sangat menginginkan anak tersebut dia ingin anak tersebut bisa hidup bahagia seperti anak nya bersama dengan Laura nanti.


__ADS_2