Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *145*


__ADS_3

Laura melihat ada pesan masuk dari Dokter Rivan.


"Cepat sekali Dokter Rivan membalas pesan dari kuu ini."


Laura tersenyum manis ketika akan membaca pesan dari Dokter Rivan.


*Baiklah Laura, nanti sore jam 3. Kita bertemu di cafe biasa.*


"Akhirnya aku jadi sangat tenang sekali sekarang, dan aku bisa beristirahat dulu."


Laura pun langsung beristirahat dia merasa bisa beristirahat dengan nyaman.


***


Gisella mulai mempersiapkan diri untuk bisa datang ke perusahaan milik Rossalinda.


"Perusahaan apa yaa yang sekarang sedang ibu Rossa jalani, semoga saja aku bisa berkerja dengan sangat baik sekali."


Gisella melihat dari jendela kamar nya dia melihat Ibu nya yang baru saja turun dari mobil.


"Itu ibuu, ibu sudah pulang,? lalu bagaimana dengan kondisi Kak Laura."


Gisella pun turun dari mobil nya dia menghampiri ibu nya.


Gisella melihat ibu nya yang langsung berjalan menuju ke toko bunga nya.


Gisella melihat ibu nya seperti sedang berbicara serius dengan Ayah nya.


"Ibu merasa rumah tangga Laura semakin tidak bisa di pertahankan lagi, Laura sekarang saja lebih memilih untuk pergi dari rumah itu dia memilih untuk pergi ke Apartemen nya."


Mendengar perkataan tersebut Gisella pun langsung menghampiri ibu dengan sangat dekat sekali.


"Kenapa lagi dengan rumah tangga Kak Laura Buu,? ini bukan karena aku lagi kan Buu penyebab nya."


Laura merasa sangat ketakutan sekali setiap mendengar pertengkaran antara Laura dengan Barra.


"Tidak nak ini bukan karena kamu Nak, Laura memang sudah tidak merasa nyaman saja berada di rumah itu."


Gisella menghela nafas panjang nya dia merasa sangat tenang sekali.


"Syukurlah Buu, aku pikir ini karena aku lagi."


Riana tersenyum manis kepada Gisella.


"Oh iya buuu, kemarin aku bertemu dengan Kak Barra. Dia mengajak aku untuk berkerja di perusahaan Bu Rossa dan aku menerima tawaran tersebut."

__ADS_1


Riana merasa tidak ada salah nya Gisella berkerja di perusahaan Rossalinda.


"Aku mau menerima nya karena bukan di perusahaan Kak Barra, jika di perusahaan Kak Barra aku pasti langsung menolak nya Buu."


Gisella tiba-tiba saja membalikkan badannya dia seperti melihat mobil Rangga.


"Astaga itu pasti mobil Rangga, kenapa yaa dia selalu saja seperti itu. Bagaimana jika Tante Veronica melihat nya."


Gisella pun terus memperhatikan mobil Rangga sampai mobil tersebut pergi.


"Akhirnya mobil nya pergi juga."


Riana pun lupa jika Gisella yang hadir di pertunangan Rangga.


"Gisella, bagaimana dengan acara pertunangan tersebut. Apakah kamu merasa sangat sedih sekali melihat nya."


Riana mengelus rambut panjang Gisella.


"Rangga bertunangan dengan Fransisca, wanita yang suka dengan Rangga dari awal masuk kuliah. Mungkin ini adalah bentuk balas dendam sakit hati Tante Veronica terhadap aku Buu tapi aku merasa biasa saja karena sekarang aku hanya fokus pada kehamilan ku saja."


Riana pun langsung memeluk erat tubuh Gisella.


"Kamu adalah wanita yang sangat kuat sekali Gisella, ibu yakin kamu akan mendapatkan lelaki yang terbaik untuk kehidupan kamu."


Gisella merasa sangat bahagia sekali dukungan dari ibu nya yang membuat nya sangat kuat dan bersemangat.


Gisella pun pergi dari toko bunga tersebut tapi tiba-tiba saja Ibu nya memangil nama nya .


"Gisella besok adalah jadwal kamu cek kandungan, ingat itu nak. Setelah pulang dari kantor Bu Rossa kamu harus langsung pergi ke Dokter Specialis Kandungan yaa."


Gisella tersenyum sambil memanggukkan kepala nya.


Ketika Gisella mulai sibuk untuk mempersiapkan diri untuk berkerja.


Laura yang tertidur pulas sekali pun dia sedang merasakan istrirahat yang sangat nyaman sekali.


Sampai dia tertidur pulas sangat lama sekali, Laura membuka mata nya dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 3 sore.


Seketika Laura pun langsung terbangun dari tidurnya.


"Astaga aku janji jam 3 sore dengan Dokter Rivan sedang kan sekarang sudah jam 3 aku baru bangun tidur."


Laura pun langsung bersiap-siap walaupun dia tahu dia pasti akan telat datang.


"Maafkan aku Dokter Rivan, aku yang tidak tepat waktu."

__ADS_1


Laura yang selesai make up kilat pun langsung pergi menuju ke cafe tersebut.


"Tenang saja Laura , tidak usah terburu-buru seperti ini. Dokter Rivan pasti tidak akan marah Koo."


Laura mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang sangat tinggi dia seakan lupa jika dirinya sedang hamil.


Akhirnya Laura pun sampai di cafe tersebut dan bertemu dengan Dokter Rivan.




Dokter Rivan hanya bisa tersenyum ketika melihat Laura yang datang telat.


Laura terlihat sangat panik sekali ketika Dokter Rivan tersenyum manis kepada nya.


"Maafkan aku Dokter Rivan, aku sangat terlambat karena aku yang tidur pulas di Apartemen ku. Aku pergi dari rumah Suami ku."


Dokter Rivan langsung terdiam mendengar Laura yang kabur kembali dari rumah nya.


"Aku memberanikan diri untuk bicara dengan suami ku jika aku yang sudah tidak nyaman tinggal di rumah itu, dan dia juga melarang ku untuk pergi ke kantor dan menganti posisi ku dengan Gisella. Itu sangat membuat ku emosional sekali kan."


Dokter Rivan merasa jika Laura memang lebih nyaman untuk tinggal di Apartemen nya.


"Laura di mana pun kamu merasa nyaman ikuti kata hati muu yaa, tapi kamu juga harus berbicara baik-baik dengan Barra."


Dokter Rivan tidak ingin rumah tangga Laura berakhir dengan Barra.


"Aku mulai merasakan bosan dengan rumah tangga ku ini, bahkan aku berpikir untuk benar-benar pergi dari rumah itu ketika aku sudah melahirkan anak ini."


Dokter Rivan sangat terkejut sekali mendengar perkataan Laura.


"Maksud kamu apa Laura,? kamu ingin berpisah dengan Barra ketika kamu sudah melahirkan anak mu ini. Bukan kah kehadiran anak ini yang sangat di tunggu oleh keluarga Barra apalagi Ibu Rossalinda dan kamu sekarang mempunyai pemikiran seperti itu."


Laura pun terdiam ketika sudah mengatakan isi hati nya kepada Dokter Rivan.


"Laura, coba pikirkan lagi semua nya dengan pikiran yang jernih bukan ketika kamu sedang emosional seperti ini. Jangan sampai kamu menjadi menyesal Laura."


Laura pun mulai mengatur nafas nya mata nya yang sudah berkaca-kaca.


"Aku tidak tahu apakah ucapan ku tadi di saat aku sedang emosional, tapi aku merasa sangat tenang sekali ketika sudah mengungkapkan semua kepada kamu. Dokter Rivan."


Dokter Rivan merasa jika ucapan Laura itu serius dari dalam hati nya.


Dokter Rivan tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi jika itu sudah menjadi keputusan dari Laura.

__ADS_1


Laura terus saja memegang perut nya dengan air mata yang jatuh ke pipi nya.


__ADS_2